Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Buah Kesabaran
Malam datang dengan wajah benderang. Ribuan bintang berkelip di langit yang bersih tanpa satu pun noda awan. Seorang perempuan yang tak lagi muda namun kecantikannya terawat dan terjaga, duduk seorang diri di balkon lantai dua menikmati keindahan angkasa. Sendiri tak berarti sepi. Justru merasa sangat tenang dan bahagia.
Anak dan menantu berada di Bekasi. Ada yang kurang memang. Malam ini tak mendengar aduan menantu yang kesal dan gregetan karena Diaz selalu nempel jika sedang duduk bersama. Ia pun tak ada celah meledek sang anak yang nyatanya kecintaan terhdap Tya. Malam ini sepi dari tawa. Tetapi hati damai dan bahagia.
Biarkan dua wayang itu menikmati kemesraan yang baru tercipta seumur jagung. Suri tak merasa sepi setelah selesai dengan diri sendiri. Di tengah kubangan stigma sosial yang negatif, status jandanya dimaknai sebagai simbol kemerdekaan diri dan keberanian perempuan dalam menentukan langkah ke depan.
Jadi pengen update status.
Suri memotret langit yang gemerlap oleh ribuan bintang. Lalu fotonya ini dikirim ke pembaruan status WhatsApp. Tanpa caption. Cukup potret yang mewakili refleksi suasana hati. Ada empat orang yang ia blok nomor kontaknya. Hilman, Selly, Boby, Leony. Empat orang itu bukan sekadar tak bisa lagi mengintip statusnya, tetapi juga tak bisa merecoki kehidupannya.
Bunyi notifikasi seolah berkejaran saat Suri menyesap teh chamomile yang sudah menghangat. Sangat jarang ia membuat status yang bersifat pribadi. Dominan memposting kilau emas aneka rupa baik berupa display ataupun yang dikenakan model.
[Ibuuu... So pasti lagi di balkon nih. Aku kenal angle nya 🤩]
Suri terkekeh. Membaca balasan Tya spontan mengikuti nada menantunya itu.
[Tau aja. Lagi apa, sayang?]
Di saat yang sama ada lima pesan masuk yang antri untuk dibuka. Terlihat ada pop up chat terbaru, salah satunya dari Husain. Nanti dulu. Selesaikan dulu chat dengan menantu.
[Nunggu Abey lagi mandi. Yang Mulia baru pulang lembur, bu. Pulang hampir jam tujuh]
Suri tertawa sendiri. Di alam yang hening ini, tawa renyahnya yang pelan terdengar nyaring. Ia selalu geli setiap kali mendengar Tya memanggil Diaz dengan sebutan 'Yang Mulia'.
[Buuuu... Aku mau siapin dulu makan ya. Gpp udahan dulu, bu?]
...[It's okay, sayang. Ibu juga mau sibuk balesin chat yang antri]...
Dan yang menarik untuk segera dibuka adalah chat dari Husain. Sempat terbaca sekilas tetapi tidak tuntas.
[Hm... Bukan sekadar potret malam. Tapi ada pesan yang disampaikan pemotretnya. Oke. Coba aku urai ah...]
[Kegelapan malam yang biasanya sunyi berubah menjadi indah karena kehadiran Bintang, menyimbolkan hati yang bebas dari beban berat]
[Ribuan bintang merepresentasikan banyaknya asa, mimpi, atau hal-hal positif yang sedang diyakini akan terwujud]
[Ada rasa kagum dan syukur yang besar. Seolah jiwamu sedang merayakan keindahan yang ada di sekelilingmu]
[Benarkah begitu my best friend Granada Suri? 😎]
Senyum Suri merekah. Lalu beralih tawa kecil diiringi geleng-geleng kepala. "Husain... Husain. Bakat sastra kau ternyata nggak luntur dimakan usia," ujarnya bermonolog. Tersirat kekaguman di netranya yang berkilat.
[Husain... Kau lagi santai kah? call me back plis]
Tak butuh hitungan menit. Hanya dalam hitungan detik sejak pesan terkirim, nada dering terdengar. Panggilan masuk dari Husain.
***
Tya undur dari keterlibatan berbincang dengan Diaz dan Bisma setelah bergabung hampir satu jam lamanya. Pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Menyusul Susan yang juga sudah masuk ke kamar setelah lebih dulu menemani Nesha di kamarnya sampai tertidur. Membiarkan dua pria yang disayanginya itu melanjutkan berbincang yang terlihat masih asyik.
Tya berganti baju tidur. Menyisir rambut dan mengaplikasikan skincare malam. Tidak lupa menyemprotkan minyak wangi yang biasa dilakukannya sebelum naik ke peraduan. Memiliki tubuh yang wangi bukan hanya untuk menyenangkan suami, tetapi juga untuk kenyamanan pribadi.
Lampu terang dimatikan. Berganti lampu tidur yang menghasilkan warna oranye sesuai warna bohlam mini yang nempel di dinding.
Mending pura-pura tidur duluan biar nggak jadi minta tanda terima kasih.
Tya terkikik sebelum menarik selimut sampai ke ketiak. Menutupi baju tidur seksi yang dikenakannya. Tanpa berdiskusi, Diaz membeli spring bed queen size atau nomor dua dengan merek ternama yang begitu dicek harganya tidak kaleng-kaleng. Empuk, nyaman, dan lembut. Pas untuk tidur berdua. Beda dengan punya Tya sebelumnya yang berukuran nomor tiga, tidur berdua jadi mepet-mepet. Kalau ingin leluasa salto, ya kasur di kamar Diaz di Jakarta—ukuran 200 cm x 200 cm.
