Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Arman sakit
Seminggu setelah kepulangan anak-anak Ustadzah Munah, suasana kebun mangga yang biasanya sepi kini berubah menjadi sangat ramai dan penuh dengan canda tawa bahagia.
Kebersamaan Alya dan anak-anak Ustadzah Munah semakin terlihat jelas setiap harinya. Tidak ada lagi jarak antara mereka, semua sudah seperti keluarga sendiri.
Di pagi hari, setelah sholat subuh berjamaah di mushola kecil dekat kebun, Nisa dan Raffi langsung berlari ke rumah besar untuk bermain dengan Kinan dan Kiano, anak-anak Mbak Zahra yang seumuran dengan mereka. Mereka berempat bermain kejar-kejaran di antara pohon-pohon mangga, memungut mangga yang jatuh dan membantu Ustadzah Munah memberi makan ayam di belakang rumah.
"Mbak Nisa, ayo kita bikin rumah-rumahan dari daun mangga!" teriak Kinan, anak perempuan Mbak Zahra yang berusia lima tahun, sambil menarik tangan Nisa.
"Ayo, Kak Kinan!" jawab Nisa dengan wajah yang sangat ceria. Sudah lama sekali Nisa tidak memiliki teman bermain sebayanya.
Raffi yang paling kecil juga berteman baik dengan Kiano. Mereka berdua bermain mobil-mobilan dari kayu yang dibuatkan oleh Mas Fikri di teras rumah kecil Alya. Tawa mereka berempat terdengar sampai ke seluruh kebun, membuat Ustadzah Munah dan Mbak Zahra yang sedang memasak di dapur tersenyum bahagia mendengarnya.
Alya sendiri juga semakin dekat dengan Mbak Zahra dan Mas Fikri. Mbak Zahra sering membantu Alya menyiram tanaman kangkung dan bayam di kebun, sambil berbagi cerita tentang cara mendidik anak.Mereka tampak akrab,jika ada yang melihat mereka lebih terlihat seperti Kaka dan adik kandung dibandingkan seorang teman.
"Mbak Alya,mba hebat loh bisa menanam kangkung dilahan seluasini sendirian dan tanaman mba juga subur dan bagus.Saya saja di kota tidak bisa menanam apa-apa, Mbak," ucap Mbak Zahra dengan kagum.
Alya hanya tersenyum malu.
"Mbak Zahra ini bisa saja, Mbak. Alya juga belajar tentang berkebun dari Ustadzah Munah Mbak."
Di antara kebersamaan itu, ada satu pemandangan yang membuat semua orang tersenyum diam-diam.
Mas Ilham, anak bungsu Ustadzah Munah yang masih bujang itu, dia lebih sering terliha berada di kebun. Jika pagi-pagi Ilham membantu menyiram kebun, siangnya ia membantu memperbaiki pagar bambu diarea kebun dan sorenya ia duduk di teras sambil bermain dengan anak-anak.
Ilham mendekati anak-anak Alya yang lucu dan menggemaskan dengan cara yang sangat tulus dan lembut.Ilham juga pribadi yang santun dan sabar.
"Om Ilham, Om Ilham, lihat mobil-mobilan Raffi, Om! Bagus ya Om!" teriak Raffi sambil berlari dan menunjukkan mobil kayu kecilnya kepada Ilham.
Ilham langsung mengangkat Raffi ke atas pangkuannya dengan penuh kasih sayang.
"Wah, bagus sekali mobilnya Raffi. Siapa yang bikin Raffi?"
"Om Fikri yang bikinin!" jawab Raffi dengan bangga.
Nisa yang biasanya pemalu, kini juga sudah tidak takut lagi dengan Om Ilham. Ia sering meminta Om Ilham untuk mengajarinya membaca buku cerita.
"Om Ilham, bacakan dong buku cerita tentang putri yang sabar dong om!" pinta Nisa sambil duduk di samping Ilham.
Ilham membacakan buku itu dengan suara yang lembut, sementara Alya yang sedang menjemur pakaian di samping mereka hanya bisa menatap dengan haru. Sudah lama sekali Nisa dan Raffi tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sosok seorang ayah. Sejak berpisah dari Arman, Nisa dan Raffi tidak pernah lagi merasakan kehangatan seorang ayah dan kini Ilham hadir seperti seorang kakak yang sangat menyayangi mereka.
Mbak Zahra yang melihat dari jauh hanya berbisik kepada Ustadzah Munah.
"Bu, lihat Ilham, Bu. Sepertinya dia sayang sekali sama Nisa dan Raffi, Bu.Dia sudah cocok jadi seorang ayah ya Bu!" goda Zahra.
Ustadzah Munah hanya tersenyum bijaksana sambil mengangguk.
"Ibu juga melihatnya, Nak. Ilham memang anak yang penyayang.Biarkan saja, kita lihat nanti bagaimana takdir Allah ya Nak."
Kebahagiaan itu terasa begitu indah dan tulus di kebun mangga. Tapi di sisi lain, di rumah Bu Ratna yang sepi dan berdebu, suasana yang sangat berbeda terjadi.
