NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Papa dan Polisi

Napas Elang memburu, matanya menatap tajam punggung Valeska yang makin menjauh di sepanjang koridor. Kepalan tangannya sampai memutih di samping badan, menahan godaan besar untuk mengejar cewek itu dan membalas semua ucapan beracunnya.

"Kak Elang..."

Suara pelan dan bergetar dari Caca memecah ketegangan. Elang langsung menoleh, menyadari tubuh cewek di sebelahnya itu sedikit gemetar. Caca meremas buku Biologi di dadanya, matanya menatap lantai dengan raut takut yang tidak bisa disembunyikan.

Rasa marah Elang seketika luluh, berganti dengan rasa bersalah yang amat sangat. Dia mengikis jarak, memelankan nada suaranya agar tidak menakuti Caca.

"Ca, lo enggak apa-apa?" tanya Elang lembut, matanya menatap Caca penuh penyesalan. "Sorry banget ya, gara-gara gue lo jadi kena semprot sama cewek gila itu."

Caca mendongak pelan, mengusap kacamatanya yang sedikit miring. "Kak Valeska... beneran marah banget ya sama Kak Elang? Terus maksud omongan dia tadi..."

"Gausah dipikirin, Ca," potong Elang cepat, mengacak rambut depan Caca pelan buat menenangkannya. "Dia emang gitu, suka ngomong asal jiplak biar orang takut. Dia enggak bakal berani ngapa-ngapain lo selama ada gue. Gue jamin."

Caca menatap mata Elang cukup lama, lalu mengangguk pelan walau masih ada keraguan di raut wajahnya. "Aku... aku masuk ke kelas duluan ya, Kak. Udah mau bel."

"Iya, masuk gih. Nanti pulang sekolah tunggu di gerbang ya, kita beli es krim," ujar Elang mencoba tersenyum sehangat mungkin.

Begitu sosok Caca menghilang memasuki area kelasnya, senyum di wajah Elang memudar total. Raut mukanya kembali keras dan dingin. Tatapannya tertuju ke arah koridor lantai dua—tempat kelas Valeska berada.

"Lo benar-benar udah lewat batas, Valeska," desis Elang pelan, suaranya sarat akan ancaman.

Sementara itu di kelas XI-1, Valeska duduk santai di bangkunya sambil memoles lip gloss di bibirnya. Giselle yang duduk di sampingnya langsung mendekat dengan raut wajah kepo.

"Val, tadi lo dari mana aja? Kok mukanya keliatan puas banget habis dari ruang BK?" tanya Giselle.

"Biasa, habis ngasih pelajaran kecil buat si kecoa sama ceweknya," sahut Valeska santai sambil memasukkan lip gloss ke dalam tas mewahnya. "Biar tahu diri dikit, enggak usah sok heroik di depan gue."

"Gila lo emang, enggak ada kapok-kapoknya!" tawa Giselle pelan.

Namun, di tengah tawa Giselle dan keangkuhan Valeska, pintu kelas mendadak diketuk pelan. Seorang siswa pengurus OSIS berdiri di depan pintu membawa selembar kertas resmi dari pihak sekolah.

"Misi, permisi... Valeska Aurelia ada?" panggil siswa itu.

Valeska menaikkan sebelah alisnya, menatap siswa itu malas dari tempat duduknya. "Apaan? Gue males ke BK lagi ya hari ini."

Siswa OSIS itu menelan ludah canggung. "Bukan dari BK, Val. Ini surat panggilan resmi dari Kepala Sekolah. Papa lo... ada di ruangan Kepala Sekolah sekarang."

Deg.

Tangan Valeska yang sedang merapikan tasnya seketika membeku. Senyum angkuh di wajahnya menguap dalam sekejap.

"Papa gue?" ulang Valeska dengan suara yang mendadak pelan dan bergetar. "Papa... datang ke sekolah?"

Giselle ikut menahan napas, menatap Valeska dengan mata membelalak panik. "Val... Papa lo beneran datang? Bukannya kata Bi Sumi semalam Papa lo lagi di luar kota?"

Valeska tidak menjawab. Jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. Ada perasaan tidak enak yang sangat tajam merayapi dadanya. Tanpa mengucap sepatah kata pun pada Giselle, Valeska berdiri dari kursinya dan melangkah terburu-buru menuju ruang Kepala Sekolah.

Suasana koridor utama menuju kantor pusat terasa mendadak sangat hening dan tegang. Begitu tiba di depan pintu ruang Kepala Sekolah yang berbingkai kaca es, Valeska menghentikan langkahnya. Jemarinya yang gemetar pelan mendorong pintu kayu tebal itu.

