NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang

Saat melewati tirai awan yang memisahkan Lautan Pasir dan Benua Tengah, Lin Xuan merasakan tekanan spiritual yang jauh berbeda.

Udara dipenuhi kabut herbal dan embun spiritual. Qi di sini sepuluh kali lebih pekat daripada Benua Bawah. Namun semakin pekat Qi, semakin berat pula tekanan alamnya.

Bruk!

Xiao Ya langsung jatuh berlutut. Wajahnya pucat dan napasnya berat. Tubuhnya terasa seperti ditindih gunung.

"T-Tuan Muda... tubuhku terasa sangat berat."

Lin Xuan tetap berdiri tegak. Fondasi Singgasana Kaisar berputar perlahan tanpa terpengaruh sedikit pun.

"Inilah tekanan alam Benua Tengah. Jangan melawannya dengan tenaga kasar. Alirkan Qi ke seluruh tubuh dan biarkan tubuhmu menyesuaikan diri."

Ia melemparkan Pil Pembuka Meridian ke tangan Xiao Ya.

"Telan. Lalu atur napasmu."

Xiao Ya segera mengikutinya. Setelah seperempat jam, napasnya mulai stabil dan ia akhirnya mampu berdiri.

"Kau akan terbiasa dalam tiga hari."

Lin Xuan menatap hutan di hadapan mereka.

"Kita cari kota terdekat. Kita butuh peta dan informasi."

Mereka berjalan selama setengah hari sebelum tiba di sebuah tebing.

Di bawah sana terbentang sebuah kota raksasa. Luasnya hampir seratus kali Ibukota Langit Angin. Temboknya dibangun dari bijih besi hitam dan dipenuhi formasi pertahanan yang kuat.

Lin Xuan menyipitkan mata.

"Sepertinya kita sudah menemukan tempat pertama untuk memulai."

Di langit kota, cahaya pedang dan binatang terbang melintas tanpa henti. Para kultivator bebas keluar masuk melalui gerbang.

Kota Bintang Jatuh.

Lin Xuan membaca tulisan besar di atas gerbang.

"Kota perbatasan paling selatan Benua Tengah. Tempat yang bagus untuk memulai."

Namun langkahnya terhenti.

Kekuatan Jiwanya menangkap keributan di gerbang. Puluhan penjaga berjubah merah sedang memeriksa setiap pendatang. Di dinding, terpampang sebuah poster buronan.

Wajah di poster itu adalah Lin Xuan dan Xiao Ya.

"Perintah buruan benua!"

"Sekte Api Suci menawarkan sepuluh juta Batu Roh tingkat menengah, satu Artefak Tingkat Surga, serta kedudukan Tetua Kehormatan bagi siapa pun yang berhasil membawa kepala buronan!"

Xiao Ya menelan ludah.

"Tuan Muda... seluruh Benua Tengah sedang memburu kita."

Lin Xuan hanya mendengus.

"Sepuluh juta Batu Roh? Ketua Sekte Api Suci terlalu pelit. Harga kepalaku seharusnya cukup untuk membeli sektenya."

Ia menarik Xiao Ya ke balik pepohonan.

"Tapi untuk sekarang kita belum bisa berhadapan langsung dengan ahli Kekosongan Ilahi. Aku butuh banyak sumber daya untuk menerobos Inti Emas."

Lin Xuan mengeluarkan dua pil kelabu dari cincin penyimpanannya.

"Telan ini. Pil Pengubah Tulang Tak Berwujud. Rasanya akan sedikit menyakitkan."

Xiao Ya langsung menelannya.

Krek! Krek!

Tulang-tulangnya berderak. Tubuhnya perlahan berubah. Wajah cantiknya menjadi lebih kasar. Kulitnya menggelap. Dalam beberapa tarikan napas, ia berubah menjadi pemuda kurus yang tampak biasa.

Lin Xuan juga menelan pil itu.

Dengan kendali tubuhnya yang sempurna, ia mengubah penampilannya. Wajah tampannya memudar. Rambutnya memutih sebagian dan tubuhnya sedikit menyusut. Auranya pun ditekan hingga hanya tersisa tingkat Kondensasi Qi Lapisan Kelima.

Kini, tak ada seorang pun yang akan menghubungkan mereka dengan dua buronan yang sedang diburu seluruh Benua Tengah.

Dalam sekejap, sosok pemuda yang ditakuti itu lenyap. Kini Lin Xuan tampak seperti sarjana paruh baya yang pucat dan sakit-sakitan.

"Mulai sekarang panggil aku Tuan Mo. Kau adalah pelayanku, Ah Ya."

"B-baik, Tuan Mo."

Dengan penyamaran itu, mereka melewati penjaga Sekte Api Suci tanpa dicurigai. Tak seorang pun menyangka sarjana lemah itu adalah buronan yang sedang mereka cari.