Setelah putusan hakim diketuk seminggu yang lalu, Arman jatuh sakit dan sakitnya semakin parah. Bukan sakit di lututnya lagi, tapi sakit di hatinya yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Arman tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mau keluar kamar. Ia hanya terbaring di atas kasur dengan wajah yang pucat dan tatapan kosong menatap langit-langit. Foto pernikahannya dengan Alya yang dulu ia buang kini ia pungut kembali dan ia peluk setiap malam.
"Ly, maafkan Mas, Ly..." gumamnya setiap malam dengan suara yang parau.
Namun penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi.
Bu Ratna yang melihat keadaan anaknya seperti itu merasa sangat sedih dan sangat terluka .Ia merasa bersalah karena semua ini terjadi karena ulahnya sendiri yang selalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya.
"Man, ayo makan dulu, Man. Kamu sudah dua hari tidak makan, Man. Nanti sakit kamu makin parah loh Man!"bujuk Bu Ratna sambil membawa sepiring nasi ke kamar Arman.
Arman hanya menggeleng dengan lemah.
"Arman tidak lapar, Bu. Arman hanya ingin Alya, Bu. Arman ingin Nisa dan Raffi, Bu."
Mendengar itu, Bu Ratna merasa hatinya teriris. Tapi dasar Bu Ratna, bukannya merenung dan meminta maaf kepada Alya, ia justru kembali dengan rencana lamanya yang sudah pernah gagal.
Ia berpikir, satu-satunya cara agar Arman bisa melupakan Alya adalah dengan segera mencarikan pengganti Alya yang baru. Istri yang kaya raya, yang bisa membuat Arman kembali bersemangat.
Siang itu, Bu Ratna langsung menelepon Tante Yati dengan suara yang terdengar panik.
"Yati, kamu ke sini sekarang ya, Yati. Arman sakit parah, Yati. Dia tidak mau makan sejak putusan cerai itu, Yati. Tolong bawa Mbak Santi ke sini ya, Yati, biar Arman bisa melihat bahwa ada perempuan lain yang lebih cantik,manis lembut dan pandai selain Alya.Tentunya lebih kaya dan banyak uang.
Tante Yati yang memang sudah bersekongkol dengan Bu Ratna langsung mengiyakan.
"Baik, Mbak Ratna, saya bawa Santi sekarang ya, Mbak. Kebetulan Santi juga lagi kosong hari ini, Mbak. Kita kesana sekarang, Mbak."
Sore harinya, saat kebun mangga sedang dipenuhi tawa bahagia Nisa, Raffi, Kinan, dan Kiano yang sedang bermain dengan Om Ilham, di rumah Bu Ratna yang sepi terdengar suara motor berhenti.
Tante Yati datang dengan membawa seorang perempuan gemuk berumur sekitar tiga puluh lima tahun, memakai daster bunga-bunga yang ketat, perhiasan emas yang berkilauan di leher dan di tangannya, bau parfumnya begitu menyengat. Itulah Mbak Santi, janda penjual emas di pasar yang terkenal kaya raya itu.
"Assalamualaikum, Mbak Ratna!" teriak Tante Yati dari depan rumah.
Bu Ratna langsung keluar dengan wajah yang penuh harapan.
"Waalaikumsalam, Yati, Santi. Masuk, masuk. Ayo masuk."
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Arman dan melihat Arman yang terbaring lemas.
"Man, lihat man ,ibu bawa tamu special buat kamu.Ini Mbak Santi, Man. Mbak Santi ini orangnya baik,dia cantik rajin dia jualan emas di pasar, Man. Dia mau kenalan sama kamu, Man!" ucap Bu Ratna yang memaksakan wajahnya tetap tersenyum.
Arman yang terbaring langsung menoleh dengan wajah yang penuh dengan amarah dan kecewa. Ia melihat Mbak Santi yang tersenyum genit ke arahnya.
"Bu, apa-apaan ini, Bu! Ibu bawa siapa ke kamar ini! Ini kamarku dan Alya Bu!" Sentak Arman.
Mbak Santi mencoba mendekati Arman dan duduk di pinggir kasur.
"Mas Arman.Kenalin saya Santi, Mas. Saya dengar Mas Arman baru bercerai ya mas.Saya kebetulan juga janda mas."
Arman langsung bangun dan mendorong tangan Santi dengan kasar.
"Pergi! Pergi kalian semua dari kamar saya! Saya tidak butuh janda,saya tidak perduli kami ini penjual emas,atau tukang loak emas!Saya hanya butuh Alya! Saya butuh anak-anak saya! Pergi!"
Teriakan Arman itu membuat Bu Ratna, Tante Yati, dan Mbak Santi terkejut dan langsung keluar dari kamar Arman dengan raut wajah kecewa.
Di luar kamar, Bu Ratna kembali menangis. Rencananya gagal lagi untuk kedua kalinya. Ia baru menyadari, luka di hati Arman tidak bisa disembuhkan dengan iming-iming emas dan harta, tapi hanya bisa disembuhkan dengan Alya, yang kini sudah hidup bahagia di kebun mangga bersama anak-anak Ustadzah Munah dan dijaga dengan tulus oleh Mas Ilham.
Bersambung...