FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesi Perkenalkan Yang Hangat
Lonceng kayu di dinding paviliun belakang berdentang empat kali. Udara sore ibu kota yang lembap mulai merayap masuk lewat celah ventilasi. Raina Angela selesai merapikan pakaian Lio ke dalam lemari kayu kecil, lalu memastikan adiknya sudah meminum obat dan beristirahat dengan nyaman.
Sesuai janji, ketukan pelan di pintu depan menyapa. Mbok Sri berdiri di sana sambil membawa apron abu-abu bersih dan selembar kain lap micro fiber.
"Na, ayo ikut Mbok ke rumah utama. Nyonya Eleonora baru saja pulang dari acara minum teh bersama teman-temannya. Beliau mau ketemu sama kamu," ajak Mbok Sri ramah.
Raina mengangguk pelan. Jantungnya berdegup kencang. Meskipun dia tahu Nyonya Eleonora belum pernah bertemu dengannya secara langsung lima tahun lalu karena saat masih berpacaran dengan Noah, Raina hanya pernah berbincang lewat telepon dan belum sempat diajak ke rumah utama, rasa gugup tetap saja menyergap dadanya.
"Baik, Mbok. Raina siap," jawabnya seraya mengikat rambut panjangnya ke belakang secara rapi dan mengenakan apron abu-abu tersebut.
Mereka melangkah menyeberangi jalan setapak taman belakang menuju pintu samping rumah utama. Begitu melangkahkan kaki ke dalam area dapur bersih, mata Raina disambut oleh kemewahan interior bernuansa putih dan emas. Dapur itu begitu luas, bersih, dan dipenuhi perlengkapan memasak modern yang mengilap.
Mbok Sri membimbing Raina menuju ruang keluarga di lantai satu, di mana seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun sedang duduk di atas sofa kulit berwarna krem. Nyonya Eleonora tampak sedang menyesap teh hangatnya seraya membaca sebuah majalah bisnis.
"Permisi, Nyonya," sapa Mbok Sri dengan sikap tubuh membungkuk hormat.
"Ini Raina, anak yang Mbok ceritakan tadi pagi." seru Mbok Sri lagi.
Nyonya Eleonora meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan, lalu menoleh. Pandangan matanya yang semula terkesan tegas perlahan melunak saat menatap sosok Raina yang berdiri sopan dengan menundukkan kepala sedikit.
"Oh, ini yang namanya Raina?" suara Nyonya Eleonora terdengar ramah dan halus, jauh dari kesan angkuh yang sempat Raina bayangkan.
"Selamat sore, Nyonya. Saya Raina Angela," panggil Raina dengan nada lembut namun jelas dan penuh kesopanan.
Nyonya Eleonora memperhatikan paras gadis di hadapannya. Meskipun hanya mengenakan pakaian sederhana dan tanpa polesan make-up sedikit pun, kecantikan alami, kebersihan kulit, serta tatapan mata Raina yang jujur tidak bisa disembunyikan. Ada aura keanggunan dan ketegaran yang terpancar dari pembawaannya.
"Sore, Raina," Nyonya Eleonora tersenyum hangat, menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Mbok Sri sudah cerita banyak soal kamu. Kamu datang dari Daerah S, ya? Sama adiknya yang sedang sakit?" tanya Nyonya Eleonora dengan lembut.
"Betul, Nyonya. Adik saya sedang membutuhkan perawatan dan pengobatan berkala," jawab Raina jujur tanpa bermaksud menjual kesedihan.
Nyonya Eleonora mengangguk-angguk prihatin. "Senang sekali ada anak muda yang begitu berbakti dan mau bekerja keras demi keluarga. Berapa umur adiknya?" tanya Nyonya Eleonora.
"Empat belas tahun, Nyonya." jawab Raina singkat.
"Masih muda sekali..." Nyonya Eleonora menghela napas pelan, matanya menatap Raina dengan rasa simpati yang dalam.
"Di rumah ini, tugasmu tidak terlalu rumit, Raina. Yang penting teliti dan jujur. Karena Mbok Sri sudah makin tua dan tidak bisa naik-turun tangga terus, kamu nanti yang memegang tanggung jawab kebersihan di lantai dua."
