-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
****
Satu minggu berlalu sejak malam penuh beban di restoran mewah itu. Aini kini telah resmi memasuki stase barunya di Departemen Anestesiologi dan Reanimasi. Berada di lingkungan baru memberikan sedikit napas segar bagi Aini, walau bayangan pernikahan paksa yang kian mendekat masih kerap kali menghantui pikirannya setiap kali ia sendirian.
Siang itu, koridor lantai tiga tempat stasiun perawat Anestesi berada tampak agak lengang. Aini baru saja selesai membantu observasi pemulihan pasien pasca-anastesi di ruang Recovery Room. Wajah ayunya tampak sedikit lelah, namun senyum ramah tak pernah lepas dari bibirnya saat ia merapikan lembar catatan medis di atas meja perawat.
"Aini?"
Sebuah suara hangat dan ceria menyapa dari arah samping. Aini menoleh dan mendapati dr. Farhan., berdiri di sana. Dokter spesialis anestesi muda itu tampil santai tanpa gaun operasinya, mengenakan kemeja biru muda yang rapi dengan stetoskop melingkar di lehernya. Di tangan kanannya, Farhan membawa sebuah kantong kertas aroma makanan yang masih mengepul hangat.
"Eh, Dokter Farhan," sapa Aini santun sembari membungkukkan kepalanya sedikit. "Ada yang bisa saya bantu, Dokter?"
Farhan tertawa kecil, melangkah mendekat dan meletakkan kantong kertas itu tepat di depan Aini. "Nggak ada tugas medis kok. Saya cuma paham banget, koas di jam-jam segini pasti belum sempat makan siang. Nih, saya belikan nasi kotak ayam bakar sama es teh manis dari kantin utama."
Aini tertegun sejenak, matanya membelalak halus karena kaget atas perhatian yang terlampau manis itu. "Astaga, Dokter Farhan... tidak perlu repot-repot begini. Saya nanti bisa beli sendiri pas jam istirahat."
"Nggak repot sama sekali, Aini," sahut Farhan ramah, mendaratkan panggulnya di tepi meja perawat sembari menatap Aini dengan binar binar penuh perhatian. "Di stase Anestesi ini tugasnya padat banget. Saya cuma mau memastikan koas tercerdas kita ini nggak pingsan lagi kayak waktu di tempatnya Dokter Ivandra bulan lalu."
Aini terkekeh pelan, rona merah tipis menyapu pipinya karena malu mengingat insiden pingsannya yang sempat heboh itu. "Dokter Farhan bisa saja. Tapi terima kasih banyak ya, Dokter. Ini sungguh sangat membantu."
"Sama-sama, Aini," ujar Farhan lembut. Tatapannya hangat menatap senyum Aini yang mekar tulus—sebuah pemandangan indah yang amat jarang terlihat saat gadis itu berada di bawah tekanan Departemen Bedah Saraf. "Nanti kalau sif sore sudah selesai, saya ada niat mau ajak kamu ngopi sebentar di kafe depan rumah sakit. Mau, kan?"
Belum sempat Aini merespons ajakan tersebut, sebuah aura dingin yang teramat pekat mendadak menyelubungi koridor stasiun perawat. Suasana hangat di tempat itu seketika sirnah dalam hitungan detik.
Derap langkah kaki yang tegas dan berirama gaung terdengar mendekat dari arah persimpangan lorong.
Ivandra melangkah penuh wibawa dengan mantel dokter putihnya yang melambai pelan. Tatapan mata elangnya yang tajam dan tak berdasar terkunci lurus pada keakraban antara Farhan dan Aini. Pria jangkung itu melihat jelas bagaimana Farhan tersenyum manis pada Aini, dan bagaimana Aini membalasnya dengan rona merah di pipi serta tawa renyah yang tak pernah sedikit pun diperlihatkan padanya.
Deg.
Ada denyutan panas yang mendadak membakar dada Ivandra—sebuah rasa tidak rela yang amat asing dan primitif. Rahang tegasnya mengetat seketika, dan genggaman tangannya di balik saku mantel menyatu rapat.
Ivandra menghentikan langkah tepat di depan stasiun perawat. Udara di sekitar mereka serasa membeku.
"Dokter Farhan," tegur Ivandra dengan suara berbariton berat, amat dingin dan sarat akan penekanan yang menusuk.
Farhan menoleh, sedikit terkejut namun tetap mempertahankan senyum santainya. "Eh, Dokter Ivan. Ada yang bisa dibantu, Van? Tumben main ke lantai tiga?"
Ivandra sama sekali tidak membalas keramahan Farhan. Manik mata hitamnya beralih, menancap lurus pada Aini yang seketika menundukkan kepala, meremas ujung jas putihnya yang kaku.
"Saya ada urusan dengan Dokter Muda Aini," potong Ivandra tanpa tedeng aling-aling. Nadanya terlampau kaku untuk sebuah interaksi biasa.
Aini mendongak pelan, keningnya berkerut bingung. "Saya, Dokter ? Tapi stase saya di Bedah Saraf sudah selesai minggu lalu, dan laporan nilai saya sudah—"
"Evaluasi medis susulan," sela Ivandra cepat, memotong kalimat Aini tanpa ruang bantahan. "Ada beberapa lembar rekapitulasi data pasien bedah saraf dari stase lalu yang membutuhkan konfirmasi ulang dari kamu. Sekarang."
Farhan mengerutkan keningnya heran, melirik jam tangan mewahnya. "Tapi Van, ini kan jam istirahat siang. Aini juga baru mau makan siang. Apa nggak bisa ditunda sebentar setelah jam istirahat selesai?"