Memasuki Kota Bintang Jatuh, Lin Xuan segera melihat perbedaan Benua Tengah. Kultivator Pembentukan Yayasan bisa ditemukan di mana-mana. Bahkan kultivator Inti Emas hanya menjadi pedagang atau penjaga toko.

Lin Xuan membawa Xiao Ya ke pasar bawah kota. Ia berhenti di depan sebuah toko pil yang hampir roboh.

Papan namanya bertuliskan Toko Daun Emas.

Di dalam, seorang pria gemuk sedang memunguti pil yang telah hancur. Wajahnya penuh lebam dan darah hitam menetes dari sudut bibirnya.

Lin Xuan masuk sambil memainkan kipas lipat.

"Toko ini dijual?"

Pria gemuk itu mendongak. Tatapannya penuh keputusasaan.

"Jika Tuan punya uang, belilah toko di jalan utama. Tempat ini sudah dikutuk Asosiasi Alkemis Bintang Jatuh."

Ia batuk dan memuntahkan darah hitam.

"Mereka menghancurkan tokoku dan meracuni Dantianku. Siapa pun yang berani membelinya akan ikut dibunuh. Aku sudah bangkrut dan tinggal menunggu ajal."

"Begitu?"

Lin Xuan tersenyum tipis.

"Aku justru suka tempat terkutuk. Biasanya harganya lebih murah."

Tiba-tiba, langkah kaki angkuh terdengar dari pintu. Tiga pemuda berjubah alkemis masuk. Lencana Tingkat 3 terpasang di dada mereka.

Pemimpinnya, Ma Teng, menatap Shen Fugui dengan jijik.

"Shen Gemuk, ternyata kau masih belum mati."

Tatapannya beralih pada Lin Xuan.

"Siapa orang tua ini? Toko ini milik Asosiasi Alkemis. Pergi sebelum kubakar janggutmu!"

Api ungu muncul di telapak tangannya.

Lin Xuan bahkan tidak bergeming. Ia hanya mengendus lalu menutup hidung dengan kipas.

"Bau yang menyengat. Api Ungu Pemakan Tulang. Kau mencampurnya dengan Rumput Hantu untuk memperkuat apinya."

Ma Teng tertegun.

"Sayang sekali fondasi Qi-mu berunsur kayu. Memaksa api berunsur kematian masuk ke meridianmu. Setiap tengah malam, dadamu pasti terasa seperti ditusuk jarum."

Wajah Ma Teng berubah pucat.

"B-Bagaimana kau tahu?"

"Karena kau sedang sekarat." Lin Xuan melangkah maju.

"Alirkan Qi ke titik vitalmu."

Ma Teng tanpa sadar menurutinya.

Saat Qi menyentuh titik tersebut...

"Uarghh!"

Ma Teng memuntahkan darah. Api ungu di tangannya padam dan ia jatuh berlutut sambil mencengkeram dada.

"K-Kau... sebenarnya siapa?!"

Kedua pengawalnya segera membantunya keluar.

Lin Xuan hanya tersenyum tipis.

Tak perlu menghunus pedang. Dengan sedikit pengetahuan, seorang alkemis Tingkat 3 sudah bisa dibuat bertekuk lutut.

Shen Fugui menatap Lin Xuan dengan takjub. Selama puluhan tahun berdagang di kota ini, ia belum pernah melihat alkemis sehebat itu.

Lin Xuan mendekat lalu menyentuh dahinya dengan satu jari. Api Teratai Bumi Terdalam mengalir masuk dan melahap racun api di tubuhnya dalam sekejap.

Shen Fugui tersentak. Rasa sakit yang menyiksanya berbulan-bulan lenyap. Bahkan meridiannya terasa lebih kuat dari sebelumnya.

"T-Tuan... Anda menyelamatkan nyawaku!"

Ia hendak bersujud, tetapi Lin Xuan segera menghentikannya.

"Bangun. Aku tidak butuh sujudmu. Aku butuh orang yang memahami pasar dan jalur perdagangan Benua Tengah."

Lin Xuan duduk di kursi yang masih utuh.

"Aku akan memberimu pil yang bisa membuat para alkemis kota ini terlihat seperti peracik obat biasa. Kau yang akan menjualnya."

Mata Shen Fugui kembali berbinar. Naluri dagangnya yang sempat padam menyala lagi.

"Shen Fugui bersumpah akan melayani Tuan Mo. Toko dan semua jalur dagangku siap digunakan. Tapi apa nama toko ini nanti?"

Lin Xuan menatap papan nama yang sudah kusam.

"Turunkan papan itu."

Ia memandang langit Benua Tengah yang dipenuhi aura sekte-sekte besar.

"Mulai hari ini, tempat ini bernama Paviliun Jiwa Bintang."

Senyumnya tipis.

"Kita mulai dari gang kecil ini. Lalu kita guncang seluruh Benua Tengah."

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!