Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bohong
Amara keluar dari ruangan Fadli dengan keadaan yang sangat kesal. Begitu sampai dilantai bawah, Amara berpapasan dengan Lidya yang hendak kembali masuk.
Keduanya saling tatap, Tanpa mengatakan apapun. Amara melewati Lidya begitu saja. Kotak makanan yang wanita itu bawa masih berada ditangannya. Amara tak membuangnya, Wanita itu berikan makan siang milik Fadli tadi pada supir taksi yang telah mengantarnya.
"Ini untuk Mas nya.. Dimakan ya?" Kata Amara. Fadli memang tak punya pekerja selain pembantu dirumahnya. Supir maupun seorang penjaga pun tidak ada. Kemanapun pria itu pergi selalu pergi seorang diri.
Jadi terpaksa makanan tadi Amara berikan pada supir taksi online. Dari pada tidak makan, Mubadzir kan?
"Beneran ini makanan untuk saya, Mbak?" Amara mengangguk tersenyum. Wanita itu tak menunjukkan kekesalannya dihadapan orang lain. Cukup dia saja yang kesal, Orang lain tidak perlu tahu.
"Terima kasih ya, Mbak.. Kebetulan saya belum makan siang. Sekali lagi terima kasih Mbak.. Semoga rejeki Mbak lancar dan selalu diberikan keberkahan..
"Aamiin...
Sepanjang perjalanan, Amara hanya diam saja. Kalau dia tahu Fadli tak pernah menginginkan pernikahan ini. Mungkin Amara lebih memilih untuk menolak. Daripada seperti ini? Hanya akan saling menyakiti saja..
"Kalau Abi sama Umma.. tahu, Apa mereka tidak kecewa? Mau jujur, Tapi aku takut.. " Batin Amara yang memikirkan perasaan kedua orangtuanya.
Pernikahan antara Fadli dan Amara masih berjalan belum satu minggu. Kalau Amara bercerita sekarang, Amara tidak tega pada kedua orangtuanya. Karena apa? Ya, Karena mereka memang banyak berharap akan pernikahan ini.
"Sudah sampai Mbak.." Amara tersenyum, Sebelum turun. Wanita itu memberikan ongkos untuk supir taksi tersebut.
"Kembaliannya ambil aja.."
"Baik mbak.. Terimakasih.." Amara menghela nafas panjang usai turun dari kendaraan roda empat itu.
Amara masuk kedalam kamarnya, Lalu kemudian pergi ke kamar mandi. Putri bungsu Abi Rafa dan Umma Zakia itu langsung membersihkan diri. Mengambil wudhu, dan menunaikan ibadah sholat nya.
Amara butuh ketenangan sekarang. Hatinya goyah dengan rasa kesal yang belum hilang. Setelah selesai menunaikan empat rakaatnya, Amara lanjut dengan berdzikir.
Ia masih ingat dengan ucapan Ummanya. Dalam rumah tangga itu, Tidak melulu ada hawa tenang. Terkadang ada rasa gelisah, Panas, kesal bahkan kadang juga marah. Maka dari itu, Jalan salah satunya ialah kita harus curhat pada yang Maha Kuasa.
"Kita lihat saja, Seberapa jauh kamu dekat dengan Wanita itu, Kak.. Karena kalau kamu masih aja tetap sama dia?. Jangan salahkan aku kalau kamu aku buang.." Amara akan melihat dulu, Sejauh mana hubungan dekat mereka. Karena keputusan ada pada Fadli sendiri. Ingin mempertahankan pernikahan ini atau justru sebaliknya.
Karena Amara tidak akan tinggal diam, Walaupun Amara sempat menginginkan suami seperti Fadli. Kalau sekiranya pria itu tidak menginginkannya, Amara akan lepas. Tidak mungkin kan dia bertahan dengan pria seperti itu.
Cintanya pada Fadli akan Amara lupakan. Masih banyak pria luaran sana yang masih punya sifat setia. Dan bisa mencintainya lebih dari apapun..
"Sayang aku tuh lahirnya belakangan.. Mana jadi anaknya pula. Coba kalau aku yang lahir duluan, Pasti aku akan pilih Abi buat jadi suami aku.." Monolog Amara yang berandai-andai bisa punya suami spek Abinya.
Sudah tampan, Baik, Kaya raya, Setia, Perhatian, Pengertian. Benar-benar type suami idaman banyak wanita..
...****************...
Fadli pulang kerumah sore hari. Pria itu menghela nafas panjang seraya melangkah ke arah sofa. Fadli duduk bersandar sembari membuka kacamata beningnya.
Pria itu melihat sekeliling, Rumah tersebut sepi seolah tak ada kehidupan sama sekali. Kemana istrinya itu? Kenapa tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali.
"Amaraaa.. " Fadli memanggil nama Amara, Akan tetapi wanita itu tetap tidak muncul.
"Dek...Amaraa.."
"Ya..." Fadli memejamkan matanya. Amara muncul dari belakang.
"Ada apa?
"Kamu kemana aja? Aku panggil dari tadi gak nyaut..." Amara mengangkat bahunya.
