Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Suara bor di dinding depan membangunkan seluruh jalan lebih awal dari kokok ayam tetangga.
Anindya turun dari angkot dengan udara dingin Bandung masih menempel di ujung hidungnya, dan langsung berhenti di trotoar. Dua orang tukang berdiri di atas tangga aluminium, sibuk memasang papan baru di atas pintu warung. Papan lama, yang huruf merahnya sudah memudar, tergeletak di trotoar seperti benda yang baru saja kehilangan arti.
Papan yang baru berwarna hijau tua, dengan huruf putih yang bersih dan tegas.
*Waroeng Sederhana.*
Tidak ada lagi nama Reyhan di sana.
"Kaget ya?"
Mbak Sari berdiri di sampingnya dengan jaket jeans dan tangan terlipat, matanya ikut menatap ke atas. Entah sejak kapan ia sampai.
"Mas Reyhan nyuruh ganti dari semalam," lanjutnya. "Tukangnya udah dipanggil jam lima subuh."
"Kok tiba-tiba, Mbak?"
"Tanya aja sendiri."
Tapi Anindya tidak perlu bertanya. Jawabannya muncul sendiri begitu ia melangkah masuk dapur dan mendengar suara Reyhan dari ruang makan, datar seperti biasa, menjelaskan sesuatu pada Teh Lilis yang berdiri dengan mulut sedikit terbuka.
"Nama pemilik di papan bikin orang ngomong macam-macam," kata Reyhan. "Mulai sekarang yang dibicarakan nama warungnya. Bukan nama saya."
"Tapi, Mas," kata Teh Lilis pelan, "warung ini kan dari dulu..."
"Dari dulu juga bisa ganti."
Hening. Di ambang pintu dapur, Anindya berdiri dengan tas masih di bahu. Ia tahu persis siapa yang dimaksud dengan *orang ngomong macam-macam.* Dan ia tahu persis siapa yang ikut menjadi bahan omongan itu, dan sedikit pun tidak mendapat kesempatan untuk memilih.
Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan marah, bukan sakit hati, tapi perasaan seseorang yang melihat sebuah nama dicabut dari dinding dan tahu bahwa sebagian dari alasan pencabutan itu adalah dirinya.
Reyhan menoleh. Matanya bertemu mata Anindya selama satu detik yang terasa seperti sepuluh. Lalu ia mengangguk singkat, hanya anggukan sopan seperti pada tamu yang tidak dikenal, dan berbalik masuk ke ruang kerjanya.
Hanya anggukan sopan. Tapi Anindya melihat satu hal yang tidak sempat disembunyikan: tangan laki-laki itu mengepal di sisi tubuhnya, sangat erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
---
Di balik pintu yang tertutup, Reyhan berdiri tanpa duduk.
Foto itu masih ada di ponselnya. Ia sudah memperbesarnya puluhan kali, mencari petunjuk sekecil apa pun: sudut pengambilan, kualitas gambar, bayangan di kaca. Diambil dari seberang jalan, kemungkinan dari depan minimarket di perempatan. Siapa pun bisa berdiri di sana. Pelanggan, tetangga, tukang parkir, atau seseorang yang ia kenal.
Dan itulah yang paling mengganggunya: ia tidak bisa mulai mencurigai siapa pun tanpa mulai mencurigai semua orang.
Dan di balik itu semua, ada sesuatu yang lebih sulit ia akui. Ia mengganti nama warung ini bukan hanya untuk menghentikan omongan. Ia melakukannya karena ia tidak sanggup melihat nama Anindya terus disebut di samping namanya. Ia ingin memindahkan semua tatapan dari perempuan itu, dan menaruhnya di atas dirinya sendiri.
Siang itu, ia mencoba satu cara. Bukan cara yang cerdas, tapi satu-satunya yang terpikir olehnya.
"Yoga."
Yoga, yang sedang membawa nampan berisi gelas kosong, hampir menjatuhkannya. "Iya, Mas?"
"Rumah kamu di mana?"
"Di... di timur, Mas. Arah Cicaheum."
"Kamu lewat Gang Mawar?"
"Nggak, Mas! Sama sekali nggak! Saya... saya nggak tahu Gang Mawar itu di mana!" Yoga berkeringat dingin. "Saya nggak pernah lewat sana, Mas, sumpah!"
Reyhan menatapnya lama. Anak itu terlalu polos untuk berbohong dan terlalu ketakutan untuk menyembunyikan apa pun. Ia menghela napas pelan.
