Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pelanggaran oleh Naira
Di teras belakang kompleks santri akhir, angin sore berhembus sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan daun teh hangat. Tempat itu terasa begitu tenang, jauh dari riuk-pikuk dan hiruk-pikuk tugas kedisiplinan yang biasanya menguras pikiran.
Ukhti Maya menyandarkan punggungnya ke tiang kayu, menyelonjorkan kaki sambil menyesap teh hangat dari cangkirnya. Di sebelahnya, Ukhti Inggit duduk santai tanpa lagi memegang papan jalan, senter besar, atau tumpukan berkas pelanggaran santri.
"Akhirnya kita nikmati masa indah tanpa tanggung jawab ya, Ngit," seru Ukhti Maya seraya mengulas senyum lebar yang sangat lepas, memandangi langit sore yang berona jingga.
Ukhti Inggit tertawa pelan—sebuah tawa renyah tanpa beban yang jarang sekali terdengar saat ia masih menjabat sebagai Kepala Keamanan. Ia menatap cangkir teh di tangannya sebelum mengangguk setuju.
"Iya, nyaman banget rasanya cuma fokus sama pelajaran," balas Ukhti Inggit dengan helaan napas lega yang begitu dalam. "Ndak perlu lagi keliling lorong jam dua malam sambil pasang muka galak, ndak perlu mikirin absensi jamaah, ndak perlu pusing ngurusin aduan santri yang hilang sandal..."
"Atau nangkap Aira sama Nazwa yang sembunyi di balik jemuran," timpal Ukhti Maya sambil terkekeh membayangkan kejadian-kejadian konyol adik-adik bimbingan mereka.
Ukhti Inggit ikut tertawa geli. "Wah, kalau ingat itu rasanya ajaib banget. Tapi jujur, May... ada rasa lega yang luar biasa di dada. Sekarang pas dengar bel atau pengumuman dari sekretariat, kita ndak perlu refleks berdiri lagi. Tugas kita mengabdi untuk organisasi sudah tuntas."
Keduanya saling pandang, memancarkan binar kebahagiaan dan kepuasan di mata masing-masing. Masa-masa sulit menyeimbangkan antara amanah OSIS, hafalan Al-Qur'an, dan persiapan ujian telah berhasil mereka lewati dengan anggun.
Kini, di babak akhir kehidupan pesantren mereka, Ukhti Maya dan Ukhti Inggit bisa menikmati setiap detik hari-hari mereka sebagai santri biasa—menghabiskan waktu di meja belajar, mengulang hafalan di sudut masjid dengan tenang, dan menikmati indahnya kebersamaan tanpa dibayangi beban jabatan.
-----
Pagi yang cerah di kompleks pesantren mendadak berubah menjadi hari paling penuh cobaan—sekaligus paling konyol—dalam hidup Aira dan Nazwa.
Gara-gara kepergok Ukhti Farida membawa biskuit dan menyeduh susu cokelat di belakang lemari saat jam tidur semalam, aturan baru kepengurusan ternyata benar-benar ditegakkan! Bukan jilbab kuning neon bertuliskan permanen, melainkan hukum hukuman visual baru dari Divisi Keamanan: Jilbab Pelanggaran Serba Merah Cabai. Ukurannya jumbo, warnanya menyala bagai lampu lalu lintas, dan ada pin besar bertuliskan "KAMI JANJI NDAK NYEMIL MALAM-MALAM LAGI".
Aira dan Nazwa berjalan beriringan menyusuri lorong utama menuju dapur umum. Kepala mereka menunduk sedalam-dalamnya, langkah kaki mereka pelan seperti siput, berusaha menyembunyikan wajah di balik kibaran jilbab merah menyala yang mencolok mata itu.
"Nazwa..." bisik Aira dengan suara bergetar yang ditahan, matanya cuma berani menatap lantai keramik. "Kamu merasa ndak, seluruh santri dari lantai dua sampai lapangan lagi memperhatikan kita?"
