Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Modus Jalan Santai
Sejak jam pertama dimulai, fokus Rendra Adijaya sebagai juara umum paralel resmi lenyap tanpa bekas. Pandangannya yang biasa menatap tajam ke papan tulis, kini sembilan puluh persen terarah ke pojok kanan belakang kelas.
Setiap kali Kanaya Putri mengunyah permen karetnya, Rendra mencatat ritmenya dalam hati. Setiap kali Naya menguap, Rendra menahan diri untuk tidak ikut menguap. Saklar obsesinya sudah menyala penuh, dan sekarang, waktunya mengeksekusi rencana pertama: menarik perhatian sang pawang mental di dunia nyata.
Kringgg!!!
Bel pergantian jam pelajaran berdering nyaring. Pak Bambang, guru Sejarah yang hobi bercerita tentang masa mudanya, akhirnya keluar kelas. Suasana kelas XI-A langsung berubah bising dalam sekejap. Murid-murid mulai bergosip dan meregangkan badan.
Rendra langsung menegakkan punggungnya. Dia merapikan seragam abu-abunya, memastikan tidak ada satu pun lipatan yang salah, lalu berdiri dari kursinya.
"Ren, mau ke mana lo? Toilet kagak lewat belakang kali," celetuk Aldi bingung saat melihat Rendra malah melangkah ke arah barisan belakang, berlawanan arah dengan pintu keluar depan.
Rendra menghentikan langkahnya sesaat, menoleh dengan tatapan mata sedingin es. "Mau buang sampah," jawabnya pendek. Suaranya terdengar berat, dalam, dan penuh wibawa seperti biasanya.
"Lah? Tempat sampah kan ada di depan dekat pintu utama, Bambang! Ngapain lo ke pojok belakang?" Aldi makin heran sambil mengerutkan keningnya. "Sejak kapan pangeran sekolah hobi jalan-jalan nyari tempat sampah yang jauh?"
"Suka-suka gue. Tempat sampah di belakang lebih sepi," balas Rendra ketus, lalu melanjutkan langkahnya dengan ritme yang sengaja dibuat lambat, tegap, dan sekeren mungkin. Langkah kaki khas seorang pangeran sekolah yang biasa difoto diam-diam oleh siswi kelas sebelah.
Rendra berjalan melewati meja Naya. Matanya melirik tipis ke bawah, menatap cewek yang sedang asyik mencoret-coret buku tulisnya itu. Rendra sengaja berdehem pelan dengan suara yang agak diseret. “Ehem.” Dia berharap Naya mendongak dan menatap wajah tampannya.
“Ayo, Nay... liat gue. Liat cowok keren yang semalam lo kasarin di Discord. Gue ada di depan muka lo sekarang,” batin Rendra menjerit lebay di balik ekspresi wajahnya yang sedatar papan pengumuman.
Namun, Naya sama sekali tidak mendongak. Cewek itu malah sibuk meniup permen karetnya sampai membentuk balon kecil berwarna merah muda, lalu PLOP! balon itu meletus tepat mengenai ujung hidungnya sendiri. Naya hanya mendengus, mengusap hidungnya santai menggunakan punggung tangan tanpa memedulikan eksistensi makhluk tampan berdarah Indo-Jerman yang baru saja lewat di samping mejanya.
Rendra menahan napas, menelan ludah yang mendadak terasa pahit. Dia terus berjalan sampai ke pojok belakang, membuang selembar tisu kecil bersih yang sengaja dia remas dari kantongnya ke dalam tempat sampah cadangan, lalu putar balik.
Dia kembali berjalan melewati meja Naya untuk menuju kursinya kembali. Kali ini dengan ritme yang jauh lebih lambat, mirip model yang sedang berjalan di atas catwalk. Namun, hasilnya tetap sama saja. Naya malah menelungkupkan kepalanya di atas meja berbantalkan kedua lengannya, bersiap untuk tidur siang.
Rendra kembali duduk di kursinya dengan hati yang mulai retak berkeping-keping.
“Gak... gak bisa gini. Strategi pertama gue gagal total. Gue dikacangin mentah-mentah di dunia nyata,” batin Rendra mulai panik sendiri. Sisi anxious-nya mendadak bergejolak hebat, membuat telapak tangannya mulai basah oleh keringat dingin.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa bagi Rendra. Rasa penasarannya memuncak. Dia tidak tahan lagi. Rendra kembali berdiri dari kursinya dengan gerakan tiba-tiba, membuat Aldi yang sedang asyik bermain game di HP-nya tersentak kaget.
"Ren? Lo mau buang sampah lagi? Tisu lo sebanyak apa sih hari ini?" tanya Aldi dengan wajah kebingungan.
"Gak. Gue mau minjem rautan pensil," sahut Rendra dingin.
"Lah? Pensil lo kan pulpen semua mekanik, Ren? Sejak kapan lo pake pensil kayu?" Aldi menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa sahabatnya ini mendadak aneh hari ini. "Terserah lo dah, makin aneh aja lo akhir-akhir ini."
Rendra mengabaikan celotehan Aldi. Dia berjalan lagi ke belakang kelas dengan langkah mantap. Kali ini sasarannya adalah Joni, cowok cupu yang duduk tepat di sebelah meja Naya.
"Joni," panggil Rendra dengan nada flat.
