NovelToon NovelToon
Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Chicklit / Tamat
Popularitas:74.4k
Nilai: 5
Nama Author: Alister Weis

Seorang CEO tampan dan mematikan, jatuh cinta dengan seorang desainer muda, mungkin itu kisah biasa tapi ini lain.. setiap rintangan mereka lalui bersama, terpisahkan dan bersama kembali, pertengkaran hingga perkelahian mereka hadapi.

Sampai suatu hari mereka dapat bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alister Weis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Rio

Sudah tiga jam, Shofia berada di ruang operasi,  Rio juga belum ada tanda tanda untuk keluar.

Sedangkan Kabir telah menunggu Shofia sedari tadi. Ya, urusannya dengan Max sudah selesai.

Dia telah menyerahkan semua urusannya pada Max dan Sean.

Sedangkan sang pengantin pria belum kembali, dia bersama menemui sang penembak bersama Max.

"Kabir ..."

Kabir mendongak, Rio sudah didepannya.

"Bagaimana keadaannya?"

"Racun sudah aku keluarkan... tapi dia mungkin mengalami kelumpuhan sementara"

"Bagaimana bisa?"

"Dokter tadi benar... racun sudah menyebar dan melumpuhkan sarafnya..."

"Lalu bagaimana penyembuhannya?"

"Aku masih mengusahakan penawarnya..."

"Tolong... Rio... dia tak pantas mendapat penderitaan ini"

"Ya, aku tahu... jaga kesehatanmu"

Rio melihat ada raut lelah dan khawatir. Bahkan ada lingkaran hitam disekeliling matanya.

Rio tahu dari semalam Kabir tak tidur, karena dia menjalankan terapi pemulihan ingatan.

Setelah mimpi disiang hari kemarin, Kabir segera mencarinya dan melakukan terapi yang selama ini tak mau dia lakukan.

Jadi, Rio tahu seberapa lelah Kabir sekarang.

"Iya, bolehkah aku melihatnya?"

"30 menit lagi... aku harus memindahkannya dulu"

"Baiklah"

^^

Setelah 30 menit, Kabir dipanggil lagi.

Memasuki kamar Shofia, Kabir begitu berdebar.

Wanitanya masih belum sadarkan diri. Bahkan terlihat pucat dan tak berdaya.

"Bagaimana keadaanya sekarang?"

"Dia kehabisan banyak darah... jadi wajar kalau belum sadar.. untung darah kak Morgan cocok untuknya"

"Untung saja..."

"Untuk sementara, kamu harus ada untuknya.. karena kedua kakinya mengalami kelumpuhan"

"Berapa lama untuk sembuh?"

"Entah.. tergantung kemauan dari Shofia sendiri"

"Apa tak ada jalan lain untuk membuatnya sembuh?"

"Tak ada... aku masih meneliti racun itu"

"Terima kasih"

"Tak perlu mengucapkan itu... oh iya, bagaimana Max?"

"Dia sudah menemukan dalangnya.."

"Siapa?"

"Celline yang bersekongkol dengan keluarga Zhia"

"Siapa Zhia?"

"Mantan istri Sean..."

"Oh... kecemburuan wanita memang menakutkan.."

"Ya.. Celline membabi buta.. sedangkan Zhia, dia sudah meninggal.. hanya saja keluarganya yang tak terima dengan pernikahan ini"

"Memang melewatkan menantu kaya itu sangat memalukan"

"Emm.."

"Kamu temani saja Shofia, dia akan segera bangun, yang harus kamu lakukan hanya menguatkan dia"

"Tentu"

Rio keluar setelah menepuk bahu Kabir. Dia tahu kalau sahabatnya itu sedang bersedih.

Bagaimanapun juga, Shofia merupakan wanita yang dicintai oleh Kabir. Hanya Shofia yang dapat melelehkan bongkahan es itu.

Tak berapa lama Rio pergi, Shofia sudah terbangun saat Kabir sedang mengupas buah jeruk.

"Kabir..."

"Darl... kamu sudah bangun? Ada yang sakit?"

"Emmm... tak ada, hanya saja aku tak bisa merasakan kakiku"

"Sayang.."

"Ada apa? Kenapa kamu begitu sedih?"

"Hah... sayang kamu harus terima ini"

"Apa?"

"Kakimu mengalami kelumpuhan sementara"

"Kamu bercanda? Aku tak kecelakaan, aku hanya tertembak? Kenapa bisa lumpuh?"

"Karena peluru itu sudah ada racun yang melumpuhkan saraf.."

"Ya Tuhan.."

"Shofia"

"Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri?"

"Aku akan menemanimu ya..."

"Tolong.. apa kamu tak percaya padaku?"

"Baiklah, aku percaya.. aku ada diluar jika kamu membutuhkanku.."

"Iya.. bisakah kamu memanggilkan Rio.. aku tahu dia yang memeriksaku"

"Iya.. akan kupanggilkan.. tapi tolong jangan kamu bersedih dengan semua perkataan Rio"

"Aku tahu"

Kabir melihat Shofia sekilas sebelum keluar, tak ada senyum diwajah kurus itu. Hanya ada sebuah kesedihan dan entah apa.

Tak berapa lama, Rio terlihat memasuki kamar.

Rio segera duduk disamping Shofia, dan menatap wanita itu dengan serius.

"Ada apa? Ada yang sakit?"

"Aku lumpuh?"

"Maafkan aku, Shofia.... aku tak bisa mencegah kinerja racun itu"

"Tak apa.."

"Kelumpuhanmu dapat disembuhkan... kamu jangan khawatir"

"Tapi, aku merasa jatuh.. sangat jatuh"

"Kenapa? Katakkan saja?"

"Aku lumpuh.. apa bisa berjalan bersama dengan Kabir yang sangat berkuasa"

"Shofia.. Kabir mencintaimu dengan tulus.. kamu hanya perlu memastikan kakimu itu benar benar sembuh"

"Rio... kenapa semua ini terjadi padaku?"

"Shofia, hari hari yang indah akan tetap bersamamu.."

"..."

"Shofia,, jangan menyerah.. ada banyak hal yang kamu lalui sebelum ini, kamu punya sandaran yang sangat kokoh.. yang perlu kamu buktikan hanya tetap bertahan"

"Apa aku boleh menyerah dan berhenti?"

"Tidak! Banyak orang yang menyayangimu..."

"Aku mana pantas untuk Kabir yang sempurna.. aku yang cacat seperti ini"

"Kamu tak cacat, yakinkan dirimu.. seperti apapun kamu, kamu pantas untuk Kabir!"

"Rio..."

"Tetaplah berusaha, shofia.. kalau kamu tak kasihan dengan Kabir dan seluruh keluargamu.. kamu perlu kasihan padaku dan Max yang telah berjuang sejauh ini"

"Max? Kamu?"

"Shofia, kamu harus tahu satu hal.... tetap diam dan jangan menyela.. aku menyayangimu! aku sadar, kamu milik Kabir.. biarkan aku menyayangimu seperti adikku, aku tak ingin kamu menyerah sia sia"

"Rio.. kenapa kamu mengatakkan itu? Untuk menyemangatiku?"

"Bukan... aku mengatakkannya dari hati!"

Rio memegang tangan shofia dan mengusapnya pelan. Dia tak tahu harus berkata apa, hanya saja yang dia tahu kalau dia harus mengatakkan apa yang mengganjal dihatinya.

Bohong kalau Rio tak terpesona dengan kecantikan dan kebaikan Shofia. Kalau saja, Kabir tak ingat lagi dengan shofia ingin rasanya dia mengejar cinta Shofia.

Tapi sayang, tak ada ruang untuknya menyelinap. Sayang sekali.

"Istirahatlah... aku akan memanggil Kabir untuk menemanimu"

"Tak usah, aku ingin tidur.."

"Ya..."

Rio berbalik begitu saja dan segera keluar. Dia takut kalau dia tak bisa menahan keinginannya untuk memiliki Shofia.

Saat Rio akan keluar, dia melihat lagi kearah Shofia. Shofia tak melihatnya, dia melihat kearah jendela.

Apa yang diharapkan? Ini sudah cukup.

Tapi saat Rio benar benar keluar, petakanya memang datang.

Tiba tiba Kabir memikul wajah Rio, melampiaskan amarahnya.

"Kamu sahabatku, bagaimana mungkin kamu sepicik ini!"

"Pukul lagi, kalau pukulan itu membuat persahabatan kita tetap ada!"

"Hah!!"

Kabir melepaskan cengkeraman pada kemeja Rio. Dan terduduk dibangku depan kamar.

"Shofia tetap memilihmu, bukan? Apa yang kamu khawatirkan!?"

"Kamu!! Bagaimana mungkin, kamu menyukai wanita milik Sahabatmu?"

"Aku tak tahu.. aku terpesona dengan kebaikan dan kecantikan Shofia... tapi dia tetap milikmu"

"Kenapa kamu mengatakkan perasaanmu pada Shofia?"

"Agar lega.. aku tahu kalau aku akan ditolak, tapi dulu perasaan ini menyiksaku, bagaimana Shofia bahagia bersamamu, bercumbu denganmu bahkan dia hampir mati, semua itu cukup membuatku tersiksa..."

"Lalu apa yang kamu rasakan sekarang?"

"Sakit, pasti sakit tapi aku sudah menebaknya dari awal.. sebuah pengharapan yang sia sia kalau sampai berharap dia menerimaku..."

"Entah apa yang diotakmu dulu dan sekarang, tapi aku harap dimasa depan kamu bisa melupakan perasaanmu itu pada Shofia..."

Kabir berdiri begitu saja tanpa melihat Rio lagi.

Kabir segera masuk kedalam kamar Shofia dan melihat keadaan wanita itu.

Meninggalkan Rio sendirian.

Riopun juga segera berdiri dan pergi dari sana.

"Sepertinya aku harus mengencani wanita"

Bugh!!

Tanpa sengaja, saat berbalik Rio menabrak seorang wanita.

Wanita dengan kuncir dua dan memakai kaca mata.

Akibat tabrakan itu, semua barang barang yang dibawa oleh wanita itu berhamburan.

"Kamu tak apa?"

"Tak apa, bagaimana dengan dokter Rio tak apa?"

"Its okay, kamu tahu namaku?"

"Seisi rumah sakit ini tahu dokter, bagaimana mungkin seorang dokter yang jenius serta penguasa laboratorium tak dikenali..."

"Oh.. kamu perawat?"

"Iya.. saya ingin memberikan dokumen ini untuk dokter"

"Oh.. terima kasih, siapa namamu?"

"Rapunzel"

*********

1
Just Love It
bagus. cerita nya. cm kadang agak loncat2 aja alurnya. bikin bingung jdnya
teti kurniawati: chat saya atau DM saya ya buat ngambil hadiah
total 1 replies
☘︎𝐏$²
next Thor.. up up..!!❤️❤️
☘︎𝐏$²
wah, udh mulai, bau² nih😑😏
lanjut Thor..
☘︎𝐏$²
nama nya, bagus bet😍😍
☘︎𝐏$²
Mariska?OMG😱😱
aku hampir lupa Weh..🤭🤭🤣🤣
☘︎𝐏$²
gua malah baper .... astaga😭😭
☘︎𝐏$²
kenape elu sia² kan, kalau hal yg elu lakukan merusak hubungan itu?🗿
☘︎𝐏$²
huhuhu... JD terbawa suasana😭😭
☘︎𝐏$²
Mane saye tau, kan saya ikan🗿
mana gua tau, elu aja gak kasih tau...🙄🙄🙄
☘︎𝐏$²
hohoho 😭
bahkan gua pun tak bs seperti mereka.., cantik..😑
☘︎𝐏$²
dahlah, kalau elu cewek... menangis hati gua😭🙏
lah ini, elu cowok dah🗿 brasa gmn gitu🤭🤭🤭
☘︎𝐏$¹
arggghh Thor...
baru juga di komen, udh ad POV nya, ehehehehe😂😂🤭🤭🤭
☘︎𝐏$¹
ini kabar Khabir gimana yak🤔
jdi penasaran aku tuh, sama POV nya 🤭🤭🤭
☘︎𝐏$¹
ngakak🤣🤣😭😭😭
☘︎𝐏$¹
semangat Shofia, km pasti bisa😘😘😘❤️❤️
☘︎𝐏$¹
ah begitu, seperti setimpal?🤭🤭
☘︎𝐏$¹
enaknya dirimu Shofia 😭😭
☘︎𝐏$¹
Alan.. elu pengen gua geplak dah..😤😤
☘︎𝐏$¹
ngakak🤣🤣🤣
☘︎𝐏$¹
astaga Shofia..😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!