NovelToon NovelToon
Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.

Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.

Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Adam kembali memasuki kamar Veronika setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Marco. Wajahnya masih menunjukkan ketegangan, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan mengenai kecelakaan yang telah merenggut nyawa perempuan yang dicintainya. Ia berniat menemui Gia, tetapi langkahnya terhenti begitu menyadari ranjang di hadapannya kosong.

Selimut yang sebelumnya membungkus tubuh perempuan itu tergeletak berantakan. Pakaian ganti yang diberikan pelayan masih berada di atas kursi, sementara gelas air di meja samping ranjang hanya berkurang sedikit isinya.

Adam mengerutkan kening, "Gia?"

Dia melangkah mengitari ranjang, memeriksa sudut ruangan, kemudian membuka pintu kecil yang menghubungkan kamar itu dengan ruang ganti.

"Giana Bianca Conti!" Kali ini suaranya lebih keras.

Adam mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia tahu perempuan itu tidak diizinkan meninggalkan kamar tanpa sepengetahuannya. Beberapa penjaga juga ditempatkan di lorong untuk memastikan tidak ada yang membantunya melarikan diri. Lalu, dari arah kamar mandi, ia mendengar suara air yang terus mengalir.

Adam menoleh, pintu kamar mandi tertutup rapat. Ia berjalan mendekat dengan langkah cepat, kemudian mengetuk pintunya keras-keras.

"Gia, kau di dalam?"

Masih tidak ada jawaban, Adam mengetuk sekali lagi.

"Gia!"

Suara air tetap terdengar, tetapi perempuan itu tidak menyahut. Raut wajah Adam seketika berubah. Ia mencoba memutar gagang pintu, tetapi pintu itu terkunci dari dalam.

"Gia, buka pintunya!" Teriak Adam kembali. Tetapi, keheningan dari balik pintu membuat dadanya mendadak terasa sesak. Ia menempelkan telinga sebentar, berusaha mendengar sesuatu selain suara air. Namun, tidak ada suara langkah kaki ataupun jawaban dari perempuan yang berada di dalam sana.

"Gia, aku menyuruhmu membuka pintu!"

Kecemasan yang tidak pernah ingin ia akui mulai merayap ke dalam pikirannya. Adam mundur selangkah, lalu menghantam pintu dengan bahunya. Pintu itu bergetar, tetapi tidak terbuka. Ia mencoba sekali lagi dengan tenaga lebih besar.

"Brengsek!"

Pintu itu tetap bertahan. Adam segera berbalik dan berteriak ke arah lorong.

"Pelayan! Pengawal! Cepat ke sini, sekarang!"

Beberapa detik kemudian, seorang pelayan berlari mendekat, diikuti dua pengawal yang berjaga tidak jauh dari kamar tersebut.

"Ada apa, Tuan?" tanya salah seorang pengawal.

"Cepat buka pintu kamar mandi ini!" bentak Adam sambil menunjuk pintu kamar mandi. "Sekarang!"

Kedua pengawal itu segera bergerak. Salah seorang mencoba membuka kunci dari luar, sementara yang lain bersiap mendobrak pintu bersama-sama.

"Cepat dobrak!" perintah Adam.

Mereka mengambil posisi. Pintu itu akhirnya terbuka setelah beberapa kali dihantam. Adam langsung menerobos masuk. Namun, begitu melihat keadaan di dalam kamar mandi, seluruh tubuhnya seolah membeku.

"Gia..." Namanya keluar dari bibir Adam dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Gia berada di dalam bathtub yang penuh air. Tubuhnya tenggelam hingga wajahnya berada di bawah permukaan, sementara rambut panjangnya mengambang di antara riak air yang ditimbulkan keran yang masih terbuka. Untuk sesaat, Adam tidak mampu memercayai apa yang dilihatnya. Kemudian, kepanikan menyambar dirinya.

"Gia! Siapa yang izin kau menghilangkan nyawamu, hah?! Tanpa seizin ku kau tidak boleh mati semudah itu!"

