Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Malam kian larut setelah lembar kontrak berharga itu resmi ditandatangani. Dengan perasaan yang jauh lebih tenang, Shanum bergegas melangkah menuju kamar atas. Mulai malam ini, ia menempati ranjang yang berada tepat di samping boks bayi Ziva.
Di kamarnya sendiri, Daniel menghembuskan napas lega sebelum memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa tidur tanpa dihantui rasa cemas. Ia tahu, tidak akan ada lagi tangisan darurat di tengah malam yang memecah kesunyian rumah ini, karena kini sudah ada Shanum yang siap menjaga putrinya.
Benar saja, sekitar pukul dua dini hari, Baby Ziva terbangun. Mulut mungilnya mengecap-ngecap, bergerak gelisah mencari sumber ASI karena kehausan. Beruntung, Shanum yang belum tertidur pulas langsung tersadar. Dengan penuh kasih sayang, ia membawa Ziva ke dalam dekapannya dan memberikan ASI eksklusif segar hingga bayi itu kembali tenang, kekenyangan, dan terlelap dalam hitungan menit. Rasa kantuk yang berat pun akhirnya membawa Shanum ikut tertidur dalam damai.
*
*
Keesokan harinya, pancaran sinar matahari pagi yang hangat mulai menerangi kediaman mewah itu. Seperti rutinitas biasanya, Dokter Daniel sudah rapi dengan kemeja kerja dan jas dokter yang tersampir di lengannya, siap untuk berangkat ke rumah sakit. Sebelum pergi, ia melangkah ke kamar bayi untuk menengok putrinya. Namun, saat pintu diketuk dan dibuka perlahan, Daniel mengernyit bingung. Boks bayi itu kosong, dan Shanum pun tidak ada di sana.
Daniel melangkah menuruni tangga dan memutuskan untuk mencari mereka ke arah taman belakang. Begitu pintu kaca besar digeser, senyuman tipis langsung terukir di wajah tampannya. Tebakannya benar. Shanum dan Baby Ziva sedang berada di sana, menikmati udara pagi yang sejuk di antara hamparan tanaman bunga Bougenville yang indah.
Di sudut taman itu, terdapat sebuah sangkar besar berisikan burung kakatua peliharaan rumah yang pandai menirukan ucapan manusia bernama Leo.
"Halo Ziva cantik! Halo Ziva cantik!" sapa Leo dengan suara seraknya yang khas sambil bertengger lincah.
Shanum yang sedang menggendong Ziva terkekeh geli melihat tingkah burung itu. "Hai Leo, kau juga sangat tampan!" jawab Shanum ramah sambil menahan tawanya.
"Terima kasih cantik! Terima kasih cantik!" sahut Leo lagi, seolah mengerti pujian yang diberikan.
Mendengar sahutan instan si burung, Shanum akhirnya tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya. Di dalam gendongannya, Baby Ziva seolah ikut tertular kegembiraan sang pengasuh. Bayi mungil itu tertawa geli hingga tubuhnya bergerak-gerak aktif.
Melihat pemandangan yang begitu hidup itu, Daniel tertegun di tempatnya berdiri. Hatinya dipenuhi kehangatan yang luar biasa. Membawa Shanum masuk ke dalam rumah ini benar-benar keputusan terbaik yang pernah ia ambil.
Daniel kemudian melangkah pelan tanpa suara di atas rerumputan, berniat menghampiri mereka. Namun, naluri Shanum menangkap ada bayangan dan suara langkah kaki di dekatnya. Saat Shanum membalikkan tubuhnya dengan cepat untuk menoleh ke arah belakang...
"Eh?!"
Shanum tersentak kaget karena wajah Dokter Daniel tiba-tiba sudah berada sangat dekat di belakangnya. Sentakan mendadak itu, ditambah beban tubuh Ziva yang sedang digendongnya, membuat Shanum seketika kehilangan keseimbangan. Kakinya tersandung pembatas rumput, dan tubuhnya limbung ke belakang.
Melihat bahaya di depannya, refleks seorang dokter dan ayah langsung bekerja. Dengan sigap dan cepat, Daniel menjatuhkan jas di tangannya ke kursi taman, lalu mengulurkan kedua tangan kekarnya. Satu tangannya menahan punggung Ziva dengan aman, sementara tangan lainnya merengkuh erat pinggang Shanum, menarik tubuh wanita itu agar tidak jatuh terjungkal ke tanah.
Set!
Dalam sekejap mata, Shanum yang sedang mendekap Ziva berujung jatuh pasrah ke dalam pelukan hangat dan dada bidang Dokter Daniel.
"Kau tidak apa-apa, Shanum?" tanya Daniel dengan suara baritonnya yang dalam, tepat di dekat telinga Shanum.
Deg!
Jantung Shanum rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Ia terkejut setengah mati. Jarak di antara wajah mereka begitu mengikis, hingga ia bisa merasakan dengan jelas hembusan napas hangat Daniel di keningnya. Wangi parfum maskulin yang khas bercampur aroma sabun maskulin milik sang dokter langsung menguar memenuhi indra penciumannya, membuat seluruh tubuh Shanum mendadak kaku tak bisa bergerak.
Begitu menyadari posisinya yang berada dalam dekapan erat sang dokter, Shanum buru-buru melangkah mundur untuk menjauh. Ia langsung membuang wajahnya ke samping, menghindari kontak mata langsung dengan Daniel karena jantungnya yang masih bertalu hebat. Begitu juga dengan Daniel, pria itu sempat berdehem beberapa kali sambil merapikan posisi berdirinya demi menghilangkan kecanggungan yang mendadak menyergap di antara mereka.
"Maafkan aku, Shanum. Kemunculanku malah membuatmu terkejut dan hampir saja terjatuh," ucap Daniel dengan nada menyesal yang tulus.
"T... tidak apa-apa, Pak Dokter," jawab Shanum terbata-bata dengan pipi yang kian merona merah.
Daniel kemudian melangkah kembali mendekat, mengikis jarak di antara mereka untuk meraih putrinya dari gendongan Shanum. Pergerakan Daniel yang tiba-tiba itu sempat membuat Shanum kembali terkejut dan menahan napasnya sesaat.
Daniel mendekap tubuh mungil Ziva dengan penuh kasih sayang. "Putrinya Papah, yang anteng ya di rumah sama Bunda Shanum," ucap Daniel lembut, sengaja menekankan kata terakhir sambil melirik hangat ke arah Shanum.
Shanum sempat menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Ada desiran aneh di hatinya ketika mendengar Dokter Daniel menyebut dirinya dengan sebutan 'Bunda' di depan Ziva. Seolah memahami ucapan sang ayah, Baby Ziva merespons dengan ocehan riang dan senyuman lebar, lalu pandangannya beralih bergantian menatap Daniel dan Shanum seakan tahu mereka berdua sedang membicarakannya.
Setelah puas menggendong dan menciumi pipi gembil putrinya, Daniel mengembalikan Baby Ziva ke dalam asuhan Shanum.
"Aku titip Ziva ya," ujar Daniel. "Oh iya, aku lupa meminta nomor ponselmu. Jika ada apa-apa atau keadaan darurat mengenai Ziva, kau bisa langsung menghubungiku."
Shanum mengangguk pelan, lalu merogoh saku bajunya untuk mengeluarkan ponsel miliknya. Saat ponsel itu berpindah tangan, Daniel sempat terpaku memperhatikannya. Layar ponsel tersebut sudah retak di beberapa bagian, meskipun tampaknya masih bisa dipaksa untuk mengetik pesan.
'Apakah ponsel butut seperti itu masih bisa digunakan dengan baik? Kasihan sekali Shanum... Beban hidupnya benar-benar terlalu berat,' batin Daniel merasa iba yang mendalam.
Setelah keduanya selesai bertukar nomor telepon, Daniel berpamitan lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke rumah sakit. Sementara itu, Shanum kembali melangkah masuk ke dalam rumah yang megah itu, bersiap untuk memandikan Baby Ziva yang mulai aktif bergerak.
Rumah Sakit Citra Medika
Setibanya di rumah sakit, Daniel berjalan tegap menyusuri koridor lobi. Dari arah berlawanan, Dokter Maura datang menghampiri dengan senyuman termanis yang sengaja ia sunggingkan. Namun, seperti biasa, sikap Daniel tetap dingin dan hanya membalasnya dengan senyuman tipis formalitas.
"Pagi, Dok. Bagaimana kondisi kesehatan Baby Ziva hari ini?" sapa Dokter Maura dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
"Pagi juga, Dokter Maura. Kondisi Ziva semakin membaik semenjak ada Shanum yang mengurusnya di rumah," jawab Daniel jujur tanpa beban.
Deg!
Mendengar nama Shanum disebut dengan begitu leluasa dari bibir Daniel, senyuman Dokter Maura seketika membeku. Rasa kesal dan cemburu langsung bergejolak di dadanya, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap mengontrol ekspresi wajahnya.
"Oh, ya? Syukurlah kalau begitu," sahut Dokter Maura, matanya berkilat licik saat sebuah ide terlintas di kepalanya. "Oh iya, Dok, nanti sore aku ingin mengunjungi Ziva ke rumahmu, apa boleh? Sekaligus aku mau memeriksa langsung kondisi kesehatannya. Kita harus memastikan apakah kualitas ASI dari wanita itu benar-benar bagus dan tidak memicu alergi baru untuk Ziva."
Daniel sempat termenung sejenak mendengar usulan tersebut. Sebagai seorang ayah sekaligus rekan sejawat medis, ia harus mengakui bahwa omongan Dokter Maura ada benarnya, kondisi klinis Ziva tetap harus dipantau secara berkala.
"Baiklah. Nanti sore kita sama-sama pulang untuk menemui Ziva. Kebetulan sore ini saya juga tidak ada jadwal praktik di tempat lain," putus Daniel menyetujui.
Mendengar jawaban dari Daniel, Dokter Maura tersenyum puas, kemenangan kecil seolah sudah berada di tangannya. Ia membalikkan badan dan melangkah pergi sambil berbisik penuh dendam di dalam hatinya.
'Sebentar lagi, aku pastikan kau akan ditendang dan keluar dari rumah Daniel. Camkan itu baik-baik dalam otakmu, wanita kampung!'
Bersambung...
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali