Aisyah Maharani adalah istri dari Ahmad Baihaqi.
Aisyah adalah pemilik butik dan penjahit terkenal. Karyanya sudah banyak di kenal khalayak.
Baihaqi adalah seorang dosen di salah satu Universitas Terbuka di Semarang.
Kehidupan rumah tangga mereka hangat dan romantis walaupun usia pernikahan mereka sudah lima tahun.
Selama itu pula mereka menantikan kehadiran buah hati yang tak kunjung datang.
Ujian dan cobaan silih berganti membuat mereka semakin menguatkan cinta dan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Pak Baihaqi ... tunggu ... " ucap seseorang dengan lantang. Langkah kakinya terdengar sangat tegas saat berlari.
Baihaqi menengok ke arah belakang untuk melihat orang yang memanggilnya.
"Anda Bapak Baihaqi bukan?" tanya seorang laki-laki didepannya.
"Betul dan Anda siapa? Sepertinya kita belum saling mengenal." ucap Baihaqi kepada lelaki itu.
Lelaki itu bertubuh besar dan berkulit putih. Wajahnya sedikit seperti bule dan garis wajahnya menunjukkan dia lelaki yang tegas dan galak.
"Oh ... ya ... Maaf saya ayah Anggie. Saya tidak bisa hadir ke pernikahannya. Apakah saya bisa minta alamat Anda untuk bisa menemui putri saya." ucapnya tegas.
"Anda Ayah Anggie. Bapak Richard?" ucap Baihaqi mengingat nama saat ijab kabul berlangsung.
"Betul sekali. Anda mengingat nama itu menantuku." Ucap Richard dengan senang.
"Pintu rumah saya terbuka untuk siapa saja. Bukankah Anda bisa menghubungi Anggie lewat ponselnya." ucap Baihaqi mengernyitkan keningnya tampak kebingungan.
"Hubunganku dengan putriku tidak baik, setelah aku bercerai dengan Mamanya. Awalnya aku ingin mengasuh Anggie, namun tidak diperbolehkan." ucapnya singkat.
"Baiklah ini alamat rumah kami." ucap Baihaqi menyodorkan satu kartu nama kepada Richard.
"Terima kasih, suatu saat aku akan main kesana. Titip Anggie dan jaga kandungannya." ucapnya tegas dan sedikit memerintah.
"Iya Pak Richard. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai Suami." ucap Baihaqi pelan. Kata kata itu terlontar begitu saja lolos dari bibirnya.
Mereka pun berpisah di parkiran Kampus. Baihaqi kembali ke rumah, sedangkan Richard memutar balik arah entah ingin kemana lagi.
"Assalamualaikum ... Humairah ... " ucap Baihaqi memanggil istri kesayangannya.
"Waalaikumsalam ... Papa sekarang Bai ... " ucap Nadya pelan. Lalu berlari dan menubruk Baihaqi dan memeluk erat Baihaqi.
Baihaqi pun berjongkok dan menyejajarkan tubuhnya dengan Nadya lalu membalas pelukan anak itu.
"Kenapa ??" tanya Baihaqi pelan kepada Nadya.
"Umi ... Umi ... " ucap Nadya terbata bata.
"Umi kenapa sayang??!! ... Mbok Surti ...." ucapnya pelan dan memanggil asisten kesayangannya itu.
Mbok Surti datang dengan tergopoh-gopoh dan menghampiri Baihaqi masih lengkap dengan celemeknya.
"Aisyah kenapa Mbok?" tanya Baihaqi pelan.
" Itu Pak ... anu eh ... Itu Ibu tadi muntah-muntah di kamar mandi kamarnya. Lalu Non Nadya bilang Ibu tidak keluar-keluar lalu pintu di dobrak Pak Amin. Ibu sudah tidak sadarkan diri dan tergeletak lemas di lantai kamar mandi yang dingin. Baru saja dokter memeriksa keadaan Ibu. Tapi ... Ibu belum sadar juga." ucapnya pelan dan takut.
Mendengar ucapan Mbok Surti, Baihaqi pun berlari menuju kamar dengan menggendong Nadya yang sejak tadi bergelayut manja dengannya. Suara murottal ada speaker aktif masih jelas terdengar. Suara ini yang membuat rumah menjadi adem dan tenang. Lantunan ayat-ayat Suci Al-Quran diperdengarkan di seluruh ruangan rumah.
