Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 35
Kehancuran harga diri Zico di lantai tiga puluh gedung Zico Group tidak berakhir di dalam ruangan eksekutifnya saja. Rasa malu yang merayapi dadanya berganti menjadi dendam yang liar. Pemuda arogan itu tidak hanya ingin menghancurkan Mahendra Group secara finansial, tetapi juga ingin mempermalukan Theodore di hadapan seluruh penduduk kota hingga pria itu tidak bisa menegakkan kepalanya lagi.
Malam itu juga, Zico memerintahkan tim media dan peretas pribadinya untuk menyebarkan rekaman suara serta cuplikan gambar dari kamera pengawas ruangan kerjanya ke seluruh jaringan media sosial lokal, grup percakapan pengusaha kelas atas, hingga forum-forum gosip dunia bawah.
Dalam rekaman singkat yang disunting secara khusus itu, sosok Theodore yang mengenakan kemeja lusuh terlihat berdiri angkuh sambil berbisik di samping Zico. Tulisan besar berwarna merah tebal sengaja dibubuhkan di atas video tersebut: *“Ancaman Gila Si Benalu Miskin: Keluarga Z Bakal Mengemis di Jalanan dalam Tiga Hari!”*
Hanya dalam waktu kurang dari dua jam, video tersebut meledak secara viral. Berita itu menyebar secepat api yang menyambar padang rumput kering, memicu gelombang tawa dan ejekan raksasa dari seluruh penjuru kota.
Di klub-klub malam eksklusif tempat para pengusaha muda berkumpul, video itu diputar berulang-ulang di atas layar TV raksasa, disambut oleh gelak tawa riuh yang meremehkan.
"Hahaha! Gila! Bener-bener gila ini orang!" seru seorang pengusaha muda berjas mahal sambil menunjuk-nunjuk layar ponselnya di sebuah bar. "Pria gembel yang kerjaannya cuma ngepel lantai dan disiram air bekas cuci piring sama mertuanya, berani-beraninya ngancam mau bikin Keluarga Z bangkrut dalam tiga hari!"
"Mungkin otaknya geser gara-gara kebanyakan makan sisa makanan mertuanya!" sahut rekannya sambil tertawa terbahak-bahak hingga menumpahkan minumannya. "Keluarga Z itu punya aset puluhan triliun rupiah dan menguasai lima puluh persen saham bank swasta! Bahkan walikota saja harus mengangguk hormat sama Tuan Besar Z! Siapa si gembel ini sampai berani ngomong begitu?"
"Ini lelucon paling lucu di kota kita tahun ini! Tiga hari katanya? Hari ini aja rumah mertuanya udah mau disita bank!" ejek yang lainnya penuh cemoohan.
Bukan hanya di kalangan pengusaha muda, berita konyol itu juga menjadi bahan lelucon utama di acara-acara minum teh para wanita sosialita kelas atas. Nama Theodore dan keluarga Mahendra seketika menduduki puncak daftar lelucon paling hangat di kota.
***
Sementara itu, di dalam ruang tamu kediaman utama Keluarga Mahendra, suasana malam yang seharusnya tenang mendadak berubah menjadi neraka kepanikan dan rasa malu yang amat sangat.
Ponsel genggam milik Martha dan Kakek Surya tidak berhenti berdering sejak satu jam yang lalu. Setiap kali tombol hijau ditekan, bukannya tawaran bantuan atau simpati yang mereka dapatkan, melainkan nada sindiran, cemoohan, dan tawa mengejek dari rekan-rekan bisnis serta teman-teman sosialita mereka.
"Halo, Martha? Aduh, aku cuma mau nanya nih..." suara seorang wanita sosialita terdengar terkekeh-kekeh dari seberang telepon Martha. "Menantu benalumu itu sekarang alih profesi jadi pelawak ya? Katanya dia mau bikin Keluarga Z mengemis dalam tiga hari? Hahaha! Tolong dong kasih tahu dia, kalau mau melawak jangan bawa-bawa nama keluarga Mahendra!"
