💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Hening.
Puing-puing berserakan, menyisakan aroma tajam mesiu yang bercampur dengan anyir darah. Derap langkah sepatu bot para pembantai itu telah menghilang di balik pintu utama, meninggalkan kesunyian yang mencekik rongga dada.
Dari balik bayang-bayang pilar lantai dua, dua sosok mungil merayap turun.
Tidak ada jeritan. Tidak ada tangisan histeris. Kael menuntun adiknya, Kai, dengan langkah tertatih melewati pecahan kaca dan selongsong peluru yang bertebaran.
Tubuh kecil mereka yang baru berusia lima tahun bergetar hebat. Di tengah teror malam itu, insting bertahan hidup memaksa kepolosan balita mereka mati seketika.
Langkah gontai keduanya terhenti tepat di tengah ruangan.
Kael perlahan berlutut di sisi Raka. Jemari mungilnya yang gemetar menyentuh rahang Daddy-nya yang mulai mendingin.
Di sebelahnya, Kai menubruk tubuh Mommy-nya. Anak bungsu itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luna yang bersimbah darah, mencengkeram piyama wanita itu dengan tangan kecilnya sambil mengeluarkan isakan tertahan yang menyayat hati.
"Mommy, bangun, Mommy jangan tidur di sini, Kai takut," bisik Kai pelan sambil menepuk-nepuk pelan pipi Luna yang mulai pucat.
Kael yang mendengar bisikan sang adik, tangannya terulur menyentuh pundaknya, sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir dan menggeleng pelan.
Kai akhirnya menggigit bibir hingga berdarah, mati-matian menahan suara tangis agar tak menggema, otak jenius mereka tahu: satu suara saja bisa membawa para monster itu kembali.
"Kael janji, Dad... Mom..." bisik Kael parau. Suaranya patah di tenggorokan, diiringi air mata yang jatuh ke kerah kemeja Raka. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus.
"Kael akan ingat mereka semua."
Saat Kael hendak menarik adiknya untuk pergi, ujung sepatunya membentur sesuatu yang berdenting pelan di atas marmer retak.
Sebuah pin tembaga. Permukaannya kasar, berukir lambang aneh yang tampaknya terlepas dari mantel salah satu pembunuh tadi.
Tanpa ragu, Kael memungutnya. Jemari kecil itu menggenggam benda bertepi tajam tersebut begitu kuat hingga menembus kulit telapak tangannya.
Darah segar menetes dari sela jarinya, tapi Kael tidak menangis. Rasa sakit itu akan menjadi pengingatnya.
"Ayo, Kai. Kita harus pergi," bisik Kael, menarik pelan lengan adiknya yang masih enggan melepaskan sang ibu.
Dengan pandangan kosong dan hati yang hancur berkeping-keping, mereka melangkah mundur. Meninggalkan rumah yang kini menjadi makam orang tua mereka, dua balita itu menyelinap masuk ke dalam lorong evakuasi darurat di balik rak buku.
Udara lembap dan gelap menyergap, tapi Kael terus menyeret langkah adiknya tanpa henti, menyusuri terowongan hingga ujungnya membawa mereka ke sebuah gang sempit di pinggiran kota.
Angin malam yang menusuk tulang langsung menyambut kulit rapuh mereka.
Mereka meringkuk di sudut gelap dekat sebuah minimarket 24 jam, berlindung di balik tumpukan kardus agar tubuh mungil mereka tak terlihat.
Di bawah temaram lampu jalan, Kael merogoh saku piyamanya yang kotor oleh debu dan darah, mengeluarkan ponsel satelit pemberian ibunya.
Jari kecilnya yang bergetar menekan satu-satunya nomor kontak yang tersimpan di sana.
_______________
Ratusan kilometer dari sana, suara rekaman pengumuman jadwal penerbangan menggema memecah hiruk-pikuk terminal kedatangan.
Alana menghela napas panjang, merapatkan mantelnya sambil tersenyum lebar.
Gadis berusia dua puluh dua tahun itu mendorong troli kopernya dengan langkah ringan. Bertahun-tahun menempuh pendidikan di luar negeri, ia tak sabar memberikan kejutan untuk kakak perempuan dan kakak iparnya.
Terutama untuk dua keponakan kembarnya yang tiga hari lagi genap berusia lima tahun—ia bahkan sudah menyiapkan banyak hadiah di kopernya.
Langkah Alana terhenti saat ponsel di saku mantelnya bergetar hebat.
Keningnya berkerut melihat deretan nomor tak dikenal di layar. Sempat ragu, instingnya mendorong ibu jarinya untuk menggeser tombol hijau.
"Halo?" sapanya ceria, berusaha melawan bisingnya suara bandara.
"Tante Al..."
Satu kata itu. Lemah, serak, bergetar putus asa, khas suara anak kecil yang ketakutan. Senyum di bibir Alana seketika luntur. Ia sangat mengenali suara itu.
"Kael? Jagoan Tante, kok pakai nomor asing? Kenapa jam segini belum ti—"
"Tan..." Isakan yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak, memotong ucapan Alana. Suara napas Kael di seberang sana terdengar panik dan memburu. "Daddy... Mommy nggak bangun... darah... banyak darah di mana-mana, Tante Al. Kael takut... mereka jahat..."
Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ingatan belasan tahun lalu berputar liar dihadapannya, seolah dijafu di mana ia dan kakaknya pernah ada di posisi si kembar saat ini.
Pegangan tangannya pada troli koper terlepas begitu saja. Troli itu meluncur perlahan menabrak tiang, namun Alana tak peduli. Suara bising orang-orang di sekelilingnya mendadak senyap, berubah menjadi dengung panjang di telinganya. Udara di sekitarnya terasa lenyap.
"Kael? Kael, dengar Tante!" Suara Alana pecah, kepanikan seketika melumpuhkan urat sarafnya. Matanya membelalak ngeri.
"Kalian di mana sekarang?! Jangan matikan teleponnya!"
Tanpa mempedulikan siapapun di sekitarnya, Alana berbalik arah. Ia berlari membabi buta menerobos kerumunan penumpang, menabrak bahu beberapa orang yang langsung memakinya heran. Napasnya memburu saat ia menerjang pintu keluar menuju deretan taksi.
"Pak! Tolong jalan! Sekarang!" teriak Alana begitu ia membanting pintu taksi, suaranya bergetar hebat.
Air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya jatuh membasahi pipinya. Tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah benda pipih itu adalah satu-satunya penyambung nyawa kedua keponakannya di luar sana.
Malam itu, rencana kejutan manis yang ia susun rapi hancur lebur. Takdir baru saja memutar balik hidupnya dengan cara paling brutal, mengubah seorang gadis muda menjadi satu-satunya tameng bagi dua balita malang yang tersisa.
Bersambung...