Gerak kasur yang mengombak membuat Tya yang kebablasan terlelap, perlahan membuka mata. Lalu menggeliat menahan geli karena Diaz menggelitik pinggangnya setelah selimut ditarik.
"Eits, nggak boleh tidur. Kan aku udah pesan paha sama dada mentah 2 porsi." Diaz mengungkung di atas tubuh Tya. Tidak lama. Ia berguling, membalik posisi sehingga Tya berada di atasnya.
"Tanda terima kasih untuk semua surprise mana? Totalnya..."
"Ih pamrih." Tya membekap bibir Diaz dengan tangannya. Menghentikan kalkulasi yang akan dirinci. Membuat suaminya yang selalu tidur tanpa baju itu menyeringai, lalu menunjuk kening. Artinya, ciuman pertama dimulai dari atas lalu nantinya perlahan turun, turun, dan turun.
"Bey..." Tya menarik bibir saat sudah menyatu dengan bibirnya Diaz. Tugasnya malam ini harus melayani sesuai kemauan Diaz.
"Hm..."
"Jangan teriak ya. Pokoknya jangan bersuara apapun. Bisa kedengaran ke kamar sebelah."
"Ah nggak seru. Biar aja. Mereka pasti maklum."
Tya mendelik mendengar jawaban santai Diaz yang tangannya mulai meremas bokong. "Jangan dong, Bey. Malu. Nggak jadi ah nyervisnya."
"Oke-oke. Aku mendesah aja nggak akan teriak." Diaz menahan punggung Tya yang akan turun dari atas tubuhnya.
Tya tersenyum. "Good boy," sahutnya sambil mengecup bibir Diaz.
***
Ini hari kedua Diaz kembali mendatangi pabrik. Masih ada PR yang belum selesai kemarin. Targetnya, hari ini selesai melakukan reshuffle. Sorenya kembali ke Jakarta karena besok sudah ditunggu jadwal yang padat di kantor pusat.
Setelah mengantar ke teras hingga mobil Diaz hilang dari pandangan, Tya masuk ke dalam rumah yang menguar harum aroma kue yang berasal dari dapur. Ada dua orang tenaga borongan yang membantu Susan setiap kali ada pesanan banyak.
Tya menghampiri Susan yang sedang menyusun kemasan snack di tengah rumah. Mau ikut membantu. "Mbak, pesananku yang buat oleh-oleh udah dipisahin?"
"Belum, Tya. Tenang aja masih ada yang dioven. Yang ini buat ke kelurahan dulu. Jam 10 harus udah sampai, mau ada kegiatan rapat.
"Oke-oke. Takut nggak kebagian." Tya terkekeh. Mulai menyingsingkan lengan baju, membantu mengisi kotak dengan lima rupa isian.
Nesha keluar dari kamarnya yang setelah mandi anteng berdandan sendiri tidak mau ditemani bundanya. "Tante, kan mau ajak aku naik mobil bagus. Aku udah cantik nih, Tante Tya."
Tya menoleh. Mengapresiasi sang keponakan yang sudah rapi dan wangi dengan rambut digerai memakai bando warna merah muda. "Sabar dong. Abis bantu Bunda, nanti kita kita cap cus."
"Lagian Nesha harus belajar dulu, sayang. Lanjutin mewarnai ya, cantik."
"Oke, Bunda. Tapi bukunya ambilin sama Bunda."
Tya menatap dengan senyum menggantung di bibir melihat interaksi ibu dan anak yang berada di ruang tamu. Kehangatan keluarga sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Di saat sanak saudara menjauhi setelah orang tua tidak ada dikarenakan ekonomi tak semapan dulu, masih ada kerukunan yang terjaga antara ia dan sang kakak juga kakak ipar yang menerima tinggal bersama dalam keadaan sederhana karena harus berbagi pengeluaran untuk membayar bunga ke rentenir.
Buah kesabaran bersama kini mulai terasa manisnya. Tya berjanji pada diri sendiri akan selalu membantu ekonomi keluarga kecil kakaknya. Salah satu alasan kenapa ia tak ingin pamer pada orang-orang tentang siapa sosok suaminya itu, khawatir sanak keluarga yang selama ini menjauh tiba-tiba mendekat karena ada maunya. Ia hanya mau berinteraksi dan dekat dengan orang-orang yang tulus.
gak ada notifikasi...bikin syedih
wellleeehhhh bikin mood jelek aja yaa Bu....kok nanya warisan sama ibu Suri sihhh sana nanya Pak Hilman dong ihhh dasar gak tau malu😤
waaahhhhhh klo helm harga segitu yaaa pasti enak d pake aja Tya jangan d lepas auto ilang dong hahaha
Alhamdulillah mood mas Diaz udah ok lagi...emang d kantor kemarin ngobrolin apa.sih mas ihhh penasaran deh
makasih kak Nia up nya 🙏🏻❤️
bagus Bu suri jgan di gubris
ngebayangin nemplok kaya cicak trus tangannya dimasukin ke dalam celana..
fix itu mah lagi benerin yang mengsol di dalam celana. eh
Dahal momen jjm ke pasar malam bisa jadi momen yang pas..
Kann lebih baik Tya tau dari Diaz langsung drpd Tya taunya dari orang lain 🤔🤔