NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Orang Lemah yang Mulai Bergerak

Pagi menyingsing di Desa Qingyuan, tetapi bagi Gu Chen, dunia tidak lagi terlihat sama. Rumahnya masih berantakan, tubuh ayahnya telah dibawa oleh beberapa tetangga untuk dimakamkan, dan darah yang mengering di lantai menjadi satu-satunya bukti bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi. Ia berdiri di depan makam sederhana di belakang desa, mengenakan pakaian hitam yang sudah usang. Tidak ada keluarga besar yang datang, tidak ada tokoh penting yang menawarkan bantuan. Ayahnya hanyalah orang biasa, dan di dunia kultivasi, kematian orang biasa jarang dianggap sebagai sesuatu yang pantas dikenang.

Gu Chen meletakkan tiga batang dupa di depan makam. “Ayah, aku tidak akan berjanji menjadi orang baik. Aku juga tidak akan berjanji menjadi orang hebat. Aku hanya berjanji akan menemukan orang-orang yang menyebabkan semua ini.”

Ia terdiam sebentar, kemudian melanjutkan dengan suara rendah, “Dan jika mereka benar-benar menganggap hidup kita sebagai permainan, aku akan membuat mereka menyesali keputusan itu.”

Angin pagi berembus melewati pepohonan. Gu Chen berbalik dan meninggalkan makam tanpa menoleh lagi. Kesedihannya belum hilang, tetapi ia tahu bahwa duduk meratapi masa lalu tidak akan mengubah apa pun. Orang-orang yang membunuh ayahnya berasal dari Sekte Pedang Awan. Untuk mendekati mereka, ia membutuhkan kekuatan, informasi, dan sumber daya. Masalahnya, ia tidak memiliki ketiganya.

Meridian spiritualnya rusak. Ia bahkan kesulitan menyerap energi spiritual yang paling dasar. Selama bertahun-tahun, ia telah mencoba berbagai metode kultivasi, tetapi hasilnya selalu sama. Jika ia ingin membalas dendam dengan mengandalkan kekuatan biasa, kemungkinan besar ia akan mati sebelum sempat melihat wajah musuhnya.

Karena itu, Gu Chen memutuskan untuk memulai dari sesuatu yang lebih sederhana: mencari tahu mengapa ayahnya dibunuh.

Saat kembali ke rumah, ia memeriksa setiap sudut ruangan. Para penyerang telah mengacak-acak hampir seluruh isi rumah, tetapi mereka tidak mengambil pakaian, uang receh, atau peralatan sederhana milik keluarganya. Mereka hanya mencari satu benda. Bidak hitam yang sekarang disimpan Gu Chen di dalam saku bagian dalam bajunya.

Ia mengeluarkannya dan mengamati ukiran di permukaannya. Benda itu terasa dingin, bahkan ketika terkena sinar matahari. Tidak ada energi spiritual yang bisa ia rasakan, tetapi tulisan misterius yang muncul malam sebelumnya masih terukir samar di sana.

\[Pemain telah melakukan kesalahan.\]

Gu Chen mengetuk permukaannya dengan kuku.

“Kalau kau benar-benar benda luar biasa, setidaknya berikan aku petunjuk.”

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mengguncangnya, membaliknya, bahkan mencoba menyalurkan sedikit energi spiritual ke dalamnya. Hasilnya tetap nihil. Setelah beberapa saat, Gu Chen menghela napas.

“Hebat. Aku kehilangan ayah, hampir mati, dan sekarang harus berurusan dengan bidak catur yang tidak berguna.”

Ia memasukkan benda itu kembali ke saku. Setidaknya, satu hal telah jelas: Sekte Pedang Awan menginginkan benda tersebut, sehingga menyimpannya mungkin lebih berguna daripada menyerahkannya kepada orang lain.

Ketika ia hendak keluar, terdengar ketukan di pintu.

Gu Chen segera menoleh. Ia mengambil pisau dapur dari atas meja, lalu berjalan perlahan menuju pintu. Setelah membukanya sedikit, ia melihat seorang lelaki kurus berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di luar. Lelaki itu adalah Zhao Tua, pedagang keliling yang sesekali membeli tanaman obat dari Gu Chen.

