Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Masa Lalu
Pagi itu, Hadi Mahendra berada di ruang kerjanya ketika asistennya masuk membawa beberapa dokumen. Setelah meletakkannya di atas meja, pria itu berdiri menunggu instruksi berikutnya.
Hadi menutup berkas yang sedang dibacanya, lalu mengangkat pandangan.
"Ada sesuatu yang ingin aku minta."
"Silakan, Pak."
"Aku ingin tahu lebih banyak tentang istri Devan."
Asistennya sedikit terdiam sebelum menjawab, "Apakah Bapak ingin saya mencari informasi mengenai latar belakangnya?"
Hadi mengangguk.
"Mulai dari keluarganya. Aku ingin tahu siapa dia sebelum masuk ke keluarga Mahendra."
"Baik, Pak. Saya akan mengumpulkan informasi yang diperlukan."
"Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Aku ingin informasi yang jelas, bukan sekadar kabar dari orang lain."
Asistennya mengangguk sebelum berpamitan.
Setelah pria itu keluar, Hadi kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia masih mengingat percakapannya dengan Devan pada malam perayaan perusahaan. Keponakannya itu tidak terpancing oleh sindiran yang dilontarkannya, sementara Aira juga mampu menjawab pertanyaan tanpa memberikan celah yang berarti.
Hadi tidak bisa mengandalkan percakapan semacam itu untuk melemahkan posisi Devan. Ia membutuhkan informasi yang lebih konkret sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Baginya, mengenal latar belakang Aira adalah langkah awal yang perlu dilakukan.
...____🍀🍀🍀🍀____...
Di penthouse, Aira baru saja menyelesaikan sarapannya ketika ponselnya berbunyi. Nama Ratih muncul di layar.
Ia segera mengangkat panggilan tersebut.
“Kak, Ibu masih stabil. Tadi aku menghubungi perawat untuk menanyakan keadaan Ibu,” kata Ratih.
Aira mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Ibu sudah makan?”
“Sudah, Kak. Kata perawat, Ibu tadi sudah sarapan.”
“Bagus kalau begitu. Kamu sendiri bagaimana? Bima dan Maya baik-baik saja?”
“Baik, Kak. Mereka juga baik-baik saja. Paman dan Bibi ada di rumah, jadi Kakak tidak perlu khawatir.”
Aira tersenyum tipis mendengar jawaban adiknya. “Kalau begitu, jaga diri baik-baik, ya. Kalau ada apa-apa dengan Ibu atau kalian, segera kabari Kakak.”
“Iya, Kak. Kakak juga jangan terlalu memikirkan kami. Fokus saja sama pekerjaan Kakak di Jakarta.”
“Iya. Kakak tutup dulu, ya.”
Setelah panggilan berakhir, ia meletakkan ponsel di atas meja.
Aira kemudian bangkit dan kembali ke kamarnya. Hari itu tidak ada kegiatan khusus yang harus dilakukannya, sehingga ia memutuskan untuk merapikan beberapa barang sebelum menghabiskan waktu di ruang tengah.
...____🍀🍀🍀🍀____...
Menjelang siang, Devan baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika Arga masuk ke ruang kerja.
"Maaf, Tuan. Ada informasi yang perlu saya sampaikan."
Devan mengalihkan pandangan dari layar komputernya.
"Apa itu?"
"Saya mendapat kabar bahwa beberapa orang mulai mencari informasi mengenai kehidupan pribadi Anda setelah acara perayaan perusahaan."
Devan menutup berkas yang sedang dibacanya.
"Siapa yang mencari informasi itu?"
"Saya belum mengetahui secara pasti. Informasi yang saya terima juga belum cukup untuk memastikan siapa yang berada di baliknya."
Devan terdiam sejenak.
Ia tidak langsung menyimpulkan bahwa Hadi adalah orang yang menggerakkan semuanya. Namun, setelah kejadian pada malam perayaan, kemungkinan itu tetap ada dalam pikirannya.
"Baik. Kalau ada perkembangan, segera beri tahu aku."
"Baik, Tuan."
Arga hendak berpamitan, tetapi Devan kembali memanggilnya.
"Untuk sekarang, jangan bertindak sendiri sebelum kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
"Dimengerti, Tuan."
