Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Apa maksudnya?
Para murid menikmati suasana makan malam yang tenang di kantin utama akademi.
"Airyn!"
Sebuah suara lembut sukses membuat Airyn menoleh. Fin sudah berdiri tak jauh di dekat sana. Pemuda itu lalu melangkah menghampiri meja mereka. Flora dan William yang menyadari kehadiran Fin ikut menyunggingkan senyum dan menyapa ramah.
Pemuda bersurai hitam itu menduduki bangku kosong di sebelah Airyn—yang entah kenapa mendadak ditatap amat intens oleh William dari seberang meja.
Fin lalu meletakkan beberapa gulungan berkas berikat pita dengan warna berbeda di atas meja kayu.
"Apa itu, Fin?" Tanya Airyn penasaran, matanya berbinar menatap deretan gulungan yang penuh warna tersebut.
"Ah, ini titipan dari Profesor Seraphina untuk para Aetherist," terang Fin seraya memilah gulungan. Ia menyerahkan sebuah gulungan berikat pita berwarna biru serenity kepada Airyn—warna yang amat senada dengan surai birunya.
Airyn menerimanya dengan senang hati lalu membuka ikatan pita tersebut secara perlahan. Sebuah lembaran jadwal harian terpampang rapi, memuat daftar detail seluruh kegiatannya dari pagi hingga malam untuk satu pekan ke depan.
"Pita hijau ini pasti milik Flora," ujar Airyn seraya menyerahkan gulungan dengan pita hijau itu pada Flora, lalu mengoper sisanya kepada William untuk dibagikan pada para teman yang lain.
Usai menerima gulungan masing-masing, para Aetherist muda mulai membedah daftar agenda harian mereka.
"Wah, seminggu ke depan ada kelas fisik pagi bersama Profesor Ignatius," gumam William membaca agendanya. Tampaknya seluruh Aetherist muda memiliki jadwal latihan fisik pagi yang seragam.
"Pria berotot itu sebaiknya tidak mengerjai kita lagi seperti tadi pagi," keluh Flora pelan, masih sedikit jengkel mengingat lelucon mencari jalan dalam gelap tadi.
"Lalu dari pagi sampai siang, ada jadwal kelas gabungan bersama murid akademi biasa," sambung Airyn membaca baris instruksi berikutnya.
"Wah, di luar dugaanku! Berarti kelas kami akan kedatangan murid baru," sahut Fin bersemangat.
"Ada catatan tambahan di bagian bawah gulungan. 'Silakan bergabung ke angkatan tahun Kedua, Kelas C'," pangkas William membaca catatan kecil di sudut bawah kertasnya.
"Oh! Berarti kau dan beberapa yang lain akan bergabung di angkatan tahun kedua," terang Fin menjelaskan sistem kelas di akademi.
"A-Angkatan tahun Keempat, Kelas B..." celetuk Flora pelan saat membedah gulungannya.
"Wah! Berarti kita sekelas, Flora! Ini pasti akan sangat menyenangkan!" Sambut Fin antusias. Flora tersenyum lega, setidaknya ia sudah mengenal seseorang di kelas barunya nanti.
Namun, dahi Airyn mendadak berkerut dalam. "Loh... kenapa aku dimasukkan ke Angkatan tahun Pertama, Kelas A?" tanyanya bingung saat mendapati tulisan di lembarannya.
"Anak kecil memang sudah sepantasnya berada di tingkat satu."
Suara dingin itu menyela dari belakang. Teira yang hendak kembali ke blok asrama melintas di dekat meja mereka dan melemparkan kalimat itu tanpa memalingkan wajah.
Tentu saja Airyn seketika kesal mendengar itu. Ingin sekali ia menyumpal mulut pedas itu.
"Hei, Airyn... Sudah, abaikan saja. Kau kan tahu sendiri, mulut Teira memang sepedas itu," bujuk William mencoba meredakan emosi Airyn.
Airyn menarik napas panjang, lalu menoleh pada Fin. "Fin, sebenarnya pembagian tingkatan angkatan itu berdasarkan apa?"
"Umur," jawab Fin jujur. "Biasanya murid umum baru masuk ke akademi ini saat berusia 18 tahun. Umurmu 18 tahun, kan?" Airyn mengangguk polos. "Nah, berarti sudah sangat pas kalau kau masuk angkatan tahun pertama," terang Fin tersenyum manis.
"Aku berusia 19, tahun ini, begitu pula Stela dan Emery. Sementara Snow dan William berusia 20 tahun," sela William menerangkan usia rekan-rekannya.
"Aku berusia 21 tahun ini," tambah Fin lagi.
Mendengar fakta itu, Airyn mendadak syok berat. Ia melotot menatap Flora di sebelahnya. Gadis imut, pemalu, dan mungil ini... bagaimana bisa lebih tua darinya?! Namun fakta angka tidak bisa dibantah.
"Lalu bagaimana dengan Teira?" tanya Airyn penasaran, ingin memastikan.
"Hmm... seingatku dia juga berusia 18 tahun," sahut William.
Mendengar hal itu, sudut bibir Airyn tanpa sadar terangkat menyunggingkan senyuman culas. Si mulut pahit itu ternyata juga masih bocah! Berani-beraninya dia mengataiku anak kecil, padahal dia sendiri seumuran dariku! gerutu Airyn puas dalam hati.
"Besok pagi aku akan mengantarkan kalian ke kelas masing-masing, bagaimana?" Tawar Fin memberikan bantuan kecil.
"Wah, terima kasih banyak, Fin! Itu akan sangat membantu," ujar Airyn menyunggingkan senyum yang sangat manis.
Fin yang melihat binar wajah Airyn mendadak terpesona. Tanpa sadar, tangan pemuda itu terangkat dan mengelus lembut puncak kepala Airyn.
