Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 memanfaatkan pengaruh keluarga
"Maya!" jerit Reza histeris. Kepanikannya yang luar biasa membuat aura dingin sang bos mafia seketika pecah, berganti dengan kemarahan yang membakar ubun-ubun.
Pria bertopeng hitam itu dengan kasar menarik dan menyeret Maya keluar dari mobil jip yang kaca jendelanya sudah hancur berkeping-keping.
Maya meronta sekuat tenaga, mencakar tangan penculiknya sambil berteriak memanggil nama Reza, namun tenaganya tentu saja tidak sebanding.
"Lepasin aku! Tolong!" jerit Maya histeris, air matanya tumpah ruah saat tubuhnya didorong paksa ke arah teras panti asuhan.
Reza yang melihat hal itu langsung melangkah maju, berniat menerobos gerbang untuk mengejar penculik Maya. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, puluhan moncong senjata dari anak buah Sora langsung mengarah serentak ke arahnya, sementara sirine mobil van tambahan berdatangan dari sudut jalan, memblokir seluruh jalur pelarian.
"Maju satu langkah lagi, Reza, dan perempuan pelayan itu akan mati tertembak detik ini juga!" ancam Sora dengan suara nyaring dan penuh kemenangan.
Wanita itu berdiri tegak di samping Maya yang kini sudah dikunci pergerakannya oleh dua orang pengawal berbadan besar.
Reza terpaksa menghentikan langkahnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak. Matanya yang tajam menatap tajam ke arah Sora.
"Jangan sentuh dia, Sora! Urusan kita adalah antara kamu dan aku!"
Sora tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat elegan namun mengandung racun yang mematikan.
Ia melangkah anggun mendekati Maya, lalu mencengkeram dagu gadis itu dengan kukunya yang terawat. Maya meringis kesakitan, tapi ia menatap Sora dengan sorot mata penuh kebencian.
"Antara kita? Oh, tentu saja ini urusan kita, suamiku tercinta," ucap Sora manis, lalu menoleh menatap Reza.
"Tapi kamu lupa satu hal penting, Reza. Kamu bisa saja menodongkan senjata ke ayahku beberapa hari lalu, tapi kamu lupa siapa sebenarnya yang memegang kendali atas seluruh sindikat dan dewan petinggi mafia di kota ini."
Reza mengetatkan rahangnya. "Apa maksudmu?"
Sora melambaikan tangan kirinya ke arah jalan raya. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berukuran besar berhenti perlahan.
Pintu mobil terbuka, dan turunlah Tuan Burhan—ayah Sora—didampingi oleh tiga orang pria tua berjas rapi yang membawa koper-koper kecil dokumen resmi. Mereka adalah para tetua dewan tertinggi sindikat dunia malam kota itu.
Para tetua dewan mafia itu berjalan mendekat dengan ekspresi wajah yang sangat dingin dan berwibawa, memancarkan aura kekuasaan yang selama ini ditakuti oleh seluruh kendaran kriminal di kota.
"Tuan-tuan dewan..." sapa Sora dengan nada hormat yang dibuat-buat, lalu melepaskan cengkeramannya dari dagu Maya. Ia melangkah menyambut para tetua tersebut.
Reza menyipitkan matanya. Ia tahu betul siapa para pria tua itu. Mereka adalah dewan tetua yang memegang hak veto tertinggi atas kepemimpinan wilayah, pembagian jalur distribusi, dan status kekuasaan setiap bos mafia.
"Reza," panggil tetua tertua berambut perak dengan suara berat dan serak. Namanya Tuan Darma, orang yang paling dihormati di dewan sindikat.
"Kamu sudah bertindak terlalu jauh. Membawa perempuan asing dari kalangan rendahan ke dalam lingkaran kita, memicu perang saudara, dan menodongkan senjata ke arah pendiri klanmu sendiri. Itu adalah pelanggaran berat terhadap hukum dewan."
Reza mendengus dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar meski ia dikepung dari segala penjuru.
"Hukum dewan yang mana, Darma? Hukum yang kalian buat untuk melindungi kepentingan keluarga Burhan dan memperbudak orang lain?"
Tuan Burhan melangkah maju sambil tersenyum sinis. "Jaga mulutmu, anak muda! Kamu bisa berdiri sebagai bos besar di kota ini berkat restu dan suara bulat dari dewan tetua! Dan sekarang, dengan wewenang penuh dari dewan, status kekuasaanmu secara resmi dicabut!"
Deg!
Pernyataan itu sontak membuat Rian dan para pengawal setia Reza di belakang menegang kaget.
"Dicabut?" ulang Reza dengan nada datar, namun mengandung ancaman yang sangat mematikan.
"Atas dasar apa kalian berani mencabut kekuasaan saya? Wilayah dan jalur logistik di kota ini sepenuhnya berada di bawah kendali tangan saya!"
