NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Bertamu

Malam mulai menyelimuti desa. Langit yang semula berwarna jingga kini berubah gelap, hanya diterangi cahaya bulan dan beberapa bintang yang tampak samar di antara awan.

Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya, Meng Lin berjalan menuju rumah Kepala Tim.

Sesampainya di depan rumah, Meng Lin berhenti sejenak. Dia melirik ke arah jalan yang sepi, lalu mengeluarkan keranjang dan memastikan barang-barang yang telah disiapkannya berada di tempat yang tepat.

Satu buah labu berukuran besar, beberapa buah timun, satu jin daging babi, dan sebungkus permen.

"Hmm.. Mau berbagi makanan saja, harus sembunyi-sembunyi..!" keluhnya.

Meng Lin merapikan kain penutup keranjang, kemudian mengangkatnya kembali.

Dia tidak datang dengan tangan kosong. Bagaimanapun, Kepala Tim telah banyak membantunya sejak dia tiba di desa. Selain itu, ada kabar penting yang ingin disampaikannya secara langsung.

Tok, tok, tok!

Suara ketukan terdengar dari pintu rumah.

Di dalam, Kepala Tim sedang duduk bersama keluarganya. Istrinya baru saja menyajikan hidangan sederhana untuk makan malam, sementara putra mereka sedang mengambil mangkuk dari rak.

Mendengar ketukan itu, sang istri mengangkat wajah dengan sedikit heran. "Siapa yang datang malam-malam begini?" tanyanya sambil mengerutkan kening, lalu melirik suaminya.

Kepala Tim yang sedang hendak mengambil sumpit meletakkannya kembali. Dia mengusap kedua tangannya, kemudian berdiri.

"Aku lihat dulu," jawabnya sambil berjalan menuju pintu dengan ekspresi waspada.

"Kakek biar aku saja!" sela cucu laki-lakinya.

"Tidak perlu..!"

Begitu pintu dibuka, dia mendapati Meng Lin berdiri di luar dengan keranjang kecil di tangannya.

"Meng Lin?" Kepala Tim mengangkat alis, menampakkan keterkejutan sesaat. "Kenapa kamu datang malam-malam? Masuklah!"

"Paman, maaf mengganggu makan malam kalian." Meng Lin tersenyum tipis sambil sedikit menundukkan kepala. "Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu."

Kepala Tim mengamati wajah gadis itu sejenak, lalu menggeser tubuhnya untuk memberi jalan.

"Kalau begitu, masuk dulu. Kita bicara di dalam."

Meng Lin melangkah masuk sambil membawa keranjangnya.

Istri Kepala Tim yang melihat kedatangannya segera berdiri dari kursi. Meski masih menyimpan rasa penasaran, dia menyambut Meng Lin dengan ramah.

"Meng Lin, kamu sudah makan malam?" tanyanya sambil tersenyum hangat.

"Sudah, Bibi. Terima kasih." Meng Lin membalas senyumnya dengan sopan.

"Kalau begitu, duduklah. Jangan sungkan," ujar Bibi Su sambil menunjuk kursi kosong di dekat meja, wajahnya tampak sangat bersahabat.

Kepala Tim kembali duduk, tetapi matanya sesekali melirik keranjang yang dibawa Meng Lin.

Kedatangan warga pada malam hari sebenarnya bukan sesuatu yang aneh baginya. Justru, malam sering menjadi waktu yang lebih aman untuk membicarakan urusan pribadi atau menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar orang lain.

Pada siang hari, penjagaan di desa cukup ketat. Perilaku yang sedikit saja dianggap mencurigakan bisa berujung pada laporan. Karena itulah, sebagian warga memilih menunggu hingga malam untuk mengunjungi rumahnya.

Meski begitu, melihat Meng Lin datang sendiri pada jam seperti ini tetap membuatnya bertanya-tanya.

Dia meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu menatap gadis di hadapannya dengan ekspresi serius tetapi tidak mengintimidasi.

