Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Lampu-lampu kota menari di kejauhan, menyusup lewat jendela-jendela besar bagai bisikan keemasan. Cahaya itu melukis siluet berkilau pada dinding dan melemparkan bayangan-bayangan berubah-ubah pada tubuh mereka berdua, yang masih bertaut di sofa, menghirup udara yang sama, berbagi detak yang sama.
Zaira terbaring di dada Leonardo, mendengarkan jantungnya seperti orang yang mendengarkan melodi rahasia, sebuah bahasa yang hanya bisa ia pecahkan sendiri. Kehangatan tubuh lelaki itu membungkusnya, dan wangi kayu yang masih melekat di kulitnya memabukkan indranya.
Aroma itu berbaur dengan bau samar dupa yang membara di sudut ruangan: cendana dan ambar, nada-nada dalam dan menggoda yang menyelinap bagai belaian tak kasatmata di antara pori-pori.
Keheningan terasa pekat, intim, seperti selimut hangat yang terhampar di atas tubuh mereka. Gesekan jemari mereka sefasih sebuah puisi: lambat, hati-hati, seolah waktu berhenti untuk memandangi keduanya.
"Zaira..." gumam Leonardo, suaranya serak, sarat hasrat yang ditahan, sembari membelai punggung gadis itu dengan kelembutan yang nyaris khidmat.
Zaira mengangkat pandangan, dan matanya yang besar dan basah berkilau dengan bara yang lembut. Bibirnya, yang sedikit membengkak oleh ciuman-ciuman tadi, melengkung dalam senyum malu-malu yang rapuh.
"Kamu mau mengenal lebih jauh tempat ini?" bisiknya dengan suara rendah yang terdengar bagai belaian.
"Kalau kamu yang menunjukkannya padaku..." jawab gadis itu, tersenyum dengan campuran rasa malu dan sayang yang membuat lelaki itu bergetar di dalam.
Lalu Leonardo bangkit tanpa melepaskan sentuhannya. Ia mengulurkan tangan, dan ketika Zaira menyambutnya, ia merasakan arus listrik menjalari lengannya. Mereka berjalan bersama menyusuri lorong yang hanya diterangi lampu-lampu redup di dinding. Lantai berderit di bawah langkah kaki telanjang mereka, dan tiap sudut mengembuskan keanggunan, kesaksamaan, dan sesuatu yang lain: kehangatan yang tak ia sangka ada pada lelaki seperti Leonardo.
"Kita mau ke mana?" tanya Zaira dengan senyum lembut, mencoba menyembunyikan getar yang merambati tulang punggungnya.
"Menunjukkan padamu tempat favoritku di apartemen ini," gumamnya dengan nada rendah, menjanjikan, sarat ketegangan yang nyaris kebinatangan. "Tempat aku akan menjadikanmu milikku dengan berbagai cara."
Zaira merasa udara terhembus lepas dari paru-parunya. Ini bukan sekadar hasrat. Ini sesuatu yang lebih dalam. Sebuah penyerahan yang telah dimulai sebelum waktunya.
Kamar yang mereka masuki seakan diambil dari sebuah mimpi. Dindingnya berwarna kelabu hangat yang melebur dengan nada gading tirai-tirainya. Sebuah ranjang megah mendominasi tengah ruangan: seprai berwarna gading yang seperti sutra, kelambu tembus pandang yang mengambang bagai kerudung di atas kepala, dan jendela-jendela raksasa yang membiarkan cahaya bulan masuk, membungkus ruangan dalam sinar keperakan yang halus. Karpet di bawah kaki mereka selembut awan, dan udara beraroma melati dan kayu, seakan tempat itu diberi wewangian untuk bercinta.
Leonardo menuntunnya ke ranjang dan merebahkannya dengan kelembutan yang nyaris khidmat. Ia melepaskan kemejanya perlahan, dan Zaira tak kuasa menahan diri untuk mengagumi tiap garis tubuh lelaki itu: kokoh, kecokelatan, ditempa oleh kehidupan... dan kini oleh hasrat. Mata Leonardo memburunya bagai api cair, seakan ia bisa melahapnya hanya dengan tatapan.
