NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Mirip?

Pak RT menyipitkan matanya, memajukan wajahnya beberapa sentimeter untuk mengamati wajah Devan dan Bellona secara bergantian. Mpok Minah dan ibu-ibu lainnya ikut melongok dengan raut penasaran setengah mati.

"Hmm..." Pak RT mengelus kumis tebalnya. "Bentuk alismu sama-sama tebal sih, Van. Tatapan matanya juga sama-sama sinis kayak orang kurang tidur."

"Iya kan, Pak RT?!" Devan makin menggebu-gebu, makin mengetatkan rangkulannya di bahu Bellona yang kaku. "Mirip banget! Tadi malam dia cemberut gara-gara mati lampu aja persis banget kayak muka gue kalau lagi bokek!"

Mpok Minah mendengkus kecewa, menatap Bellona dari atas ke bawah. "Ya udah deh kalau emang adiknya. Tapi inget ya, Devan, adiknya suruh sopan sikit sama warga! Dan jangan lupa daftarin identitasnya ke Pak RT!"

"Siap, Mpok! Nanti gue anterin fotokopi KTP-nya ke rumah Pak RT," jawab Devan asal caplok yang penting rombongan itu cepat bubar.

Setelah Pak RT memberikan beberapa wejangan singkat dan ibu-ibu itu melangkah pergi sambil berbisik-bisik kecewa, Devan langsung menutup pintu kayu rumahnya cepat-cepat.

KLIK.

Pintu terkunci. Begitu Devan berbalik, sebuah dorongan kuat di dadanya membuat pria itu melangkah mundur dua tindak.

"Lepasin! Jangan pegang-pegang gue!" bentak Bellona setengah berteriak. Wajahnya yang baru bangun tidur kini berubah merah padam karena emosi.

"Buset, galak amat! Gue kan cuma menyelamatkan lo dari amukan massa ibu-ibu komplek!" Devan mengelus dadanya yang agak nyeri. "Kalau tadi gue kagak ngaku lo adik gue, bisa-bisa lo diarak warga dituduh cewek simpanan gue, tahu kagak?!"

"Tapi kagak usah pake bilang muka gue mirip sama lo juga, Bego!" Bellona menunjuk wajah Devan dengan telunjuk yang gemetar karena jengkel. "Gue kagak sudi dimirip-miripin sama orang kayak lo! Muka lo tuh kayak amplas kusam, mana ada mirip-miripnya sama gue!"

Devan melotot tidak terima. Ia menyisir rambut berantakannya ke belakang dengan jemari, lalu berkacak pinggang di depan Bellona.

"Wah, menghina fisik!" Devan tak mau kalah. "Lo pikir muka lo seindah bunga mawar apa?! Muka lo tuh pas cemberut tadi beneran jiplakan gue banget! Alis lo, bentuk mata lo pas lagi ngelirik sinis... sumpah demi apa pun, lo mirip banget sama gue!"

"GAK MIRIP!"

"MIRIP, ANJING!" Devan menunjuk cermin kusam yang menggantung di dekat rak sepatu. "Noh, lo ngaca sendiri kalau kagak percaya! Tadi pas Pak RT ngeliat, gue sendiri sampe kaget gara-gara baru sadar bentuk muka lo emang plek-ketiplek kayak gue versi keturunan manusia beneran!"

Bellona terdiam seketika.

Napasnya masih memburu, tetapi matanya refleks bergulir menatap pantulan cermin kusam di sudut ruangan. Di sana, wajahnya yang pucat dan dipenuhi rasa jengkel memang berdiri bersisian dengan wajah Devan yang sama-sama berantakan dan pusing. Bentuk mata, lekuk alis, dan cara mereka menatap tajam... semuanya memancarkan garis yang teramat familier.

Rasa dingin yang aneh mendadak menjalar di tengkuk Bellona, mengeringkan suaranya yang tadinya meledak-ledak.

Devan yang menyadari perubahan raut wajah Bellona perlahan menurunkan tangannya. Pria itu merapikan kaus oblongnya yang kusut, lalu mengembuskan napas panjang.

"Tuh kan... lo sendiri juga nyadar," gumam Devan pelan, suaranya kini kehilangan nada ejekan yang biasanya. Ia mengusap tengkuknya yang gatal sambil memalingkan wajah. "Yaudah ah. Gue mau mandi. Bau naga lo melayang kemana-mana."

Devan melangkah pergi menuju kamar mandi di belakang, meninggalkan Bellona yang masih berdiri mematung di ruang tamu, menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin dengan benak yang makin berkecamuk.

Suara pintu kamar mandi yang ditutup kasar di belakang rumah memecah keheningan. Bellona masih berdiri di tempatnya, matanya terpaku pada cermin tua yang permukaannya sudah berbercak buram di sudut ruang tamu.

Ia melangkah mendekat, sangat pelan, seolah-olah bayangan di dalam cermin itu bisa melompat dan menyakitinya.