“Kau masih hidup?” Zhao Tua mengamati wajahnya dengan terkejut. “Aku mendengar orang-orang Sekte Pedang Awan datang tadi malam. Kukira kau sudah ikut dibunuh.”

“Sayangnya, aku masih hidup.” Gu Chen menyimpan pisau di balik tubuhnya. “Paman datang untuk apa?”

Zhao Tua melirik ke dalam rumah sebelum menurunkan suaranya. “Aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah ayahmu meninggalkan benda aneh?”

Gu Chen tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah sedikit lebih dingin.

“Mengapa Paman menanyakan itu?”

“Karena sebelum meninggal, ayahmu pernah menitipkan pesan kepadaku. Katanya, jika suatu hari orang-orang Sekte Pedang Awan datang mencarinya, aku harus segera meninggalkan desa.”

“Lalu mengapa Paman masih di sini?”

Wajah Zhao Tua berubah canggung. “Aku tidak menyangka mereka akan benar-benar datang.”

Gu Chen memperhatikan lelaki itu dengan saksama. Ada sesuatu yang tidak beres. Jika Zhao Tua mengetahui kedatangan para penyerang, mengapa ia baru datang setelah semuanya berakhir? Dan mengapa ia langsung menanyakan benda yang sama?

“Paman tahu apa yang mereka cari?”

Zhao Tua menggeleng cepat. “Tidak. Aku hanya pedagang kecil. Bagaimana mungkin aku mengetahui urusan sekte?”

Jawabannya terlalu cepat.

Gu Chen tersenyum tipis dan berpura-pura menghela napas. “Kalau begitu, Paman tidak bisa membantuku. Mereka mengambil semua barang berharga di rumah ini. Aku bahkan tidak tahu bagaimana akan bertahan hidup beberapa hari ke depan.”

Zhao Tua terlihat sedikit lega. Ia mengeluarkan dua keping perak dari kantongnya dan menyerahkannya kepada Gu Chen.

“Ambillah. Anggap saja bantuan dari orang yang mengenal ayahmu.”

Gu Chen menerima uang tersebut dengan wajah berterima kasih. Namun, ketika Zhao Tua berbalik, ia melihat sesuatu yang membuatnya semakin curiga: tangan kanan lelaki itu terus bergerak mendekati pinggangnya, tepat di tempat sebuah belati tersembunyi di balik pakaian.

Gu Chen tidak menghentikannya. Ia hanya berdiri di ambang pintu dan memperhatikan sampai lelaki itu menghilang di ujung jalan.

“Menarik,” gumamnya. “Orang yang mengaku tidak mengetahui apa pun justru datang untuk memastikan apakah aku masih menyimpan sesuatu.”

Ia menutup pintu dan memeriksa dua keping perak pemberian Zhao Tua. Salah satunya memiliki noda hitam kecil di bagian tepi. Noda itu hampir tidak terlihat, tetapi Gu Chen pernah melihat tanda serupa pada kantong obat yang ditemukan di dekat tubuh ayahnya semalam.

Ia tidak tahu apakah keduanya benar-benar berhubungan. Namun, ia tidak akan membuang kesempatan untuk mencari tahu.

Menjelang siang, Gu Chen meninggalkan desa dan berjalan menuju Pasar Batu Merah, tempat para pedagang, pemburu, dan kultivator tingkat rendah berkumpul. Ia membutuhkan informasi tentang Sekte Pedang Awan, sekaligus mencari pekerjaan yang bisa memberinya uang. Tanpa sumber daya, ia tidak mungkin bertahan lama.

Pasar itu ramai. Para pedagang menjajakan tanaman obat, senjata, batu spiritual, dan berbagai benda yang konon berasal dari reruntuhan kuno. Gu Chen berjalan di antara kerumunan sambil mendengarkan percakapan orang-orang. Ia tidak punya cukup uang untuk membeli barang berharga, sehingga informasi gratis menjadi pilihan terbaiknya.

Di dekat sebuah kedai, dua kultivator sedang berbicara tentang Sekte Pedang Awan.

“Katanya, tetua sekte mengirim orang ke Desa Qingyuan tadi malam.”

