IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Pertemuan yang Tak Terduga
Suatu sore yang cerah di pertengahan musim semi, Brooklyn memutuskan untuk keluar sejenak dari kesunyian penthouse yang selama berbulan-bulan terakhir terasa semakin menyesakkan. Ia berjalan tanpa tujuan pasti di sepanjang Madison Avenue, menikmati udara segar dan cahaya matahari yang menghangatkan wajahnya setelah sekian lama terkurung dalam kehampaan emosional yang mendalam.
Langkahnya membawanya menuju sebuah kedai kopi kecil bernama The Amber Cup, tempat yang cukup tersembunyi di antara gedung-gedung tinggi Manhattan, dengan suasana hangat dan nyaman yang jauh berbeda dari kemewahan dingin penthouse tempat ia tinggal selama ini. Ia memutuskan untuk masuk, berharap secangkir cappuccino hangat bisa sedikit menghangatkan hatinya yang telah lama membeku.
Namun begitu ia melangkah masuk dan memesan kopinya di meja kasir, sebuah suara familiar tiba-tiba memanggil namanya dari salah satu meja di sudut ruangan.
"Brooklyn? Brooklyn Hartley, benarkah itu kau?"
Brooklyn menoleh, terkejut mendapati sosok pria yang tidak asing baginya—rambut cokelat gelap yang selalu tertata rapi, mata hijau yang hangat, dan senyum ramah yang begitu ia kenali meski sudah bertahun-tahun tidak berjumpa.
"Vincent?" ucapnya tidak percaya, matanya membelalak lebar mengenali sahabat masa kecilnya yang telah lama tidak ia temui. "Vincent Adler? Astaga, sudah berapa lama sejak terakhir kali kita bertemu?"
Vincent bangkit dari kursinya dengan senyum lebar, melangkah mendekat untuk memberikan pelukan singkat yang hangat, seperti sambutan sahabat lama yang telah lama merindukan pertemuan ini. "Sudah hampir enam tahun, kurasa. Sejak kau pindah untuk kuliah di Yale, dan aku melanjutkan studi bisnisku di Chicago."
Brooklyn tersenyum tulus untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, sebuah senyum yang tidak dipaksakan seperti yang biasa ia tunjukkan di depan Liam. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, di New York."
"Aku baru saja pindah kembali bulan lalu," jelas Vincent, mempersilakan Brooklyn duduk di meja yang sama dengannya. "Aku diterima bekerja di sebuah firma investasi di sini. Kebetulan sekali kita bertemu seperti ini."
Mereka berdua duduk berhadapan, memesan minuman masing-masing sambil melanjutkan perbincangan yang dipenuhi kenangan masa kecil mereka—masa-masa ketika Brooklyn dan Vincent tumbuh besar bersama sebagai tetangga di kawasan Connecticut, sebelum akhirnya kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda.
"Aku dengar kau sudah menikah," ucap Vincent setelah beberapa saat, nada suaranya sedikit berubah, lebih hati-hati dibandingkan sebelumnya. "Dengan Liam Whitmore, benar?"
Senyum Brooklyn perlahan memudar mendengar nama itu disebutkan. "Ya, benar. Sudah hampir setahun sejak pernikahan kami."
Vincent memperhatikan perubahan ekspresi Brooklyn dengan seksama, matanya menyipit sedikit penuh perhatian. "Kau terlihat berbeda, Brooklyn. Bukan berarti aku ingin ikut campur urusan pribadimu, tapi... apakah semuanya baik-baik saja?"
Brooklyn menghela napas panjang, menatap cangkir cappuccino di hadapannya yang uapnya perlahan menghilang. "Pernikahan ini... rumit," jawabnya akhirnya, memilih kata-kata dengan hati-hati, tidak ingin mengungkapkan terlalu banyak kepada seseorang yang telah lama tidak ia temui, meski Vincent adalah sahabat lamanya.
Vincent terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berbicara dengan nada yang lebih serius. "Brooklyn, aku harap kau tidak keberatan aku mengatakan ini. Tapi sejujurnya, aku selalu menyimpan perasaan untukmu sejak dulu, sejak kita masih remaja. Aku selalu berpikir suatu hari kita mungkin akan berakhir bersama, sampai aku mendengar kabar pernikahanmu dengan Liam Whitmore."
Kata-kata itu membuat Brooklyn terkejut, matanya membelalak menatap Vincent yang kini terlihat sedikit gugup namun tetap tulus dalam menyampaikan perasaannya.
