Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 14
Satu bulan berlalu sejak insiden di lobi kantor yang mempermalukan Shela. Kehidupan Kiara berjalan jauh lebih tenang, dan hubungannya dengan Vino pun kian membaik. Benteng es yang tadinya menjulang tinggi kini mulai mencair. Perhatian, ketegasan, dan konsistensi Vino perlahan tapi pasti mulai mengembalikan rasa percaya Kiara. Walau belum sepenuhnya Kiara percaya kepada Vino, dan bahkan hampir satu setengah bulan ini, Kiara selalu menghindar saat Vino mulai menyinggung masalah pernikahan, entahlah di dalam sudut hatinya yang lain masih sedikit ragu dan ingin melihat kesungguhan Vino.
Sore itu, menjelang jam pulang kantor, layar ponsel Kiara di atas meja kerja terus menyala beruntun, menampilkan rentetan notifikasi dari nomor baru yang tak dikenal. Awalnya Kiara mengabaikannya, namun getaran yang tak kunjung berhenti membuat wanita itu akhirnya meraih ponselnya.
Saat membuka aplikasi pesan, kening Kiara berkerut. Puluhan pesan teks masuk berturut-turut, disertai belasan lampiran foto.
'Lihat ini, Kiara! Kamu pikir kamu sudah menang? Kamu pikir Mas Vino benar-benar membuangku?'
'Dia cuma berpura-pura tegas di depanmu! Begitu aku sakit dan masuk rumah sakit, dia langsung lari menghampiriku!'
'Lihat sendiri! Dari kemarin Mas Vino setia menunggu di ruang rawat inapku. Dia nggak bisa membiarkan aku sendiri!'
Di bawah pesan-pesan penuh provokasi itu, tertera foto-foto Vino yang berada di sebuah kamar rawat inap. Foto pertama memperlihatkan sosok Vino yang duduk di kursi sebelah ranjang RS dengan raut wajah lelah. Foto berikutnya menunjukkan Vino sedang berdiri di dekat fasilitas kamar inap, dan foto lainnya memperlihatkan pria itu tampak mengawasi ruangan tersebut.
Tidak berhenti di situ, Shela bahkan mengirimkan lokasi terkini (live location) serta nomor kamar rawat inapnya secara rinci kepada Kiara, lengkap dengan pesan bernada menantang:
“Ini nomor kamarku. Kamar 304, Lantai 3 Gedung Mawar RS Medika. Nanti sore setelah antar kamu pulang, Mas Vino pasti balik lagi ke sini buat nemenin aku semalaman. Kalau nggak percaya, datang langsung dan buktikan sendiri!”
Mata Kiara menatap foto-foto dan detail kamar rawat inap itu. Dulu, dia mungkin akan langsung mengonfrontasi Vino lewat telepon atau menangis sendirian. Tapi kali ini berbeda. Rasa curiga dan memori pahit penolakan di masa lalu kembali membayangi pikirannya. Kiara tidak bertanya kepada Vino sore itu, dia memilih untuk pura-pura tenang saat Vino menjemputnya pulang seperti biasa.
"Ayo sayang," ajak Vino saat menjemput Kiara. Rutinitas yang dia lakukan kembali setelah tragedi waktu itu.
Sepanjang jalan, Vino memang bersikap manis dan perhatian, namun Kiara bisa melihat raut lelah dan gelisah di wajah pria itu. Setelah mengantarkan Kiara sampai di depan rumahnya, Vino berpamitan dengan alasan ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan mendadak malam ini.
Hati Kiara mencelos. Sebuah jawaban samar mulai terbentuk di kepalanya, namun dia butuh Kepastian dari kecurigaannya. Dia tidak mau lagi dibodohi oleh janji manis. Janji yang di ucapkan oleh Vino yang akan menjauhi dan tak lagi mengurusi sepupunya itu. Namun melihat bagaimana Vino yang terburu-buru dan juga semua foto-foto yang di kirimkan Shela membuatnya sedikit curiga.
Malam harinya, sekitar pukul 19.30 WIB, Kiara melangkah masuk melewati koridor sunyi RS Medika. Dadanya berdegup kencang, memikul rasa cemas dan ketakutan akan kenyataan yang mungkin harus ia hadapi. Langkah kakinya membawa Kiara menuju Gedung Mawar, Lantai 3.
Dia menyusuri lorong hingga akhirnya berdiri tepat di depan pintu papan nama Kamar 304.
Melalui kaca kecil di pintu rawat inap yang sedikit terbuka, napas Kiara seketika tertahan. Tatapannya terkunci pada sosok pria yang sangat dia kenali.
Di dalam sana, Vino benar-benar ada.
Pria yang baru beberapa jam lalu mengantarkannya pulang dan berpamitan dengan alasan 'urusan pekerjaan', kini sedang duduk di kursi samping ranjang rawat inap. Di atas ranjang itu, Shela terbaring dengan jarum infus terpasang di tangannya, menatap Vino dengan raut wajah manja dan terlindungi. Vino tampak sedang menyodorkan segelas air minum ke arah Shela, gerak-gerik yang begitu familier, gerak-gerik penuh perhatian yang dulu selalu membuat Kiara merasa tersisih.
Seluruh janji manis Vino, ucapan ketegasannya di lobi kantor satu bulan lalu, dan semua usaha pria itu untuk meyakinkannya, rasanya runtuh seketika dalam satu detik.