“Aku juga mendengarnya. Mereka mencari peninggalan seorang buronan yang sudah bersembunyi selama bertahun-tahun.”

“Kalau begitu, orang tua yang dibunuh itu pasti bukan orang biasa.”

Gu Chen berhenti di balik kios buah. Ia berusaha mendengar lebih banyak, tetapi percakapan mereka segera berubah menjadi pembicaraan tentang turnamen antarsekte.

Jadi, ayahnya pernah menjadi buronan?

Pikiran itu terasa asing. Selama hidupnya, Gu Chen mengenal Gu Yuan sebagai seorang lelaki sederhana yang menghabiskan sebagian besar waktunya memperbaiki peralatan rumah dan mengumpulkan tanaman obat. Tidak pernah sekalipun ayahnya memperlihatkan kemampuan luar biasa atau menceritakan masa lalunya.

Namun, jika Gu Yuan memang menyimpan rahasia, mengapa ia tidak pernah menceritakannya?

Gu Chen mengingat perkataan terakhir ayahnya: Jangan pernah percaya pada takdir.

Kalimat itu mungkin bukan sekadar pesan seorang lelaki yang hampir mati. Bisa jadi, ayahnya telah mengetahui sesuatu tentang dunia yang selama ini tidak dipahami oleh siapa pun.

Ketika Gu Chen sedang berpikir, suara bentakan terdengar dari tengah pasar.

“Minggir! Jangan menghalangi jalan!”

Seorang pemuda berpakaian mewah berjalan diikuti tiga pengawal. Di depannya, seorang anak kecil terjatuh setelah tidak sengaja menabrak kaki pemuda itu. Sebuah keranjang buah terbalik, membuat buah-buahan berserakan di tanah.

Pemuda tersebut menatap anak itu dengan jijik.

“Matamu buta?”

“A-aku minta maaf, Tuan. Aku tidak sengaja.”

Pemuda itu mengangkat kakinya dan menendang keranjang hingga terpental. “Kau pikir permintaan maaf bisa mengganti waktuku?”

Beberapa orang di sekitar hanya menunduk. Mereka mengenali lambang keluarga pemuda tersebut, keluarga Lin, salah satu keluarga kultivator yang cukup berpengaruh di wilayah itu. Tidak ada yang ingin mencari masalah.

Gu Chen juga tidak berniat ikut campur. Ia bukan pahlawan yang gemar mempertaruhkan nyawa demi orang asing. Namun, ketika melihat anak itu berusaha mengumpulkan buah-buah yang sudah diinjak, ia menyadari bahwa pemuda tersebut berdiri tepat di dekat kios tempat Zhao Tua biasa berjualan.

Sebuah gagasan muncul di benaknya.

Gu Chen mengambil satu buah dari keranjang yang tergeletak, lalu berjalan mendekat.

“Tuan muda, sepertinya Anda menjatuhkan sesuatu.”

Pemuda keluarga Lin menoleh. “Apa?”

Gu Chen mengangkat buah itu, kemudian sengaja menjatuhkannya tepat di depan sepatu pemuda tersebut.

“Kesempatan untuk menunjukkan bahwa Anda lebih mulia daripada seorang anak kecil.”

Pasar mendadak sunyi.

Wajah pemuda itu memerah. “Kau sedang mengejekku?”

“Tidak.” Gu Chen memasang ekspresi polos. “Aku hanya berpikir bahwa seseorang dengan pakaian semahal milik Anda tentu tidak keberatan membayar kerugian seorang anak. Atau aku salah menilai?”

Beberapa orang menahan tawa. Bagi pemuda yang terbiasa dihormati, tatapan orang-orang itu terasa seperti tamparan.

“Kau ingin mati!”

Ia mengayunkan tangan ke arah wajah Gu Chen.

Gu Chen sudah memperkirakan gerakan tersebut. Ia tidak mencoba menangkis, sebab kekuatannya tidak cukup untuk menghadapi seorang kultivator. Sebaliknya, ia bergeser setengah langkah ke samping. Pukulan pemuda itu meleset dan menghantam sebuah keranjang kayu di belakangnya hingga pecah.