"Ya, Manggilnya cuma sekali doang.. Mana panggil nama aja lagi. Aku kan gak terbiasa.. " Jawab Amara dengan santai. Fadli memejamkan matanya.. Astaaagaaa...
"Tapi aku udah..
"Ada apa kakak panggil aku?" Potong Amara dengan cepat.
"Kamu kemana aja? Suami pulang bukannya disambut dengan baik.. " Amara menyipitkan matanya. Apa katanya? Apa ia tidak salah dengar?
"Menyambut kakak pulang?" Amara melipat kedua tangannya didada.
"Selagi kakak gak anggap aku istri.. Jangan harap untuk disambut.. " Jawaban Amara jelas membuat Fadli kaget. Pria itu langsung menegakkan tubuhnya..
"Apa kata kamu tadi?
"Aku rasa telinga kakak masih berfungsi dengan baik.. Jadi tidak perlu aku ulangi perkataanku.." Kata Amara. Wanita itu berbalik badan hendak pergi..
"Kamu gak ingat apa kata Umma.. Istri harus patuh pada suami. Dosa kamu.." Amara berbalik badan menatap kakak sekaligus suaminya itu. Lalu Amara terkekeh.
"Kakak bicara dosa? Jangan bicara dosa, Kak.. Emang suami yang lebih mementingkan wanita lain, Padahal dia sudah punya istri itu gak dosa? Dari kakak ngajak dia datang dan mengizinkan dia sarapan disini tanpa persetujuan aku itu udah dosa kak.. Jadi stop! Gak usah bawa-bawa dosa.. Kalau masalah dosa, Itu kita bawa masing-masing sekarang. Dikanan kiri kita sama-sama ada malaikatnya. Sama-sama pegang buku sama pulpen. Baik buruknya kita itu malaikat catat.. Kakak berkata kayak gitu, Yang ada diketawain sama mereka.." Setelah mengatakan itu, Amara berlalu pergi. Mulai sekarang Amara akan belajar melupakan pria itu.
Ngapain cinta, Kalau tidak dipedulikan atau tidak dianggap. Cari yang lain masih banyak, Kok..
"Astagaa.. Sejak kapan dia pandai bicara seperti itu? Astaghfirullah...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam menjelang, Fadli turun dari kamarnya. Pria itu masuk keruang makan dimana Bibi dan Amara telah selesai masak.
"Makan malam dulu Den.." Kata Bibi. Fadli mengangguk..
"Iya bi.." Fadli menarik kursi hendak duduk, Namun..
Ting..
Benda pipih milik Fadli ysng pria itu letakkan diatas meja berbunyi menandakan ada notifikasi masuk.
"Lagian mau makan malah bawa ponsel.. Kayak penting banget.." Ucap Amara, Fadli menghela nafas, Memudian..
"Aku pergi dulu.. Kita makan malam bareng besok saja.." Kata Fadli tiba-tiba. Pria itu langsung pergi setelah membaca pesan yang entah siapa itu.
Amara menoleh, Fadli masuk kedalam kamarnya. Hingga tak lama, Pria tersebut kembali keluar sembari mengenakan jaket.
"Mau kemana dia? Bukannya makan malam malah pergi gak jelas.." Gumam Amara, Dadanya terasa sakit melihat Fadli yang merupakan suaminya selalu abai terhadapnya. Apalagi sekarang ia ditinggalkan diruang makan..
Amara memang berniat akan melepas pria itu, Tapi Fadli masih suaminya. Wajar bukan kalau seorang istri merasa kecewa atas sikap suaminya yang lebih mementingkan orang lain itu.
"Huuuffft... " Amara bersandar di kursi. Berulang kali wanita itu menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar.
"Non..." Bi Darmi mendekati Amara lalu menggenggam tangan Wanita itu.
"Den Fadli, Dia pasti pergi kerumah Lidya.." Amara langsung menoleh dan menatap Bibi..
"Yang dikatakan Bibi benar, kan?
"Saya yakin Non..." Amara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bibi tahu dimana alamatnya?
"Kalau gak salah, Jalan X nomor 20.. Rumah sederhana tapi cukup luas halamannya. Kalau tidak salah Rumahnya ber cat biru dan putih.." Amara mengangguk..
"Okey Bi.. Makasih.." Amara langsung bangkit. Adik bungsu Gabriel dan Ghazi itu segera menghubungi seseorang.
Hingga tak lama, Sebuah mobil mewah datang. Amara segera masuk kedalam kendaraan roda empat tersebut.
"Kemana Ning?
"Ke jalan X nomor 20...
"Baik.." Pria yang merupakan supir pribadi nya itu langsung menancap gas menuju alamat yang menjadi tujuan Amara saat ini.
"Sepertinya kau memang suka bermain-main denganku, Kak Fadli..
•
•
•
TBC
..... Othor up sekali ya.. Karena ada acara 100 hari Almh. ibu mertua...
hayo tamatlah riwayatmu Lidya
dan kamu Fadli siap siap datang kepengadilan untuk pembatalan pernikahan. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 senangnya hatiku melihat mereka berdua terpojok