Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Tiga hari. Tiga hari penuh yang terasa seperti tiga tahun.
Hari pertama, Shella bangun pagi dengan tekad yang sudah dipersiapkan semalaman. Saat melihat Maxy menunggu di dekat gerbang seperti biasa, jantungnya berdebar kencang — bukan karena senang, tapi karena takut. Dia menunduk, mempercepat langkah, masuk lewat pintu samping, pura-pura tidak melihat. Di balik kaca jendela, dia melihat sosok itu berdiri diam sebentar, lalu perlahan berjalan masuk sendirian.
Hari kedua, dia sengaja datang lebih awal, sebelum matahari terbit, agar tidak berpapasan. Saat makan siang, dia duduk di sudut ruangan yang berbeda, membelakangi meja Maxy. Telinganya tetap menangkap setiap suara — bunyi kursi ditarik, langkah kaki mendekat, lalu menjauh lagi. Dia menggenggam sendok erat-erat, menahan keinginan untuk menoleh.
Hari ketiga, hari ini... rasanya makin berat.
Shella duduk di mejanya, pura-pura sibuk membaca berkas, tapi matanya tak bisa fokus. Di seberang ruangan, Maxy duduk di sana — punggungnya membungkuk di atas tumpukan kertas yang makin menumpuk, tangan kanannya bergerak cepat menulis, sesekali mengusap keringat di dahi dengan lengan baju. Sejak pagi dia tidak berhenti. Tidak beranjak. Tidak makan. Tidak minum.
Setiap kali dia lewat di dekat meja Shella, langkahnya pelan, seakan berharap dipanggil. Tapi Shella selalu menunduk lebih dalam, memalingkan wajah, berpura-pura mencari sesuatu di laci. Dan setiap kali, langkah itu menjauh lagi, perlahan, penuh kesepian.
Kenapa harus begini... batin Shella, dada terasa sesak. Kenapa aku rindu padanya padahal dia ada di ruangan yang sama?
Rindu itu bukan hal yang biasa. Bukan sekadar ingin mengobrol atau berjalan berdua. Rasa ini menusuk, tajam, dan nyata — seperti ada bagian dari dirinya yang hilang, yang tertinggal di samping sosok yang kini dijauhi sendiri. Dia ingin melihat wajahnya, ingin mendengar suaranya, ingin tahu apakah dia sudah makan, apakah punggungnya masih sakit, apakah dia tidur cukup. Tapi semua itu ditahan, dikunci dalam-dalam, seolah mengubur perasaan yang paling hidup di hatinya.
Siang saat kantor sepi, Shella mengintip dari balik tumpukan berkas. Maxy sedang menyusun laporan tebal yang baru saja diturunkan Arif — tugas tambahan lagi, di luar jam kerja. Wajahnya pucat, matanya cekung, tapi tangannya tetap bergerak.
Dia teringat bagaimana dulu mereka duduk berdua di meja makan siang, bercerita tentang hal-hal kecil, tertawa tanpa beban. Sekarang jarak mereka hanya beberapa langkah, tapi terasa sedunia.
Apakah dia mengerti kenapa aku begini? Apakah dia benci aku sekarang?
Pikiran itu membuat matanya panas. Dia menunduk cepat, menahan air mata agar tidak jatuh di atas kertas kerja.
Di sisi lain ruangan, Maxy juga tidak tenang. Dia menyadari semuanya. Perubahan itu terlalu jelas untuk diabaikan.
Dulu, Shella selalu menyapanya duluan. Dulu, dia akan mencari matanya saat masuk ruangan. Dulu, saat makan siang, dia akan mendekat, membawa makanan, bertanya apakah dia sudah makan. Sekarang... tatapan itu tak pernah bertemu. Sapaan itu tak pernah terdengar. Langkah itu selalu berbelok ke arah lain.
Maxy menghela napas panjang, meletakkan pulpen sebentar. Tangan kanannya terasa kesemutan karena terlalu lama menulis.
Dia berubah... batinnya sedih. Apakah dia bosan? Apakah dia sudah tidak suka lagi? Atau... apakah aku yang terlalu lambat, terlalu biasa, tidak cukup untuknya?
Dia teringat perkataan Shella tiga hari lalu — jangan dekat-dekat aku lagi. Kata-kata itu terngiang terus, meski diucapkan dengan air mata. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Tatapan Shella tidak pernah berbohong — ada rasa sakit di sana, bukan kebencian. Tapi dia tidak tahu bagaimana mendekat. Tidak tahu bagaimana bertanya.
Arif selalu ada. Mengawasi. Muncul tiba-tiba. Memberi tugas baru tepat saat dia ingin berbicara. Seolah tahu kapan mereka akan berdekatan, lalu datang memisahkan.
Sore itu, Arif datang lagi ke mejanya, menumpuk dua tumpukan berkas baru di atas yang belum selesai.
"Selesaikan sebelum pulang. Tidak boleh lembur malam ini, saya kunci pintu jam lima tepat," ucapnya dingin, lalu melirik sekilas ke arah Shella yang duduk tidak jauh, tersenyum tipis sebelum pergi.
Maxy menatap tumpukan itu. Mustahil selesai. Bahkan jika dia mengetik tanpa henti, tidak akan cukup waktu. Dia menatap ke arah Shella secara tidak sengaja — Shella sedang menatapnya, mata mereka bertemu sejenak. Shella tersentak, cepat memalingkan wajah, bahunya terlihat bergetar pelan.
Hati Maxy terasa tertusuk. Dia tahu. Dia tahu Shella melihat. Dia tahu Shella mengerti. Tapi dia juga tahu Shella takut.
Dia kembali bekerja, jari-jarinya bergerak cepat, pikirannya terbagi dua — menyelesaikan tugas agar tidak dipecat, dan mencari cara untuk mendekati Shella.
Jam menunjukkan pukul empat lewat empat puluh lima. Orang-orang mulai membereskan barang. Shella berdiri, tas sudah di pundak. Dia berhenti sebentar, menatap punggung Maxy yang masih membungkuk di meja, lalu melangkah pergi — cepat, tanpa menoleh, seolah takut berubah pikiran.
Pintu tertutup. Suasana hening.
Maxy meletakkan pulpen, menunduk, kedua tangan menyisir rambutnya lelah.
Kenapa aku diam saja? Kenapa aku tidak mengejarnya? Kenapa aku membiarkan dia pergi begitu saja?
Dia ingin berlari. Ingin memanggil namanya. Ingin bertanya — apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kita harus begini?
Tapi Arif berdiri di pintu keluar, berbicara dengan satpam, menatap ke arahnya sesekali. Jika dia keluar sekarang, jika dia mendekati Shella, Arif akan melihat. Dan Arif akan melampiaskan kemarahannya besok — bukan padanya saja, mungkin pada Shella juga.
Itulah yang menahannya. Bukan takut dihina. Bukan takut diusir. Tapi takut Shella ikut terseret.
Dia kembali duduk, menatap berkas yang tak akan selesai hari ini. Kesedihan merayap pelan, menyelimuti hatinya yang sepi.
Aku tidak tahu cara melawannya... dia manajer, dia punya kuasa, aku cuma pegawai biasa. Kalau aku melawan secara terbuka, mungkin malah makin buruk. Tapi kalau diam... aku kehilangan dia sedikit demi sedikit setiap hari.
Dia teringat wajah Shella saat pertama kali tersenyum padanya. Saat di taman. Saat di pantai. Saat dia berkata — kamu sudah berharga apa adanya. Kata-kata itu terasa begitu nyata, begitu hangat, seolah baru kemarin diucapkan. Lalu kenapa sekarang menjauh?
Apakah karena dia tidak cukup kuat? Apakah karena dia tidak bisa melindunginya seperti yang seharusnya?
Mata Maxy terasa perih. Dia mengusapnya dengan punggung tangan, menarik napas panjang, lalu kembali bekerja.
Di luar kantor, Shella berjalan pelan ke arah halte. Langkahnya berat, sesekali menoleh ke belakang, berharap melihat sosok itu keluar, memanggilnya, berlari mengejarnya. Tapi pintu kantor tetap tertutup. Tidak ada siapa-siapa.
Dia duduk di bangku halte, memeluk tas di pangkuan. Angin sore berhembus dingin.
Dia tidak datang... dia tidak mengejar aku...
Sebagian dari dirinya terluka. Tapi sebagian lain lega. Kalau dia datang, mungkin Arif melihat. Mungkin Maxy kena masalah lagi. Lebih baik begini. Lebih baik dia tidak peduli. Lebih baik dia tenang.
Namun rindu itu tetap ada. Menusuk, tak bisa dibendung. Dia merogoh saku tas, mengeluarkan secarik kertas — nomor telepon Maxy yang digenggam erat selama tiga hari ini. Kertasnya sudah kusut, dilipat berulang kali. Dia ingin menelepon. Ingin mendengar suaranya. Ingin bilang maaf. Ingin bilang dia merindukannya.
Tapi dia menahan diri. Menyimpan kembali kertas itu, menatap pintu kantor sekali lagi, lalu naik bus yang datang.
Di dalam bus, dia menatap jendela yang berkabut. Hujan turun pelan lagi, membasahi kaca. Di balik kabut, dia membayangkan wajah Maxy — sendirian di meja, lelah, kesepian, mungkin bertanya-tanya apa kesalahannya.
Air mata menetes pelan, menyatu dengan uap air di kaca.
Tetaplah kuat, Maxy... jangan pikirkan aku... biarkan aku yang pergi, asal kamu aman.
Sementara itu, di kantor yang makin sepi, Maxy berhenti menulis. Jam menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Pintu sudah dikunci. Dia tidak bisa pulang sekarang. Dia duduk sendirian di ruangan yang remang, cahaya lampu di atas kepalanya menyinari meja yang belum selesai.
Dia mengeluarkan ponsel, menatap daftar kontak. Nama "Shella" ada di sana, ditulis sederhana, tanpa hiasan. Jarinya melayang di atas nama itu, berulang kali ingin menekan panggil, tapi selalu berhenti.
Apa yang akan aku katakan? Kenapa kamu menjauh? Apakah kamu membenciku?
Dia tidak tahu jawabannya. Dan ketidaktahuan itu yang paling menyakitkan.
Dia meletakkan ponsel, menatap langit gelap di luar jendela.
Aku harus mencari cara... cara yang benar. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan pertengkaran. Tapi aku tidak bisa membiarkan dia menjauh begitu saja. Aku tidak bisa membiarkan kita berdua kesepian seperti ini.
Namun bagaimana? Arif selalu ada. Selalu mengawasi. Selalu mencari celah. Dan dia tidak ingin Shella terluka.
Dia kembali menunduk bekerja, berjanji dalam hati — aku akan cari jalan, Shella. Tunggu aku. Jangan pergi terlalu jauh.