Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid yang Beruntung Mendampingi Tetua Agung
Tetua Qiu Ling menjawab tanpa ragu.
"Menurut catatan yang ada, Tetua Agung akan berangkat seminggu lagi."
“Ia baru akan pergi setelah semua urusan penerimaan murid baru selesai.”
Qiu Ling kemudian mengambil salah satu dokumen di atas meja dan melihatnya sekilas sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Beberapa minggu terakhir, Kota Jianpeng mengalami banyak perampokan dan tindak kejahatan. Sejumlah kelompok pendekar aliran hitam muncul di sekitar kota, menyerang para pedagang, merampas barang bawaan mereka, bahkan membunuh orang-orang yang berani melawan."
Ekspresi Qiu Ling berubah sedikit serius.
"Prajurit yang ditempatkan di kota itu sudah berusaha menangani masalah tersebut. Namun, jumlah pelaku terlalu banyak dan kekuatan mereka juga tidak bisa diremehkan. Pada akhirnya, pihak penguasa kota meminta bantuan beberapa sekte di wilayah sekitarnya."
"Sekte Dua Pedang Petir termasuk salah satu sekte yang menerima permintaan itu."
Boqin Changing mengangguk pelan. Ia kembali memandang lembaran misi yang mencantumkan nama gurunya.
"Jadi, Guru memutuskan untuk pergi sendiri?"
"Benar." Qiu Ling mengangguk. "Tetua Agung hanya mendaftarkan namanya sendiri. Ia tidak membawa seorang murid pun untuk menemaninya."
Boqin Changing mengangkat alis.
"Kenapa?"
Qiu Ling menggelengkan kepala.
"Aku juga tidak tahu. Ketika mendaftarkan misi ini, Tetua Agung tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia hanya mengatakan akan menyelesaikannya sendiri."
Boqin Changing terdiam sejenak sebelum tertawa kecil.
"Hahaha! Kasihan sekali Guru."
Qiu Ling memandangnya dengan bingung.
“Kasihan?”
Wang Tian adalah Tetua Agung Sekte Dua Pedang Petir. Menghadapi sekelompok penjahat di sebuah kota seharusnya bukan perkara yang terlalu sulit baginya. Lantas, mengapa Boqin Changing justru merasa kasihan kepada gurunya?
Sayangnya, Boqin Changing tidak memberikan penjelasan. Ia hanya menatap Qiu Ling sambil tersenyum.
"Tetua Ling, tolong daftarkan satu murid untuk menemani Tetua Agung dalam misi ini."
Qiu Ling sedikit terkejut.
"Tetua Keempat ingin mengirim seorang murid untuk mendampingi Tetua Agung?"
Boqin Changing merapikan jubahnya.
"Benar."
Qiu Ling mengangguk. Karena permintaan itu berasal dari Boqin Changing, ia tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Terlebih lagi, menugaskan seorang murid untuk mendampingi Tetua Agung juga bukan sesuatu yang melanggar aturan sekte.
Ia segera mengambil kuas, mencelupkannya ke dalam tinta, lalu membuka lembaran catatan misi yang baru. Sambil mulai menulis, Qiu Ling bertanya dengan sopan.
"Kalau begitu, siapakah murid beruntung yang akan menemani Tetua Agung kali ini?"
Boqin Changing menyilangkan kedua tangan di belakang punggungnya.
"Namanya Boqin Changing."
Ujung kuas di tangan Qiu Ling mendadak berhenti. Ia perlahan mengangkat kepala, lalu menatap pemuda di hadapannya dengan ekspresi tidak percaya.
"Tetua Keempat, kau sedang bercanda denganku?"
Boqin Changing justru tertawa melihat reaksinya.
“Hahaha...”
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
Qiu Ling membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan kata-kata untuk menjawabnya.
Boqin Changing Changing adalah Tetua Keempat Sekte Dua Pedang Petir. Ia bahkan merupakan salah satu pendekar paling kuat di alam ini. Jika pemuda itu benar-benar ikut menjalankan misi, siapa yang sebenarnya sedang mendampingi siapa?
Belum lagi, Boqin Changing baru saja kembali setelah menghabiskan waktu di luar. Qiu Ling semula mengira ia akan menikmati waktu bersama keluarganya atau beristirahat di kediamannya. Siapa sangka, ia justru mendaftarkan dirinya sendiri untuk menjalankan sebuah misi sekte.
"Tetua Keempat, apakah kau benar-benar ingin pergi ke Kota Jianpeng?" tanya Qiu Ling sekali lagi, memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.
Boqin Changing mengangguk santai.
"Tentu saja. Aku sudah cukup lama tidak bepergian bersama Guru. Kebetulan kali ini ada kesempatan."