"Ndak usah ditanya lagi, Ra!" balas Nazwa lirih dari balik jilbab merahnya, menahan malu setengah mati. "Muka aku rasanya udah sama panasnya kayak warna jilbab ini. Ini kalau ada mobil pemadam kebakaran lewat, kita pasti dikira rombongan mereka!"
"Hush! Jangan keras-keras, nanti Ukhti Farida dengar!" cicit Aira. "Lagian ini kan ide kamu kemarin yang dibilang 'Aman Ra, Ukhti Farida ndak bakal patroli ke sudut lemari'. Nah sekarang lihat hasilnya!"
"Ya mana aku tahu kalau Ukhti Farida punya insting penciuman bau susu cokelat sejauh sepuluh meter!" omel Nazwa tak mau kalah, walau tetap sambil melangkah mengendap-endap.
Baru saja mereka hendak membelok di sudut lorong dekat teras asrama santri akhir, nasib naas kembali menyapa. Di atas bangku kayu bawah pohon rindang, tampak Ukhti Maya dan Ukhti Inggit sedang duduk santai menikmati teh hangat usai mengulang hafalan pagi.
Aira mendadak berhenti mendadak. Nazwa yang berjalan di belakangnya otomatis menabrak punggung Aira.
BRUK!
"Aduh! Kenapa berhenti sih, Ra?" protes Nazwa.
"Nazwa... bahaya tingkat tinggi," bisik Aira dengan raut panik luar biasa. "Di depan ada Ukhti Inggit sama Ukhti Maya. Kalau mereka lihat kita pakai jilbab cabai ini... habis kita!"
"Putar balik, Ra! Putar balik!" seru Nazwa panik.
Namun terlambat. Ukhti Maya yang sedang menyiang daun teh di cangkirnya kebetulan menoleh ke arah lorong. Matanya berkedip dua kali, menyesuaikan pandangan dengan siluet dua benda merah menyala yang bergerak patah-patah di balik tembok.
"Eh, Inggit... Coba lihat deh," senggol Ukhti Maya ke lengan Ukhti Inggit. "Itu ada buah naga jalan atau apa ya di lorong?"
Ukhti Inggit menoleh. Begitu pandangannya menangkap dua sosok kecil berjilbab merah cabai jumbo dengan pin raksasa di dada yang sedang berusaha mengendap-endap mundur, alis Ukhti Inggit langsung terangkat tinggi.
"Aira? Nazwa?" panggil Ukhti Inggit dengan suara nyaring yang sengaja ditahan agar tidak menggelegar. "Sini! Mau kabur ke mana kalian?"
Aira dan Nazwa membeku di tempat. Seperti patung yang kehabisan baterai, keduanya pelan-pelan berbalik arah. Dengan wajah kepiting rebus dan senyum patah-patah yang dipaksakan, mereka melangkah mendekati meja Ukhti Inggit dan Ukhti Maya.
"Assalamu'alaikum... Ukhti Inggit... Ukhti Maya..." sapa Aira dan Nazwa serempak, suaranya kecil sekali sampai hampir tak terdengar.
Ukhti Maya yang biasanya anggun dan tenang, mendadak menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan. Matanya membelalak menatap jilbab merah menyala yang terpasang di kepala kedua adik bimbingannya itu.
"Wa'alaikumsalam..." balas Ukhti Maya. Dadanya mulai berguncang pelan, menahan tawa yang sudah berada di ujung tenggorokan. "Masya Allah... Aira, Nazwa... Ini... ini dalam rangka kostum pentas seni atau gimana, Nak?"
"Ukhti Maya, jangan diejek..." rengek Aira dengan muka paling melas di dunia, bibirnya sudah maju beberapa senti. "Ini bukan kostum pentas seni... Ini karya kepengurusan keamanannya Ukhti Farida..."
Ukhti Inggit yang duduk di samping Ukhti Maya tak sanggup lagi menahan diri. Senyum tegas mantan Kepala Keamanan itu runtuh total. Ia memegangi perutnya, lalu tawa renyahnya meledak begitu saja.