"Ah! M-maaf, Airyn!" Fin mendadak tersadar dan buru-buru menarik kembali tangannya dengan wajah merona canggung.
"Ayo kita kembali ke asrama! Besok pagi kita harus bangun lebih awal!" sela William tiba-tiba.
Tanpa aba-aba, pemuda bersurai nila itu berdiri, meraih pergelangan tangan Airyn, dan menyeretnya pergi begitu saja. Flora bergeser cepat menyusul dari belakang, membiarkan Fin terpaku sendirian di bangku kantin yang mulai sepi.
"Hei, William! Kau sangat tidak sopan meninggalkan Fin begitu saja!" tegur Airyn kesal saat jarak mereka sudah cukup jauh dari pemuda itu.
Namun William memilih bungkam. Ia terus melangkah tegap seraya mengapit kuat lengan Airyn, memimpin jalan menaiki tangga asrama.
"Flora, kau masuklah ke kamar lebih dulu. Aku harus bicara sebentar dengan Airyn," pinta William saat mereka tiba di ambang lorong asrama putri.
"O-oke..." Flora mengangguk patuh lalu melangkah masuk ke dalam kamar mereka.
Sementara Airyn yang memperhatikan perubahan sikap aneh William hanya bisa mengernyitkan dahi bingung. Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan pemuda ini hingga harus bersikap sedramatis ini?
Keduanya berdiri berhadapan di lorong asrama yang sepi. Namun, keheningan justru menyelimuti mereka. Airyn merasa sudah bersabar menunggu hampir dua menit penuh, tetapi William hanya diam menatapnya lekat-lekat seraya menopang dagunya dengan sebelah tangan.
"Kalau kau masih butuh waktu lama untuk bicara, kita bahas besok saja," pangkas Airyn pasrah, berniat berbalik melangkah menuju kamarnya.
Namun sebelum Airyn sempat mengambil pijakan, jemari William sudah lebih dulu menahan lengannya.
Tanpa mengumbar kata-kata, pemuda itu justru mengulurkan tangannya dan mengelus pelan puncak kepala Airyn. Reaksi mendadak itu sukses membuat Airyn memaku keheranan.
William terus membelai surai biru serenity itu dengan lembut, hingga tanpa disadari oleh Airyn, gerakan tangan pemuda itu makin dipercepat—malah dengan sengaja mengacak-acak tatanan rambut Airyn hingga berantakan.
"William?!" pekik Airyn saat menyadari rambutnya kini sudah mengembang tak beraturan.
William hanya menyunggingkan senyum tipis tanpa dosa. Airyn yang jengkel setengah mati melayangkan beberapa pukulan kekesalan ke lengan pemuda itu.
"Jangan biarkan sembarang orang asing mengelus kepalamu," ucap William pelan namun tegas, sebelum akhirnya berbalik melangkah pergi meninggalkan lorong.
Airyn yang masih sibuk merapikan helai rambut birunya makin dibuat kebingungan. Kenapa William tiba-tiba bertingkah aneh seperti itu? Apa karena tindakan Fin di kantin tadi? Apa maksudnya?
Lampu gantung di kamar asrama sudah dipadamkan sejak dua puluh menit lalu, namun Airyn masih belum sanggup memejamkan mata. Ia masih terjaga, menatap kosong langit-langit kamar dalam kegelapan. Flora di ranjang seberang sudah terlelap pulas sejak sepuluh menit yang lalu. Airyn terus berganti posisi tidur, namun rasa kantuk tak kunjung menyergapnya.
Sadar dirinya tidak akan bisa tidur dalam waktu dekat, Airyn akhirnya bangkit dari ranjang, mengenakan mantelnya lalu berjingkat keluar kamar.
Dahulu saat masih tinggal di panti asuhan dan didera cemas atau gelisah, Airyn akan keluar dan memandangi hamparan laut malam dari kejauhan. Begitu pula saat ia tinggal di dermaga mau pun saat baru pindah ke istana Tidebay—ia selalu mencari suara gemericik air mancur di belakang istana hanya untuk menenangkan pikirannya hingga kantuk datang.
Airyn berniat mencari suasana yang sama di tempat asing ini.
Gadis itu menuruni tangga asrama menuju lantai bawah, melewati area kantin yang sudah sepi dan gelap, lalu menyusuri koridor utama menuju pintu luar. Karena gerbang utama dijaga ketat oleh prajurit, Airyn memilih untuk mengitari pelataran dalam yang mengapit empat gedung akademi.
Halaman luas yang tadi ia lihat dari dinding kaca di lantai dua kini terbentang luas dihadapannya. Halaman tanah padat dengan dihiasi jalanan batuan yang mengarah ke setiap gedung.
Pandangan Airyn menangkap sebuah celah di gedung paling ujung. Ia menyusuri jalanan batuan itu dan masuk ke celah yang mengantarkannya ke bagian belakang akademi.
Iris mata emas Airyn seketika berbinar gembira saat matanya menangkap keberadaan sebuah kolam air mancur berukuran cukup besar yang berdiri anggun di sudut belakang gedung, tepat di depan pagar pembatas.
Airyn bergegas mendekati kolam tersebut dan menduduki pinggiran batu pelindungnya. Mengerahkan Aether air di dalam tubuhnya, Airyn menarik sebagian air dari kolam, menerbangkannya ke udara, lalu membentuk bola-bola air jernih yang diletupkannya halus bagai kembang api mini.
"Airyn?"
Sebuah suara mendadak memanggil namanya dari balik kegelapan malam. Karena terkejut hebat, Airyn refleks mengibaskan tangannya—melempar bola air raksasa di genggamannya tepat ke arah sumber suara tersebut!
"M..maaf"