NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN DIBALIK TIRAI

“Siapa yang mengirim pesan di jam seperti ini, Sayang?” tanya Hendra pelan sambil membelai lembut jemari Aura saat menyadari pandangan istrinya tertuju pada layar ponsel.

Aura tidak langsung menjawab. Dahi mulusnya berkerut tipis saat matanya membaca ulang baris demi baris pesan singkat dari nomor yang tidak terdaftar tersebut. Suasana hangat di dalam kabin limusin yang tadinya dipenuhi canda tawa mendadak diwarnai ketegangan tak kasat mata.

‘Selamat atas peresmian pelabuhan barunya, Nyonya Aura. Tapi perlu kamu tahu... Aris dan Wijaya cuma catur kecil yang sengaja kami korbankan. Penguasa sejati dinasti pasar finansial Asia belum pernah benar-benar menampakkan diri.’

Melihat keheningan istrinya, Hendra meraih ponsel tersebut dari tangan Aura. Begitu mata cokelat gelap sang taipan membaca isi pesan misterius itu, raut wajah tampannya seketika berubah memadat bagaikan karang. Aura dingin khas penguasa puncak kembali memancar kuat dari tubuhnya.

“Nomor tidak dikenal lagi?” cetus Hendra dengan suara berat yang menekan. Tangannya memegang erat ponsel tersebut sebelum mengusap punggung tangan Aura dengan protektif.

Aura menghela napas perlahan, menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya. Ketajaman intuisinya sebagai Komisaris Utama membuat otaknya langsung bekerja menganalisis setiap kemungkinan.

“Mas... Aris dan Pak Wijaya memang sudah tumbang,” tutur Aura dengan suara jernih dan tenang. “Tapi waktu lelang lima puluh triliun kemarin, aliran dana jaminan Wijaya Group berasal dari konsorsium asing berbasis di Singapura. Kamu ingat?”

Hendra menyipitkan matanya tajam. Ingatan tentang transaksi besar tiga bulan lalu kembali terlintas jernih di kepalanya.

“Maksud kamu... Konsorsium Vane & Co?” bisik Hendra penuh penekanan.

“Benar,” jawab Aura mantap, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. “Aris mana mungkin punya akses ke jaringan investor privat sebesar itu kalau tidak ada pihak ketiga yang sengaja memanfaatkannya buat memancing kekuatan finansial Fahreza Group.”

Hendra tidak menjawab. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu menekan tombol interkom di samping kursi, menghubungkan komunikasinya langsung ke pengawal pribadi di kabin depan.

“Pak Biantoro,” panggil Hendra dingin.

“Ya, Pak Hendra?”

“Lacak lokasi pemancar dari nomor yang baru saja mengirim pesan ke ponsel Aura. Minta tim IT periksa apakah ada pergerakan transaksi mencurigakan di bursa saham atas nama Konsorsium Vane & Co siang ini.”

“Baik, Pak Hendra! Segera kami proses!”

Aura mengusap lembut rahang tegas suaminya yang menegang, memberikan kehangatan alami yang selalu sanggup menenangkan amarah sang taipan. “Mas... kita baru saja menyelesaikan masalah Aris. Jangan biarkan gertakan teror anonim ini merusak hari bahagia peresmian pelabuhan kita.”

Hendra menatap wajah cantik istrinya. Binar kejengkolan di matanya perlahan luntur, digantikan oleh rasa cinta yang teramat dalam. Pria itu membungkuk sedikit, menanamkan kecupan hangat di bibir merah Aura.

“Kamu benar, Ratu saya,” bisik Hendra seksi di dekat telinga Aura. “Siapa pun yang berani bersembunyi di balik tirai itu... mereka akan bernasib sama tragisnya dengan Aris jika mencoba mengusik ketenangan keluarga kita.”

Dua jam kemudian di kediaman utama Fahreza.

Suasana sore hari di halaman belakang rumah terasa begitu asri. Angin sepoi-sepoi membelai dedaunan pohon pelindung di sekitar kolam renang. Rendra yang sudah segar usai beristirahat tampak berlari-lari kecil mengejar bola plastik bersama dua pengawal pribadi yang menjaganya dengan penuh kesiapsiagaan.

Di area teras berlantai marmer, Aura duduk santai menikmati teh hangat aromatik. Ia mengenakan gaun santai sutra berwarna krem yang membalut indah tubuh jenjangnya.

Laras, sekretaris pribadinya, melangkah terburu-buru menghampiri teras sambil membawa sebuah map dokumen tebal berstempel kerahasiaan tinggi.

“Nyonya Aura,” sapa Laras menunduk hormat.

“Duduk, Laras,” ujar Aura anggun seraya meletakkan cangkir porselennya. “Ada perkembangan dari laporan tim IT?”

Laras duduk di kursi berhadapan dengan Aura, lalu membuka map tersebut di atas meja kaca.

“Sesuai dugaan Anda, Nyonya,” terang Laras tegang. “Nomor misterius tadi dikirim melalui server enkripsi bertingkat yang berbasis di Zurich. Namun, tim analisis keuangan kami menemukan pergerakan tak biasa di bursa saham Jakarta sejam yang lalu.”

Dahi mulus Aura berkerut tipis. “Pergerakan saham Fahreza Group?”

“Bukan hanya Fahreza Group, Nyonya,” jawab Laras cepat. “Seseorang baru saja membeli sepuluh persen saham lepas milik anak perusahaan kita di bidang pelayaran secara bertahap. Dan nama entitas pembelinya adalah Aero Capital—anak perusahaan utama dari Vane & Co.”

Aura memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyuman tipis yang amat anggun namun sarat akan ketajaman berpikir.

“Mereka tidak menyerang dari depan seperti Aris...” gumam Aura halus. “Tapi mereka mencoba menyusup lewat pintu belakang bursa saham.”

Langkah kaki tegap terdengar mendekat. Hendra melangkah keluar dari ruang kerja dengan balutan kemeja kasual hitam. Pria matang itu berdiri di belakang kursi Aura, melingkarkan lengan kokohnya di bahu sang istri secara protektif.

“Saya sudah baca ringkasan laporan dari Pak Biantoro, Aura,” kata Hendra dengan suara beratnya yang berwibawa. “Vane & Co dipimpin oleh seorang wanita muda keturunan bangsawan bisnis Asia Timur bernama Evelyn Vane.”

Aura mendongak, menatap suaminya. “Evelyn Vane?”

“Ya,” sahut Hendra dingin. “Wanita berusia tiga puluh tahun yang terkenal dingin dan tidak pernah kalah di pasar modal internasional. Tampaknya dia sengaja memakai Aris sebagai umpan untuk mengukur sejauh mana ketahanan likuiditas Fahreza Group selama tiga bulan terakhir.”

Aura berdiri perlahan dari kursinya, berbalik menghadap Hendra. Tidak ada raut ketakutan atau keraguan di paras cantiknya. Sebaliknya, matanya yang jernih memancarkan kilat keberanian dan wibawa mutlak seorang Ratu penguasa bursa.

Aura merangkulkan kedua tangannya di leher tegap suaminya, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap Hendra.

“Kalau Evelyn Vane mau bermain catur di pasar modal...” tutur Aura dengan suara selembut sutra yang sangat memikat, “maka kita akan tunjukkan padanya... bahwa lantai bursa Indonesia adalah wilayah kekuasaan yang tidak bisa disentuh oleh orang asing.”

Hendra terkekeh rendah—sebuah suara seksi yang menggetarkan dadanya. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu merapatkan dekapan di pinggang Aura, terpukau oleh pesona dan keberanian istrinya yang tak pernah padam.

“Itu sebabnya saya sangat mencintai kamu, Ratu saya,” puji Hendra tulus, menundukkan kepala untuk menyatukan bibir mereka dalam ciuman mesra yang hangat.

Aura membalas ciuman suaminya dengan seluruh rasa cinta dan kehangatan jiwanya, menikmati momen kedamaian di tengah ancaman badai baru yang mulai merayap di ufuk timur.

Malam harinya di penthouse mewah lantai teratas sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat.

Suasana ruangan berinterior modern minimalist itu tampak remang dan dingin. Dinding kaca tebal memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu-lampu pencakar langit Jakarta dari ketinggian.

Seorang wanita bergaun malam hitam dengan potongan elegan berdiri membelakangi ruangan, memegang segelas anggur merah di tangan lentiknya. Rambut hitamnya disanggul rapi, memancarkan aura dingin, angkuh, dan tak tersentuh.

Evelyn Vane.

Di belakangnya, seorang pria bersetelan jas hitam menunduk kaku seraya memegang tablet kerja.

“Apakah pesan itu sudah diterima oleh Aura Fahreza?” tanya Evelyn dengan suara dingin, datar, dan bernada menekan dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih.