"Vincent, aku—"
"Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, mengingat kau sudah menikah," lanjut Vincent cepat, seolah ingin menyelesaikan kalimatnya sebelum kehilangan keberanian. "Tapi aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya. Dan aku juga ingin mengatakan, aku sangat menyayangkan keputusanmu menikahi pria itu. Aku dengar banyak cerita tentang bagaimana dia memperlakukanmu, Brooklyn. Kau pantas mendapatkan seseorang yang benar-benar menghargaimu, bukan seseorang yang terus membandingkanmu dengan wanita lain."
Brooklyn terdiam, tidak tahu harus merespons seperti apa. Sebagian dari dirinya merasa tersentuh oleh ketulusan Vincent, namun sebagian lain merasa canggung mendengar pengakuan semacam ini, terlebih statusnya sebagai wanita yang telah menikah.
"Aku menghargai kejujuranmu, Vincent," ucapnya akhirnya, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Tapi aku masih terikat pernikahan dengan Liam, terlepas dari segala kesulitan yang kami hadapi."
"Aku mengerti," Vincent mengangguk, meski kekecewaan sedikit terlihat di matanya. "Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin kau tahu bahwa ada seseorang di luar sana yang benar-benar menghargaimu, Brooklyn. Jika suatu hari kau membutuhkan seseorang untuk bicara, atau bahkan hanya seorang teman untuk menemanimu, aku selalu ada."
Perbincangan mereka berlanjut dengan suasana yang lebih ringan setelah momen canggung itu, kembali membicarakan kenangan masa kecil dan berbagai cerita ringan yang membuat Brooklyn tertawa lepas untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama. Untuk sesaat, ia merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari kehidupannya—kehangatan persahabatan yang tulus, tanpa penghinaan atau penolakan yang selama ini selalu menyertai interaksinya dengan Liam.
Namun tanpa mereka berdua sadari, di seberang jalan dari kedai kopi tersebut, Liam Whitmore kebetulan sedang melewati area itu setelah menghadiri pertemuan bisnis singkat dengan salah satu kliennya. Ketika matanya secara tidak sengaja menangkap sosok Brooklyn yang duduk di dalam kedai kopi, tertawa lepas bersama seorang pria yang tidak ia kenali, langkahnya seketika terhenti.
Liam berdiri diam di seberang jalan, menatap melalui jendela kaca besar kedai kopi itu, menyaksikan istrinya tertawa dengan begitu bebas—sebuah ekspresi yang tidak pernah ia lihat sejak pernikahan mereka dimulai. Ada sesuatu yang aneh menggelayuti dadanya melihat pemandangan itu, sebuah perasaan yang sulit ia definisikan—apakah itu rasa penasaran, sedikit rasa tidak nyaman, atau mungkin sesuatu yang lebih rumit yang enggan ia akui pada dirinya sendiri.
Ia memperhatikan bagaimana pria asing itu berbicara dengan penuh perhatian kepada Brooklyn, bagaimana Brooklyn tersenyum dan tertawa dengan begitu tulus, jauh berbeda dari sosok pendiam dan muram yang selama beberapa hari terakhir selalu ia lihat di rumah mereka.
Untuk beberapa saat, Liam mempertimbangkan untuk masuk dan mengonfrontasi mereka berdua, menuntut penjelasan tentang siapa pria itu dan mengapa istrinya tampak begitu nyaman bersamanya. Namun entah kenapa, sesuatu menahannya—mungkin kesadaran bahwa ia sendiri tidak pernah memberikan hak kepada Brooklyn untuk merasa bahagia semacam ini, atau mungkin rasa gengsi yang terlalu besar untuk mengakui bahwa pemandangan itu mengganggunya lebih dari yang ingin ia akui.
Liam akhirnya memutuskan untuk tidak masuk. Ia berbalik dan berjalan menjauh dari kedai kopi itu, pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia duga akan muncul—pertanyaan tentang siapa pria itu, tentang bagaimana Brooklyn bisa terlihat begitu bahagia bersama seseorang yang bukan dirinya, dan entah kenapa, pertanyaan tentang perasaannya sendiri yang mulai bergejolak tanpa bisa ia jelaskan.
Ia tidak mengatakan apa pun tentang apa yang ia saksikan sore itu ketika akhirnya bertemu Brooklyn di penthouse mereka malam harinya. Namun sepanjang sore hingga malam itu, matanya berkali-kali melirik ke arah istrinya dengan tatapan yang penuh pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan, sementara di dalam dadanya, sesuatu yang asing mulai tumbuh perlahan—sebuah benih kecemburuan yang, tanpa Liam sadari, hadir di dalam benaknya.