Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Rayuan Indri
Galih langsung menyingsingkan lengan kemejanya. Ia mengambil alih wajan berukuran sedang dari tangan Pak Susilo, menyiapkan bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, kemiri, ketumbar, serta berbagai rempah segar lainnya. Mengandalkan ingatan masa kecilnya saat membantu sang ibu di dapur desa dipadu dengan teori kuliner yang kerap dibacanya dari ponsel, Galih mulai meracik bumbu dengan penuh ketelitian.
Ia menumis bumbu halus tersebut di atas api sedang, bersabar menunggu hingga warna bumbunya berubah kecokelatan tua dan minyaknya terpisah, mengeluarkan aroma harum semerbak yang seketika memenuhi seisi dapur hingga menyebar ke ruang depan warung. Pak Susilo yang duduk di dekat etalase sempat menghentikan aktivitasnya, mengendus-endus udara dengan dahi berkerut kagum.
Setelah bumbu matang sempurna, Galih memasukkan potongan ayam dan daging sapi segar, mengaduknya merata hingga meresap ke dalam serat daging, lalu menuangkan santan encer dan kaldu asli. Ia mendidihkannya perlahan, menyesuaikan takaran garam dan gula merah hingga menghasilkan cita rasa gurih yang kaya rempah, pedas pas, dan berkaldu pekat.
Menjelang jam makan siang, saat para pekerja kantoran dan mahasiswa mulai berhamburan mencari tempat makan, keajaiban kecil itu pun terjadi.
Biasanya, orang-orang hanya berlalu lalang di depan Warung Makan Bu Asih tanpa melirik. Namun hari ini, aroma masakan racikan Galih yang mengepul keluar lewat ventilasi depan menyebar terbawa angin jalanan. Bau harum rempah yang kuat dan menggugah selera membuat beberapa orang yang sedang berjalan kaki mendadak menghentikan langkah mereka.
Seorang pegawai kantoran berbadan tegap tampak melongok ke dalam warung, lalu berbalik mengajak tiga orang temannya. "Eh, bau apa nih? Wangi banget, kayaknya enak. Coba makan sini yuk!"
Tak lama berselang, keempat orang itu masuk dan memilih duduk di meja kayu. Bu Asih yang bertugas di depan langsung menyambut mereka dengan senyuman ramah, sementara Pak Susilo menyiapkan piring dan mangkuk dengan sigap.
Galih yang berdiri di dapur memandangi dari balik tirai plastik dengan debaran jantung kencang. Saat pesanan hidangan utama tersaji di meja pelanggan tersebut, keempat orang itu langsung menyendok kuah dan mencicipinya. Sesaat kemudian, mereka saling melempar pandang dengan mata membelalak kagum.
"Wah, gila! Enak banget kuahnya! Rempahnya berasa banget, beda sama warung sebelah!" puji salah satu dari mereka dengan suara agak nyaring.
Mendengar pujian itu, Bu Asih tersenyum lebar hingga matanya menyipit, sementara Pak Susilo mendengus bangga di balik meja kasir. Tak butuh waktu lama, informasi dari mulut ke mulut itu membuat pengunjung lain berdatangan. Meja-meja kayu yang biasanya kosong melompong kini terisi penuh. Panci-panci masakan racikan Galih ludes dalam waktu singkat, membuat hari itu menjadi hari pertama Warung Makan Bu Asih mengalami lonjakan pengunjung terbanyak sepanjang sejarah berdirinya.
Menjelang sore hari saat warung ditutup dan gerbang bambu diturunkan, Pak Susilo memanggil Galih ke meja kasir. Pria tua itu membuka laci kayu, mengeluarkan amplop berisi uang tunai, lalu menyerahkannya pada Galih.
"Ini gaji hari ini ditambah bonus khusus buat kamu, Lih," ujar Pak Susilo dengan nada yang masih ketus namun matanya berbinar menyiratkan rasa hormat. "Mulai besok, kamu nggak usah lagi cuma ngurusin piring kotor atau ngepel lantai. Kamu resmi saya angkat jadi juru masak utama di warung ini. Dan gajimu saya naikkan dua kali lipat dari sebelumnya."
