NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Arhan mengangguk mendengar ucapan ayah mertuanya itu. Anggukan itu pelan, seperti daun yang jatuh ke air, tidak menimbulkan riak besar, hanya tenggelam perlahan.

"Terimakasih Pa, Ma," ucapnya pelan. Suaranya tipis, seperti sisa embun yang masih menempel di ujung pagi.

Di ranjang, Anya bergerak sedikit. Selang infus mengikuti geraknya, berayun pelan. Cahaya lampu yang diredupkan jatuh di wajahnya, membuat bayangan halus di bawah matanya.

Lalu Anya berkata. Suaranya tidak tinggi, tapi setiap katanya jatuh dengan jelas di ruangan yang sunyi.

"Aku tau semuanya Han. Dari tingkah laku kamu. Dari sorot mata kamu. Aku tau, aku tau semuanya. Tanpa kamu bilang. Tanpa aku lihat hasil diagnosis Dokter Rendra."

Kalimat itu tidak pecah. Ia mengucapkannya utuh, seperti seseorang yang sudah lama menyimpan kalimat itu di dalam mulut dan akhirnya memberinya jalan keluar.

Arhan menoleh, matanya masih merah dan berkaca-kaca. Di matanya ada air yang belum jatuh, menggantung.

"Iya maafin aku An. Sebenarnya vonis itu, saat pemeriksaan terakhir. Sisa umurmu itu hanya 30 hari. Aku... Aku tidak ingin kamu pergi secepat itu... Aku nggak mau An," ucap Arhan. Suaranya pecah di tengah, seperti ranting kering yang diinjak.

Tiga puluh hari. Ia menyebutnya akhirnya. Dua kata yang selama ini hanya hidup di kepalanya, kini memiliki suara.

Hendra dan Soraya saling tatap dan mengangguk. Anggukan mereka pendek, tidak panjang. Tidak ada kata tambahan.

Hendra masuk, dan menepuk pundak Arhan. Telapak tangannya hangat, tinggal beberapa detik lebih lama di sana.

"Keajaiban Han. Masih ada keajaiban yang bisa membuat Anya sembuh. Keajaiban itu tidak hanya ditunggu. Tapi harus diusahakan, kita rawat Anya sebaik mungkin. Tuhan pasti tau pengorbanan kamu. Tuhan pasti tau apa keinginanmu untuk Anya," kata Hendra. Suaranya pelan, seperti orang yang berbicara di dekat telinga.

Arhan menarik napas. Napas itu panjang, masuk perlahan, keluar perlahan, seolah ia ingin menyimpan udara itu lebih lama di dalam dadanya.

"Iya Pa, semoga saja. Aku akan rawat Anya sebaik mungkin," jawab Arhan.

Setelah itu, perbincangan mereka pun berlanjut hingga larut malam. Tidak ada lagi pembicaraan tentang angka, tentang hari, tentang vonis. Mereka bicara tentang hal-hal yang ringan, yang membuat ruangan tidak terasa seperti ruangan rumah sakit. Soraya bercerita tentang lily di halaman yang kemarin mekar satu, tentang airnya yang harus diganti. Hendra bercerita tentang kursi di teras yang kakinya sudah miring. Anya mendengarkan, sesekali tersenyum, sesekali memejamkan mata karena lelah.

Lampu koridor di luar sesekali berpendar masuk saat pintu terbuka, lalu hilang lagi. Jam di dinding bergerak tanpa suara.

Menjelang pagi, sekitar pukul lima lewat, Hendra dan Soraya pamit untuk pulang. Mereka berjalan pelan, menatap Anya yang sudah mulai terpejam lagi.

Anya tidak lagi merasakan sakit. Obat yang diberikan Dokter Rendra tadi masih bekerja. Napasnya teratur, pelan. Dia sedang tertidur, dengan tangan yang masih menggenggam ujung selimut.

Ruangan itu kini hanya berisi dua orang lagi. Arhan dan Anya. Dan bunyi tetesan infus yang jatuh dengan jeda yang sama.

Lalu saat Arhan sendirian, pintu terbuka lagi. Dokter jaga yang memeriksa kembali keadaan Anya masuk, membawa papan catatan kecil. Ia menatap monitor, menatap selang infus, lalu menekan pelan bagian perut Anya yang tertidur untuk memastikan.

Dokter jaga itu menoleh kepada Arhan dan berkata, "Kata Dokter Rendra, jika nanti pagi Ibu Anya tidak lagi merasakan sakit. Siangnya diperbolehkan pulang, Pak."

Kalimat itu jatuh pelan di ruangan.