Bellona menyentuh pelipisnya sendiri dengan ujung jari yang dingin. Garis alisnya, lengkung kelopak matanya yang dalam, hingga cara bibirnya mengatup rapat saat sedang kesal... semuanya persis dengan apa yang baru saja ia lihat pada pria berantakan yang kini sedang menyiram air di kamar mandi.

‘Nggak... nggak mungkin,’ bisik batinnya menolak.

Selama belasan tahun, Sarah selalu menolak membicarakan sosok ayahnya. Setiap kali Bellona bertanya, Sarah hanya akan mengibaskan tangan, mengumpat, atau mengalihkan pembicaraan dengan memamerkan koleksi tas terbarunya. Bellona tumbuh dengan keyakinan bahwa ayahnya adalah seorang penjahat, atau minimal pria tidak bertanggung jawab yang melarikan diri sejak ia belum lahir.

Tapi Devan? Pria slengean yang tinggal di rumah reyot, makan mi mentah, dan mengamuk gara-gara kalah gim daring ini?

Sluurrpp.

Bunyi air dari kamar mandi berhenti, disusul pintu yang terbuka. Devan keluar hanya memakai celana pendek kain dan kaus singlet hitam, memegang handuk kusam yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah kuyup.

"Ngapain lo masih mematung di depan kaca?" celetuk Devan sambil menggosok kepalanya kasar. "Awas ntar bayangan lo berubah jadi hantu kuntilanak gara-gara cemberut terus."

Bellona dengan cepat menurunkan tangannya dan berbalik menatap Devan dingin. "Mata lo yang kuntilanak."

Devan menyeringai tipis, melangkah menuju kulkas tua di dapur. Ia membukanya, merogoh bagian dalam, lalu mengeluarkan dua botol teh kemasan dingin yang tampak sudah agak lama tersimpan di sana.

Ia berjalan kembali ke ruang tamu, lalu melempar satu botol ke arah Bellona tanpa peringatan.

Chetch!

Dengan refleks cepat, Bellona menangkap botol dingin itu tepat di depan dadanya. Ia menatap botol itu, lalu menatap Devan dengan kening berkerut. "Apaan nih?"

"Racun," sahut Devan asal sambil membuka tutup botolnya sendiri dengan gigi, lalu meneguknya haus. "Susu lo kan udah habis semalam. Gula lagi tuh, biar lo kagak pingsan di rumah gue. Gue kagak ada duit buat bayar ambulans."

Bellona menatap botol teh itu, lalu memutar tutupnya hingga berbunyi krik kecil. Rasa manis dan dingin yang membasahi kerongkongannya sedikit menenangkan syaraf-syarafnya yang tegang sejak subuh tadi.

Devan menjatuhkan diri ke sofa, menyandarkan kepalanya ke belakang sambil mengamati Bellona yang berdiri ragu di dekat meja.

"Gue mau keluar sebentar," kata Devan tiba-tiba.

Bellona menoleh. "Ke mana?"

"Cari utangan duit lah, Bego," Devan mengendus baunya sendiri. "Buat beli token listrik lo noh. Mumpung belum siang, gue mau nyamperin Raka atau anak-anak band gue yang lain. Sekalian beli lauk yang bener buat makan siang. Muka lo udah kayak mayat hidup kurang gizi."

Bellona tertegun. Ada rasa janggal yang aneh meletup di dadanya. Pria ini bicaranya selalu kasar, bernada meledek, dan tidak ada manis-manisnya sama sekali—sangat berbeda dengan nada perhatian palsu yang sering dipakai calon suami ibunya, Om Rizal. Namun, di balik semua kata-kata tajam dan kasarnya, tindakan Devan selalu berkebalikan.

"Gue nggak minta," sahut Bellona ketus, memalingkan wajah.

"Memang kagak minta, tapi gue kagak mau mati konyol gara-gara rumah gue kebakaran kalau lo nekat nyalain lilin lagi nanti malam," Devan berdiri, menyambar jaket kulitnya yang tergantung di paku dinding.

Pria itu berjalan mendekati pintu depan, lalu menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia menoleh ke arah Bellona yang masih memegang botol teh kemasannya.

"Pintu depan kunci dari dalam," ujar Devan, nadanya mendadak serius dan tidak ada lagi cengiran di wajahnya. "Kalau ada orang ngetok—siapa pun itu, mau Sarah, mau Pak RT, mau tetangga sebelah—kagak usah dibukain. Pura-pura mati aja di dalam."

Bellona menatap pria berjaket kulit itu. "Kalau gue lari dari rumah lo gimana?"

Devan terkekeh rendah, sebuah senyum tipis yang tampak jujur tersirat di bibirnya.

"Yaudah, lari aja," jawab Devan santai. "Tapi kalau lo kagak tahu mau lari ke mana... pintu rumah ini kagak bakal gue kunci dari luar. Terserah lo mau anggap gue bapak lo apa cuma pria gila penghuni rumah sampah."

Setelah mengatakan itu, Devan melangkah keluar, menutup pintu kayu rumahnya rapat-rapat, meninggalkan Bellona yang berdiri tertegun dalam keheningan rumah tua itu.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!