Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Persaingan di Tengah Lumpur
Ketegangan di perbatasan sawah Desa seolah membekukan embusan angin yang terik siang itu. Kalimat tegas dari Dimas Dananjaya yang membela Nayla, meredam hawa panas matahari di atas ubun-ubun. Dua pria bertubuh tegap itu saling mengunci pandangan dalam jarak dekat. Tangan kiri Arkan mengepal kuat, sementara rahang tegasnya mengatup rapat menahan letupan emosi cemburu yang masih enggan diakui oleh benteng logikanya yang keras kepala.
Nayla melangkah maju dari balik punggung Dimas, wajah manisnya yang putih itu seketika menegang. Sepasang mata bulatnya menatap Arkan dengan tatapan kebencian dan rasa sakit hati yang mendalam, sisa dari luka emosi akibat tuduhan Arkan di depan pagar bambu kemarin.
"Sudahlah, Mas Dimas. Tidak usah membuang tenaga meladeni orang kota yang tidak punya hati dan tata krama harian ini," ucap Nayla dengan nada suara yang sangat dingin dan acuh tak acuh. Gadis itu sengaja memalingkan wajahnya dari Arkan, mengabaikan keberadaan sang Tuan Muda seolah-olah pria itu hanyalah seonggok batu tak berharga di tepi jalan sawah.
Diabaikan secara terang-terangan oleh Nayla membuat hati Arkan mendadak terasa sesak dan dongkol setengah mati. Sifat gila hormatnya bergejolak hebat, namun sebelum ia sempat melontarkan kalimat sarkas berikutnya, Pak Barkah melangkah maju memotong kecanggungan tersebut.
"Nah, mumpung kalian berdua sama-sama berbadan tegap dan punya tenaga ekstra," seru Pak Barkah dengan suara lantangnya yang khas, menepuk pundak jangkung Arkan dengan cukup keras. "Bagian parit pembatas sawah di sebelah sana sedang longsor akibat gerusan air subuh tadi. Arkan, daripada kamu cuma berdiri mematung memelihara omongan ketus, lebih baik kamu turun dan bantu Kang Suryo serta Dimas mengangkat batu-batu kali untuk menahan tanggul."
Arkan tertegun, melirik telapak tangan kanannya yang masih terbalut kasa tipis. "Saya? Harus mengangkat batu di lumpur kotor itu?" tanya Arkan ragu.
"Kenapa? Tuan Muda kita takut kotor dan tidak punya tenaga?" sindir Pak Barkah sambil terkekeh hambar, sengaja memancing harga diri Arkan di depan keluarga Pak Suryo.
Mendengar tantangan itu, ditambah dengan tatapan mata Dimas yang tampak tenang namun menantang, dinding ego Arkan seketika terbakar. Ia menolak keras dicap sebagai pria kota yang lemah, terutama di hadapan Nayla. Dengan sentakan kasar, Arkan melepas sandal jepitnya, menggulung celana kain longgar pinjaman Pak Barkah hingga ke bawah lutut, lalu melangkah turun ke dalam kubangan lumpur sawah yang basah.
Terjadilah situasi dimana persaingan fisik pun dimulai dalam sekejap mata. Dimas yang bertubuh tegap proporsional tampak sangat cekatan dan terbiasa memindahkan batu-batu kali berukuran besar dengan gerakan yang rapi. Arkan yang berjiwa kompetitif menolak untuk kalah saing. Menggunakan tangan kirinya yang sehat dan sisa tenaga otot lengan hasil latihan gym mewahnya di Jakarta, Arkan mencoba mengangkat sebuah batu kali yang ukurannya jauh lebih besar dari yang diangkat Dimas.
"Lihat saja, saya tidak selemah yang kalian pikirkan," gumam Arkan penuh keangkuhan kaku di dalam hatinya.
Arkan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat batu besar itu ke atas dada atletisnya. Namun, karena ia belum terbiasa berdiri di atas medan lumpur sawah yang lembek dan licin, kakinya mendadak kehilangan cengkeraman. Sialnya lagi, celana kain longgar milik Pak Barkah yang ikat pinggangnya hanya terbuat dari tali karet elastis kendor itu mulai melorot kedodoran akibat beban berat batu yang diangkatnya.