Galih terperanjat kaget bercampur bahagia luar biasa. Ia menerima amplop itu dengan tangan bergetar. "Terima kasih banyak, Pak! Saya janji bakal jaga kualitas rasa masakan di sini!"
Dengan status baru sebagai juru masak dan tambahan penghasilan yang layak, Galih merasa satu langkah kecil impian masa kecilnya mulai terwujud.
Namun, di saat kehidupan profesional Galih di warung makan mulai menunjukan secercah harapan gemilang, dinamika kehidupan pribadinya di balik bilik kamar kostan justru berputar ke arah yang sama sekali tidak ia duga.
Malam itu, jarum jam dinding di kamar Indri menunjukkan pukul satu dini hari. Suasana koridor kosan sudah sangat sunyi senyap, menyisakan deru angin malam yang menembus celah-celah papan kayu.
Di atas satu-satunya kasur lantai yang kini mereka bagi bersama, Galih terlelap sangat pulas. Kelelahan fisik yang luar biasa setelah seharian bekerja keras mengurus dapur warung yang mendadak ramai membuat pemuda itu tidur mendengkur halus. Ia mengenakan kaos oblong abu-abu dan celana training panjang.
Di sampingnya, Indri berbaring menghadap ke arah Galih. Namun, wanita itu sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Sejak memasuki trimester awal kehamilannya, tubuh Indri mengalami gejolak hormon yang luar biasa intens. Sering kali, malam-malam panjang menjadi siksaan tersendiri baginya akibat dorongan birah* yang mendadak melonjak tajam, sebuah efek bawaan hamil yang kerap membuatnya merasa frustrasi dan tersiksa secara batin. Selama ini, saat ia masih tinggal sendirian, Indri sering kali harus menahan diri atau berjuang memuaskan hasratnya seorang diri dalam diam.
Namun kini, situasinya berbeda seratus delapan puluh derajat.
Di sebelah kanannya, terbaring sosok seorang pemuda sehat berusia dua puluh tahun, suami kontraknya yang berwajah tampan, berhati bersih, dan begitu perhatian padanya setiap hari.
Mata Indri menyala dalam keremangan cahaya lampu tidur. Ia mengamati lekuk wajah Galih yang tampak lelap. Aroma maskulin khas keringat muda bercampur sabun mandi lelaki itu menguar lembut di indra penciumannya, memicu gelombang desiran hangat yang menjalar liar ke sekujur aliran darah Indri.
Pikiran wanita itu mulai berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia tahu betul kesepakatan awal mereka, pernikahan ini murni kontrak perlindungan siri, tidak ada ikatan batin, dan Galih memperlakukannya dengan sangat terhormat tanpa pernah menuntut haknya sebagai suami. Namun di sisi lain, gejolak hasrat biologis yang tak tertahankan akibat bawaan hamil mengaburkan seluruh kewarasan Indri. Kesepian, rasa kagum yang berubah menjadi cinta, dan kebutuhan jasmani yang mendesak berpadu menjadi satu racun birah* yang mematikan di kepalanya.
'Dia suamiku... secara agama dia sah milikku malam ini,' bisik hati kecil Indri, membenarkan niat liarnya. 'Aku sudah tidak tahan lagi...'
Dengan napas yang mulai memburu dan dada bergemuruh kencang, Indri perlahan-lahan mulai bergerak. Ia menyingkirkan selimut tipis yang menutupi tubuhnya.
Malam itu, di bawah pengaruh bisikan hawa nafsu yang menguasai akal sehatnya, Indri nekat melakukan tindakan paling berani dalam hidupnya. Secara perlahan, dengan gerakan setenang mungkin agar tidak membangunkan Galih, ia mulai melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, daster tidurnya dibuka satu per satu hingga akhirnya ia terbaring sepenuhnya tanpa sehelai benang pun di balik selimut.
Kulit mulusnya yang bersuhu hangat bergesekan pelan dengan udara malam. Indri mendekatkan tubuh telanjangnya secara perlahan ke sisi tubuh Galih. Hatinya berdegup kencang tak beraturan, diliputi rasa gugup, takut ditolak, bercampur gairah membara yang sudah di ubun-ubun. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Indri mulai meraba dada bidang suaminya, berniat menggoda dan meruntuhkan pertahanan pemuda itu di tengah lelap malam.