Ia segera menerjang ke arah bathtub dan meraih tubuh perempuan itu, mengangkatnya keluar dari air dengan gerakan tergesa-gesa. Tubuh Gia terasa lemas dalam pelukannya. Wajahnya pucat, matanya terpejam, dan tidak ada jawaban ketika Adam menepuk pipinya dengan panik.

"Gia! Buka matamu!"

Adam membaringkannya di lantai kamar mandi, lalu menepuk pipinya sekali lagi.

"Gia, dengar aku!"

Tidak ada respons. Air menetes dari rambut Gia, membasahi lantai marmer. Adam menunduk, berusaha memastikan apakah perempuan itu masih bernapas.

"Kau tidak boleh melakukan ini kepadaku! Hanya aku yang boleh menyiksamu!" serunya dengan suara bergetar. Ia menoleh ke arah pintu, "Kalian semua keluar!" teriak Adam, saat menyadari mereka masih di sana tubuh polos Gia hanya tertutupi oleh jubah mandi yang Adam kenakan.

Para pelayan dan pengawal yang berdiri terpaku segera mundur.

"Pergi hubungi dokter! Sekarang juga!" bentak Adam, "dan minta mereka untuk menyiapkan ruangan darurat segera!"

Salah seorang pengawal langsung berlari keluar untuk menghubungi dokter keluarga, sementara yang lain segera memanggil layanan medis darurat. Adam kembali berlutut di samping Gia.

"Gia, kau dengar aku?"

Tangannya gemetar ketika mencoba memeriksa keadaan perempuan itu. Ia yang biasanya tidak pernah kehilangan kendali, kini bahkan kesulitan mengatur napasnya sendiri.

"Jangan berani-berani mati! Kau tidak boleh pergi semudah itu!"

Ia mengguncang bahu Gia dengan hati-hati, tetapi perempuan itu tetap tidak memberikan respons.

Adam segera menyadari bahwa ia tidak boleh membuang waktu. Beberapa menit kemudian, tim medis tiba di kediaman Maxnore. Adam segera memberi mereka ruang untuk bekerja, meskipun ia tidak pernah benar-benar menjauh dari sisi Gia.

Para petugas memeriksa kondisinya, memberikan bantuan pernapasan sesuai kebutuhan, dan menyiapkan peralatan untuk membawanya ke rumah sakit.

"Tuan, kami harus segera membawanya ke rumah sakit," ujar salah seorang petugas.

"Selamatkan dia," jawab Adam tegas. "Lakukan apa pun yang diperlukan."

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Mohon beri kami ruang."

Adam mundur beberapa langkah dengan tubuh kaku ketika Gia dipindahkan ke tandu. Matanya tidak pernah lepas dari wajah perempuan yang tubuhnya hanya terbalut dengan jubah mandi milik Adam.

"Tuan," pelayan memberikan jubah mandi lain untuk Adam.

Ambulans segera membawa Gia menuju rumah sakit. Adam duduk di dalam kendaraan itu, memperhatikan tim medis yang terus memantau kondisi perempuan tersebut. Tangannya mengepal di atas lutut.

Pikirannya kembali pada kejadian beberapa hari terakhir. Pada setiap kali Gia memohon agar diizinkan pulang. Pada setiap air mata yang ia abaikan. Pada setiap kesempatan ketika perempuan itu berusaha menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah, dan pada jawaban yang selalu ia berikan.

Adam menutup mata sesaat. Ia masih belum mengetahui kebenaran tentang kecelakaan itu. Ia juga belum tahu apa yang mendorong Gia masuk ke dalam bathtub dan tidak muncul kembali ke permukaan. Namun, pemandangan tubuh Gia yang terbaring tak berdaya di lantai kamar mandi akan terus membekas dalam ingatannya.

Adam menunduk, memandangi kedua tangannya yang masih basah.

"Gia..." bisiknya lirih, kali ini, tidak ada ancaman dalam suaranya. Hanya ketakutan dan penyesalan yang mulai tumbuh, meskipun ia belum berani mengakui keduanya.