"Ya sudah."
"Itu aja, Mas?"
"Itu aja."
Yoga kabur dengan nampan yang bergemerincing, dan Reyhan menyadari bahwa ia baru saja menanyai seorang pegawai tanpa alasan yang masuk akal, dan hanya berhasil membuat anak itu semakin yakin bahwa sesuatu yang aneh sedang terjadi.
---
Sepanjang hari, Anindya bekerja dengan wajah tenang dan telinga terbuka.
Tidak ada yang menyebut papan nama baru itu lagi, tapi semua orang memikirkannya. Teh Lilis menatap Reyhan dengan campuran khawatir dan iba. Rafi dan Yoga berbisik lebih sedikit dari biasanya. Dimas hanya mengangkat bahu ketika Jaka bertanya pendapatnya, tapi sudut matanya berkedut.
Dan Anindya sendiri, dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, melakukan sesuatu yang tidak ia rencanakan.
Siang itu, di sela jam yang sepi, ia berjalan pelan ke loker, membuka pintunya, dan mengeluarkan sebuah benda yang selama beberapa hari tersembunyi di dasar tasnya.
Sarung tangan kuning.
Warnanya sudah sedikit lusuh, tapi masih utuh. Ia menatapnya sebentar, mengusap permukaan karetnya dengan ibu jari. Di kepalanya ada banyak pertimbangan: tentang peraturan nomor dua, tentang gosip, tentang apa yang dikatakan Mbak Sari. Semuanya masuk akal, dan semuanya menyuruhnya menyimpan benda itu lagi.
Tapi ia teringat sesuatu yang lebih tua dari semua itu: sebuah malam di dapur kos, uap santan, dan suara ibunya. *Jangan simpan sesuatu yang bikin tanganmu hangat cuma karena orang lain nggak suka.*
Ia memakainya, satu per satu, dengan gerakan yang sangat tenang.
Di seberang dapur, seseorang yang sedang berjalan menuju ruang kerja berhenti di ambang pintu.
Reyhan berdiri di sana dengan sebuah map di tangan. Ia menatap tangan Anindya yang kini kembali terbalut kuning, lalu naik ke wajahnya. Anindya tidak menatapnya. Ia hanya membuka keran, mulai mencuci piring, seolah tidak ada siapa pun di ruangan itu.
Tapi punggungnya tegak. Terlalu tegak untuk orang yang benar-benar tidak peduli.
Sesuatu bergerak di wajah Reyhan. Bukan senyum, bukan lega, tapi sesuatu yang lebih sulit disebutkan namanya, seperti seseorang yang baru saja menerima jawaban atas pertanyaan yang tidak pernah ia ajukan keras-keras. Perempuan itu memakainya lagi, bukan untuk membantah, bukan untuk membela, hanya karena tangannya berhak merasa hangat.
Di dekat penggorengan, Dimas melihat semuanya. Rahangnya mengeras.
Di meja potong, Mbak Sari menunduk dalam-dalam ke arah bawang bombainya, dan bibirnya melengkung, hanya sedikit, hanya sebentar.
---
Malam itu, selepas semua orang pulang, Reyhan duduk sendirian di ruang kerja yang gelap.
Ponselnya bergetar di atas meja. Ia sudah menduga sebelum melihat layarnya. Nomor yang sama. Pesan yang baru.
*Ganti papan nama nggak akan ganti omongan orang.*
Reyhan membaca kalimat itu satu kali. Lalu ia meletakkan ponselnya terbalik di atas meja, menyandarkan punggung, dan menatap langit-langit yang gelap.
Di luar, suara hujan mulai turun pelan di atas atap seng. Ia tidak menyalakan lampu.
Ia baru menyadari satu hal yang paling tidak ingin ia akui. Papan nama baru itu bukan hanya untuk menghentikan omongan orang. Ia mengganti nama warung itu untuk melindungi seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa ia sedang dilindungi.
Dan itu tidak berhasil.
Ia memejamkan mata. Dan di balik kelopak matanya, muncul sebuah gambar yang tidak ia undang: tangan-tangan kecil berbalut kuning yang membuka keran, dengan punggung yang tegak terlalu lama. Ia tahu perempuan itu sedang melawan dengan satu-satunya cara yang ia punya: tidak pergi.
Dan untuk pertama kalinya sejak nama itu dicopot dari dinding, ia merasa malu bahwa ia tidak punya keberanian untuk melakukan hal yang sama.
Bersambung ke Bab 12...