Tetua Darma mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan salah satu pengawalnya membukakan dokumen resmi di dalam koper.
"Berdasarkan piagam darah sindikat, seorang pemimpin yang membiarkan urusan pribadi menghancurkan stabilitas organisasi dan membahayakan aset klan dinyatakan tidak layak memimpin.
Hari ini, seluruh aset kekayaanmu, wilayah kekuasaanmu, dan hak istimewamu sebagai bos besar... resmi dibekukan oleh dewan tetua!"
Sora tersenyum lebar, menatap Reza dengan tatapan penuh kemenangan mutlak.
"Kamu dengar itu, Reza? Tanpa dukungan dewan, tanpa wilayah, dan tanpa uang... kamu bukan apa-apa lagi. Kamu cuma seorang buronan biasa yang tidak punya kuasa untuk melindungi siapa pun."
Maya yang mendengar percakapan itu dari samping merasakan dadanya hancur berkeping-keping.
Air matanya menetes makin deras. Semua ini terjadi karena dirinya. Gara-gara dirinya yang cuma seorang cewek biasa, Reza harus kehilangan seluruh kerajaan bisnis yang dibangunnya susah payah selama bertahun-tahun.
"Reza..." bisik Maya lemah dengan bibir bergetar. "Jangan pedulikan aku... Pergi dari sini... Biarkan aku ikut dengan mereka..."
"Diam, Maya!" bentak Reza keras, matanya menatap tajam ke arah Sora dan para tetua dewan.
"Kalian pikir dengan mencabut status di atas kertas, kalian bisa melumpuhkan saya? Silakan ambil wilayah itu! Silakan ambil semua uang dan aset yang kalian inginkan!"
Reza melangkah maju satu langkah, mengabaikan moncong senjata yang mengarah padanya. Suaranya menggema tegas penuh wibawa, memecah kesunyian malam di halaman panti asuhan.
"Tapi ketahuilah satu hal," lanjut Reza dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding.
"Selama saya masih bernapas, Maya adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak akan pernah bisa kalian ambil dari saya!"
Sora mendengus kesal mendengar keteguhan hati Reza. "Wah, romantis sekali! Tapi sayang sekali, kepedulianmu itu terlambat, Reza."
Sora memberi isyarat kepada dua pengawalnya. Salah satu pengawal maju sambil membawa sebuah alat kejut listrik bertegangan tinggi, sementara pengawal lainnya memegang remote kontrol kecil.
"Karena kamu masih keras kepala dan menolak menyerah secara sukarela," kata Sora dingin, "kita lihat seberapa kuat kamu bertahan... saat melihat perempuan kesayanganmu ini menanggung akibat dari kepolosan dan kebodohannya sendiri."
Sora menekan tombol pada remote kontrol di tangannya. Tiba-tiba, gerbang utama panti asuhan bergeser terbuka, memperlihatkan puluhan anak-anak panti asuhan yang tadi disekap di dalam aula kini diseret keluar ke halaman oleh anak buah Sora, dengan tangan terikat dan kain penutup mulut. Para pengurus panti menangis histeris di sudut halaman.
"Sora! Jangan apa-apakan anak-anak itu!" jerit Maya histeris, meronta-ronta dalam cengkeraman penjaga.
"Lepaskan mereka!" murka Reza, urat-urat di lehernya menonjol, ia siap menerjang ke depan meski peluru menantinya.
"Pilihannya ada di tanganmu, Reza," kata Sora tanpa rasa berdosa sedikit pun.
"Tandatangani surat penyerahan seluruh aset pribadi terakhirmu kepada dewan sekarang juga... atau anak-anak panti ini dan perempuan jalangmu ini akan menerima akibatnya dalam hitungan detik!"
Sora mengangkat tangan kanannya, memberi aba-aba pada pengawal yang memegang alat kejut listrik untuk mendekat ke arah salah satu anak panti yang menangis ketakutan.
Maya membelalakkan matanya, napasnya berhenti seketika. "Jangan... Jangan sentuh mereka!" jerit Maya putus asa.
Reza menatap anak-anak kecil yang ketakutan itu, lalu beralih menatap Maya yang menangis hancur.
Tangannya yang memegang senjata bergetar hebat di sisi tubuhnya—untuk pertama kalinya dalam hidup, bos mafia yang kejam itu berada dalam posisi terjepit yang tidak bisa ia menangkan dengan peluru.
Sebelum Reza sempat membuka mulut untuk memberikan keputusan, sebuah suara tembakan misterius tiba-tiba meledak dari arah atap gedung panti asuhan, memecah keheningan dan mengenai tepat lampu sorot utama hingga hancur berkeping-keping dalam gelap gulita!
Bersambung......