Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Lunaira Amera adalah seorang gadis bodoh yang mungkin saja sedang tertutup mata dan hatinya. Sebuah makna tersirat yang mengatakan bahwa cinta itu buta, mungkin hal itulah yang saat ini terjadi pada gadis tersebut. Tidak heran begitu banyak pendusta yang berada di sisinya, namun seakan ia tak pernah menyadari akan hal itu, walaupun sebenarnya semua hal telah berputar dan terus nampak di depan matanya.
"Akhhh mengapa kamu begitu nakal? Tidakkah kamu melihat situasi? Arkan hentikan... Akhhh..." ucap sebuah suara rintihan halus yang berasal dari mulut kecil Rachel sahabat dekat Luna.
Suara kecupan terdengar begitu keras, diiringi dengan desahan yang menggema memenuhi ruangan kantor tersebut.
"Ayolah... Si bodoh itu terlalu cinta padaku, ia tidak akan menyadarinya walaupun semua halnya begitu jelas terlihat." ucap Arkan dengan raut wajah yang begitu angkuh.
Mendengar hal tersebut membuat seulas senyum tipis terlihat jelas di wajah Rachel. Ia jelas tahu apa yang di maksud oleh pria di hadapannya saat ini.
Rachel kemudian nampak menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu mendorong dada bidang milik Arkan beberapa senti menjauh dari tubuhnya.
"Lalu, apa kau akan terus selamanya seperti ini? Bagaimana soal pengalihan saham yang terus kau banggakan itu? Apakah kau berhasil mengelabuinya?" ucap Rachel yang lantas membuat Arkan mengernyit menatap ke arah Rachel dengan tatapan yang serius.
"Ayolah, aku ini Arkan... Hal seperti itu sangatlah mudah ku lakukan. Aku hanya perlu menunjukkan sisi lembut ku kepadanya, maka Luna si bodoh itu akan memberi ku segalanya hahahaha.." ucap Arkan dengan senyum mengembang di wajahnya.
Mendengar hal tersebut Rachel tampak cemberut sambil memukul kecil dada bidang milik Arkan.
"Jangan bercanda, sudah atau belum? Aku benar-benar muak harus berakting setiap hari sebagai pemujanya. Iyuhhh benar-benar menjijikkan!" ucap Rachel dengan raut wajah yang geli, seakan tengah membayangkan sebuah kotoran yang menjijikkan.
Arkan yang mendapati raut wajah geli milik Rachel, lantas langsung membuka kotak laci di sebelahnya dan mengeluarkan sebuah dokumen, yang lantas mengundang tanda tanya besar di benak Rachel.
"Apa itu?" tanya Rachel dengan raut wajah yang penasaran.
"Tentu saja tiket menuju kekayaan yang tak akan pernah habis!" ucap Arkan dengan wajah yang girang.
Rachel yang seakan tahu apa maksud dari perkataan Arkan, lantas langsung memeluk tubuh pria itu dan mendaratkan kecupan membabi buta pada wajah dan juga area tengkuk Arkan.
"Aku benar-benar mencintai mu sayang .... Aku mencintaimu...." ucap Rachel tepat di telinga Arkan, yang membuat Arkan langsung tersenyum simpul ketika mendengarnya.
Tepat setelah perkataan tersebut menembus indra pendengarannya, tanpa membuang-buang waktu lagi, Arkan lantas langsung mengangkat tubuh Rachel dan menempatkannya di atas meja.
Kecupan demi kecupan yang berubah menjadi ciuman yang ganas kini tak bisa lagi terhindarkan.
Ruangan kantor yang seharusnya menjadi tempat untuk bekerja, kini seakan menjelma menjadi tempat terindah untuk memadu kasih di antara dua insan yang tengah menikmati surga dunia, meskipun harus menari di atas luka seorang gadis yang tanpa sadar sedari tadi tengah mendengar semua pembicaraan keduanya.
****
Sementara itu di balik pintu ruangan kantor Arkan.
Setetes demi setetes air mata jatuh dalam mulut yang membungkam bak di sambar petir di siang bolong.