Dada Kiara terasa sesak luar biasa, bagai dihantam beban berat. Air mata yang berusaha dia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. Semua perkataan Shela di pesan singkat tadi sore terbukti sepenuhnya di depan mata kepala Kiara sendiri.
Vino tidak pernah benar-benar membuang Shela. Dan tempat Kiara di hati pria itu, ternyata masih kalah oleh rasa iba Vino pada wanita yang selalu tahu cara memanipulasinya. Dan Vino tak pernah tegas untuk mengatakan tidak kembali kepada Shela, padahala dia tahu resikonya. Bukan ahanya kehilangan Kiara, namun juga akan mendapatkan murka dari orang tuanya. Namun entah apa yang ada di dalam kepalanya Vino.
"Aku keluar dulu, Kiara menghubungiku..."Vino kelaur dari ruangan dan menuju ke teras luar kamar rawat. Dan Kiara juga berdiri tak jauh dari sana.
"Iya sayang..." Jawab Vino sambil tesenyum bahagia.
"Kamu dimana, Mas?" Tanya Kiara.
"Aku di rumah, sayang..." Bohong Vino.
Nyeessss
Hati Kiara benar-benar semakin sakit. Bahkan luka sebelumnya saja masih belum sembuh, namun Vino menambah dengan luka baru. Walau kali ini dia tak mengabaikannya, namun dari Vino yang memilih kembali membohonginya membuat Kiara benar-benar tak habis fikir.
"Lagi ngapain di rumah? Kok sepi banget?" tanya Kiara.
Dia berusaha keras menjaga suaranya tetap stabil dan datar, meski air mata panas kian deras mengalir melintasi pipinya. Di seberang sana, Vino sempat tertahan sejenak. Pria itu mengusap wajahnya yang tampak lelah melalui pantulan bayangannya di dinding kaca teras.
"Cuma lagi memeriksa beberapa berkas pekerjaan, Sayang. Maaf ya, malam ini Mas tidak bisa telepon lama-lama, pekerjaannya lumayan menumpuk. Kamu jangan begadang, langsung tidur ya?"
"Oh... berkas pekerjaan ya, Mas?"
Kiara menghela napas panjang, menahan gemuruh kekecewaan yang meremukkan dadanya. Dia memejamkan mata erat-erat, meresapi rasa pahit atas kebohongan yang baru saja keluar secara mulus dari mulut pria yang memintanya untuk percaya.
"Iya, Ra. Besok pagi Mas tetap jemput kamu jam seperti biasa, ya?" tawar Vino dengan nada lembut penuh kepura-puraan yang kini terasa begitu menyakitkan di telinga Kiara.
Kiara menatap bayangan Vino dari jauh melalui sela-sela lorong. Tangan kirinya mengepal erat di samping tubuhnya, meremas ujung bajunya sendiri demi meredam gejolak emosi. Dulu dia mungkin akan langsung melabrak, menangis, dan meluapkan amarahnya saat itu juga. Namun kini, rasa sakitnya sudah bertumpuk hingga berubah menjadi kebas yang dingin. Kiara tidak mau mengonfrontasinya malam ini di tempat ini, da tidak ingin memberi Shela panggung untuk melihatnya hancur.
"Tidak usah, Mas," potong Kiara pelan namun tegas.
"Kenapa, Ra? Nanti kamu naik apa ke kantor?" tanya Vino heran.
"Besok pagi aku tidak usah dijemput. Aku mau berangkat pagi-pagi sekali, ada janji mau pergi bareng teman," jawab Kiara dingin.
Alasan yang dia karang dengan begitu tenang, menutupi badai di dalam dadanya.
"Pergi bareng teman? Pagi-pagi sekali? Siapa, Ra? Perempuan atau laki-laki? Beneran tidak mau Mas yang antar saja sekalian?" cecar Vino, terdengar nada khawatir yang semu di ujung telepon.
"Tidak perlu, Mas. Urus saja dulu 'pekerjaan' Mas sampai selesai," ucap Kiara menekankan kata 'pekerjaan' dengan nada datar yang teramat dingin.
"Sudah dulu ya, aku mau istirahat."
"Tapi, Ra..."
Sebelum Vino sempat menyelesaikan kalimatnya, Kiara langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Di teras luar kamar rawat inap, Vino menatap layar ponselnya yang mendadak gelap dengan raut bingung dan sedikit gelisah. Ada perasaan tak enak yang mengganjal di dadanya, namun erangan pelan Shela dari dalam kamar rawat membuatnya urung berpikir lebih jauh dan kembali melangkah masuk.
Sementara itu, di lorong rumah sakit yang dingin, Kiara perlahan menurunkan ponselnya. Air matanya menetes makin deras tanpa suara. Kepercayaan tipis yang sempat ia bangun selama satu setengah bulan terakhir kini telah hancur berkeping-keping.
Dia berdiri sebentar, menatap pintu Kamar 304 untuk terakhir kalinya melalui kaca kecil. Melihat Vino yang kembali duduk di samping ranjang Shela, Kiara mengukir senyum pahit penuh keputusan.
Tanpa sepatah kata lagi, Kiara membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan koridor rumah sakit Medika. Kali ini, keputusannya sudah bulat. Kebohongan malam ini menjadi jawaban mutlak atas seluruh keraguannya selama ini.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,