Gu Chen mundur sambil mengangkat kedua tangan.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Semua orang melihatnya sendiri.”

Pemuda itu kembali hendak menyerang, tetapi seorang pengawal segera menahannya.

“Tuan muda, jangan di sini. Jika keributan ini sampai ke telinga pengurus pasar, keluarga Lin harus membayar ganti rugi.”

Pemuda itu menatap Gu Chen dengan penuh kebencian.

“Ingat wajahku. Namaku Lin Feng. Jika aku melihatmu lagi, kau tidak akan keluar dari pasar ini dengan kedua kaki utuh.”

Gu Chen menundukkan kepala seolah ketakutan. “Tentu, Tuan Lin. Aku akan mengingatnya.”

Setelah Lin Feng pergi, Gu Chen membantu anak kecil itu mengumpulkan buah-buah yang masih bisa dijual. Ia tidak melakukannya karena kebaikan hati. Keributan tadi telah menarik perhatian banyak orang, dan ia melihat beberapa pedagang yang mengenali Zhao Tua mulai berbisik-bisik.

Salah satu dari mereka akhirnya mendekatinya.

“Kau Gu Chen, anak Gu Yuan?”

Gu Chen mengangguk.

Pedagang itu menatapnya beberapa saat, kemudian berkata pelan, “Jika kau ingin mengetahui masa lalu ayahmu, pergilah ke Paviliun Seribu Catatan. Ada seseorang di sana yang mungkin mengenal namanya.”

Gu Chen mengangkat kepalanya. “Siapa?”

“Penjaga arsip bernama Shen Mo. Tetapi berhati-hatilah. Beberapa tahun lalu, ia pernah mengatakan bahwa ada nama-nama yang sengaja dihapus dari sejarah.”

Setelah mengatakan itu, pedagang tersebut kembali ke kiosnya, seolah tidak ingin terlibat lebih jauh.

Gu Chen berdiri diam di tengah keramaian. Untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, ia menemukan petunjuk yang mungkin membawanya menuju jawaban.

Ia belum tahu siapa Shen Mo. Ia juga belum mengetahui mengapa nama ayahnya mungkin dihapus dari sejarah. Namun, satu hal mulai terasa semakin jelas: kematian Gu Yuan bukanlah kejadian sederhana.

Dan di balik semua itu, mungkin ada hubungan dengan papan permainan yang pernah dilihatnya.

Gu Chen menyentuh saku tempat bidak hitam disimpan.

“Sepertinya aku harus mencari tahu siapa dirimu sebenarnya, Ayah.”

Di tempat yang jauh dari Pasar Batu Merah, Zhao Tua memasuki sebuah ruangan tersembunyi dan berlutut di hadapan seseorang berjubah hitam.

“Anak itu masih hidup,” lapornya. “Aku sudah memeriksa rumahnya, tetapi belum menemukan benda yang kita cari.”

Sosok berjubah hitam itu terdiam cukup lama sebelum bertanya, “Apakah dia menunjukkan tanda-tanda keanehan?”

Zhao Tua mengingat percakapannya dengan Gu Chen. “Dia tampak seperti pemuda biasa. Namun, matanya… terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan ayahnya.”

Sosok itu perlahan mengangkat kepala.

“Kalau begitu, awasi dia. Jangan membunuhnya sebelum kita mengetahui apakah peninggalan itu telah memilih pemilik baru.”

Di atas meja di hadapannya terletak sebuah papan catur tua. Salah satu bidak hitam di atasnya tiba-tiba retak.

Sosok berjubah hitam itu segera berdiri.

“Tidak mungkin…”

Pada permukaan papan, sebuah tulisan muncul sesaat sebelum menghilang.

\[Satu pemain telah kehilangan hak untuk mengamati bidak.\]

Untuk pertama kalinya, sosok yang selama ini tidak pernah menunjukkan rasa takut itu mundur satu langkah.

Sementara itu, Gu Chen masih berjalan menuju Paviliun Seribu Catatan, tanpa menyadari bahwa langkah pertamanya untuk mencari kebenaran telah membuat seseorang kehilangan hak istimewa yang bahkan tidak diketahui keberadaannya.

Permainan itu baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!