NovelToon NovelToon
Jebakan Sang CEO Wanita

Jebakan Sang CEO Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cinta Terlarang / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.

Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"

​Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.

​Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?

Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21

Udara di dalam ruang kerja Nabila terasa pengap, meskipun mesin pendingin ruangan bekerja dengan maksimal. Di atas meja kerjanya yang biasanya rapi dengan berkas-berkas persidangan, kini berserakan hasil cetakan profil perusahaan, kliping berita lama, dan catatan-catatan kecil mengenai Airborne Group.

Sebagai seorang pengacara, Nabila memiliki insting untuk mencium bau kebusukan dari kejauhan. Dan sejak buket bunga lili itu masuk ke rumahnya, bau itu sudah berubah menjadi bau bangkai yang menyengat. Ia menatap foto Siska Roy di layar laptopnya, wanita itu tampak terlalu sempurna, terlalu berkilau, namun di mata Nabila, ada sesuatu yang sangat gelap di balik senyum porselen itu.

"Siapa kau sebenarnya, Siska?" bisik Nabila pada kesunyian ruangan.

Nabila tidak bisa lagi hanya duduk diam dan menunggu Arga menceritakan kebenaran. Ia tahu suaminya sedang terhimpit. Ia melihat perubahan pada Arga, bahunya yang semakin membungkuk, matanya yang kehilangan binar, dan kebohongan-kebohongan kecil yang keluar seperti napas. Nabila tahu Arga tidak sedang mengkhianatinya karena keinginan, melainkan karena rasa takut. Dan Nabila harus tahu apa yang ditakuti suaminya.

~

Pukul dua belas siang tepat. Nabila berdiri di depan cermin, merapikan setelan kerjanya yang elegan namun tegas. Ia memoles lipstik berwarna nude, memastikan penampilannya tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun. Ia membawa sebuah tas kertas berisi kotak makan siang premium yang sengaja ia beli dari restoran favorit Arga.

Alasannya sederhana - mengantar makan siang kejutan. Namun tujuannya jauh lebih dalam, ia ingin melihat medan perang suaminya secara langsung.

Nabila memarkir mobilnya di area pengunjung gedung Airborne Group. Gedung ini adalah simbol kesuksesan, sebuah menara kaca yang menjulang tinggi, namun bagi Nabila, ini terasa seperti labirin maut bagi Arga. Ia melangkah melewati pintu putar lobi dengan kepala tegak, memancarkan aura otoritas yang biasa ia tunjukkan di ruang sidang.

"Selamat siang, saya Nabila Malhotra. Ingin bertemu dengan Pak Arga," ucapnya lembut namun tak terbantahkan kepada resepsionis.

"Oh, Ibu Nabila. Pak Arga sedang ada pertemuan singkat di area lounge lobi dengan Direktur Eksekutif, Bu. Silakan menunggu di sana," jawab resepsionis itu sambil menunjuk ke arah area terbuka yang dipenuhi sofa-sofa mewah.

Jantung Nabila berdegup kencang. Pertemuan di lobi? Di area publik?

Nabila melangkah perlahan menuju area lounge. Ia sengaja mengambil posisi di balik sebuah pilar marmer besar yang memberinya sudut pandang luas tanpa langsung terlihat. Dan di sanalah mereka.

Arga duduk di sebuah sofa tunggal, tubuhnya condong ke depan, tampak sangat tegang. Di hadapannya, Siska Roy duduk di sofa panjang. Siska tidak sedang memegang dokumen. Ia justru sedang bersandar dengan gaya yang sangat provokatif.

Dari tempatnya berdiri, Nabila bisa melihat bagaimana Siska melakukan kedekatan yang dipaksakan. Siska tiba-tiba mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Arga dengan gerakan yang sangat akrab. Bukan sekadar sentuhan rekan kerja, tapi sentuhan yang seolah ingin menunjukkan kepemilikan.

Siska membisikkan sesuatu yang membuat Arga tersentak dan mencoba menarik lengannya, namun Siska justru semakin mendekat. Siska sengaja merapikan dasi Arga, tangannya berlama-lama di sana, tepat di bawah leher Arga. Di mata orang asing yang lewat, mereka tampak seperti pasangan yang sedang terlibat dalam pertengkaran romantis atau percakapan yang sangat intim.

Nabila merasa darahnya mendidih. Ia melihat bagaimana suaminya tampak seperti mangsa yang terpojok. Arga tidak membalas sentuhan itu, wajahnya menunjukkan rasa muak, namun ia tidak bisa memberontak secara kasar di area publik kantornya sendiri.

'Itu dia,' batin Nabila. 'Dia sedang menghancurkan harga diri suamiku di depan umum.'

Nabila menarik napas panjang, menenangkan gemuruh di dadanya. Ia tidak akan lari. Ia tidak akan menangis. Ia akan menghadapi monster ini di sarangnya.

Nabila keluar dari balik pilar dengan langkah yang mantap. Suara langkah sepatunya yang tegas menggema di lantai marmer, menarik perhatian beberapa staf yang lewat, dan akhirnya, menarik perhatian dua orang di sofa tersebut.

Arga menoleh dan matanya membelalak. "Nabila?"

Siska tidak segera melepaskan tangannya dari dasi Arga. Ia justru menoleh perlahan, memberikan senyum kemenangan yang paling memuakkan kepada Nabila.

"Wah, lihat siapa yang datang," ucap Siska dengan nada merdu yang dibuat-buat. "Istri teladan sedang mengantar bekal?"

Nabila tidak memandang Siska. Matanya tertuju lurus pada Arga. Ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping suaminya. Dengan gerakan yang sangat anggun namun penuh penekanan, Nabila mengambil tangan Siska yang masih menempel di dasi Arga, lalu melepaskannya dengan halus namun bertenaga.

"Maaf, Bu Siska. Sepertinya dasi suami saya sudah cukup rapi. Saya yang memakaikannya pagi tadi, jadi saya tahu persis letaknya," ucap Nabila dengan suara yang sangat tenang namun sedingin es.

Arga segera berdiri, wajahnya penuh campuran antara rasa malu dan lega. "Nabila, kenapa kau di sini?"

"Aku membawakan makan siang kesukaanmu, Mas. Aku pikir kau terlalu sibuk untuk turun ke kantin," Nabila menyerahkan tas kertas itu kepada Arga, lalu beralih menatap Siska.

Siska berdiri, melipat tangan di dada. Ia tampak tidak terganggu sedikit pun oleh kehadiran Nabila. "Kau sangat perhatian, Nabila. Arga memang sedang butuh banyak 'asupan' karena tekanan kerja di sini sangat besar. Aku baru saja memberikan pengarahan pribadi padanya."

"Pengarahan pribadi biasanya dilakukan di ruang rapat dengan dokumen, bukan di lobi dengan menyentuh dasi orang lain, Bu Siska," balas Nabila tajam. "Di dunia hukum, tindakan seperti itu bisa dikategorikan sebagai pelecehan di lingkungan kerja jika salah satu pihak merasa tidak nyaman."

Mata Siska menyipit. "Kau mencoba mengajariku soal etika di kantorku sendiri?"

"Saya hanya mengingatkan bahwa profesionalisme tidak mengenal jabatan," Nabila tersenyum tipis, senyum yang menunjukkan bahwa ia tidak takut. "Terima kasih sudah menjaga suami saya, tapi mulai sekarang, biarkan dia fokus pada pekerjaannya. Makan siang ini adalah waktu pribadinya."

Siska tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Waktu pribadi? Di perusahaan ini, seluruh waktu Arga adalah milikku, Nabila. Kau mungkin memiliki dia di rumah, tapi di sini... dia harus patuh padaku."

Siska melangkah mendekat ke arah Nabila, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga. "Jangan terlalu percaya diri dengan ikatan pernikahan kalian. Sesuatu yang dibangun di atas pasir akan runtuh saat ombak besar datang. Dan aku adalah ombaknya."

Siska kemudian berlalu pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan aroma parfum lili yang pekat di udara.

Arga tertunduk diam. Ia tidak berani menatap mata Nabila. Rasa malu menyelimutinya, malu karena ia terlihat sangat lemah di depan istrinya sendiri.

"Mas..." Nabila memegang lengan Arga. Kali ini, sentuhan itu tulus dan hangat.

"Maafkan aku, Nabila. Aku... aku tidak bisa berbuat apa-apa di sini. Dia adalah istri Pak Roy," suara Arga parau.

Nabila menatap suaminya dengan penuh empati, namun juga dengan ketegasan seorang pejuang. "Aku tahu, Mas. Aku melihat semuanya. Dia tidak sedang bekerja, dia sedang menyerangmu. Dan dia sedang menyerangku melalui dirimu."

"Nabila, pulanglah. Jangan terlibat lebih jauh. Siska sangat berbahaya," Arga memohon.

Nabila menggeleng. "Sudah terlambat untuk menyuruhku pulang, Mas. Sejak dia mengirimkan bunga ke rumah kita, ini sudah menjadi urusanku juga. Aku tidak akan membiarkan wanita itu menginjak-injak martabatmu."

Nabila meraih tangan Arga dan menggenggamnya erat. "Mas, katakan satu hal padaku. Kejujuran yang paling murni. Apakah dia adalah masa lalumu? Apakah dia wanita yang pernah kau ceritakan meninggalkamu sepuluh tahun lalu?"

Arga terdiam cukup lama. Dunianya terasa berhenti berputar. Di tengah lobi gedung yang megah itu, ia menyadari bahwa tembok kebohongannya telah runtuh total. Ia tidak bisa lagi bersembunyi.

"Iya," bisik Arga akhirnya. "Dia adalah Siska yang dulu. Siska yang membunuh anak kita demi beasiswanya. Dan sekarang dia kembali untuk membunuh hidupku."

Nabila memejamkan mata sesaat. Rasa sakit menusuk hatinya, namun anehnya, ia merasa lega. Akhirnya, musuh itu memiliki nama dan sejarah. Pengetahuan adalah kekuatan.

"Terima kasih sudah jujur, Mas," Nabila membuka matanya, dan kini ada kilat api di sana. "Sekarang aku tahu siapa yang aku hadapi. Dia pikir dia bisa menang karena dia punya uang dan kekuasaan. Tapi dia lupa satu hal... aku adalah seorang pengacara, dan aku terbiasa menghadapi monster di ruang sidang."

Nabila mencium pipi Arga singkat. "Makanlah. Aku akan pulang dan mulai menyusun strategi. Kita tidak akan lari lagi, Arga. Kita akan melawan."

Nabila berjalan keluar dari gedung Airborne Group dengan langkah yang jauh lebih kuat dari saat ia datang. Di dalam mobilnya, ia segera menelepon seseorang.

"Halo, Anton? Aku butuh bantuanmu sebagai detektif. Aku ingin data lengkap mengenai pernikahan Siska Roy dan Pak Roy di Singapura. Cari tahu apakah ada celah hukum, kontrak pranikah, atau apa pun yang bisa kita gunakan. Dan satu lagi... cari tahu tentang klinik ilegal di Jakarta sepuluh tahun lalu yang pernah berhubungan dengan nama Siska."

Nabila menutup teleponnya. Ia menatap ke arah gedung tinggi di hadapannya.

"Kau ingin menjadi ombak, Siska?" gumam Nabila sambil menyalakan mesin mobilnya. "Maka aku akan menjadi karang yang akan menghancurkanmu."

Mobil Nabila melaju kencang di jalanan Jakarta, meninggalkan perannya sebagai istri yang diam, dan bertransformasi menjadi pelindung yang siap menghancurkan obsesi gila Siska Roy.

...----------------...

Next Episode....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Isee: e e eh... siska ternyata????! WOW DAEBAK Thor😁
total 1 replies
Eva Karmita
Alhamdulillah akhirnya..
Eva Karmita
kenapa Dante bisa lepas harusnya kan ikut dipenjara sama Siska
🌷🌻🌈Arista putr🤍💕💞i
kapan nich merdekanya Arga dan Nabila dah mulai bosen yang baca kalu yang jahat GG jatuh juga ✌️✌️
Eva Karmita
Alhamdulillah akhirnya semoga Hendri juga mendapatkan keadilan kasihan keluarga nya hancur menanggung beban malu atas fitnah yang di lakukan Siska
Isee
akhirnya pak roy tahu kebenarannya. semoga pak roy selalu ada bersama nabila & arga. siska dihukum seberat2nya & seadil adilnya.
Eva Karmita
semoga pak Roy percaya dan mau membantu Nabila
Isee
semoga pak roy sadar akan keburukan siska dan dante, akhirnya membantu nabila untuk mengungkap kebenaran & membebaskan arga.
Eva Karmita
nyesek banget kasihan Nabila sama Arga 🥺 ... tunggu aja kamu Siska dan kamu Dante kalian berdua akan membayar mahal perbuatan dan fitnah yang kalian berdua ciptakan ini 😤😏
Eva Karmita: semoga saja ... kasihan banget melihat kehidupan Nabila sama Arga hancur lebur dibuat dua manusia itu 🥺
total 2 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
🌷🌻🌈Arista putr🤍💕💞i
iya nih kapan Nabila dan Arga bahagia udh mulai bosen nich yang baca 🤦🤦🤦🤦
Eva Karmita
kapan bahagia nya Arga dan Nabila ... kenapa yg jahat selalu cepat mengetahui semua informasi dan yg baik selalu terbelakang dan gagal ....

Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
Isee: nabila... kenapa kamu gak menyamar aja sih buat kumpulin bukti2??
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
Eva Karmita
Alhamdulillah Mak lampir bisa di hempaskan ....Arga jangan ragu dengan cintamu Nabila akan selalu ada untukmu 🥰🥰🥰
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Miss Ra: siaaap
total 1 replies
Eva Karmita
otor disini kau buat aku emosi naik darah 😤... tadi dicerita sebelah kau buat ku menangis dgn cerita cinta sejati ❤️
Miss Ra: /Grin//Smile/

Maafkan aku...
total 1 replies
Eva Karmita
Siska si ratu iblis
Eva Karmita
alur ceritanya bagus bikin nano" ...
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰
Eva Karmita: sama" semangat 🔥💪🥰
total 2 replies
Eva Karmita
Arga ingat kalau sikap mu masih lembek kayak jelly harusnya kamu pikir dia kali menghadapi Siska tidak semudah dan segampang yang kamu bayangkan satu kali saja kamu buat kesalahan maka hancurlah rumah tangga yang kamu bangun dgn susah payah.... Nabila akan benar" pergi dari hidupmu dan kamu akan hidup dlm penyesalan seumur hidup
Eva Karmita
semoga Arga bisa melawan Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!