"Di sini," bisiknya, sembari meluncur di atas tubuh Zaira, bibirnya mengecup tiap sentimeter kulit yang tersingkap, "akan kuajari kamu apa artinya menjadi milik... bukan hanya lewat kata-kata, tapi dengan tiap sentimeter dari diriku... di dalam dirimu."
Zaira melepaskan desahan yang tertahan saat merasakan jemari Leonardo meluncur menyusuri tubuhnya. Lelaki itu menanggalkan pakaiannya perlahan, seakan tiap helai kain adalah penghalang antara mereka dan keabadian. Gesekan kain pada kulitnya yang meremang terasa seperti lidah hangat, memancing getar-getar manis yang membuatnya berdesir.
Bibir Leonardo menurun menyusuri leher Zaira, menyentuh tulang selangkanya, turun ke dadanya, ke puncak-puncaknya yang mengeras karena penantian. Tiap ciuman adalah sebait sajak, tiap belaian sebuah janji.
Ketika mulutnya tiba di pusat kenikmatan Zaira, gadis itu melepaskan erangan terputus-putus, yang tercabik dari dadanya bagai gelombang. Leonardo memanjakannya dengan lidah dan kemahiran yang membuatnya gemetar. Ia mempermainkan iramanya: kadang lambat, kadang liar, sementara tangannya yang kokoh mencengkeram paha Zaira yang terbuka, mengendalikan tiap gerakan, menuntun tiap reaksi.
"Leo..." bisik gadis itu dengan suara serak, di sela-sela erangan.
"Menyerahlah padaku..." gumamnya di kulit Zaira. "Jangan berhenti. Biar kulihat kamu hancur berkeping... hanya untuk kurangkai kembali dengan tanganku sendiri."
Ketika gadis itu berada di ambang puncaknya, Leonardo berhenti. Ia suka melihatnya terdesak putus asa, memohon. Ia suka kuasa untuk membuat Zaira lupa siapa dirinya, meleburkannya menjadi sekadar sensasi.
Lalu, ia mengambilnya.
Ia meluncur masuk ke dalam tubuh Zaira dengan kelambatan yang kejam. Keduanya mengerang, seakan kenikmatan itu membelah mereka dari dalam. Ia mulai bergerak dalam buaian yang berirama, dalam, tepat. Napasnya berbaur dengan napas gadis itu. Mulut mereka saling memburu dengan penuh desakan.
"Berada di dalam dirimu..." desah Leonardo sambil menggigit bibir Zaira. "Membuatmu terlihat... sempurna..."
Leonardo membalik tubuhnya. Ia mencium garis tulang punggung Zaira seolah memuja tiap ruas, tiap lekuk. Ia menembus dari belakang, lebih dalam, lebih liar. Tubuh mereka berbenturan dengan keras. Zaira mencengkeram seprai, jemarinya menegang, matanya terpejam, mulutnya membuka dalam jeritan yang bisu.
"Kamu milikku," gerutunya di telinga Zaira. "Sejak detik pertama... aku sudah tahu."
"Lakukan... jadikan aku milikmu..." pinta gadis itu, hilang dalam gelora, dalam jurang manis hasrat.
Dan Leonardo melakukannya.
Ia mengambilnya dari samping, dari atas, dari belakang, dengan kaki terbuka, tubuh melengkung, erangannya bergaung di antara dinding-dinding. Nama mereka lolos dari bibir masing-masing bagai doa. Zaira mencapai puncak sekali, dua kali, tiga kali, sampai tubuhnya menyerah sepenuhnya, sampai getaran-getaran itu tak lagi mengizinkannya bergerak. Dan hanya saat itulah, Leonardo pun melepaskan dirinya, tumpah di dalam tubuh Zaira dengan erangan serak, tubuh menegang, jemari menghunjam di pinggul gadis itu, gemetar.
Mereka roboh saling menindih, kepayahan, bermandi peluh dan cahaya bulan.
Keheningan sesudahnya terasa pekat. Mereka tak butuh kata-kata. Hanya napas yang berbagi, sentuhan kulit yang lembap, denyut lambat yang perlahan mereda.
Leonardo memeluk pinggang Zaira, mengecup lehernya, janggutnya menggores lembut kulit gadis itu, lalu berbisik:
"Sekarang... aku baru bisa tenang."
Zaira, yang nyaris tak sadarkan diri, tersenyum lemah sementara jemarinya bermain di antara rambut lembap di dada lelaki itu.