Ivandra melirik Farhan dengan tatapan tajam membunuh yang sanggup membungkam siapa saja. "Urusan medis dan kerahasiaan berkas pasien tidak mengenal kata menunda, Dokter Farhan. Dan seingat saya, tempat ini adalah stasiun perawat rumah sakit, bukan tempat untuk bersenang-senang atau membagikan makanan santai."
Sindiran pedas yang tajam itu membuat atmosfer kian tegang. Farhan tertegun, mengembuskan napas panjang namun memilih untuk tidak memanjangkan perdebatan dengan sang putra pemilik rumah sakit.
Ivandra kembali menatap Aini, matanya memancarkan kemarahan dingin yang tersembunyi rapat di balik raut datarnya. "Ikut saya ke ruang kerja sekarang, Dokter Aini. Jangan biarkan saya menunggu dua kali."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Ivandra berbalik kasar, melangkah lebar menuju arah lift khusus dokter.
Aini menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Kejengkelan dan rasa sebal membuncah di dadanya. Dokter menyebalkan! Selalu saja berbuat sewenang-wenang tanpa alasan yang jelas! batin Aini merintih kesal. Namun, demi menjaga profesionalitas di depan staf lain, Aini menata kembali ekspresinya.
Aini menatap Farhan dengan raut bersalah. "Maaf ya, Dokter Farhan... makanan dari Dokter saya simpan dulu. Saya permisi menghadap Dokter Ivandra."
Farhan tersenyum menguatkan, walau matanya menatap bingung pada gestur Ivandra yang terlampau protektif. "Iya, nggak apa-apa, Aini. Selesaikan dulu urusanmu ya. Semangat."
Aini berjalan cepat menyusuri koridor lantai empat menuju ruangan Kepala Departemen Bedah Saraf. Tangannya mengepal rapat di samping tubuh. Hatinya bertanya-tanya, kesalahan apa lagi yang dibuatnya hingga pria itu tega memanggilnya di tengah jam istirahat dengan alasan evaluasi yang terkesan dibuat-buat.
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
Aini memutar gagang pintu tanpa menunggu sahutan panjang. Ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja Ivandra yang luas dan dingin.
Di balik meja mahoninya, Ivandra berdiri menjulang dekat jendela kaca besar, melepaskan mantel dokternya dan melipat lengan kemeja abu-abunya hingga ke siku. Pria itu berbalik, menatap Aini yang berdiri tegap tiga langkah di depan mejanya.
"Permisi, Dokter Ivandra. Berkas mana yang perlu saya rekapitulasi ulang?" tanya Aini langsung pada intinya. Suaranya terdengar sangat formal, dingin, dan berjarak.
Ivandra tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah mendekati Aini, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma kayu cendana yang khas dari tubuhnya kembali memenuhi indra penciuman Aini. Ivandra menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap wajah ayu Aini dari ketinggian.
"Kamu tampak sangat menikmati waktu luangmu di stase Anestesi, Dokter Aini," ujar Ivandra dengan suara rendah yang amat menusuk.
Aini membelalakkan matanya tipis, merasa tuduhan itu sama sekali tidak berdasar. "Maksud Dokter apa? Saya baru saja selesai menangani pasien di Recovery Room dan baru masuk jam istirahat—"
"Bersenda gurau dengan Dokter Farhan, menerima makanan, dan menerima ajakan kencan?" potong Ivandra cepat. Alis tebalnya bertaut tajam, matanya memancarkan kekesalan yang bahkan tidak ia pahami sendiri alasannya. "Apakah standar profesionalitasmu melorot secepat itu setelah keluar dari departemen saya?"
Dada Aini bergemuruh hebat mendengar tuduhan tidak beralasan itu. Rasa sakit hati dan kekesalan yang ia tahan sejak semalam di restoran akhirnya memuncak. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan kepasrahan sendu kini menatap lurus ke dalam manik mata hitam Ivandra tanpa ada ketakutan sedikit pun.
"Dokter Ivandra yang terhormat," sahut Aini dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan yang dingin. "Dokter Farhan hanya bersikap ramah sebagai senior yang menghargai juniornya. Tidak ada yang melanggar kode etik atau merusak profesionalitas saya sebagai koas."
Aini mengambil satu langkah mundur untuk mempertegas jarak di antara mereka. "Dan kalau boleh saya ingatkan... pernikahan kita belum terjadi. Dan di rumah sakit ini, Anda adalah pembimbing saya, bukan pemilik kehidupan pribadi saya. Saya punya hak untuk berinteraksi dengan siapa pun."
Ivandra tertegun di tempatnya. Kata-kata tegas dari Aini menghantam pikirannya dengan keras. Untuk pertama kalinya, ia melihat binar perlawanan yang begitu tajam dari mata sendu milik gadis di hadapannya.
Melihat Ivandra yang bungkam dengan wajah membeku, Aini membungkukkan kepalanya sedikit.
"Jika memang tidak ada berkas medis yang benar-benar perlu dievaluasi, saya permisi kembali ke stase saya, Dokter," tutur Aini dingin.
Tanpa menunggu respons dari Ivandra, Aini memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Ivandra yang berdiri mematung sendirian di tengah dinginnya ruangan. Pria itu meremas jemarinya kuat-kuat, berjuang memahami gelombang cemburu dan kekesalan tak beralasan yang kini resmi membakar dinding es di hatinya.
Bersambung....
mampir ya ke novel ku