Luna sama sekali tak menyangka jika Arkan, pria yang ia nikahi setahun belakangan ini tega menusuknya dengan sebuah bilah pisau yang berbalut dengan kain putih kesayangannya.
Rachel adalah sahabat yang tak pernah ia bayangkan mampu merusak, bahkan merebut segala hal yang seharusnya bukan menjadi miliknya.
"Jadi selama ini semuanya hanya sebuah sandiwara?" rintihnya pelan dalam isak tangis yang tak mampu ia bendung.
"Aku meninggalkan kedua orang tua ku dan membuat mereka terpukul hebat karena kelakuan ku, tapi ini balasannya untuk ku? Ma... Pa... Luna benar-benar menyesal tidak pernah mendengarkan perkataan kalian. Maaf..." ucap Luna yang tak tahu lagi harus bagaimana.
Tak kuasa mendengar suara rintihan Rachel yang terus meraung dan memenuhi indra pendengarannya, Luna lantas berlari pergi keluar dari gedung perkantoran yang membuat dadanya begitu sesak.
***
Area pejalan kaki
Gadis itu kemudian bergegas menelpon asisten rumah tangga di area Rumah tua, berharap ia bisa memohon ampun kepada kedua orang tuanya atas setiap kesalahan yang telah ia lakukan.
"Halo nona ..." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Bi.. Bisa Bibi berikan telponnya kepada Mama atau Papa? Luna ingin mengatakan sesuatu..." ucap Luna sambil menggigit bibir bagian bawahnya menahan isak tangis yang tak bisa ia bendung.
"Maaf nona, Ibu dan Bapak telah pergi untuk selamanya... Perusahaan yang terus mengalami kerugian membuat Bapak tak bisa menerima kenyataan dan terkena serangan jantung." ucap Bi Asih dengan nada yang bergetar.
"Apa? Lalu bagaimana dengan Mama?" ucap Luna yang kembali di buat terkejut.
"Saya... Saya benar-benar minta maaf nona, setelah kepergian nona muda, Ibu jatuh sakit kemudian meninggal beberapa bulan kemudian... Bapak yang tak ingin membuat nona muda bersedih terpaksa menutupi kabar duka ini dan tak pernah memberitahu nona muda tentang kematian Ibu anda." ucap Asih yang lantas langsung meruntuhkan dunia Luna detik itu juga.
Ponsel yang semula tersemat di telinga gadis tersebut lantas jatuh begitu saja tergeletak di tanah. Kenyataan pahit yang datang bertubi-tubi membuat gadis itu terpukul dengan hantaman yang begitu keras.
Di tengah keterpurukan yang membuat hatinya begitu hancur, sebuah mobil terlihat berhenti menepi di sebelahnya, membuat gadis itu buru-buru mengusap air matanya yang berlinang.
Bruk....
Sebuah suara pintu mobil yang baru saja tertutup, memperlihatkan Arkan yang saat ini tengah berjalan mendekat ke arahnya.
"Arkan Papa .... Papa meninggal... ayo antar aku ke sana aku mohon...." ucap Luna sambil memegang erat lengan pemuda itu, namun sayangnya langsung di tepis begitu saja oleh Arkan.
"Sudah cukup, aku sudah muak dengan mu.... Aku tidak akan berpura-pura lagi Luna, aku tahu kau mendengar semua pembicaraan antara aku dan Rachel di kantor tadi bukan? Jadi mari kita akhiri semua ini!" ucap Arka dengan raut wajah yang datar.
"Tidak! Aku tahu kamu hanya khilaf bukan? Aku...aku masih bisa memaafkan mu asalkan kau bisa membantu ku Arkan... Aku mohon kembalikan semuanya dan bantu aku meyakinkan para pemegang saham atas masalah penurunan harga saham kali ini." ucap Luna dengan nada memohon.
"Cih dasar gak tahu diri! Kau sudah bukan bagian dari perusahaan lagi! Apa yang terjadi dengan perusahaan itu bukan urusan mu lagi karena mulai detik ini aku adalah pemilik yang sah dari perusahaan tersebut!" ucap Arkan yang membuat manik mata Luna terbelalak.
"Apa?" ucap Luna menatap tak percaya ke arah Arkan.
Bersambung