"E-eh? Iya, Rendra? Ada apa ya?" tanya Joni dengan muka syok dan tubuh yang mendadak gemetaran. Joni merasa sangat terhormat sekaligus ketakutan dipanggil oleh sang idola sekolah secara tiba-tiba. "Lo... lo butuh sesuatu?"
"Gue mau minjem rautan pensil lo. Punya?" ucap Rendra datar. Matanya dengan sengaja melirik ke meja sebelah Joni—meja tempat Naya berada.
Naya yang baru saja mau memejamkan mata merasa sangat terusik dengan suara derap langkah kaki yang berulang kali bolak-balik di dekat tempat duduknya. Ditambah lagi suara berat Rendra yang bergema di dekat telinganya. Cewek itu akhirnya mendongak dengan wajah bantal yang terlihat sangat kesal. Mata tajamnya langsung menatap lurus ke arah Rendra yang sedang berdiri kaku memegang rautan pensil plastik murah milik Joni.
Naya mengunyah permen karetnya dengan tempo cepat, lalu mbatin dengan penuh keheranan dan rasa risih, “Ini anak kenapa sih dari tadi bolak-balik kayak setrikaan berkarat? Mana mukanya dipasang sok keren banget lagi dari tadi pagi. Kakinya kenapa dah? Kegatelan atau emang hobi numpang lewat di depan meja gue?”
Naya mendengus pelan, lalu mengetuk-ngetuk permukaan mejanya dengan ujung pulpen hitamnya. Dia menatap Rendra dari bawah ke atas dengan pandangan risih yang sangat kentara dan tidak ditutup-tutupi sama sekali.
"Heh, pangeran sekolah," panggil Naya tiba-tiba. Suaranya pelan tapi terdengar sangat sinis dan menusuk di telinga Rendra.
Jantung Rendra langsung melompat bebas ke tenggorokan. Jiwanya mendadak konser musik dangdut koplo saking hebohnya. Mukanya yang tadi sedatar tembok semen langsung menegang kaku, berusaha keras setengah mati untuk mempertahankan mode cool dan wibawanya. Dia menoleh perlahan dengan dagu yang sedikit terangkat. "Ya? Ada apa, Kanaya?"
"Lo kalau punya masalah sama kaki lo, atau emang lagi hobi jalan sehat, mending lo pergi ke lapangan basket atau ke UKS deh. Gak usah bolak-balik lewat samping meja gue terus dari tadi. Berisik, tahu ga? Mengganggu ketenangan rakyat jelata yang lagi mau numpang tidur siang," semprot Naya tanpa ampun, ceplas-ceplos dan tajam seperti gayanya di Discord.
Joni yang duduk di sebelah Naya langsung menahan napas dalam-dalam, matanya melotot syok tak percaya. “Gila si Naya, berani-beraninya dia nyemprot pangeran sekolah kayak nyemprot tukang parkir!” batin Joni ketakutan setengah mati, takut Rendra bakal marah besar.
Rendra membeku di tempat seperti patung es. Kata-kata pedas dan semprotan tajam Naya barusan rasanya menusuk tepat ke ulu hatinya. Tapi anehnya, di dalam otak Rendra yang jaringannya sudah agak geser dan konslet itu, dia malah merasa sangat senang bukan main.
“Oh My God... Naya ngajak gue ngomong di dunia nyata! Suaranya, intonasinya, galaknya... pas banget kayak di voice channel semalam! Ini beneran dia!” batin Rendra bersorak kegirangan, meskipun wajah luarnya tetap sedingin es batu.
"Maaf kalau mengganggu," jawab Rendra pendek, menekan suaranya sedalam mungkin agar getaran gugupnya tidak terdengar oleh Naya. Dia langsung mengembalikan rautan pensil ke meja Joni tanpa menggunakannya sama sekali, lalu berbalik arah menuju pintu belakang kelas. "Gue ke toilet dulu."
Rendra melangkah terburu-buru menuju koridor. Begitu sampai di dalam bilik toilet cowok yang kebetulan sedang sepi, Rendra langsung menutup dan mengunci pintu rapat-rapat. Dia bersandar di balik pintu toilet dengan napas yang memburu naik turun. Kedua telapak tangannya langsung memegang pipinya yang mendadak terasa sangat panas dan memerah.
"Gila, gila, gila! Naya sadar sama eksistensi gue di kelas!" rengek Rendra pelan dengan suara cempreng aslinya, tubuhnya langsung merosot lemas ke lantai toilet dalam mode overthinking akut tingkat tinggi.
Dia menjambak rambut pirang gelapnya sendiri dengan frustrasi di atas lantai bilik toilet. "Tapi... tadi tatapan mata dia risih banget, ya Tuhan. Apa modus jalan santai gue terlalu agresif dan keliatan aneh? Duh, gimana kalau setelah ini dia makin benci sama gue dan ngira gue cowok caper yang menyebalkan? Apa gue harus ganti strategi aja ya besok? Gue harus gimana, Nayaaa?!"
Di sekolah, dia dipuja-puja seperti dewa yang turun dari langit oleh satu angkatan. Namun, di depan seorang Kanaya Putri, sang pangeran sekolah ini langsung berubah total menjadi wibu cemas yang serapuh kerupuk soto lepek kesiram kuah panas. Saklar obsesinya tidak akan pernah padam, justru teguran ketus dari Naya barusan malah menjadi bahan bakar baru yang membuat kegilaan seorang Rendra Adijaya makin menyala-nyala.