NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duri di Jam Istirahat

Langkah Kirana terhenti sejenak di ambang pintu ruang kuliah utama Fakultas Kedokteran. Ruangan berundak yang luas itu sudah hampir terisi penuh oleh puluhan mahasiswa baru yang riuh mengobrol. Namun, saat mata Kirana menelusuri deretan bangku, dadanya seketika berdesir hebat.

​Di barisan tengah, Arsyila sedang duduk angkuh bersama teman-temannya. Saat pandangan mereka bertemu, Arsyila melemparkan senyuman sinis yang sarat akan kemenangan dan ejekan.

​Ternyata bukan cuma satu fakultas... tapi satu kelas, batin Kirana seraya menghela napas panjang. Kebetulan ini adalah hal yang amat disesali Kirana.

​Sebenarnya, Kirana tahu betul betapa besarnya pengaruh Rian. Cukup dengan satu panggilan telepon dari Rian atau Doni kepada pihak dekanat, kelas atau jadwal perkuliahannya bisa langsung dipindahkan (di-rolling) dalam hitungan menit tanpa kendala sedikit pun.

​Namun, Kirana menggelengkan kepalanya pelan. Ia menolak opsi itu. Kirana tidak ingin menjadi wanita manja yang selalu bergantung pada suaminya untuk hal-hal kecil di kampus. Lagi pula, Rian sudah menanggung beban yang begitu berat terkait intrik klan Wijaya dan persiapan pertemuan ahli waris minggu depan. Kirana bersumpah pada dirinya sendiri tidak akan merepotkan Rian hanya karena urusan kekanak-kanakan dari Arsyila.

​Dengan kepala terangkat tegap dan raut wajah yang tetap tenang, Kirana berjalan menuju salah satu bangku kosong di barisan depan, mengabaikan tatapan menusuk dari Arsyila dan rombongannya.

​Arsyila yang memperhatikan dari belakang menyipitkan matanya kesal. "Lihat saja, Kirana... kalau kamu pikir kamu bisa melarikan diri dariku di kelas ini, kamu salah besar," bisik Arsyila pelan dengan jemari mengepal erat.

​Tak lama kemudian, dosen pengampu mata kuliah Kedokteran Dasar masuk ke dalam ruangan, dan perkuliahan hari pertama pun resmi dimulai. Kirana segera membuka buku catatannya, memfokuskan seluruh pikiran dan konsentrasinya pada ilmu yang harus ia serap, siap menghadapi apa pun rintangan yang coba dibentangkan di hadapannya.

​Dosen pengampu menutup kuliah pertama dengan salam setelah memberikan penjelasan komprehensif mengenai dasar-dasar anatomi dan ilmu kedokteran. Suara riuh riuh mahasiswa baru yang membereskan alat tulis dan berdiskusi pelan langsung memenuhi ruang kuliah berundak itu.

​Kirana menghela napas lega. Ia merapikan catatan rapinya dan memasukkan laptop serta buku-bukunya ke dalam tas. Mata kuliah pertama berjalan sangat lancar, dan penjelasan dosen benar-benar membakar semangat belajarnya.

​Namun, keheningan dan ketenangan Kirana tidak bertahan lama.

​Sebuah bayangan tinggi berdiri tepat di samping meja Kirana. Saat Kirana mendongak, ia mendapati Arsyila sudah berdiri bersedekah tangan dengan gaya angkuh, didampingi oleh dua mahasiswi pengikutnya di belakang. Beberapa mahasiswa baru yang berada di sekitar meja Kirana mendadak menghentikan obrolan mereka, menyadari atmosfer tegang yang mendadak menyeruak.

​"Wah, wah... lihat siapa yang terlihat sangat tekun di sini," ucap Arsyila dengan nada suara yang sengaja dikencangkan, dihiasi senyuman sinis yang terukir jelas di wajah cantiknya.

​Kirana menatap Arsyila dengan tenang. Tidak ada raut takut atau gentar sedikit pun di mata jernihnya. Ia berdiri dengan anggun, menyelempangkan tasnya di bahu.

​"Ada yang bisa kubantu, Arsyila?" jawab Kirana santai namun tegas, menyapa dengan nama tanpa memperlihatkan celah ketakutan.

​Arsyila mendekatkan wajahnya sedikit, melipat tangannya di dada dengan pandangan meremehkan dari ujung rambut hingga ujung kaki Kirana.

​"Aku cuma mau mengingatkanmu, Kirana," bisik Arsyila beracun, cukup keras untuk didengar oleh teman-teman di sekitar mereka. "Kamu mungkin bisa membodohi orang-orang di luar sana dengan kepolosan palsumu. Tapi ingat, di kampus ini—di kelas ini—aku tahu siapa kamu sebenarnya. Gadis panti asuhan yang tiba-tiba bermimpi tinggi ingin jadi dokter."

​Suasana kelas seketika menjadi senyap. Beberapa mahasiswa berbisik-bisik mendengar kata 'panti asuhan', menatap Kirana dengan pandangan bertanya-tanya.

​Arsyila menyeringai puas melihat perubahan atmosfer ruangan tersebut. Ia yakin kata-katanya berhasil menusuk harga diri Kirana.

​Namun, Kirana justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat tenang dan bermartabat, membuat seringai Arsyila seketika membeku.

​"Terima kasih sudah mengingatkanku, Arsyila," balas Kirana dengan suara jernih yang mantap. "Berasal dari panti asuhan bukan sebuah kejahatan, apalagi hal yang harus kubanggakan atau kusembunyikan dengan rasa malu. Aku berdiri di kelas kedokteran ini karena kemampuan dan usahaku sendiri. Jadi, ketimbang mengurusi latar belakangku, bukankah lebih baik kamu fokus mempersiapkan materi kuliah berikutnya?"

​Kata-kata Kirana yang begitu tenang, cerdas, dan telak mendadak membungkam Arsyila. Beberapa mahasiswa di barisan depan bahkan tampak mengangguk setuju dengan ucapan Kirana.

​Wajah Arsyila seketika berubah merah padam karena malu dan kesal. Provokasi yang ia rancang untuk mempermalukan Kirana justru berbalik menampar mukanya sendiri di depan teman-teman sekelas.

​"Kamu...!" desis Arsyila dengan mata melotot tajam, jemarinya mengepal erat menahan amarah.

1
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Shinta, kamu lebih baik mati saja
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana 😄🙏
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!