Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
"H-hazel..." suara Sagara terdengar sangat berat dan rendah, bergetar di udara malam yang dingin. Napasnya yang hangat dan memburu menerpa kulit wajah Hazel, mengikis sisa keheningan di dalam kamar. "Panas... rasanya aku ingin disentuh..."
Mendengar bisikan lirih itu, mata Hazel membelalak seketika. Pemikiran cepat melintas di kepalanya. Pria sepolos Sagara tidak mungkin mendadak bersikap seperti ini tanpa alasan. Seketika itu juga, potongan puzzle terpasang di benak Hazel senyuman culas Cateline, gaun malam mewahnya, dan kepergiannya yang tiba-tiba. Obat perangsang! Cateline sengaja menaruh sesuatu di makanan atau minuman Sagara!
Belum sempat Hazel mencerna seluruh kejijikan atas tindakan jahat kakaknya, tubuh Sagara sudah lebih dulu bergerak di luar kendali. Rasa panas yang membakar jalan darahnya telah melumpuhkan akal sehat pria itu sepenuhnya.
Sagara memajukan tubuhnya secara impulsif. Sebelum Hazel sempat bersuara atau menghindar, bibir Sagara yang terasa membara sudah menempel rapat di atas bibir Hazel.
MMPH!
Hazel tersentak hebat. Tubuhnya membeku saat merasakan sentuhan lembut namun menuntut di bibirnya. Sensasi sengatan listrik yang asing sekaligus mengejutkan menjalar cepat ke seluruh sudut dadanya.
Refleks, Hazel mengangkat kedua tangannya, memegang dada bidang Sagara dan mencoba mendorong pria itu menjauh. "K-kak... le-lepas—" dorongan Hazel sia-sia. Meski berpenampilan polos dan tampak pemalu, postur tubuh Sagara yang tinggi dan tegap menyimpan tenaga yang jauh lebih kuat. Cengkeraman tangan Sagara di pergelangan tangan Hazel justru semakin mengencang, menarik tubuh gadis 19 tahun itu makin rapat tanpa memberi jarak sedikit pun.
Ciuman itu mulanya terasa liar dan berantakan akibat pengaruh obat, namun perlahan berubah menjadi sapuan yang menuntut kehangatan. Sagara menekan tengkuk Hazel dengan lembut, memiringkan kepalanya untuk memperdalam pagutan bibir mereka.
Napas Hazel mulai memburu, dadanya naik turun dengan ritme berantakan. Pertahanan yang dibangunnya perlahan-lahan runtuh. Aroma tubuh Sagara yang khas, perlakuan lembut di balik ketenangannya yang terasing, serta debaran asing yang memuncak di dadanya membuat Hazel kehilangan sisa penolakannya.
Mata Hazel perlahan terpejam rapat. Jemarinya yang tadinya mendorong dada Sagara kini bergemetar, mencengkeram kain kaos pria itu erat-erat. Tanpa disadarinya sendiri, Hazel mulai membalas ciuman hangat itu, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi terlarang di bawah temaramnya lampu kamar.
Sentuhan hangat jemari panjang Sagara merambat perlahan menelusuri punggung Hazel, lalu berhenti di pinggangnya. Cengkeraman lembut namun posesif di pinggangnya itu membuat tubuh Hazel bergetar hebat. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar, memicu gelombang sensasi asing yang hampir melumpuhkan logika gadis 19 tahun itu.
Namun, tepat saat dekapan Sagara semakin erat menarik tubuhnya, sebuah sentakan kesadaran mendadak menghantam kepala Hazel seperti hantaman air dingin.
Tidak! Ini salah! batin Hazel berteriak histeris.
Bayangan wajah Cateline yang dipenuhi senyum culas mendadak berputar di kepalanya. Pria di hadapannya ini sekalipun dimanipulasi dan diperlakukan seperti pelayan masih berstatus sebagai suami sah dari kakaknya. Hazel menggeleng keras di dalam hatinya. Ia tidak boleh jatuh ke dalam perangkap jebakan beracun yang sengaja diciptakan Cateline untuk menghancurkannya.
Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran yang terkumpul, Hazel menghentakkan kedua tangannya keras-keras ke dada bidang Sagara.
"Kak Sagara, sadar!" jerit Hazel terengah-engah, memutus pagutan bibir mereka secara paksa.
Sagara yang kesadarannya sudah digelapkan oleh pengaruh obat perangsang meringis pelan. Pria itu berusaha memajukan tubuhnya kembali, hendak meraih Hazel dengan tatapan sayu yang dipenuhi kabut gairah. "H-hazel... panas..."
"Cukup, Kak!" Hazel dengan cepat berdiri, menghindar dari jangkuan tangan Sagara.
Melihat kondisi Sagara yang makin parah dengan tubuh gemetar basah oleh keringat dingin, Hazel tahu ia harus bertindak cepat sebelum situasi ini benar-benar tidak terkendali. Tanpa membuang waktu, Hazel mencengkeram kuat lengan Sagara. Dengan menahan bobot tubuh pria jangkung yang tampak lemas dan sempoyongan itu, Hazel menariknya paksa berdiri, memapahnya melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamar tersebut.
BRAK!
Hazel mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka lebar. Ia menyeret Sagara mendekati bathtub porselen berwarna putih yang berada di sudut ruangan. Tanpa ragu sedikit pun, Hazel menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh Sagara hingga pria itu jatuh terduduk di dalam bathtub yang kosong.
BYURRR!
Sagara tersentak hebat saat Hazel mengarahkan shower dan menyalakan kran air dingin dengan tekanan penuh. Kucuran air dingin yang melimpah langsung menyiram seluruh tubuh Sagara membasahi rambut acak-acakannya, wajahnya yang merah padam, hingga pakaian kaos yang dikenakannya basah kuyup menempel di kulit.
"Ughh!" Sagara mengerang keras, terbatuk-batuk kecil saat air dingin membasahi wajahnya secara mendadak.
Hazel terus memegang keran air, mengisi bathtub hingga air dingin merendam separuh tubuh Sagara. Rasa dingin yang menusuk tulang itu perlahan-lahan mulai mengikis efek obat membara yang membakar aliran darahnya.
"Sadar, Kak Sagara! Lihat aku!" panggil Hazel dengan suara bergetar namun tegas, berdiri di samping bathtub sambil menggigil pelan akibat pakaian tidurnya yang ikut terkena cipratan air.
Sagara menyapu air dari wajahnya dengan jemarinya yang gemetar. Dadanya naik turun memburu. Binar kabut gairah di matanya perlahan-lahan surut, berganti dengan binar kebingungan dan kesadaran yang berangsur kembali. Pria itu menatap Hazel dengan pandangan linglung, menyadari dirinya yang sudah basah kuyup di dalam air dingin.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...