Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakmi Jawa and Idris
Matahari mulai merunduk menuju cakrawala, mengubah warna langit Gunung Kidul yang tadinya biru terang menjadi semburat oranye keunguan yang dramatis.
Di parkiran area landasan paralayang Bukit Shaba, Tia masih sibuk merapikan anak rambutnya yang berantakan karena terpaan angin kencang di ketinggian tadi. Wajahnya masih menyisakan rona merah—campuran antara sengatan matahari dan sisa adrenalin yang masih memompa jantungnya.
Idris berjalan mendekat sambil menenteng dua botol air mineral dingin. Ia melemparkan senyum lebar, tipe senyum yang hanya muncul setelah seseorang berhasil menaklukkan rasa takutnya sendiri.
"Masih gemetar?" tanya Idris sambil menyodorkan botol air.
Tia menerima botol itu, meminumnya perlahan, lalu menghela napas panjang. "Bukan gemetar lagi, Dris. Rasanya kaki aku kayak belum benar-benar menapak di tanah. Ternyata Jogja dari atas itu... beda banget ya?"
Idris tertawa kecil. Ia bersandar pada badan mobil mereka yang terparkir menghadap langsung ke arah Samudra Hindia yang luas. "Kan sudah aku bilang. Gunung Kidul itu bukan cuma soal pantai berpasir putih. Dari atas sana, kamu bisa lihat betapa megahnya garis pantai kita. Tadi kamu sempat lihat tebing-tebing itu dari sudut sembilan puluh derajat, kan?"
Tia mengangguk antusias. "Iya! Dan pas instruktur tadi ajak aku spinning sedikit, aku benar-benar teriak. Maaf ya kalau suaraku kedengaran sampai bawah."
"Kedengaran banget," goda Idris. "Tapi itu tandanya kamu menikmati hidup."
Tia tertawa "Sekarang aku sudah tenang Dris, rasanya jantungku berdetak seperti biasanya"
"Untunglah yaudah kita pulang sekarang kamu juga sudah tenang tidak nervous"
"mm hmm" Tia mengiyakan apa kata Idris.
...----------------...
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, memulai perjalanan pulang menuju pusat kota Yogyakarta. Mobil melaju perlahan membelah jalanan berkelok khas perbukitan seribu. Kaca jendela dibuka sedikit, membiarkan udara sore yang mulai sejuk masuk ke dalam kabin, membawa aroma tanah kering dan garam laut.
Suasana di dalam mobil terasa jauh lebih tenang dibandingkan keberangkatan mereka tadi pagi yang penuh dengan kecemasan Tia. Sekarang, yang ada hanyalah rasa puas.
"Lapar nggak?" tanya Idris sambil memutar kemudi melewati tikungan tajam. "Kita cari makan di daerah Pathuk atau mau langsung ke kota?"
"Makan di Pathuk aja yuk? Aku pengen bakmi jawa atau sesuatu yang hangat. Angin di atas tadi lumayan bikin perut keroncongan," jawab Tia.
Sambil melaju, Tia mulai membuka galeri ponsel. Meninjau kembali foto-foto dan video yang diambil menggunakan kamera aksi saat mereka melayang di udara.
Tia tertawa geli melihat ekspresi wajahnya yang ketakutan di detik-detik pertama lepas landas.
"Lihat nih, muka aku kayak orang mau pingsan," ujar Tia sambil menunjukkan layar ponsel ke arah Idris.
Idris melirik sekilas lalu tertawa. "Tapi setelah itu, lihat video yang menit ketiga. Kamu kelihatan tenang banget. Kayak burung yang memang lahir buat terbang."
Tia terdiam sejenak, menatap video dirinya yang sedang melayang dengan latar belakang deburan ombak Parangtritis di kejauhan. "Kamu tahu, Dris? Pas di atas tadi, aku ngerasa masalah-masalah aku, rasa sakit hati semuanya hilang. Secara harfiah dan kiasan. Di atas sana cuma ada aku, angin, dan luasnya langit. Ternyata kita itu kecil ya di hadapan alam."
Idris mengangguk setuju. "Itulah gunanya sesekali naik ke atas. Biar kita sadar kalau dunia ini terlalu luas buat dipusingkan dengan hal-hal yang itu-itu saja. Jogja selalu punya cara buat ngasih perspektif baru."
"Exactly. This was a very enjoyable experience".
Mobil mereka sampai di area Pathuk saat hari sudah benar-benar gelap. Cahaya lampu kota Yogyakarta mulai terlihat dari ketinggian, terhampar seperti permata yang tumpah di atas kain hitam. Mereka memutuskan berhenti di salah satu kedai pinggir jalan yang menyajikan pemandangan kota.
Sambil menunggu bakmi jawa pesanan mereka datang, keduanya duduk di bangku kayu yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota.
"Makasih ya, Dris," ucap Tia tiba-tiba.
Idris menatapnya dengan bingung "Buat apa?"
"Karena udah mau nganterin aku dan nolong aku, kamu tuh baik banget padahal kita baru satu hari kenal loh tapi ada manusia sebaik kamu."
Idris tersenyum tulus "Sama-sama Tia bahkan kita hidup di dunia ini untuk menjadi orang baik right?"
"Yes exactly" Tia memberikan dua jempol untuk Idris dan tertawa bersama.
"Tapi dipikir-pikir kita ternyata klop haha semoga kedepannya bisa jadi teman baik" idris menoleh ke arahnya lalu mengangguk mengiyakan.
Idris berpikiran hal yang sama dengannya " haha aku juga tidak menyangkan akan klop seperti ini dan terimakasih Tia senang mengenalmu disini and of course we can be bestfriend".
Pesanan mereka datang. Uap panas dari bakmi godog yang gurih mengepul di udara dingin malam itu. Mereka makan dengan lahap, sesekali diselingi obrolan tentang rencana liburan berikutnya.
...----------------...
Idris dan Tia keluar dari pathuk setelah memakan bakmi jawa yabg Tia inginkan.
Idris membuka pintu mobil untuk Tia "Dris terimakasih banyak buat hari ini"
Idris tersenyum "Sure Tia" Ia menutup pintunya lalu berjalan ke arah berlawanan dan masuk kedalam mobil.
Perjalanan berlanjut menuruni bukit menuju pusat kota. Jalanan mulai ramai dengan kendaraan yang kembali dari berbagai destinasi wisata di Gunung Kidul. Meski lelah secara fisik, ada energi baru yang terpancar dari raut wajah keduanya.
Akhirnya Idris sampai di depan hotel yang Tia tempati. Tia turun lebih dulu lalu disusul oleh Idris.
"Aku masuk dulu Dris. Hati hati di jalan jangan ngebut okay!"
"Siap boss. Sana masuk" Tia tersenyum hangat lalu melambaikan tangannya. Idris mengangguk kemudian berjalan masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Bagi Tia dan Idris, perjalanan hari itu bukan sekadar tentang olahraga ekstrem. Itu adalah perjalanan tentang kepercayaan—percaya pada peralatan, percaya pada instruktur, dan yang terpenting, percaya pada diri mereka sendiri bahwa mereka mampu melampaui batas ketakutan mereka.
Malam itu, di bawah langit Jogja yang tenang, mereka pulang dengan hati yang lebih ringan. Gunung Kidul telah memberikan mereka lebih dari sekadar pemandangan; ia memberikan mereka sebuah kenangan tentang kebebasan yang mutlak.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada