Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Merangkai Kepingan Puzzle Kehidupan.
Sera duduk termenung di atas tempat tidur. Ia membiarkan tas belanjanya tergeletak di atas lantai karpet.
Gadis itu mulai merangkai kepingan puzzle yang berceceran di dalam hidupnya akhir - akhir ini.
Rania menghilang dari Yogyakarta menjelang hari pernikahan Sera dan Ravin.
Ravin meninggalkan dirinya di malam pernikahan tanpa alasan yang jelas.
Selama menikah, Ravin sering berangkat pagi, dan terkadang pulang larut malam.
Pria itu bahkan tidak pulang di hari jadi satu bulan pernikahan mereka, dengan alasan pergi ke Bogor. Padahal tidak ada masalah sama sekali disana.
Apa mungkin selama ini Ravin menemui Rania di luar sana?
Apa mungkin, ucapan mama Safina benar terjadi? Jika Ravin memiliki simpanan, sehingga sampai saat ini mereka tidak melakukan malam pertama.
“Apa mungkin, selama ini kak Ravin mengkhianati aku dengan Rania?”
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir gadis itu.
Bayangan hal - hal buruk pun melintas dalam benak Sera. Ia berulang kali menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran kotor itu.
Saat tengah sibuk berkutat dengan semua pertanyaan yang muncul dalam benaknya, Sera terkejut karena pintu kamarnya tiba - tiba terbuka dari luar.
Sera mengerutkan keningnya ketika melihat kedatangan Ravin. Tidak biasanya pria itu pulang siang seperti ini, meski itu di akhir pekan.
Ravin melangkah mendekati Sera yang sedang duduk di tepi ranjang.
Langkahnya tenang, dengan senyum tipis terkembang di wajah tampan pria itu.
“Hai, Ra. Bagaimana belanjanya? Dapat apa saja?” Tanya pria itu sembari duduk di samping sang istri.
Ia melihat ke arah tas belanja Sera yang tergeletak di atas lantai. Kemudian kembali menatap gadis itu.
Sera tak menjawab pertanyaan itu. Ia menghela nafas cukup panjang. Seakan, ada beban begitu berat di dalam hatinya.
“Aku melihat Rania di pusat perbelanjaan tadi.” Ucap gadis itu dengan pelan. Sangat pelan. Bahkan nyaris tak terdengar.
“R-rania?” Ravin terbata.
Ia sungguh terkejut. Bukan karena mengetahui keberadaan mantan kekasihnya itu, karena Ravin sudah mengetahui dari Rania. Namun karena pernyataan yang Sera ucapkan.
Ravin mengira, sang istri tidak akan membahasnya.
“Rania mantan kekasih kakak.” Imbuh Sera yang kemudian menatap wajah sang suami.
Ravin seketika memalingkan wajahnya. Jangan sampai Sera membaca kebohongan di mata pria itu
“Kamu yakin itu Rania?” Tanya Ravin kemudian.
Ia berusaha untuk tetap tenang, agar Sera tidak mencurigai dirinya.
“Tentu saja. Kami berpapasan. Dan aku. Aku tentu masih mengingat betul wajah mbak Rania seperti apa.” Ucap Sera dengan pandangan menerawang jauh.
Tentu gadis itu menyimpan wajah Rania dengan baik di dalam memori otaknya. Karena, wanita muda itu adalah saingan cinta terbesar dalam hidup Sera.
“Apa kakak tau, kalau Rania ada disini?”
Tanya Sera sembari menatap ke arah pria itu dengan lekat.
“Aku tidak tau, Ra.” Suara Ravin sedikit terbata. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang.
‘Kenapa dia tidak mau menatap aku?’ Sera semakin menatap wajah sang suami yang berpaling darinya.
“Benarkah kakak tidak tau?” Tanya Sera meyakinkan.
Ravin menghela nafas pelan. “Ra. Aku sibuk bekerja di kantor. Ada papa juga. Kamu seharusnya tidak mencurigai aku.” Raut wajah pria itu berubah pias.
Kening Sera berkerut halus.
“Aku hanya bertanya, kak. Jika memang tidak. Kenapa kakak terlihat gelisah?”
Ravin kembali memalingkan wajahnya. “Aku lelah, Ra. Terlalu banyak pekerjaan akhir - akhir ini.”