Sebab, jika Gia tidak berhasil diselamatkan, tidak akan ada lagi kesempatan baginya untuk mencari tahu kebenaran, apalagi memperbaiki semua luka yang telah ia sebabkan.

Adam lalu, mengambil ponselnya dan menghubungi Marco,

[Tuan,]

"Pastikan, orang yang terlibat dalam kecelakaan itu tidak ada yang lolos, aku ingin dia hidup atau mati," suaranya pelan dan dingin.

[Tuan, bukankah Nona Gia...]

"Kau yang mengatakan kalau ada orang lain yang terlibat, jadi pastikan kali ini memang benar ada orang lain. Marco, aku percaya kau bisa mengurus masalah ini dalam waktu sesingkat mungkin," setelah mengatakan itu Adam memutuskan panggilan ini, lalu tatapannya menatap wajah pucat Gia dengan raut wajah tak rela.

'Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa panik seperti ini? Bukankah, gara-gara wanita ini Veronika mati?'

Bayangan dan tangisan Gia masih melekat di ingatan Adam, bayangan di mana Adam menyiksanya dan merengut sesuatu yang berharga darinya.

1
siti irnani
teganya teganya teganya.........sadam kauuuuuu .....
neni nuraeni
lah ngaku juga tu Belis,,,
nyonya
tinggalkan sadam biar tau rasa...
Ariany Sudjana
wah kebayang sakit hati maudi dibilang perempuan pembawa sial dan akhirnya Sadam ngomong sendiri kalau amerda itu anak kandungnya
Ita rahmawati
ah ternyata bgtu,, Sadam mengakui sendiri tnpa harus Adam bersuara ,, kenapa namanya harus mirip sih Thor Adam SM Sadam 🤣
Aisyah Alfatih: 😩😩 lupa
total 1 replies
Oma Gavin
akhirnya ngaku juga sadam anak diluar pernikahan aja bangga da jadi kesayangan sedangkan gia hanya dijadikan sasaran kemarahan, masih mau bertahan maudi dgn suami modelan sadam
Ni'mah azzahrah Zahrah
waktunya kau pergi maudi, bawa pergi gia bersamamu, tinggalkan sadam biar tau rasa
+1
pria menjijikan
sri hastuti
dasar sadam iblis, sdh mandi sm gia pergi dari rumah, biar dirasakan, ngapain km pertahankan mau di punya suami kayak iblis, sdh tinggalkan saja, ceraii 😡😡😡😡
Mineaa
dah lah gia bw pergi aja mama mu keluar dari kerak neraka itu.....
😡
dyah EkaPratiwi
pergi gia bawa ibumu😭😭
Ita rahmawati
bagus Bu tampar aja Bu tampar biar kamu tau gimana reaksi suamimu setelah anak tersayangnya kmu tampar
Al Fatih
wow....,, mas Adam mau bikin gebrakan baru....,, biasanya bos mafia jadi CEO ..,, sekarang bos mafia mau jadi perdana Mentri.. ,, semoga tercapai cita-cita mu yaa mas Adam...,, Aamiin
Muft Smoker
lanjuuuuut kak ,,
nyonya
semangat kk outhor,saya nungguin terus
Nia nurhayati
semoga secepatnya kebusukan si amerda kebongkar
Ass Yfa
itu ank selibgkuhan suamimu Maudi
⍥⃝⃝꩗ᴜᥱ֟፝ᥱɴ_𝔅𝔢𝔢𖹭.ᐟ🐝
Bener bener geram. Kenapa Adam gak mengungkapkan hubungan apa amerda dgn sardam ?? Biar sekalian hancur aja semua. Jgn cuma gia aja yg hancur hidupnya
Aisyah Alfatih: belum dapat hasil tes DNA, setelah ini sbar ya kak..mau ngetik nggak bisa tangan lagi sakit 😩🙏
total 1 replies
Jelita S
pergi z Gia sama ibunya dti rumah itu
molly almor he
mbulettt
Aisyah Alfatih: Orang gila 🐶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!