Senyum di wajahnya semakin lebar ketika membayangkan reaksi Wang Tian nanti.
Qiu Ling akhirnya menghela napas. Ia tidak lagi mencoba membujuk Boqin Changing untuk mengubah keputusan. Dengan kekuatan pemuda itu, ia justru merasa kelompok penjahat yang meresahkan Kota Jianpeng mungkin akan mengalami nasib buruk.
Ia kembali menunduk dan menuliskan nama Boqin Changing pada lembaran misi. Setelah selesai, ia mengangkat kepala sekali lagi.
"Baiklah, Tetua Keempat. Namamu sudah tercatat. Namun, Tetua Agung belum mengetahui bahwa kau akan ikut dalam misi ini."
Boqin Changing hanya melambaikan tangan.
"Biarkan saja. Aku akan memberitahunya nanti."
Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
Qiu Ling segera berdiri untuk memberikan penghormatan.
"Selamat jalan, Tetua Keempat!"
Boqin Changing mengangkat tangan tanpa menoleh. Tidak lama kemudian, sosoknya menghilang dari dalam gedung.
Qiu Ling masih berdiri di tempatnya selama beberapa saat. Ia kemudian menatap catatan misi di atas meja, memastikan sekali lagi bahwa nama yang tertulis di sana memang benar.
"Boqin Changing..."
Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum getir. Sepertinya, perjalanan Tetua Agung ke Kota Jianpeng kali ini tidak akan sesederhana yang dibayangkannya.
...******...
Di wilayah Kekaisaran Yong, malam telah tiba. Cahaya bulan menggantung di langit, menerangi sebuah kompleks bangunan besar yang berdiri di antara pegunungan. Tempat itu merupakan markas Sekte Elang Pencabut Malam, salah satu sekte aliran hitam yang terkenal di wilayah tersebut.
Namun, malam itu tidak terdengar suara percakapan seperti biasanya. Suasana di dalam sekte justru dipenuhi ketegangan.
Ratusan mayat tergeletak di atas tanah. Beberapa berada di halaman utama, sebagian lainnya berserakan di sepanjang tangga batu yang menuju aula sekte. Senjata-senjata yang terlepas dari tangan pemiliknya juga terlihat di mana-mana. Darah membasahi sebagian tanah, sementara bau besi yang menyengat memenuhi udara malam.
Ribuan anggota Sekte Elang Pencabut Malam berdiri dengan tubuh gemetar. Sebagian menggenggam senjata erat-erat, tetapi tidak seorang pun berani melangkah maju.
Mereka semua menatap sosok yang berdiri di antara tumpukan mayat tersebut. Seorang pemuda tampan dengan pakaian bersih berdiri santai di halaman. Sebuah pedang putih tergantung di pinggangnya, memantulkan cahaya bulan setiap kali ia bergerak.
Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. Bahkan, setelah membunuh ratusan anggota sekte itu, ia masih tampak seolah-olah baru saja berjalan-jalan menikmati pemandangan malam.
Di hadapannya, beberapa tetua Sekte Elang Pencabut Malam berdiri dengan wajah pucat. Mereka telah mengerahkan banyak orang untuk mengepung pemuda itu. Sayangnya, semua usaha mereka berakhir dengan kegagalan.
Serangan yang mereka banggakan tidak mampu menghentikan langkahnya. Bahkan, patriak dan tetua agung yang maju lebih dahulu telah kehilangan nyawa.
Salah seorang pria berusia lanjut mengepalkan tangannya. Urat-urat di punggung tangannya menonjol, tetapi ia tidak berani menyerang sembarangan.
"Siapa sebenarnya kau?" bentaknya. "Apa kesalahan Sekte Elang Pencabut Malam hingga kau berani membantai orang-orang kami?!"
Pemuda itu memiringkan kepala sedikit, seolah-olah sedang memikirkan pertanyaan tersebut. Sesaat kemudian, ia tersenyum.
"Kesalahan kalian?"
Ia melirik mayat-mayat yang berserakan di sekelilingnya, lalu kembali menatap orang-orang yang masih hidup.
"Kalau aku harus menjelaskan semua kesalahan kalian satu per satu, mungkin kita akan berada di sini sampai pagi."
Wajah pria tua itu semakin muram.
"Kau!"
Ia ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi tatapan pemuda tersebut membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Pemuda itu mengangkat satu tangan dan menunjuk ke arah mereka dengan santai.
"Aku sudah memberi kalian cukup banyak kesempatan. Sayangnya, kalian justru terus mengirim orang untuk mati."
Ia tersenyum semakin lebar, lalu bertanya dengan nada ringan.
"Ada yang mau maju lagi?"