Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Antara Dua Pilihan
Bau obat-obatan yang tajam dan bunyi bip teratur dari monitor detak jantung mengisi keheningan kamar VIP lantai teratas Rumah Sakit Mahardika. Lampu ruangan diredupkan, menyisakan pendar temaram yang menimpa wajah Adrian yang terlelap tenang di atas ranjang medis.
Aria duduk di kursi samping ranjang, mengenakan gaun katun longgar. Matanya sembap dan letih. Sepanjang hari, ia tidak beranjak sedikit pun dari sisi Adrian—merawat pria itu, mengganti kompres saat demam pascaoperasi menyerang, hingga memastikan obat diminum tepat waktu. Adrian adalah perisainya; luka tembak di bahu pria itu adalah bukti nyata bahwa Adrian bersedia mati demi dirinya.
Namun, ketenangan itu terus terusik oleh getaran samar dari ponsel di dalam tasnya.
Aria meraba ponselnya. Layar memperlihatkan puluhan panggilan tak terjawab dan belasan pesan teks dari nomor tak dikenal.
"Angkat panggilanku, Aria. Atau aku akan menghancurkan seluruh sistem keamanan rumah sakit ini untuk menemuimu."
"Kau pikir peluru itu dariku? Buka matamu, Aria. Ada orang lain yang bermain di antara kita."
"Aku di bawah."
Dada Aria berdebar kencang membaca pesan-pesan bernada ancaman dan obsesi dari Dante Vance. Rasa benci, cemas, dan kebingungan bergulat di dalam benaknya. Pria itu menyebarkan teror, namun di saat yang sama menuduh ada pihak lain yang menjebaknya.
Aria menghela napas panjang, bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju kamar mandi di dalam ruangan VIP untuk membasuh wajahnya yang dingin.
Saat Aria mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil dan melangkah keluar dari kamar mandi, langkah kakinya seketika terhenti. Tubuhnya membeku kaku di tempat.
Seseorang berdiri di dalam kegelapan sudut kamar, tepat di samping ranjang tempat Adrian tertidur pulas.
Pria itu berpostur tinggi tegap, mengenakan jaket kulit hitam basah oleh sisa gerimis, dengan sepasang mata abu-abu yang berkilat bagaikan serigala di tengah malam.
Dante Vance.
Aria menahan napasnya, hendak berteriak memanggil pengawal yang berjaga di luar koridor. Namun sebelum suara keluar dari tenggorokannya, Dante bergerak bagaikan bayangan. Dalam hitungan detik, tangan besar Dante yang hangat dan berbau tembakau mahal sudah menangkup rapat mulut Aria, sementara lengan kokohnya melingkari pinggang Aria, menarik tubuh wanita itu rapat ke dadanya.
"Ssshh... Jangan bersuara jika kau tidak ingin ada pertumpahan darah di kamar ini, manis," bisik Dante rapat di telinga Aria. Suaranya rendah, serak, dan berbahaya.
Aria membelalakkan mata, berontak pelan dalam dekapan erat Dante. Dari balik bahu Dante, ia bisa melihat Adrian masih terbaring tidak berdaya dengan infus dan monitor jantung yang berdetak konstan.
"Dua pengawal di depan pintu sudah kubuat pingsan tanpa suara," desis Dante pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Aria yang dipenuhi ketakutan. "Aku bisa saja mematikan mesin penyokong hidup CEO kesayanganmu ini sekarang juga jika aku mau."
Aria menggelengkan kepalanya dengan tatapan memohon, melirik ke arah monitor jantung Adrian.
melihat sorot mata Aria yang memancarkan rasa cemas mendalam demi pria lain, cengkeraman Dante di pinggang Aria sedikit mengerat. Ada kilatan amarah dan cemburu yang membakar dari balik mata abu-abunya.
"Kau membenciku karena mengira aku yang menembaknya, bukan?" bisik Dante, pelan namun sarat akan penekanan. "Aku memang seorang pembunuh, Aria. Tapi aku tidak pernah memakai cara licik menembak dari belakang saat kau ada di dekatnya! Proyektil itu adalah jebakan untuk mengadu domba kita!"
Dante perlahan melepas bekapan tangannya di mulut Aria, tetapi tetap mengunci tubuh wanita itu dalam dekapan lengan kokohnya.
"Pergi dari sini, Dante... mohon pergi," bisik Aria lirih, suaranya bergetar hebat. "Dia terluka demi melindungiku! Kenapa kau terus meneror hidupku?!"
Dante mendekatkan wajahnya, menatap Aria dengan intensitas obsesif yang memabukkan. "Karena kau adalah milikku sejak malam pertama kau menyentuh lukaku, Aria! Aku tidak akan membiarkanmu terikat pada pria yang memanfaatkan rasa bersalahmu!"
"Dia tidak memanfaatkanku!" balas Aria berbisik tajam.
Dante terkekeh dingin. Jemarinya yang kasar mengusap lembut rahang Aria, lalu menyusuri leher jenjang wanita itu hingga menyentuh kalung berlian pemberian Adrian. Tanpa ragu, Dante menarik rantai platina itu hingga terputus dalam satu sentakan halus dan melemparnya ke lantai.
"Jangan pernah pakai perhiasan dari pria lain saat kau membawa namaku," desis Dante.
Tiba-tiba, kelopak mata Adrian di atas ranjang bergerak pelan. Jemari tangan Adrian yang terpasang infus mengerjap, dan suara erangan lemah terdengar dari bibir sang CEO yang mulai sadarkan diri dari efek obat bius.
"A-Aria...?" panggil Adrian dengan suara parau dan patah-patah.
Jantung Aria seakan melompat keluar dari dadanya. Ia menatap Dante dengan tatapan panik dan memohon yang teramat sangat. Jika Adrian terbangun sepenuhnya dan melihat Dante di sini, pertarungan mati-matian tidak akan terelakkan.
Dante menatap wajah panik Aria, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh kemenangan.
"Aku tunggu kau di luar gedung dalam waktu lima menit," bisik Dante tepat di depan bibir Aria, mendaratkan ciuman singkat yang panas dan posesif di sudut bibirnya. "Jika kau tidak turun, aku akan kembali ke kamar ini dan menyelesaikan apa yang belum selesai."
Dante melepaskan ikatan tangannya, melangkah mundur ke arah jendela balkon yang terbuka, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam bagaikan asap.
Aria berdiri gemetar di tengah ruangan, memandangi kalung berlian yang terputus di lantai dan mendengar suara parau Adrian yang terus memanggil namanya. Ia berdiri tepat di persimpangan jalan paling berbahaya dalam hidupnya: memilih rasa aman bersama sang CEO yang terluka, atau melangkah menuju kegelapan demi menghentikan ancaman sang Raja Mafia.