"Baiklah, Meng Lin. Sekarang katakan, ada keperluan apa sampai kamu datang kemari malam-malam?"

Meng Lin meletakkan keranjang kecilnya di samping kursi. Setelah duduk dengan tenang, dia mengangkat wajah dan menjawab tanpa berbelit-belit.

"Paman, aku datang untuk memberitahumu bahwa aku lulus tes seleksi guru."

"Apa?!"

Kepala Tim spontan menegakkan punggungnya. Kedua matanya membelalak, sementara tangan yang semula hendak mengambil cangkir teh mendadak berhenti di udara.

Bahkan istrinya yang sedang merapikan sumpit ikut menoleh dengan wajah terkejut.

"Kamu lulus menjadi guru?" Kepala Tim bertanya sekali lagi, seolah ingin memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.

Meng Lin mengangguk sambil tersenyum. "Benar, Paman. Aku sudah mengikuti tesnya dan berhasil lulus."

Untuk beberapa saat, Kepala Tim hanya menatapnya.

Kemudian, wajahnya perlahan berubah. Keterkejutan di matanya berganti menjadi kegembiraan yang sulit disembunyikan. Dia menepuk pahanya sendiri sambil tertawa pendek.

"Bagus! Bagus sekali!"

Istrinya pun tersenyum lebar. Dia memandang Meng Lin dengan tatapan kagum, lalu menggelengkan kepala kecil seolah masih sulit mempercayai kabar itu.

"Siapa sangka kamu benar-benar berhasil, Meng Lin! Kesempatan seperti ini tidak mudah didapatkan," ujarnya dengan nada penuh sukacita. Dia tidak salah mengaguminya, bukan cuma cantik, tapi dia juga gadis pintar.

Kepala Tim mengangguk berkali-kali. Dia masih teringat percakapannya dengan Meng Lin beberapa hari yang lalu.

Saat Meng Lin meminta izin ke kota dan mengatakan dengan tenang bahwa kesempatan menjadi guru akan menjadi miliknya.

Waktu itu, dia mengira Meng Lin hanya sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Dia tahu gadis itu pintar, tetapi seleksi semacam ini bukan perkara mudah. Banyak orang memiliki kemampuan, tetapi tidak semuanya memperoleh kesempatan yang sama.

Namun, sekarang gadis itu benar-benar berdiri di hadapannya dan membawa kabar bahwa ucapannya telah menjadi kenyataan.

Kepala Tim mengusap dagunya, menatap Meng Lin dengan ekspresi takjub sekaligus kagum.

"Tunggu sebentar. Aku masih ingat apa yang kamu katakan waktu itu." Dia menunjuk Meng Lin dengan jari telunjuk, senyum lebarnya belum juga hilang. "Kamu bilang kesempatan itu akan menjadi milikmu. Aku bahkan sempat berpikir kamu terlalu percaya diri!"

Meng Lin mengangkat sudut bibirnya sedikit.

"Kalau aku sendiri tidak yakin, bagaimana aku bisa meyakinkan orang lain?"

Jawaban itu membuat Kepala Tim tertegun sesaat, lalu tertawa semakin keras.

"Hahaha! Benar juga!"

Istrinya menutup mulut sambil tertawa kecil. Dia melirik suaminya dengan ekspresi geli, kemudian kembali menatap Meng Lin dengan penuh penghargaan.

"Anak ini memang berbeda. Tidak banyak bicara, tetapi begitu mengatakan sesuatu, dia benar-benar berusaha mewujudkannya."

Meng Lin hanya tersenyum tipis tanpa membantah.

Kepala Tim kemudian menghela napas panjang, masih dengan wajah penuh kegembiraan. Dia mengambil cangkir tehnya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali.

"Kalau begitu, apakah kamu sudah tahu kapan mulai mengajar?" tanyanya dengan ekspresi serius yang kini bercampur rasa ingin tahu.

"Bulan depan. Tapi aku sudah dapat kartu kerjanya. Jadi pihak sekolah memintaku sesekali untuk datang!" Jelas Meng Lin.

