NovelToon NovelToon
Antara Sunyi Dan Riuh

Antara Sunyi Dan Riuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: winda Whyn

Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Bekal Biru Muda

Udara hari Selasa pagi di SMA Nusa Bangsa terasa begitu segar, namun suasana di dalam ruang kelas MIPA-1 sudah mulai menghangat sejak pukul 06.45 WIB. Karena bimbingan awal seleksi tingkat kota dijadwalkal berjalan intensif sebelum jam pelajaran reguler dimulai, bangku-bangku di barisan tengah sudah mulai terisi.

Kirana melangkah masuk ke dalam kelas MIPA-1 dengan tas jinjingnya. Rambut hitamnya seperti biasa dikuncir kuda dengan rapi. Namun baru saja dia melewati ambang pintu, langkah kakinya mendadak terhenti karena pemandangan ganjil di atas meja belajarnya.

Di sebelah kotak susu cokelat dingin yang menjadi investasi harian wajib, kini bertambah satu benda baru: sebuah kotak bekal berwarna biru muda berbentuk persegi, lengkap dengan sendok garpu kecil yang tertata rapi di atasnya. Dan di kursi sebelahnya, Keenan Abimara sudah duduk tegap dengan jaket denim longgar yang bertengger kasual di bahunya. Cowok itu pura-pura sibuk memutar-mutar pulpen hitamnya di jemari, meski sepasang mata tajamnya langsung melirik Kirana dengan binar jail yang tidak bisa disembunyikan.

Di sekeliling mereka, atmosfer kelas mendadak berubah menjadi sangat berisik. Damar dan Raihan sengaja berdiri di lorong meja sambil bersedekap dada, memasang senyum penuh ledekan tingkat tinggi. Sementara di dekat jendela kelas, Raina, Alya, dan Windy yang baru saja datang mengantar Kirana langsung membekap mulut masing-masing, menahan pekikan heboh melihat pemandangan manis tersebut.

"Waduh, waduh! Ini kelas bimbingan sains atau kelas demo masak ya pagi-pagi gini?" sindir Damar heboh, sengaja menyenggol lengan Raihan keras-keras.

"Bukan demo masak, Mar! Itu namanya layanan pesan antar premium dari dapur lantai dua rumah mewah! Khusus dikirim buat mendongkrak energi juara umum!" sahut Raihan ikut-ikutan memanasi suasana, memicu tawa renyah dari beberapa anak kelas MIPA-1 yang ada di dalam ruangan.

Kirana merasakan sepasang pipinya mendadak terasa menghangat, memancarkan semburat merah muda tipis yang gagal dia tahan. Dia berjalan mendekati mejanya, menaruh tas, lalu duduk di kursinya tepat di sebelah Keenan.

"Keenan," panggil Kirana setengah berbisik, mencoba menetralkan debaran jantungnya yang mendadak ikut riuh. "Ini kotak bekal punya siapa? Kok ada di meja gue?"

Keenan menghentikan putaran pulpennya, lalu menopang dagunya dengan satu tangan seraya memutar tubuhnya menghadap Kirana. Cengiran bandel andalannya perlahan terpasang dengan sangat manis. "Punya lo lah, Tuan Putri. Masa punya Damar, ntar yang ada isinya langsung ludes sebelum bel masuk."

"Maksud gue, isinya apa? Dan dari siapa?" tanya Kirana lagi dengan binar mata jernih yang menahan tawa geli.

"Isinya sandwich bakar keju buatan Ibu," jawab Keenan santai tanpa beban, namun ada nada kebanggaan kecil dalam suaranya. "Tadi malam pas gue pulang les, Ibu nanya gimana bimbingan kita. Pas gue bilang lo rajin banget sampai coret-coret kertas buram, Ibu langsung heboh subuh-subuh bikin ginian. Katanya titip salam buat Kirana, harus dihabisin biar otaknya gak oleng pas ngerjain soal gaya mekanika fluida nanti."

Mendengar nama Ibu disebut, hati Kirana seketika diselimuti oleh kehangatan mutlak yang luar biasa besar. Ingatan tentang aroma mentega lumer di rumah mewah Keenan sabtu kemarin kembali berputar di kepalanya. Di luar rumah kaku Ayah dan Ibu kandungnya yang penuh dengan tuntutan nilai sempurna, perhatian kasual yang dikirimkan oleh keluarga Keenan pagi ini terasa seperti sebuah perlindungan rasa yang sangat berharga.

Di luar jendela koridor, Raina langsung menjentikkan jarinya heboh seraya berbisik pada Alya, "Al, fix! Ini mah bukan cuma perbaikan gizi akademik, tapi kode keras kalau Kirana udah dapet pasokan kasih sayang berlapis-lapis!" Alya hanya tersenyum teduh penuh rasa syukur melihat kebahagiaan sahabatnya, sementara Windy sibuk menatap sandwich di kotak bekal dengan pandangan iri yang lucu.

"Udah, jangan dilihatin terus. Buruan dibuka, ntar keburu dingin gak enak," tegor Keenan jail, tangannya bergerak mengetuk pelan tutup kotak bekal biru itu.

Kirana membuka tutup kotak bekalnya perlahan. Aroma gurih keju lumer dan mentega langsung menguar, membuat perutnya yang sejak subuh hanya diisi segelas air putih hangat di rumah mendadak berbunyi pelan. Kirana mengambil sepotong sandwich bakar tersebut, lalu menoleh ke arah Keenan dengan senyuman paling tulus dan lepas yang dia miliki.

"Makasih ya, Keenan. Sampaikan makasih banyak juga buat Ibu," bisik Kirana dengan binar mata yang jujur.

"Beres. Ntar malam pas makan malam pasti gue laporin ke Kanjeng Ratu kalau misinya sukses besar," kilat Keenan, sepasang mata tajamnya melunak hangat saat memandangi Kirana yang mulai mengunyah potongan pertama dengan canggung namun terlihat sangat menikmati.

Tepat saat itu, Danu berjalan melewati meja mereka untuk menaruh buku presensi di meja guru. Dia menepuk pundak Keenan keras-keras sambil tersenyum tipis. "Bagus, Nan. Kebandelan lo hari ini berguna juga buat kebaikan umat MIPA. Kurang-kurangin tapi saltingnya, tuh pulpen lo dari tadi kebalik pegangnya."

Romeo yang berjalan di paling belakang hanya melirik sekilas dari balik kacamata bacanya, menyahut datar, "Akurasi taktis Keenan pagi ini: 98%. Potensi gangguan konsentrasi Kirana: Tinggi."

Seruan ledekan massal dari gabungan geng cowok dan geng cewek di kelas kembali pecah, memicu tawa renyah Kirana yang lepas hingga kuncir kuda rambutnya bergerak lincah. Pagi itu, di dalam ruang kelas MIPA-1 yang riuh oleh tawa remaja yang jujur, jalannya alur bimbingan persiapan seleksi kota terasa begitu manis tanpa perlu banyak kata. Kirana menyadari, keriuhan indah yang dibangun Keenan di sekeliling meja belajar mereka hari ini telah resmi menjadi pelindung terbaik yang siap menjaganya sepanjang sisa babak putih abu-abu ke depan.

1
winda Whyn
siap terimakasih kak... ayo kita saling membantu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!