Dada Raina berdesir saat mendengar kata 'lantai dua'. Tempat di mana kamar dan ruang kerja Noah berada.
"Baik, Nyonya. Saya akan berusaha bekerja sebaik dan seteliti mungkin," janji Raina mantap.
"Bagus," Nyonya Eleonora tersenyum puas. "Tapi ada satu hal penting yang harus kamu ingat baik-baik, Raina." ucap Nyonya Eleonora memberikan arahan.
"Apa itu, Nyonya?"
Nyonya Eleonora mengubah posisi duduknya menjadi lebih serius. "Di lantai dua ada ruang kerja putraku, Noah. Dia pria yang sangat disiplin, dingin, dan paling tidak suka kalau barang-barangnya digeser atau diubah posisinya tanpa izin. Kalau kamu sedang membersihkan ruang kerjanya, pastikan semua dokumen di atas meja tetap pada tempatnya. Jangan pernah menyentuh berkas-berkas bisnisnya. Paham?" seru Nyonya Eleonora mewanti-wanti pembantu barunya.
"Paham, Nyonya. Saya akan sangat hati-hati," sahut Raina seraya menahan getaran di suaranya saat mendengar nama Noah diucapkan oleh ibunya sendiri.
"Bagus kalau begitu. Soal adikmu di paviliun, tidak perlu sungkan. Kalau ada butuh bantuan makanan atau obat darurat, bilang saja pada Mbok Sri. Rumah ini cukup luas untuk memberi rasa aman buat kalian," tutur Nyonya Eleonora dengan ketulusan yang hangat.
Raina membungkukkan badannya lebih dalam, matanya mendadak berkaca-kaca oleh rasa haru.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Nyonya Eleonora. Kebaikan Nyonya sangat berarti bagi kami berdua." ucap Raina begitu terharu karena kepedulian dari majikannya itu.
"Sama-sama, Raina. Sekarang kamu bisa mulai diajari Mbok Sri untuk pengenalan tata letak rumah," pungkas Nyonya Eleonora ramah sebelum kembali melanjutkan aktivitas membaca majalahnya.
Setelah sesi perkenalan yang hangat itu, Mbok Sri mengajak Raina naik ke lantai dua menggunakan tangga melingkar yang megah. Karpet tebal bernuansa biru gelap meredam setiap jejak langkah kaki mereka.
"Nah, Na, ini koridor utama lantai dua," terang Mbok Sri seraya menunjuk deretan pintu kayu jati berukir indah.
"Pintu paling ujung itu kamar Tuan Muda. Pintu di sebelahnya ini ruang kerja pribadinya. Kalau kamar Tuan Besar dan Nyonya ada di lantai satu sayap kiri." jelas Mbok Sri.
Raina memandangi pintu kayu tebal di sebelahnya. Pintu menuju ruang kerja Noah. Hanya dengan berdiri di depan pintu itu saja, dada Raina serasa diimpit beban berat.
"Sekarang Tuan Muda belum pulang. Biasanya jam delapan malam baru sampai rumah," kata Mbok Sri seraya merogoh kunci dari saku apronnya dan membuka pintu ruang kerja tersebut.
"Yuk masuk, Mbok ajari cara menyapu dan menyapu debu di ruangan ini." ajak Mbok Sri.
Pintu terbuka pelan. Aroma kayu cendana bercampur wewangian maskulin yang sangat familiar langsung menyergap indera penciuman Raina. Aroma khas milik Noah Raja Rajendra. Aroma yang dulu sering Raina hirup saat bersandar di bahu pria itu lima tahun lalu.
Raina memejamkan mata sejenak untuk menguasai gejolak emosi di dadanya.
Ruang kerja Noah sangat luas dan teratur rapi. Sebuah meja kayu mahoni besar berdiri gagah di dekat jendela kaca raksasa. Di atas meja itu terdapat laptop, beberapa tumpukan dokumen rapi, tempat pena dari perak, dan sebuah bingkai foto kecil yang posisinya menghadap ke arah kursi kerja.
"Na, kamu sapu bagian karpet sebelah sana ya. Mbok mau bersihkan rak buku di sudut," perintah Mbok Sri seraya menyerahkan sapu pembersih khusus.
"Baik, Mbok," jawab Raina lincah.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah