Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Takhta yang Tidak Diinginkan
Aula utama Universitas Emmerson penuh sesak. Riuh rendah mahasiswa berhenti seketika saat layar raksasa menampilkan hasil akhir pemungutan suara.
EVERY RIANA: 52%
Setengah dari penghuni kampus bersorak, sementara setengah lainnya—kelompok pemberontak—terdiam kaku. Di barisan paling depan, Every Riana berdiri dengan gaun satin hitam dan jaket jeans menggantung di bahu yang memeluk tubuhnya sempurna. Wajahnya cantik luar biasa, namun dingin, dengan tatapan yang seolah merendahkan siapa pun yang berpapasan mata dengannya.
Ia tidak tersenyum. Alih-alih senang, Every justru mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku cantiknya memutih.
Siapa yang berani mendaftarkan nama gue tanpa izin? batinnya berang. Sebagai anak kedua penerus kerajaan tekstil, ia sudah cukup sibuk untuk mengurus bisnis keluarganya.
"Selamat, Every. Ketua BEM wanita pertama setelah 25 tahun Emmerson berdiri," sebuah suara berat dan serak memecah lamunannya dari atas panggung mempersilahkan Every memberi beberapa patah kata.
nama Every Riana masih bergema. Gadis dengan rambut cokelat bergelombang itu berdiri di podium, memandang ribuan mahasiswa dengan tatapan setajam silet. Dia tidak memberikan senyum kemenangan; baginya, posisi ini adalah jebakan, bukan prestasi.
"Gue nggak pernah minta jabatan ini," suara Every terdengar dingin melalui pengeras suara. "Tapi karena seseorang cukup bodoh untuk mendaftarkan nama gue secara ilegal, maka gue terima tantangan ini. Jangan harap ada diplomasi lembut. Di bawah kepemimpinan gue, hanya ada dua pilihan: kerja keras atau angkat kaki dari kampus ini."
Saat turun dari panggung, Every melihat seorang mahasiswa baru yang gemetar karena menjatuhkan tumpukan brosur tepat di jalurnya. Every berhenti, menatap tajam mahasiswa yang sedang memungut brosur itu hingga si maba menunduk takut.
"Berdiri," perintah Every tegas. Saat semua orang mengira Every akan memakinya, ia justru memberikan kartu namanya. "Bawa daftar kerugianmu ke ruangan gue besok. Biaya cetak ulangnya gue tanggung, tapi jangan pernah tunjukkan kecerobohan payah ini di depan gue lagi. Paham?"
Every berlalu, meninggalkan si maba yang terpaku antara takut dan kagum.
Namun, langkah Every kembali terhenti saat sosok River Armani bersandar di pintu keluar, menghalangi cahaya matahari yang masuk.
Jaket kulitnya hitam kusam, rambutnya berantakan, dan aura kepemimpinannya terasa begitu menyesakkan hingga ketika kakinya melangkah, orang-orang di sekitarnya otomatis memberi jalan.
"Bravo! Pidato yang luar biasa, Eve," sindir River. "Tajam, singkat dan sangat... arogan. Persis seperti yang gue harapkan dari perempuan yang hidupnya cuma hasil setoran keringat buruh tekstil bokap nya."
Seperti namanya, River cukup tenang, namun bisa menenggelamkan. Dia tidak butuh jabatan untuk menggerakkan massa. Satu jentikan jarinya lebih berpengaruh daripada seratus surat keputusan BEM.
"Gue nggak butuh ucapan selamat dari lo, River," desis Every tajam. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan River hingga aroma parfum mahal Every bercampur dengan bau maskulin River yang memabukkan. "Dan gue tahu ini kerjaan lo. Kenapa lo masukin nama gue ke bursa calon?"
River menegakkan tubuhnya, menunduk untuk membisikkan sesuatu di telinga Every. "Karena gue mau lihat, berapa lama seorang 'tuan putri' yang nggak pernah pegang sapu ini bisa bertahan di bawah tekanan gue."
Every tersenyum sinis, senyum antagonis yang membuat siapa pun bergidik. "Lo salah pilih lawan, River. Kalau lo mau main-main, gue akan pastikan lo yang bakal berlutut di bawah kaki gue sebelum masa jabatan ini berakhir."
River tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar seperti tantangan berbahaya. "Kita lihat saja, My Sweet Enemy. Selamat datang di neraka yang gue buat khusus untuk lo.”
Every menatap River dengan benci yang murni. "Minggir, River. Gue nggak punya waktu buat meladeni pemberontak tanpa masa depan kayak lo."
River terkekeh, tidak bergeser sedikit pun. "Pemberontak ini yang punya pengaruh lebih besar dibanding surat keputusan BEM lo yang nggak berguna itu. Lo pikir dengan bagi-bagi uang, lo bisa beli loyalitas mereka?"
Every maju satu langkah, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari River. "Gue nggak butuh loyalitas mereka, dan gue jelas nggak butuh validasi dari lo. Lo itu cuma parasit otomotif yang merasa hebat karena orang-orang takut sama lo.”
River tidak terpancing. Ia justru mendekatkan wajahnya ke telinga Every, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Selamat bertugas, Ketua. Gue akan pastikan setiap langkah lo di kampus ini terasa seperti berjalan di atas air yang nggak bisa lo kendalikan."
River menjauh, memberikan jalan bagi Every.