Aisyah sudah terbaring lemah di kasurnya. Matanya masih terpejam, kepalanya masih terbalut jilbab instan dan gamisnya masih rapi tertutup selimut hingga bagian dada. Hanya terdengar hembusan nafas yang pelan namun sedikit kasar terhentak.
Baihaqi duduk di tepi ranjang dan mengusap pipi dan perut Aisyah. Kecupan di pipi dan di bibir Aisyah yang begitu dingin membuat Baihaqi merasa bersalah sebagai Suami.
Mbok Surti masuk ke dalam kamar dan membawa air hangat dan teh hangat. Air itu untuk mengompres tubuh Aisyah yang mendingin sejak tadi.
"Mbok ... Kata dokter apa?" tanya Baihaqi pelan.
"Non Aisyah baik-baik saja. Hanya sedikit stres dan kelelahan." ucap Mbok Surti mengelap tubuh Aisyah dengan air hangat.
Baihaqi sesekali memberi minyak angin di hidung Aisyah agar segera sadar dari tidurnya. Tubuh Aisyah pun tampak bergerak dan memberikan respon positif. Bibirnya pun mulai terbuka untuk ikut menghirup oksigen. Kedua matanya mulai mengerjap dan terbuka.
Aisyah pun menengok ke kanan dan ke kiri. Ada Mbok Surti yang sedang membawa handuk basah. Ada Baihaqi yang menatap Aisyah dengan mata berbinar. Hatinya begitu sendu melihat Suaminya yang terlihat cemas dan panik.
"Mas .... " panggil Aisyah dengan satu tangannya menggapai tangan Baihaqi.
"Iya Aisyah ... Kamu ingin apa Sayang?" tanya Baihaqi dengan lembut dan mengecup kening Aisyah dengan penuh sayang.
"Haus ... " ucap Aisyah dengan sangat lirih.
Nadya sejak tadi ada di sebelah Aisyah. Namun Aisyah belum melihat keberadaan anak kecil itu.
"Umi ... " panggil Nadya lalu memeluk Aisyah dengan perasaan rindu.
Baihaqi pun mengambil teh hangat untuk Aisyah dan menyendokkan dengan perlahan ke dalam mulut Aisyah. Baru juga masuk tiga sendok air teh,.perut Aisyah kembali mual dan ingin memuntahkan isi perutnya. Namun badannya terasa lemas dan tidak bertenaga.
"Sudah Mas, aku ingin muntah rasanya mual." ucap Aisyah pelan.
"Mbok ambilkan baskom untuk Aisyah. Kasihan bila harus berjalan. Kondisinya masih lemas." titah Baihaqi kepada Mbok Surti dan membatu Aisyah untuk duduk dan bersandar pada papan tempat tidur.
Mbok Surti segera mengambil baskom dan memberikannya kepada Baihaqi.
"Pakai ini saja kalau mual dan terasa ingin muntah." ucap Baihaqi pelan.
Aisyah pun menggelengkan kepalanya. Ia malu harus muntah di baskom sementara suaminya menatapnya. Bisa bisa Suaminya jijik dan tidak doyan makan.
"Aku tidak akan jijik sayang. Ayok muntah saja, aku tidak apa-apa, jangan ditahan, itu bisa menyakiti dirimu sendiri. Aku akan selalu menjagamu Aisyah." ucap Baihaqi seakan tahu maksud gelengan kepala dari Aisyah.
Hati istri mana yang tidak bahagia mendengar ucapan Baihaqi buang begitu manis dan memanjakan istrinya. Aisyah begitu bersyukur karena Suaminya lebih perduli by kepadanya dan memperhatikan kondisinya dan anak yang ada di dalam perutnya ini.
"Apakah ada yang kamu inginkan?" tanyanya kemudian dengan penuh kelembutan. Sesuai yang pernah Baihaqi baca, seorang istri yang sedang mengandung pasti akan mengidam. Dan Baihaqi akan siap menjadi Suami siaga yang menyediakan apapun yang diinginkan istri tercintanya itu.
"Aku hanya ingin kamu disini Mas, mengusap perutku hingga aku terlelap tidur. Nadya tidur dekat Umi ya. Nanti kita main lagi, Umi lelah mau tidur dulu." ucap Aisyah pelan kepada Nadya.
Nadya pun menurut dan merebahkan tubuh mungilnya itu disamping Aisyah dan memandang wajah Aisyah yang cantik.
"Umi ... Aku juga ingin pakai kerudung seperti Umi dan Bunda." ucap Nadya dengan kepolosannya lalu tersenyum tanpa beban.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
💚💚💚💚💚