"Eh! Sialan!" pekik Arkan panik. Tubuh jangkungnya limbung ke arah depan, dan celananya yang melorot membuat ruang gerak kakinya terkunci rapat.
Sebelum tubuh tegap sang Tuan Muda Jakarta itu jatuh terjerembah dengan wajah menghantam lumpur cokelat kotor di bawahnya, sebuah tangan kasar dengan sigap mencengkeram erat bahu kirinya. Dimas dengan gerakan refleks yang sangat cepat menarik tubuh Arkan ke belakang, sementara tangan kiri Arkan buru-buru melepaskan batu kali itu dan menyambar bagian pinggang celananya yang kedodoran agar tidak melorot semakin bawah.
Arkan mematung dengan napas terengah-engah dan wajah yang mendadak berubah menjadi merah padam sampai ke leher karena malu yang luar biasa. Sosok eksekutif muda metropolitan yang biasanya selalu tampil berwibawa dan klimis di Jakarta, kini berdiri konyol di tengah sawah dengan satu tangan memegangi celana kainnya yang melorot dan tubuh yang penuh peluh.
Pak Barkah dan Pak Suryo yang melihat kejadian konyol tersebut seketika meledakkan tawa renyah mereka hingga menggema di tengah ladang luar. Bahkan Tika yang baru menyusul mengantarkan bekal dari kejauhan ikut tertawa terpingkal-pingkal melihat nasib apes sang Tuan Muda.
Namun, Arkan tidak memedulikan tawa orang lain. Sepasang matanya langsung bergerak cepat menatap ke arah pematang tempat Nayla berdiri. Arkan berharap setidaknya ada sela senyuman tipis atau tawa renyah dari bibir gadis itu seperti saat kejadian saset sampo di warung kelontong kemarin sore. Namun, harapan Arkan pupus total.
Nayla tetap berdiri bergeming dengan wajah yang datar, dingin, dan penuh dengan sisa rasa sakit hati. Gadis berkulit putij itu sama sekali tidak tertawa atau mengasihani kondisi Arkan. Sebaliknya, Nayla melangkah mendekati bibir pematang, mengabaikan sosok Arkan yang sedang salah tingkah merapikan celananya, lalu mengulurkan sebuah handuk kecil bersih dan segelas es sirup merah yang segar hanya kepada Dimas.
"Ini, Mas Dimas minum dulu es sirupnya. Terima kasih ya sudah bekerja keras membantu Bapak dari pagi dan menolong orang-orang yang merepotkan tadi," ucap Nayla dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat lembut dan manis, memberikan senyuman tercerahnya khusus untuk sang ketua karang taruna desa.
Dimas menerima gelas itu dengan senyuman ramah. "Terima kasih, Nayla."
Melihat bagaimana manisnya perlakuan Nayla kepada Dimas dan bagaimana dirinya diabaikan sepenuhnya seolah-olah ia adalah polusi tak kasat mata dinding pertahanan ego Arkananta Dewangga hancur lebur berkeping-keping. Rasa haus yang membakar tenggorokannya kalah menyakitkan dibandingkan dengan rasa cemburu pekat yang kini meremas kuat di balik dadanya yang bidang. Sisi hatinya yang mulai melunak dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa ucapan kasarnya kemari sore telah membangun jurang pemisah yang sangat besar di antara mereka.
Arkan melangkah naik ke pematang dengan hentakan kaki yang lesu, membiarkan tubuhnya yang kotor dan bersimbah peluh tanpa ada selembar handuk pun yang menyambutnya. Di bawah terik matahari siang hari itu sang Tuan Muda Jakarta terpaksa menelan bulat-bulat rasa sesal mendalam yang kini mengganjal berat di dalam dadanya, menyadari bahwa memenangkan keangkuhan kaku kotanya kemarin, telah membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kembali senyuman manis dan perhatian dari gadis yang sekarang sengaja mengabaikannya itu.