NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERITA BOHONG KOTA

Sinar matahari pagi sama sekali tidak bisa menembus dinding beton setebal dua meter yang mengurung ruang bawah tanah itu. Satu-satunya penanda bahwa malam telah berganti siang adalah jam digital berwarna merah terang di sudut layar monitor utama Elena yang menunjukkan pukul 07.15 pagi.

Leo terbangun dengan napas tertahan. Gerakan refleks saat ia bermimpi buruk membuat bahu kanannya yang baru dijahit seolah robek kembali. Ia mengernyitkan wajah, mendesis pelan menahan denyutan nyeri yang menjalar sampai ke pangkal leher. Bau obat merah dan alkohol medis masih menguar kuat dari tubuhnya.

"Sudah bangun, Pangeran?" tegur Elena tanpa menoleh.

Gadis itu masih duduk di posisi yang sama seperti semalam, mengenakan kaus hitam yang lengannya digulung asal-asalan. Di samping keyboardnya, terdapat tiga kaleng minuman energi yang sudah kosong. Matanya menatap lurus ke arah deretan layar yang menampilkan berbagai saluran berita lokal dan kode-kode peretasan.

Leo memaksakan diri untuk duduk di kursi plastik tempat ia tertidur semalaman. Ia memijat tengkuknya dengan tangan kiri.

"Kau tidak tidur sama sekali?" tanya Leo dengan suara serak khas bangun tidur.

"Tidur itu untuk orang yang tidak sedang diburu oleh satu kota," balas Elena santai. Jari-jarinya menekan beberapa tombol, dan salah satu layar monitor di tengah tiba-tiba membesar, menampilkan siaran berita pagi dari stasiun televisi terbesar di kota. "Kemarilah. Kau harus melihat apa yang terjadi di luar sana selagi kau mendengkur tadi."

Leo menyeret langkahnya yang pincang mendekati meja komputer. Matanya menyipit menyesuaikan dengan cahaya layar.

Di layar televisi itu, tampak seorang reporter wanita berdiri di depan garis polisi kuning yang mengelilingi gedung Grand Royale Hotel. Wajah reporter itu dibuat seserius mungkin.

"...Tragedi kelam menyelimuti kota kita pagi ini. Antonio Valenti, tokoh bisnis ternama sekaligus pimpinan grup investasi Valenti, ditemukan tewas tertembak tadi malam di tengah acara gala suksesi perusahaan," lapor reporter tersebut. "Pihak kepolisian telah mengamankan tempat kejadian perkara. Dan yang mengejutkan, berdasarkan keterangan saksi mata dan bukti awal di lapangan, tersangka utama dari pembunuhan keji ini tidak lain adalah putra kandungnya sendiri, Leonardo Valenti."

Leo mematung. Darahnya seakan berhenti mengalir mendengar namanya disebut sebagai pembunuh ayah yang sangat ia hormati.

Kamera televisi kemudian beralih menyorot rekaman konferensi pers darurat yang diadakan di lobi kantor kepolisian pusat. Di sana, berdiri Kepala Polisi Kota didampingi oleh seorang pria berjas rapi yang wajahnya sangat Leo kenali.

"Marco..." desis Leo, matanya berkilat penuh amarah.

Di layar, Marco tampil dengan wajah luar biasa sendu. Kantung matanya terlihat sedikit gelap, seolah ia menangis semalaman. Akting bajingan itu benar-benar sempurna.

"Keluarga besar Valenti sedang dalam masa berkabung yang sangat berat," ucap Marco di depan puluhan mikrofon wartawan dengan suara bergetar yang dibuat-buat. "Don Antonio adalah ayah, guru, dan pemimpin bagi kami semua. Kami tidak pernah menyangka, ambisi buta dan ketidaksabaran Leo untuk menguasai tampuk kepemimpinan membuatnya gelap mata hingga tega menarik pelatuk pada ayahnya sendiri."

Marco menundukkan kepala sejenak, mengusap ujung matanya sebelum kembali menatap kamera.

"Sebagai orang kepercayaan Don Antonio, saya akan mengambil alih sementara seluruh operasional bisnis klan Valenti agar roda ekonomi kota tidak terganggu. Kami juga bekerja sama penuh dengan pihak kepolisian untuk memburu Leonardo. Pria itu berbahaya, bersenjata, dan tidak stabil. Kami mengimbau warga untuk segera melapor jika melihat keberadaannya."

Leo menggebrak meja baja di depannya dengan tangan kiri. Brakk!

"Bajingan keparat!" umpat Leo dengan urat leher yang menonjol keluar. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun menahan emosi yang meledak-ledak. "Dia memutarbalikkan semuanya! Dia yang membunuh ayahku, lalu dia berdiri di sana seolah jadi pahlawan kesiangan yang mengambil alih tahta untuk menyelamatkan klan!"

"Tahan emosimu," ucap Elena dingin, matanya melirik sekilas ke arah tangan Leo yang memukul meja. "Mejaku lebih mahal dari nyawamu saat ini."

"Bagaimana aku bisa tenang?!" balas Leo dengan nada tinggi, menunjuk ke arah layar. "Dia baru saja mencuci otak seluruh kota! Polisi, media, masyarakat umum... semuanya sekarang berpikir aku adalah monster yang membunuh ayahnya sendiri demi harta. Marco benar-benar mengunci semua jalan keluarku."

"Oh, kau pikir itu yang paling buruk?" Elena tersenyum miring, sebuah senyum sinis yang mengisyaratkan bahwa berita tadi barulah pemanasan. "Masyarakat umum dan polisi memang menyebalkan, tapi mereka butuh prosedur. Mereka butuh surat perintah dan sidang. Masalah aslimu bukan di sana, Leo."