"BWAHAHAHA! Masya Allah!" tawa Ukhti Inggit pecah memecah keheningan teras. "Aira! Nazwa! Kalian berdua bikin rekor baru ya? Dulu waktu Ukhti jadi keamanan , ndak pernah ada yang dapet jilbab merah cabai ukuran super jumbo begini!"
"Ukhti Inggit ih!" Nazwa cemberut berat, merapikan pinggiran jilbab merahnya yang kepanjangan sampai menutupi hampir separuh tangannya. "Kami ini lagi berduka, Ukhti... Malah ditawain. Mana pin-nya gede banget lagi, bisa dilihat dari jarak seratus meter!"
Ukhti Maya membungkuk sedikit, membaca tulisan di pin dada Aira sambil menyapu air mata di sudut matanya karena kebanyakan tertawa.
" 'KAMI JANJI NDAK NYEMIL MALAM-MALAM LAGI'..." baca Ukhti Maya mengeja tulisan itu, lalu tawanya kembali meledak bersama Ukhti Inggit. "Aduuuh, ya Allah... Nyemil apa kalian semalam sampai Farida ngeluarin jilbab keramat ini?"
"Cuma susu cokelat sama biskuit, Ukhti Maya..." jawab Aira jujur dengan nada merana. "Padahal kami nyemilnya pelan-pelan banget, ndak pake bunyi. Tapi Ukhti Farida tiba-tiba berdiri di samping lemari kayak jelangkung..."
"Pfft... Jelangkung kamu bilang?!" Ukhti Inggit makin memegangi perutnya yang mulai sakit karena tertawa tanpa henti. "Kalian ini ya... kemarin ketakutan setengah mati dikira jilbab kuning neon, sekarang malah beneran dapet jilbab merah cabai! Tapi jujur, cocok banget kok sama kalian. Cerah sekali pagi ini!"
"Ukhti Inggit jahat!" celetuk Nazwa polos, membuat Ukhti Maya semakin tertawa sampai harus bersandar di bahu Ukhti Inggit.
"Aduh, maaf ya, maaf..." ujar Ukhti Maya seraya berusaha meredakan tawanya dan mengusap napasnya yang terengah-engah. Ditatapnya Aira dan Nazwa dengan pandangan penuh kasih sayang dan kegemasan yang tak tertahan. "Ukhti ndak bermaksud ngetawain, tapi kalian berdua ini memang ada-ada saja tingkahnya. Mau dihukum tapi kok tetap kelihatan lucu."
Ukhti Maya berdiri, lalu merapikan lipatan jilbab merah Aira dan Nazwa agar tidak terlalu menutupi wajah mereka yang menggemaskan.
"Nah, sekarang anggap saja ini ujian kepemimpinan dari Ukhti Farida," kata Ukhti Maya lembut seraya mengelus puncak kepala mereka. "Berapa hari kena jilbab merah ini?"
"Dua hari, Ukhti..." sahut Aira dan Nazwa kompak dengan wajah lesu.
"Ya sudah, dijalani dengan ikhlas ya," tambah Ukhti Inggit sambil menyunggingkan senyum leburnya yang hangat. "Ingat, warna merah itu artinya berani! Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Lagian, anggap saja kalian lagi jadi maskot kebaikan di asrama minggu ini!"
"Maskot lagi..." gumam Aira pasrah, membuat Ukhti Inggit dan Ukhti Maya kembali tertawa kecil.
"Sudah-sudah, sana lanjut ke dapur umum sebelum makin banyak santri yang lihat 'maskot' kita hari ini," goda Ukhti Maya sambil melambaikan tangan.
"Nggih, Ukhti Maya, Ukhti Inggit... Pamit dulu..." pamit Aira dan Nazwa sambil membungkuk santun.
Keduanya kembali melanjutkan langkah menuju dapur umum dengan jilbab merah cabainya yang berkibar-kibar ditiup angin pagi. Di belakang mereka, Ukhti Maya dan Ukhti Inggit masih memperhatikan sambil tersenyum lebar, menikmati hangat dan konyolnya masa-masa muda santri yang selalu berhasil mewarnai hari-hari di pesantren.