"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Dendam Pertama Terbayarkan.
Aroma kapur, keringat dingin, dan kecemasan massal memenuhi koridor lantai dua SMA Taruna Bakti.
Di ujung lorong, selembar kertas kalkir berukuran A3 baru saja ditempel oleh perwakilan OSIS.
Itu adalah papan keramat: Pengumuman Peringkat Paralel Ujian Tengah Semester.
Ratusan murid berdesakan, saling sikut demi melihat nasib mereka.
Di tengah kerumunan itu, Rian berdiri diam. Tangannya mengepal di dalam saku celana abu-abunya.
Napasnya agak tertahan. Setelah seminggu penuh disiksa rumus fisika kuantum oleh Ziva sampai otaknya serasa mau meledak, hari penghakiman itu datang juga.
"Minggir, minggir! Juara bertahan mau lewat!"
Suara familier yang cempreng dan penuh percaya diri memecah kerumunan. Keysha berjalan dengan dagu terangkat, menggandeng lengan Marvel yang tersenyum jemawa.
Jaket denim mahal yang disampirkan di bahu Marvel seolah menegaskan statusnya sebagai cowok yang punya segalanya.
Langkah Keysha mendadak terhenti begitu matanya menangkap sosok Rian.
Senyum meremehkan langsung terukir di bibir tipisnya.
"Eh, ada mantan yang ambisius," sindir Keysha, cukup keras hingga beberapa murid di sekitar mereka menoleh. "Ngapain berdiri di belakang, Yan? Takut nyari nama lo di deretan bawah? Makanya, kalau kemampuan pas-pasan, gak usah gaya-gayaan ikutan perang nilai."
Marvel terkekeh, menepuk bahu Rian dengan tepukan yang sengaja dikeraskan. "Udahlah, Key. Orang yang lagi patah hati biasanya emang suka delusi. Mending kita lihat nama gue di nomor dua atau nomor satu umum lagi."
Rian tidak membalas. Rahangnya mengeras, namun dia teringat kata-kata Ziva semalam: Jangan biarkan emosi lo ngatur strategi lo. Tetap tenang.
Tepat saat itu, kerumunan di depan papan pengumuman mendadak hening. Keheningan yang janggal. Beberapa pasang mata mulai melirik bergantian antara papan pengumuman, Marvel, dan Rian. Bisik-bisik kasak-kusuk mulai menjalar seperti virus.
"Gak mungkin..." bisik seorang siswi di barisan depan.
Keysha yang tidak sabar langsung menerobos kerumunan, diikuti Marvel. "Minggir deh! Biar gue yang liat sendiri."
Mata Keysha langsung menyapu barisan tiga besar teratas yang dicetak dengan huruf tebal. Dan di detik itu juga, seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis. Wajahnya mendadak pias.
PERINGKAT PARALEL UTS KELAS XII
ZIVA ZAKIYAH – Rata-rata: 98,4
ALEXANDER REYNALD – Rata-rata: 96,2
RIAN PRATAMA – Rata-rata: 95,8
MARVEL – Rata-rata: 92,1
Marvel terdepak ke posisi empat.
Dan Rian—cowok yang selama dua tahun ini nilainya selalu medioker karena waktunya habis untuk menjadi 'supir' dan pembawa belanjaan Keysha—berada tepat di atasnya.
Di peringkat ketiga sekolah.
"Ini... ini pasti ada salah input data!" suara Marvel meninggi, matanya melebar menatap angka di samping namanya. Senyum jemawanya runtuh total. "Gak mungkin Rian bisa dapet nilai segini! Dia pasti nyontek!"
"Jaga mulut lo, Vel."
Sebuah suara dingin dan tenang menginterupsi. Kerumunan langsung membelah, memberi jalan bagi Ziva yang berjalan santai dengan buku cetak tebal di pelukannya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun auranya begitu mengintimidasi.
Ziva berhenti tepat di samping Rian, lalu menatap Marvel dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Semua lembar jawab fisika dan biologi Rian diperiksa langsung oleh kepala lab karena nilainya yang melonjak. Hasilnya murni. Kalau lo gak terima peringkat lo merosot, artinya otak lo aja yang emang kalah kapasitas dibanding tutor privat mahal pilihan lo itu."
"Ziva! Lo jangan keterlaluan ya!" Keysha membentak, wajahnya merah padam karena malu. "Lo sengaja kan bantuin Rian cuma buat jatuhin kita?"
Ziva menaikkan sebelah alisnya, menatap Keysha dengan tatapan sedingin es. Tatapan yang menyimpan dendam sedalam lautan atas pita merah satin dan kebohongan masa lalu. "Jatuhin kalian? Kalian terlalu tinggi menilai diri sendiri. Kami cuma mengambil apa yang seharusnya jadi milik kami. Ayo, Yan. Kelas bentar lagi mulai."
Ziva berbalik tanpa menunggu jawaban. Rian menatap Marvel yang napasnya sudah memburu karena murka, lalu memberikan satu senyuman tipis yang sangat mematikan—senyuman kemenangan. Rian melangkah mengikuti Ziva, meninggalkan koridor yang kini gempar oleh runtuhnya dominasi sang pangeran sekolah.
**
Sore harinya, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai di tempat lain.
BRAKK!!
Pintu kamar bernuansa minimalis modern itu dihantam keras hingga nyaris terlepas dari engselnya.
Marvel menendang kursi belajar lipatnya hingga menghantam lemari kaca, membuat beberapa piala kompetisi futsal di dalamnya bergetar hebat.
"Sialan! Bajingan!" teriak Marvel frustrasi.
Dia menjambak rambutnya sendiri, mondar-mandir di kamarnya yang luas seperti singa kelaparan. Di atas kasur, ponselnya tergeletak dengan layar yang masih menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari sang ayah yang baru saja diterimanya lima menit lalu.
Papa sudah lihat raport bayangan UTS kamu. Turun ke peringkat empat? Dan kamu kalah dari anak yang ayahnya cuma buruh pabrikan itu? Mulai besok, semua fasilitas kartu kredit kamu Papa bekukan. Mobil ditarik. Kamu naik angkutan umum sampai nilai kamu kembali ke nomor satu.
"Arghhh!!"
Marvel menepis semua barang di atas meja belajarnya.
Tumpukan buku, laptop, lampu meja, hingga vas bunga jatuh berantakan ke lantai, hancur berkeping-keping.
Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar dada.
Jatah uang jajan bulanannya dipotong total. Tanpa kartu kredit dan mobil, dia bukan siapa-siapa di tongkrongan anak-anak elite. Status sosialnya, harga dirinya di depan Keysha, semuanya hancur berantakan dalam satu hari.
Selama ini, ayahnya adalah sosok diktator yang tidak pernah mentoleransi kegagalan.
Baginya, posisi empat adalah sebuah aib besar.
Marvel menatap serpihan kaca di lantai dengan mata merah yang dipenuhi kebencian murni. Ingatannya kembali pada senyum tipis Rian di koridor sekolah tadi siang, dan tatapan meremehkan dari Ziva.
"Rian... Ziva..." geram Marvel, suaranya bergetar rendah, penuh dengan dendam yang pekat. "Lo berdua belum tahu siapa gue sebenarnya. Gue bakal bikin hidup lo berdua jauh lebih hancur dari ini. Lihat aja nanti."
Di kamarnya yang berantakan bagai medan perang, Marvel bersumpah tidak akan membiarkan Rian menikmati kemenangannya lebih lama lagi.
......................
...****************...
Tbc,