Pria itu kemudian bangkit meninggalkan sang istri ke ruang ganti.
Sera mencebikkan bibirnya. “Sikap kamu ini membuat aku yakin, kalau kamu memang sudah tau keberadaan Rania di Jakarta, kak.”
.
.
.
Suasana di meja makan siang itu terasa berbeda.
Sera seperti biasa melayani sang suami. Namun gadis itu lebih pendiam dari sebelumnya. Gadis itu seolah mengunci bibirnya setelah pembicaraan di dalam kamar tadi.
Dan Ravin pun nampaknya menyadari perubahan sikap sang istri.
Pria itu hanya mampu menghela nafas pelan.
“Ra. Kamu marah sama aku?” Tanyanya saat Sera makan tanpa mengucapkan kalimat ‘selamat makan’ seperti biasanya.
“Tidak. Untuk apa aku marah, kak?” Gadis itu berbalik melempar tanya. Ia tak sedikitpun menatap sang suami, dan memilih sibuk dengan makanannya.
Ravin kembali menghela nafas pelan. Sepertinya harus sabar menghadapi gadis itu.
Jika ia memperpanjang pembahasan mengenai Rania, yang ada akan membuat Sera semakin curiga padanya.
Wira memperhatikan interaksi mereka berdua dari balik pintu dapur kotor. Bibir pria itu tersenyum tipis.
‘Aku tidak bermaksud untuk merusak rumah tanggamu, adikku sayang. Tetapi kamu sendiri yang sudah menghancurkannya sendiri. Aku. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Mengambil kembali apa yang telah kamu dan ibumu rebut dariku.’
Wira berdeham pelan. Ia kemudian melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Mengambil dua mangkok pudding mangga dari lemari pendingin, lalu membawa ke meja makan majikannya.
“Mas Wira.” Dahi Ravin berkerut halus saat melihat pria yang bertugas sebagai sopir sang istri, saat ini datang menyajikan makanan penutup untuk mereka. Lengkap dengan memakai celemek.
“Bi Sari sedang menerima panggilan telepon penting dari saudaranya di kampung. Dia meminta saya untuk menghidangkan pudding ini untuk kalian.” Jelas Wira tanpa di minta.
“Terima kasih, mas.” Ucap Sera.
Wira kemudian pamit kembali ke dapur belekang.
“Kenapa mas Wira memakai celemek, Ra?” Tanya Ravin setelah kepergian Wira dari sana.
“Mas Wira sudah biasa membantu bi Sari.” Jelas Sera datar.
“Bukannya mas Wira hanya membantu membersihkan halaman? Kenapa memakai celemek?” Ravin sama sekali tidak mengerti.
Sera menghela nafas kasar. “Kadang juga membantu bibi di dapur.”
“Dan kamu mengijinkannya?” Tanya Ravin dengan nada tak percaya.
“Memangnya kenapa? Mas Wira berniat baik membantu bibi. Dia tidak melakukan tindak kejahatan. Kenapa aku harus keberatan?”
Nada bicara Sera terdengar ketus, dan tak bersahabat seperti biasanya.
Kini giliran Ravin yang menghela nafas kasar. Sepertinya, Sera memang marah padanya.
“Aku mengerti, Ra. Tetapi, seharusnya kamu mengatakannya juga padaku.” Ucap Ravin pelan.
“Apa kakak pernah ada waktu untuk mendengar aku bercerita? Bahkan meski kakak ada di rumah, kakak masih sibuk dengan pekerjaan dari kantor.” Sera menatap nyalang lawan bicara.
Mungkin, batas kesabaran gadis itu sudah mulai terkikis.
Ravin tak dapat menjawab ucapan Sera. Karena ia menyadari, dirinya memang tidak pernah ada untuk gadis itu.
“Maafkan aku, Ra. Aku akan belajar menjadi suami yang baik untuk kamu.” Ucap pria itu dengan pelan.
Sera mencebik pelan. “Aku harap kakak belum terlambat untuk menjadi suami yang untuk aku.”
“Belum terlambat, Ra. Pernikahan kita baru berjalan selama satu bulan. Hari - hari kita masih panjang kedepannya.” Ucap Ravin dengan yakin.
“Tapi jika kakak ada hubungan dengan Rania, maka semuanya sudah terlambat, kak.” Ucap Sera kemudian.