Tut... tut... tut...
Panggilan itu diputus secara sepihak, menyisakan Martha yang berdiri mematung dengan wajah merah padam menahan rasa malu yang luar biasa.
"Kurang ajar! Bener-bener kurang ajar!" jerit Martha histeris, melemparkan ponsel mewahnya ke atas sofa dengan tangan gemetar hebat.
"Ibu! Lihat ini!" Kevin berlari cepat dari arah kamar sambil mengacungkan tabletnya yang menayangkan ribuan komentar negatif di internet. "Video si gembel Theodore sudah ditonton ratusan ribu orang! Seluruh kota sekarang lagi ngetetawain keluarga kita! Muka kita ditaruh di mana, Bu?!"
Kakek Surya yang duduk di sofa utama memegangi dadanya yang kembali terasa sesak. Wajah pria tua itu sangat pucat, urat-urat di lehernya menonjol tegang akibat menahan rasa amarah yang bercampur dengan kehinaan mendalam. Pria tua yang selalu membanggakan nama besar Mahendra Group itu kini harus menanggung malu menjadi bahan tertawaan satu kota gara-gara ulah menantu yang paling dibencinya.
"Panggil... panggil si benalu itu ke sini sekarang!" raung Kakek Surya dengan suara serak yang bergetar hebat, mengetukkan tongkat naganya ke lantai hingga berderak kencang.
Brak!
Pintu kamar belakang terdorong terbuka. Yevone melangkah keluar dengan raut wajah yang sangat lelah dan cemas. Ponsel pintar di tangannya juga tidak berhenti bergetar gara-gara pesan singkat dari teman-temannya yang mempertanyakan kegilaan suaminya.
"Ada apa lagi ini, Bu? Kenapa berteriak-teriak malam-malam begini?" tanya Yevone dengan suara lemah, berusaha menahan pusing yang menghantam kepalanya.
Martha langsung menyergap ke arah Yevone, mencengkeram kedua lengan anak gadisnya dengan raut wajah meliuk marah bagaikan kesetanan.
"Mana suamimu yang gembel itu, Yevone?!" jerit Martha melengking di depan wajah Yevone. "Mana si pembawa sial itu?! Dia sudah bikin keluarga kita jadi lelucon satu kota! Dia sesumbar mau bikin Keluarga Z bangkrut dalam tiga hari! Kamu tahu nggak, gara-gara ucapan gilanya itu, Tuan Besar Z makin murka dan mempercepat eksekusi penyitaan aset kita besok pagi!"
Yevone terpaku di tempatnya. Hatinya terasa begitu sesak dan berat. Ia tahu betul apa yang dikatakan Theodore di kantor Zico tadi siang, namun ia tidak menyangka Zico akan seculas ini menyebarkannya ke publik untuk menghancurkan harga diri keluarganya.
make
Theodore melangkah keluar dari dalam dapur dengan tenang, membawa selembar kain lap bersih di tangannya. Ia menatap tiga anggota keluarga Mahendra yang sedang emosi itu tanpa ada ketakutan atau kebingungan di wajahnya.
"Ibu memanggilku?" tanya Theodore pelan, suaranya sangat datar dan santai.
"Tutup mulut kotormu, bajingan!" maki Kevin sambil melangkah maju dan mendorong dada Theodore dengan kasar, walau tubuh Theodore tidak bergeming sedikit pun. "Siapa yang kasih kamu hak buat ngomong sembarangan di depan Tuan Muda Zico, hah?! Kamu cuma gembel yang numpang makan di rumah ini! Sekarang gara-gara mulut besarmu, seluruh kota ngetetawain Mahendra Group!"
"Benalu tak tahu diri!" Kakek Surya menunjuk Theodore dengan tongkat naganya, matanya melotot penuh dendam. "Tiga hari kamu bilang?! Kamu pikir kamu ini dewa yang bisa menghancurkan konglomerat raksasa dalam tiga hari?! Esok pagi adalah hari pertama dari ancaman konyolmu itu, dan esok pagi juga rumah ini bakal disita bank gara-gara kegilaanmu!"
Theodore meletakkan kain lapnya di atas meja kecil. Ia menatap Kakek Surya, Martha, dan Kevin bergantian dengan seulas senyum tipis yang sangat misterius—sebuah senyuman yang tenang di tengah badai cemoohan.
"Kalau begitu, tunggu saja sampai esok pagi," balas Theodore pelan, suaranya mengandung nada kepastian yang membuat ruangan itu sejenak menjadi hening. "Besok adalah hari pertama. Kalian bisa membuktikan sendiri siapa yang sebenarnya akan menjadi bahan tertawaan."
"Kamu... kamu masih berani menjawab?!" jerit Martha histeris, menyambar vas bunga plastik dan melemparkannya ke arah Theodore, namun Theodore hanya menggeser badannya sedikit untuk menghindar. "Pergi kamu ke kamar! Jangan berani tunjukkan mukamu di depan kami sampai esok pagi!"
Yevone tidak sanggup lagi menyaksikan pertengkaran yang menyakitkan itu. Ia meremas jemari Theodore, lalu menarik suaminya berjalan cepat masuk ke dalam kamar tidur mereka, membanting pintu kayu itu rapat-rapat untuk mengunci semua makian di luar.
***
Di dalam kamar tidur yang sempit dan remang-remang, Yevone duduk di tepi ranjang. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, bahunya berguncang pelan saat air mata kekecewaannya kembali menetes deras.
"Theo..." panggil Yevone dengan suara parau yang tertahan. "Kenapa kamu harus bilang hal seberani itu sama Zico? Sekarang seluruh kota tertawa... Ibu dan Kakek makin benci sama kamu..."
Theodore berlutut di lantai di hadapan Yevone. Ia mengambil kedua tangan istrinya dari wajahnya, lalu menggenggamnya erat dengan kehangatan yang tulus.
"Yevone, tatap mataku," bisik Theodore dengan nada suara yang sangat dalam dan menenangkan.
Yevone mendongak, menatap mata hitam suaminya yang begitu jernih dan penuh rasa percaya diri.
"Percayalah padaku, hanya untuk tiga hari ini," ucap Theodore lembut, mengusap sisa air mata di pipi Yevone dengan ibu jarinya. "Semua hinaan, tawa mengejek, dan kepedihan yang kamu rasakan malam ini... akan terbayar lunas dalam tiga hari. Aku tidak pernah membiarkan siapa pun menyakitimu tanpa menerima pembalasan."
Yevone menatap mata Theodore lekat-lekat. Entah mengapa, di tengah cemoohan satu kota yang menyebut suaminya orang gila, ketenangan absolut di wajah Theodore selalu sanggup membuat hatinya merasa sangat aman. Yevone mengangguk pelan, menyandarkan dahinya di bahu tegap Theodore.
Sementara itu, di lantai paling atas markas pusat Aegis Corporation yang berjarak beberapa kilometer dari sana.
Ruang kendali siber tampak sunyi mencekam. Exel berdiri di depan jendela kaca raksasa, menatap pendar lampu kota yang gemerlap di balik kegelapan malam. Di tangannya, sebuah jam saku emas antik berdenting halus.
Jarum jam tepat menunjuk angka 00.00. Hari pertama resmi dimulai.
Exel menyunggingkan senyuman dingin yang mematikan, lalu menoleh ke arah Leo yang duduk di depan komputer utama.
"Leo," panggil Exel dengan suara rendah yang penuh dengan kejamnya takdir. "Nyalakan mesin invasi. Hari pertama... potong dua puluh persen saham Keluarga Z dari bursa efek sekarang juga."
"Siap, Komandan! Eksekusi Serangan Hari Pertama dimulai!" jawab Leo sambil menekan tombol enter.