Setelah Arga keluar, Devan kembali menatap layar komputernya. Ia tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan dugaan. Jika memang ada pihak yang mulai mencari informasi tentang dirinya, ia perlu mengetahui tujuan mereka terlebih dahulu.
Namun, satu hal yang cukup jelas baginya menjelang RUPS, ia tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa kehidupan pribadinya akan kembali digunakan dalam persaingan di perusahaan.
Devan kemudian melanjutkan pekerjaannya tanpa membiarkan dugaan tersebut mengalihkan perhatiannya.
...____🍀🍀🍀🍀____...
Sore harinya, Aira sedang duduk di ruang tengah sambil membaca pesan dari Ratih ketika Devan pulang.
Ia mengangkat wajah saat mendengar langkah kaki mendekat.
"Mas Devan sudah pulang?"
"Ya."
Devan meletakkan tas kerjanya, lalu melirik ponsel di tangan Aira.
"Dari Ratih?"
Aira mengangguk.
Devan tidak menambahkan apa-apa. Ia berjalan menuju meja untuk mengambil segelas air sebelum duduk di sofa yang berjarak tidak jauh dari Aira.
Beberapa saat mereka berada dalam keheningan. Aira kembali membaca pesannya, sementara Devan memeriksa ponsel sebelum akhirnya meletakkannya di meja.
"Ibumu bagaimana?" tanyanya.
"Kondisinya masih stabil, Mas Devan. Ratih tadi menghubungi perawat untuk menanyakan keadaan Ibu."
Devan mengangguk singkat.
"Kalau ada perubahan kondisi, beri tahu aku."
Aira menoleh kepadanya. Ia tidak menyangka Devan akan kembali menanyakan keadaan ibunya, meskipun laki-laki itu tetap berbicara dengan nada datar.
"Baik. Terima kasih, Mas Devan."
Devan hanya mengangguk sebelum bangkit dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Aira kembali menatap ponselnya. Perhatian kecil itu tidak membuatnya mengubah pandangannya terhadap pernikahan mereka. Ia tetap memahami bahwa hubungan mereka berawal dari sebuah kesepakatan.
Namun, setidaknya Devan tidak pernah menghalanginya untuk mengetahui keadaan keluarganya.
...____🍀🍀🍀🍀____...
Menjelang malam, Hadi kembali berada di ruang kerjanya. Asistennya datang membawa sebuah berkas tipis, lalu meletakkannya di hadapan Hadi.
"Saya sudah mengumpulkan informasi awal mengenai Aira Kirana, Pak."
Hadi membuka berkas tersebut dan mulai membaca isinya.
Informasi itu menjelaskan bahwa Aira berasal dari Bantul dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Sebelum menikah dengan Devan, ia menghabiskan sebagian besar waktunya membantu keluarganya mengelola sanggar tenun.
Hadi berhenti pada bagian yang menjelaskan kegiatan sanggar tersebut.
"Jadi, dia terbiasa mengurus usaha keluarga?"
"Benar, Pak. Sejauh informasi yang kami dapatkan, sanggar itu merupakan bagian penting dari kehidupan keluarganya."
Hadi kembali membaca beberapa lembar berikutnya.
Tidak ada sesuatu yang secara langsung menunjukkan bahwa Aira memiliki masalah yang bisa digunakan untuk menyerang Devan. Namun, latar belakangnya memang berbeda jauh dari lingkungan keluarga Mahendra.
Hadi menutup berkas itu.
"Apakah masih ada informasi lain yang belum kita dapatkan?"
"Masih ada beberapa hal yang sedang kami periksa, Pak."
"Lanjutkan. Saya ingin mengetahui lebih banyak tentang keluarganya dan kehidupannya sebelum menikah dengan Devan."
"Baik, Pak."
Setelah asistennya pergi, Hadi kembali membuka berkas tersebut. Ia belum menemukan sesuatu yang bisa langsung dimanfaatkan, tetapi ia juga tidak berniat berhenti hanya karena informasi awal itu belum memberikan hasil.
Persaingan dengan Devan belum mencapai tahap akhir. Selama masih ada waktu sebelum RUPS, ia akan terus mencari celah yang dapat memengaruhi penilaian terhadap keponakannya itu.
Dan kali ini, perhatiannya mulai tertuju pada perempuan yang selama ini berada di luar lingkaran keluarga Mahendra.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,