Arhan mengangguk. Anggukannya kali ini lebih ringan dari sebelumnya.

"Baik Dok," jawabnya.

Dokter jaga itu pergi, langkahnya pelan, menutup pintu tanpa suara keras.

Dan dia tertidur di samping Anya, di kursi. Kursi besi rumah sakit yang dingin, yang sudah beberapa jam ia duduki. Punggungnya bersandar, kepalanya miring ke samping ranjang, tangannya masih menggenggam tangan Anya yang terasa lebih hangat sekarang. Matanya terpejam, dan akhirnya, setelah semalaman terjaga, ia tertidur.

Pagi menjelang. Cahaya masuk dari sela gorden yang tidak tertutup rapat. Garis cahaya itu jatuh di lantai, lalu naik pelan ke kaki ranjang, ke selimut, ke wajah Anya.

Arhan dan Anya sudah terbangun. Anya terbangun lebih dulu, matanya terbuka, menatap langit-langit, lalu menatap Arhan yang masih tertidur dengan kepala di sampingnya. Ia tidak membangunkan, hanya mengusap rambut Arhan pelan dengan ujung jarinya.

Arhan terbangun karena usapan itu. Ia mengangkat kepala, mengerjap beberapa kali.

"Gimana tidur kamu An, nyenyak?" tanya Arhan. Suaranya masih serak, sisa tidur di kursi.

Anya mengangguk. Senyumnya muncul, tipis tapi ada.

"Nyenyak Han. Lumayan kok," jawabnya. Suaranya pelan, tapi tidak selemah semalam.

Lalu seseorang mengetuk pintu. Ketukannya dua kali, teratur.

Seorang suster datang dan menyampaikan sesuatu. Ia membawa map biru dan selembar kertas resep.

"Pak Arhan. Ibu Anya boleh pulang siang ini. Silahkan ke bagian administrasi untuk informasi resep obat tambahan dari Dokter Rendra dan total biaya rumah sakit," kata suster itu.

Arhan mengangguk dan mengatakan, "Baik suster. Terimakasih."

Suster itu pun pergi, langkahnya ringan.

Arhan beranjak dari tempat duduknya. Kursi itu berderak pelan saat ia berdiri. Kakinya sedikit kesemutan. Lalu menatap Anya, merapikan selimut yang sedikit turun.

"Tunggu ya An. Aku beresin administrasinya. Udah gitu aku langsung ke sini," kata Arhan.

Anya tersenyum, dengan wajahnya yang terlihat pucat. Pucat yang masih tertinggal dari semalam.

"Iya Han. Aku tunggu di sini saja," jawab Anya.

Arhan pun pergi ke ruang administrasi. Koridor pagi sudah berbeda dengan koridor malam. Lebih terang, lebih ramai. Ia berjalan melewati semua itu dengan langkah yang sedikit lebih cepat.

Di loket administrasi, antrian sudah ada. Ia menunggu, memegang ponselnya.

Lalu bertanya tentang resep obat dan seluruh biaya rumah sakit. Petugas di balik kaca mengambil map Anya, memeriksa, lalu mencetak rincian.

Saat pegawai rumah sakit itu memberikan kertas rincian biaya dan resep obat. Dua lembar kertas, satu dengan tulisan tangan Dokter Rendra yang sedikit miring, satu lagi dengan angka-angka yang tercetak rapi.

Arhan mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar. Kartu itu sudah lama di dompetnya, tepinya sudah sedikit mengelupas. Ia meletakkannya di atas meja kaca.

Tetapi saat diperiksa oleh pegawai itu, mesin kecil di samping komputer berbunyi pendek. Layarnya menyala merah. Pegawai itu mencoba sekali lagi.

Terdapat notifikasi setelah dibaca, lalu pegawai itu menatap Arhan.

"Maaf, saldonya tidak mencukupi, Pak," kata pegawai itu kepada Arhan. Suaranya pelan, ia condongkan sedikit agar hanya Arhan yang mendengar.

Arhan terkejut. Bukan terkejut yang keras, tapi terkejut yang membuat bahunya naik sedikit, lalu diam. Dia baru teringat. Sudah cukup lama dia tidak memeriksa isi dari rekeningnya. Sejak malam itu, saat notifikasi cicilan gagal, ia tidak pernah lagi membuka aplikasi itu.

Kartu itu masih di atas kaca. Kertas rincian masih di tangan kirinya. Di ujung koridor, dari arah kamar Anya, cahaya pagi masih jatuh di lantai, menunggu Arhan kembali dengan kabar bahwa mereka boleh pulang siang ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!