Klek.

Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, Valeska mematung sempurna.

Papanya—seorang pengusaha besar yang biasanya selalu tampil rapi, tegas, dan berwibawa—kini berdiri di tengah ruangan dengan kemeja kusut dan wajah sangat pucat. Di kedua sisinya, berdiri dua orang polisi berpakaian dinas lengkap. Kepala Sekolah sendiri cuma bisa berdiri diam di balik mejanya dengan raut wajah serba salah.

"Papa...?" panggil Valeska lirih, matanya berpindah-pindah menatap Papanya dan dua polisi di sana. "Ada apa ini? Kenapa ada polisi di sini?!"

Papanya menoleh pelan. Begitu menatap Valeska, air mata pria paruh baya itu menetes perlahan—pemandangan yang sama sekali belum pernah Valeska lihat seumur hidupnya. Papanya melangkah mendekat, mengabaikan tatapan polisi, lalu memegang kedua bahu Valeska dengan tangan yang gemetar hebat.

"Valeska..." suara Papanya serak dan pecah. "Maafin Papa, ya... Tolong maafin Papa..."

"Pa, bercanda kan?!" pekik Valeska histeris, menyentak tangan Papanya. "Ini ada apa sih?! Papa kenapa nangis?! Kenapa bilang maaf?!"

"Papa harus ikut Pak Polisi sekarang," bisik Papanya sambil berusaha tersenyum tipis di tengah lelehan air matanya. "Mulai hari ini... kamu harus bisa jaga diri baik-baik, Val. Janji sama Papa, kamu harus kuat."

"Enggak! Mau dibawa ke mana Papa?!" teriak Valeska panik luar biasa. Keangkuhannya runtuh total, berganti dengan rasa takut yang mencengkeram dada. Dia berbalik menatap salah satu polisi dengan mata membelalak.

"Pak! Anda siapa?! Mau bawa Papa saya ke mana, hah?! Jangan sembarangan ya! Saya bisa tuntut kalian semua! Kenapa Papa saya ditangkap?!"

Polisi yang berdiri di sebelah kanan Papanya menghela napas pelan, menatap Valeska dengan tatapan prihatin.

"Keluarga korupsi dan tindak pidana pencucian uang, Mbak," jawab polisi itu tenang namun begitu menusuk. "Kami membawa surat perintah penangkapan resmi dari kepolisian pusat untuk Pak Pratama."

Deg!

Dunia Valeska serasa runtuh seketika. Pandangannya memburam, seluruh persendiannya mendadak meloloskan rasa lemas yang luar biasa.

"Enggak... Nggak mungkin!" jerit Valeska histeris, mencoba menerobos ke depan untuk meraih kemeja Papanya. "Papa saya orang terpandang! Korupsi apa, hah?! Kalian bohong! Lepasin Papa gue!"

Salah satu polisi memegang lengan Pak Pratama dan memasang borgol besi yang berdenting dingin. Pak Pratama hanya menunduk pasrah, air matanya menetes makin deras ke lantai granit ruangan.

"Maafin Papa, Valeska... Jaga diri kamu..." bisik Pak Pratama parau saat polisi mulai menuntunnya berjalan menuju pintu keluar.

"PAPA! JANGANN! PAPAA!" pekik Valeska bersiap mengejar ke arah koridor, namun sepasang tangan menahan kedua bahunya dengan kuat dari belakang.

"Valeska, tenang! Tahan diri kamu!" tegur Kepala Sekolah dengan nada suara yang bergetar penuh keprihatinan. Beliau menahan tangan Valeska yang memberontak hebat.

"Lepasin saya, Pak! Saya mau ikut Papa!" tangis Valeska pecah total, dadanya naik turun diiringi isak tangis yang begitu memilukan—sosok Valeska yang angkuh dan ditakuti seketika lenyap tanpa sisa.

Kepala Sekolah mengelus bahu Valeska pelan, mencoba menenangkan muridnya yang kini gemetaran hebat di depannya.

"Valeska, kamu harus kuat," bisik Kepala Sekolah lembut namun tegas. "Bapak tahu ini berat buat kamu, tapi kamu harus tenang dulu. Berdoa saja... Berdoa semoga masalah Papa kamu cepat selesai dan Beliau tidak terlalu lama di sana."

"Tapi Pak... Papa saya..." suaranya memelan, terputus oleh napasnya yang makin sesak.

Valeska terduduk lemas di sofa ruang Kepala Sekolah, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!