Elena menekan tombol *Enter* dengan keras. Layar siaran berita itu seketika tertutup, digantikan oleh sebuah antarmuka berlatar hitam pekat dengan teks hijau neon yang terus bergerak. Itu adalah forum *dark web* khusus yang hanya bisa diakses oleh para pembunuh bayaran, sindikat mafia, dan peretas elit.

Di tengah halaman utama forum tersebut, terpampang sebuah foto wajah Leo yang diambil dari acara malam sebelumnya. Di atas foto itu, tertulis sebuah pengumuman dengan font merah tebal yang berkedip-kedip.

**WANTED: DEAD.**

**TARGET: LEONARDO VALENTI.**

**BOUNTY: $10,000,000 USD.**

**REQUIREMENT: BRING HIS RING AND HEAD AS PROOF.**

Leo menelan ludah. Angka sepuluh juta dolar itu menatapnya balik seperti malaikat pencabut nyawa.

"Marco mengeluarkan sayembara eksekusi terbuka tiga jam yang lalu," jelas Elena santai seraya memutar kursinya menghadap Leo. "Sepuluh juta dolar tunai tanpa potong pajak. Kau tahu apa artinya itu buat orang-orang di dunia bawah tanah?"

Leo terdiam, rahangnya terkatup rapat. Tentu saja ia tahu.

"Artinya, mulai detik ini, setiap preman jalanan, geng motor, algojo lepas, pembunuh bayaran profesional, sampai polisi korup di kota ini sedang mengasah pisau dan mengisi peluru senapan mereka untuk mencari kepalamu," lanjut Elena mempertegas situasi. "Bagi mereka, kau bukan pewaris klan Valenti lagi. Kau adalah tiket lotere bernilai ratusan miliar rupiah yang sedang berjalan pincang."

"Marco benar-benar ingin memastikan aku mati sebelum malam ini berakhir," gumam Leo pelan, mencoba menekan kepanikan yang mulai merayap di dadanya.

"Dia harus melakukannya," Elena menganalisis dengan nada datar bak seorang profesor yang sedang menjelaskan teori. "Selama kau masih bernapas, statusnya sebagai pemimpin sementara itu tidak akan pernah sah secara hukum mafia. Dewan tetua klan mungkin diam sekarang karena Marco menguasai polisi dan punya pasukan, tapi di dalam hati mereka, mereka tahu cincin kekuasaan yang asli belum berpindah tangan."

Leo secara instingtif menyentuh cincin perak berukir kepala serigala di jari manis tangan kirinya. Cincin itu adalah lambang pewaris sah klan Valenti. Selama cincin ini ada padanya, Marco selamanya hanyalah seorang perampas tahta.

"Jadi ini kenyataannya," Leo menghela napas panjang, menatap sekeliling ruang bawah tanah yang sumpek itu. "Aku buronan nomor satu di jalur terang dan jalur gelap. Kalau aku keluar dari pintu ini, umurku tidak akan sampai sepuluh menit."

"Setidaknya kau mulai paham situasinya," Elena menyesap sisa minuman energi dari kaleng terakhirnya. "Marco sudah memblokir semua aksesmu. Rekening bank atas namamu dan perusahaan cangkangmu sudah dibekukan oleh kepolisian sebagai barang bukti. Seluruh rumah singgah dan apartemen mewahmu sudah digeledah. Bahkan sekutu-sekutu ayahmu dari klan lain sekarang pasti menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau terseret masalah ini."

Leo menundukkan kepalanya. Rasa putus asa sempat melintas sejenak, namun ingatan akan darah ayahnya yang membasahi tangannya kembali membakar semangatnya. Ia mendongak menatap Elena.

"Kau bilang semalam kau butuh pedang," ucap Leo menatap langsung ke mata peretas wanita itu. "Dan kau menawarkan kerja sama. Sekarang kau sudah menunjukkan padaku betapa hancurnya posisiku. Kau mau menakut-nakutiku agar aku berlutut dan memohon bantuanmu?"

"Aku tidak butuh pria yang berlutut, aku butuh pria yang bisa menembak lurus," balas Elena tak mau kalah. "Aku menunjukkan semua ini supaya kau sadar bahwa kau tidak bisa memakai cara lamamu. Kau tidak bisa menelepon anak buahmu atau menyewa pengacara. Mulai sekarang, kalau kau mau bertahan hidup dan membalas dendam, kau harus bermain dengan caraku. Cara bayangan."

Leo mengangguk perlahan. Kesombongan dan arogansinya sebagai pangeran mafia sudah terkikis habis sejak ia jatuh ke sungai semalam.

"Lalu apa rencana pertamamu, Phantom? Kita tidak bisa diam di sini selamanya," tanya Leo.

"Rencana pertamanya adalah kau tidak boleh mati infeksi," Elena berdiri dari kursinya dan melempar sebungkus roti lapis yang dibelinya entah kapan ke dada Leo. Leo menangkapnya dengan tangan kiri. "Makan itu, minum antibiotik yang ada di kotak P3K, lalu kita bicara soal bisnis. Karena memburu orang seperti Marco butuh modal yang sangat, sangat besar, dan aku tahu tepat di mana kita bisa mendapatkan modal itu tanpa harus ke bank."

Leo menatap roti lapis dingin di tangannya, lalu menatap layar yang masih memajang wajahnya dengan harga sepuluh juta dolar. Kota di atas sana mungkin percaya pada kebohongan Marco, tapi dari bawah tanah ini, Leo berjanji akan mengubah kebohongan itu menjadi mimpi buruk yang paling nyata bagi sang pengkhianat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!