"Briar" adalah seorang wanita muda berusia 20-an yang tengah berjuang menata kembali hidupnya. Terluka oleh trauma masa kecil dan kehilangan berbagai hal berharga, ia harus bertahan di dunia seorang diri.
Kesederhanaan, kepolosan, dan paras cantiknya tanpa sengaja mempertemukannya dengan Adrian, tetangga baru yang juga seorang CEO muda penuh kesempurnaan.
Tanpa ragu, Adrian masuk ke dalam hidup Briar, dan dalam waktu singkat, hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan. Untuk pertama kalinya, Briar merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun, di balik hangatnya sikap sang suami, pertanyaan-pertanyaan kelam mulai menghantui:
Mengapa pria sesempurna Adrian begitu terburu-buru menikahinya?
Rahasia gelap apa yang disimpan Adrian rapat-rapat?
Ketika takdir mulai mempermainkan segalanya, sanggupkah cinta mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 Pesan 11 Panggilan
Aku hanya terdiam dan berusaha untuk tidak menangis lebih banyak.. Aku harus tenang.. agar aku dapat mengungkap semuanya dan membuat keputusan. Aku harus membuat rencana untuk membuka tabir dari sosok mas Adrian dan Tiara. Ada apa sebenarnya di antara mereka berdua.. Dan apa yang harus aku lakukan pada mas Adrian yang menipuku selama ini. Mulai saat ini, aku tidak boleh lengah sedikitpun.. Aku harus menemukan cara dan bukti-bukti lain. Sebelum akhirnya aku membuat keputusan.
"Bri..Briar..?". Dwi mencoba memanggilku, yang sedari tadi hanya melamun.
"I..iya mbak? ada apa..?".
"Kita udah sampe kerumahmu, kamu mau masuk atau mau ketempatku saja..?". Tanya sepupuku Dwi.
"Mbak.. boleh nggak kalau aku menginap di rumahnya mbak..? Itupun kalau tidak merepotkan mbak.. Atau kalau bisa antarkan saja aku ke hotel.. Aku sedang tidak ingin pulang..". Tanyaku pada Dwi, yang pasti akan membawaku kerumahnya.
"Kenapa harus bertanya.. tentu kamu boleh menginap di tempatku, anak-anakku pasti senang kalau kamu datang..". Ujar Dwi mencoba menghiburku.
"Terimakasih mbak.. nanti aku akan buat alasan ke mas Adrian..". Jawabku pada Dwi yang mengizinkan aku menginap.
-
Teks masuk 📨 :
11.30 : Sayang.. kamu dimana..?
11.35 : Sayang..??
12.00 : Kamu lagi di luar sama Dwi?
12.01 : Istriku sayang..? Kenapa gak jawab suamimu ini..?
12.01 : 1 Misscall 📞 by Suamiku ❤️
12.20 : 1 Misscall 📞 by Suamiku ❤️
13.00 : Kamu nggak makan siang sama mas..? dan kenapa nggak balas pesan-pesan mas..? Sesibuk itukah..?
13.05 : Kamu udah nggak sayang sama mas lagi kah..? :(
13.10 : Sayang.. Mas rindu.. :( :( :(
13.12 : 5 Misscall 📞 by Suamiku ❤️
15.00 : Sayang.. mas udah sabar lho..? Handphone kamu kenapa nggak aktif-aktif. Kamu nggak kenapa-kenapa kan?
15.00 : 3 Misscall 📞 by Suamiku ❤️
15.05 : Mas nggak semangat hari ini karena kamu nggak ada.. :(
15.09 : Dek.. tolonglah.. setidaknya mas tau kondisi kamu sekarang gimana..?
16.00 : 1 Misscall 📞 by Suamiku ❤️
16.00 : Dek, kalau sampai jam 5 sore ini kamu nggak ngabarin mas, mas bakal pergi buat cari kamu. Mas benar-benar khawatir sayang.. Telepon mas sekarang.. please sayang.
-
Aku mematikan handphoneku sejak pulang dari tempat si perempuan misterius itu.. si Tiara. Untuk saat ini aku belum bisa berfikir jernih dan aku sangat membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Apa sebaiknya aku mulai menghubungi mas Adrian sekarang..?
Calling 📞 : Suamiku ❤️
"Hallo..? Sayang.. Kamu kemana saja..? Hmm? Kenapa baru menghubungi mas sekarang..? Mas khawatir dan mas rindu sama kamu dek.. Untuk pertama kalinya kamu seperti ini.. Apa kamu ada masalah? Atau apa kamu benar-benar menikmati waktu tanpa mas hari ini..? Setidaknya kamu harus ngabarin mas.. jangan buat mas khawatir kayak tadi..". Ucap mas Adrian di telepon.
"Hallo sayang.. jawab pertanyaan mas please..". Tanya mas Adrian lagi.
"Mas.. maaf.. aku nggak apa-apa, aku tadi cuma lupa ngecas handphoneku dan waktu aku keluar sama Mbak dwi aku lupa bawa charger.. Sekarang aku lagi di rumahnya mbak Dwi.. Aku fikir aku mau menginap disini malam ini.. Karena mbak Dwi mau rayain ulang tahun anaknya dan aku mau ikut bantuin mbak Dwi..". Jawabku berusaha membuat alasan pada mas Adrian.
"Baiklah kalau kamu baik-baik aja mas cukup tenang, tapi mas mohon lain kali jangan bikin mas khawatir lagi.. Kamu harus hafalin nomor mas dan.. Hubungi mas pakai handphone orang lain kalau hal seperti ini terjadi lagi... Setidaknya kamu harus memberi tau mas jika ada apa-apa.. Dan.. Apakah mas harus menyusul kesana, ketempatnya Dwi? Sekalian mas bisa kenalan sama anak-anaknya Dwi..". Ucap mas Adrian
"Maaf mas tapi sepertinya itu nggak perlu, karena keluarga dari bang Adam sudah cukup ramai disini.. Mereka juga menginap aku nggak enak sama mereka kalau ada kamu nanti aku sibuknya malah sama kamu, lagi pula aku disini biar mbak Dwi nggak ngerasa sendirian pas lagi kumpul sama keluarga dari pihaknya bang Adam..". Jawabku agar mas Adrian memilih untuk tidak datang kemari. Karena mendengar keluarga bang adam yang dari desa semuanya datang, pasti mas Adrian merasa takut, jika mereka mengenali mas Adrian. Jadi paling aman jika mas Adrian tidak datang kesini.
"Oh.. yasudah kalau begitu, besok kalau kamu mau pulang kamu kabarin mas, biar mas jemput kamu ya? atau minta tolong ke Dwi untuk anterin kamu..". Jawab mas Adrian tanpa protes sedikitpun.
"Iya mas.. Aku pergi dulu, mau bantu mbak Dwi dulu..".
"Baiklah sayang.. jangan capek-capek ya..".
Jawab mas Adrian
"Iya mas.. ".
"Mas cinta sekali sama kamu.. Muach..". Ucap mas Adrian sebelum menutup telepon.
"...." Aku tidak menjawabnya.
Lalu aku hanya mematikan telepon mas Adrian tanpa menjawab ucapan cinta nya begitu saja. Biasanya aku akan membalasnya dan memberi kecupan juga. Tapi untuk saat ini fikiranku benar-benar sedang kacau. Mas Adrian mungkin merasa aneh saat ini, karena aku tidak membalas kata cintanya. Aku bingung harus apa dan bagaimana mengahadapinya saat ini.
Teks Keluar to 📨 : Suamiku ❤️
" Maaf mas.. Aku hanya perlu waktu..".