“Sudah, Nyonya Evelyn,” jawab asisten pribadinya cepat. “Pesan telah terkirim tepat setelah peresmian pelabuhan selesai. Namun, tim keamanan Fahreza Group langsung memblokir dan melacak server pengirimannya dalam waktu kurang dari lima menit.”

Evelyn memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin di bibir merahnya. Mata tajamnya memancarkan ketertarikan yang pekat.

“Lima menit?” puji Evelyn pelan, menyesap anggur merahnya sedikit. “Aura Fahreza ternyata jauh lebih cerdas dan cepat daripada informasi yang diberikan oleh si bodoh Aris itu.”

“Lalu apa langkah kita selanjutnya untuk transaksi bursa besok pagi, Nyonya?” tanya sang asisten penuh hormat.

Evelyn melangkah mendekati meja kerja kacanya, melirik dokumen profil lengkap milik Aura dan Hendra Fahreza yang terhampar di sana.

“Buka penawaran saham Aero Capital sebesar dua puluh persen besok pagi,” perintah Evelyn dingin dengan kilat mata penuh ambisi. “Kita lihat... sejauh mana sang Ratu Fahreza sanggup mempertahankan tahtanya saat saya meruntuhkan harga saham utama mereka di pembukaan bursa.”

Keesokan harinya, pukul delapan pagi di lantai bursa efek Jakarta.

Atmosfer di dalam ruang perdagangan saham utama Fahreza Group terasa sangat tegang dan memanas. Puluhan layar monitor berukuran besar memamerkan pergerakan grafik hijau dan merah yang bergerak cepat tiada henti. Puluhan analis keuangan dan pialang saham senior bekerja keras di depan komputer masing-masing.

Pintu ganda ruang kendali bursa terbuka lebar.

Hendra dan Aura melangkah masuk berdampingan. Kehadiran pasangan paling berpengaruh itu seketika memberikan ketenangan dan suntikan semangat luar biasa bagi seluruh staf yang bertugas.

Aura tampil sangat memukau dengan pakaian kerja blazer biru tua bergaris tegas, sementara Hendra berdiri tegap di sampingnya bagaikan benteng pertahanan yang tak tertembus.

Laras segera berlari menghampiri mereka membawa laporan terbaru.

“Nyonya Aura! Pak Hendra!” seru Laras tegang. “Lima menit sebelum bursa resmi dibuka... Aero Capital milik Evelyn Vane baru saja melepas penawaran skema short selling besar-besaran atas saham pelayaran kita! Mereka mencoba menjatuhkan harga saham kita sebesar lima belas persen di pembukaan!”

Para analis di dalam ruangan mulai panik melihat pergerakan grafik merah yang mendadak menukik tajam pada layar monitor utama.

Hendra memicingkan matanya dingin. “Wanita itu benar-benar nekat bermain api di rumah kita sendiri.”

Aura melangkah maju ke depan meja kendali utama. Wanita anggun itu berdiri tegap, melipat kedua tangannya di dada dengan ketenangan luar biasa yang membendung seluruh kepanikan di dalam ruangan.

“Laras,” panggil Aura dengan suara selembut sutra namun sarat akan instruksi mutlak.

“Ya, Nyonya Aura?”

“Siapkan dana cadangan alokasi likuiditas sebesar dua puluh triliun rupiah dari kas induk Fahreza Group sekarang juga.”

Seluruh pialang dan analis di dalam ruangan seketika terpaku kaget mendengar angka fantastis yang diucapkan sang Komisaris Utama!

Aura menyunggingkan senyuman paling anggun dan mematikan, menatap layar grafik saham yang sedang bergejolak.

“Tepat saat bursa dibuka satu menit lagi...” bisik Aura dengan kilat kemenangan yang tak tergoyahkan, “beli seluruh saham yang dilepas oleh Aero Capital tanpa tersisa selembar pun. Kita kunci seluruh kepemilikan modal mereka dan balikkan jebakan short selling itu ke leher Evelyn Vane sendiri.”

Hendra merangkul pinggang Aura dari belakang, terkekeh rendah penuh rasa bangga dan dominasi mutlak.

“Tunjukkan pada mereka siapa pemilik sebenarnya dari puncak ini, Ratu saya.”

Aura menoleh, menatap suaminya dengan senyuman penuh kehangatan dan kepercayaan diri.

“Bagaimana kalau kita selesaikan permainan wanita ini sebelum jam makan siang, Mas?”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!