"Kenapa?"
Leonardo memandangnya, membelai wajah gadis itu dengan buku-buku jarinya.
"Karena aku akan bisa menemuimu setiap akhir pekan..."
Zaira tersenyum mendengar kata-katanya. Benarkah menemuinya sebegitu berarti baginya?
Bulan terus mencurahkan cahaya keperakannya lewat jendela-jendela besar, menyinari tubuh-tubuh yang bertaut dan masih berbagi hangat gairah. Aroma kulit, hasrat yang tuntas, dan melati masih mengambang di udara, menggantung bagai rahasia di dinding-dinding.
Seprai berantakan, saksi bisu gelora yang telah mengguncang malam itu.
Zaira berbaring dengan pipi menempel di dada Leonardo, napasnya mulai menemukan irama yang lebih tenang. Ia membelai lembut lekuk-lekuk tulang rusuk lelaki itu, menghafal detak di bawah kulitnya, seakan takut kalau menutup mata, semuanya akan lenyap. Tapi sebuah kegelisahan, tipis namun membandel, mulai bersarang di dadanya.
Ia bangkit sedikit, menopang dagu di torso Leonardo yang kokoh. Matanya memburu wajah lelaki itu dengan campuran kelembutan dan keraguan.
"Leonardo..." gumamnya dengan suara rendah, nyaris takut mengganggu ketenangan itu. "Boleh aku tanya sesuatu?"
Leonardo tak langsung menjawab. Pandangannya hilang menatap langit-langit, seolah ada sesuatu yang tak kasatmata menahannya jauh. Tapi kemudian ia mengalihkan mata ke gadis itu, membelai pipinya dengan punggung tangan.
"Apa saja," bisiknya.
Zaira menelan ludah. Ia tak ingin merusak keajaiban momen itu, tapi pertanyaan itu telah menghantuinya berhari-hari.
"Kenapa kamu tak pakai pengaman denganku?"
Udara seakan terhenti di dalam kamar.
Leonardo tak bereaksi seketika. Tangannya membeku di tengah jalan antara wajahnya dan wajah Zaira. Kilau di matanya meredup, seakan sebuah bayangan melintasi jiwanya.
"Sejak pertama kali..." Zaira melanjutkan dengan hati-hati. "Kamu tak pernah melakukannya. Bukan berarti aku keberatan, tapi... kenapa? Aku pakai, sebab punya anak sekarang bakal menjauhkanku dari semua rencanaku."
Leonardo menarik napas dalam. Otot rahangnya menegang. Matanya beralih ke jendela, ke kota yang berkelip di bawah bagai hamparan bintang buatan.
"Karena aku tahu, sejak detik pertama melihatmu, bahwa kamu tidak seperti yang lain," katanya dengan suara rendah, berat, serak oleh sesuatu yang lebih dari sekadar hasrat. "Aku tahu kamu tidak berpenyakit."
Zaira memandangnya dengan campuran keterkejutan dan kebingungan. Dadanya dipenuhi sesuatu yang hangat, tapi juga pertanyaan-pertanyaan.
"Dan kamu tak khawatir...?" ia ragu, membenahi posisinya di atas bantal. "Kalau aku lupa minum pil KB lalu hamil?"
Kamar itu dipenuhi keheningan yang lebih pekat dari sebelumnya.
Leonardo duduk di tepi ranjang. Punggungnya menegang, garis otot-ototnya terpahat oleh cahaya yang temaram. Ia mengusap wajahnya, seakan kalimat sesederhana itu telah menyentuh sebuah tempat terlarang di dalam dirinya.
"Tidak," katanya akhirnya, dengan nada kering dan tajam. "Aku tak khawatir."
"Kenapa tidak?" bisik Zaira, bangkit perlahan di belakangnya, mencoba menyentuh bahu lelaki itu.
Leonardo berdiri sebelum tangan Zaira sampai. Ia berjalan ke kamar mandi tanpa memandangnya. Siluetnya yang tinggi dan telanjang seakan memikul beban tak kasatmata.
"Karena aku tak bisa punya anak," katanya begitu tiba di ambang pintu, tanpa berbalik.
Zaira merasa dunia terhenti sedetik. Gema kata-kata itu seakan memantul di dinding, di antara bayang-bayang, menghantam dengan kekuatan yang tak terduga.