"Hmm ternyata begitu...Jadi, waktu luangmu kau ingin apa?" tanya kepala tim.

Meng Lin terdiam sejenak lalu berkata. "Paman, pekerjaan apa yang santai di tim?"

"Apa? Tidak ada pekerjaan yang santai. Semuanya melelahkan..!" sahut Bibi Su.

"Benar.. Tapi kalau yang lebih ringan, menjemur padi atau mencari rumput untuk babi!"

"Mencari rumput? Bagaimana kalau cuma dapat satu keranjang? Apa dapat point?" tanya Meng Lin. Rumput di ruangnya sudah tumbuh subur.

"Satu keranjang satu poin..!"

"Kalau begitu. Aku cari rumput Mbak bisa aja kalau aku tidak ke sekolah!" putusnya. Dia bisa jalan-jalan ke gunung.

"Emm baik.. Kamu bisa pergi dengan kelompokmu nanti..!"

"Baik." Meng Lin mengagguk dengan puas. "Oh, aku hampir lupa, ada sedikit barang yang kubawa untuk Paman dan Bibi."

Sebelum Kepala Tim sempat menjawab, Meng Lin membuka kain penutup keranjang. Begitu melihat isi di dalamnya, mata suami istri itu kembali membesar.

Labu besar, beberapa timun yang masih segar, satu jin daging babi, dan sebungkus permen tersusun rapi di dalam keranjang.

Istri Kepala Tim spontan menutup mulutnya dengan tangan. Dia menatap barang-barang itu, lalu mengalihkan pandangan kepada Meng Lin dengan ekspresi terkejut sekaligus tidak enak hati.

"Meng Lin, kenapa kamu membawa begitu banyak barang? Ini terlalu banyak!"

Kepala Tim pun mengernyitkan dahi, wajahnya berubah serius meskipun kegembiraan atas kabar kelulusan tadi masih terlihat di matanya.

"Benar. Kamu baru saja mendapatkan kesempatan bagus. Simpan saja barang-barang ini untuk dirimu sendiri. Kamu masih membutuhkan banyak hal untuk kehidupanmu di sini."

Meng Lin tidak segera menjawab. Dia merapikan kembali kain penutup keranjang, lalu menatap mereka dengan ekspresi tenang.

"Jangan khawatir, Paman. Aku masih punya persediaan. Anggap saja ini perayaan, aku juga sudah sedikit berbagi dengan teman-teman di asrama.!"

"Tapi.. Ini terlalu banyak!" kepala Tim masih berusaha menolak.

"Paman tenang saja. Bukannya aku ingin sombong, tapi aku benar-benar tidak kekurangan. Jika aturan dan penjagaan tidak ketat, aku sudah bagi kepada banyak orang!"

"Nak apa maksudmu?" tanya Kepala Tim dengan bingung.

"Paman. Aku punya kenalan dari luar kota. Saat dia tahu aku turun ke desa. Dia langsung mengirim semua apa yang aku butuhkan!"

Kepala Tim langsung mengangguk paham. Meng Lin sedang ingin memberitahunya Jika dia punya banyak koneksi. "Baiklah.. Tapi, kamu tetap berhati-hati.."

"Paman tenang saja. Aku tahu batasnya!"

"Baguslah..! Karena kamu memang sudah berniat memberikannya, Paman akan menerimanya." Dia mengangkat telunjuknya dengan ekspresi tegas, tetapi matanya menunjukkan kehangatan.

"Paman! Sebenarnya masih ada satu hal ingin aku tanyakan. Tapi lain kali saja, Paman dan keluarga lanjut makan malam. Aku permisi dulu..!" Meng Lin beranjak dan langsung berjalan keluar.

"Eh tunggu dulu...!"

Meng Lin baru menoleh setelah tiba di pintu pagar. Dia melambaikan tangan dan kembali ke asrama.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat
yang banyak update nya Thor 👍😀
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!