NovelToon NovelToon
NISKALA

NISKALA

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Action / Persahabatan / Light Novel / Sci-Fi
Popularitas:90
Nilai: 5
Nama Author: Kazennn

Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Taman Kanak-Kanak

Hari itu pagi kami dimulai dengan bersih-bersih lagi, kali ini kami melakukannya disekitaran balai desa. Namun sebelum itu kami berkunjung terlebih dahulu kesekolah taman kakan-kanak. Kebetulan karena aku berasal dari fakultas keguruan sehingga bisa masuk dengan mudah untuk bermain bersama mereka. Sementara itu teman-teman ku sedikit merasa kesusahan, tapi mereka sama sekali tidak menyerah.

“Bu, kami boleh bermain dengan anak-anak” tanya ku

“Yah silahkan, justru ibu senang bisa ada yang bantu—anak-anak juga pasti ikut senang kalau ada anak KKN yang mendatangi mereka” balas bu gurunya lalu mengizinkan kami untuk masuk kedalam kelas dengan ramah.

Pagi itu kami pun bermain dengan anak-anak seperti tebak kata, benda dan suara hewan. Kami juga memberikan hadiah sepada anak berhasil menjawab dengan benar dan paling ceria saat dalam kelas. Semua anak pun sangat senang kecuali satu anak cowok yang duduk sendirian, tidak memperdulikan kami—dia seperti punya dunianya sendiri yang terpisah dari kami. Lalu aku pun mencoba untuk mendekatinya dan mengajaknya bicara, tapi anak itu hanya menatap ku saja sambil menggelengkan kepalanya.

“Duh gimana nih Nal” ujar Sulis ikutan bingung bagaimana mendapatkan hati anak tersebut.

“Tenang saja, serahkan dia padaku” ucap ku lalu berpikir, aku pun mencoba menanyakan namanya terlebih dahulu lalu anak itu menjawab kalau namanya adalah Brian.

“Halo Brian” balas ku menyalaminya lalu juga menyebutkan nama ku. Setelah itu Sulis pun juga melakukan hal yang sama.

“Kalau kakak namanya Sulis—“ ucap perempuan tersebut lalu tiba-tiba diam. Dia dan anak kecil bernama Brian itu pun saling bertatapan

“Uwahhh” Sulis langsung mundur kebelakang seperti terkejut dan ketakutan

“Ada apa?Kenapa?” ujar Nadin

“Kamu kenapa Lis” tanya Anwar

Sulis pun hanya diam saja, tapi wajahnya terlihat pucat. Aku pun langsung melihat kearah Brian dan penasaran mengenai apa yang terjadi barusan.

“Mari ku bantu” ucap Fatin membantu Sulis berdiri tapi kakinya gemetaran sehingga terjatuh lagi

“Suliss, kamu nggak apa-apa” tanya kami bersamaan

“Nggak kok, kaki ku hanya kesemutan” jawab Sulis

“Ohh ku kira ada apa” kata Anwar tenang

Setelah itu kami pun masih lanjut bermain dengan anak-anak. Mereka sangat menyenangkan sehingga kami pun jadi ikutan senang juga, terutama satu anak perempuan bernama Gina. Dia yang paling ceria diantara semuanya sehingga kami pun memberinya hadiah. Terus ada lagi satu anak yaitu Ridho, dia anak yang paling pintar sehingga juga mendapatkan hadiah.

“Horee...makasih kak” ucap mereka dengan gembira. Setelah itu kami berfoto bersama anak-anak lalu ketika jam istirahat kami pun pergi untuk kembali melanjutkan membersihkan halaman balai desa. Sebenarnya tidak ada yang menyuruh kami untuk melakukan hal tersebut, jadi semua itu hanyalah inisiatif kami sendiri.

”Huff” aku menghela nafas karena merasa capek, rasanya energi ku banyak terkuras saat bermain dengan anak-anak tadi. Aku tidak menyangka akan se-melelahkan ini, tapi aku belum bisa istirahat karena melihat teman-teman ku yang masih bersemangat. Aku malu nanti jika duduk duluan.

“Banyak banget yah kelapa disini” ucap Nadin

“Iyah, setiap rumah kayaknya ada kelapanya” balas Fatin

“Bukan hanya kelapa sih, tapi banyak tumbuhan lain yang tumbuh. Kayaknya kita gak akan pernah kelaparan kalau tinggal disini” bicara juga Sri

“Iyah, orang Bali memang gitu. Suka menanam banyak tumbuhan di dekat rumahnya” balas Putra karena kebetulan dia merupakan keturunan orang Bali.

“Ohh” kami bersamaan melakukannya

“Disini memang warganya banyak dari keturunan Bali yah” ujar ku lalu Putra kembali memberitahu kalau desa ini merupakan desa transmigrasi kedua terbesar pada zaman dahulu.

“Dari mana kamu tau informasi tersebut” tanya ku

“Lah dia kan juga keturunan orang Bali” jawab Fatin

“Nggak juga karena itu, aku tau dari cerita orang-orang disini” kata Putra

“Ehh gacor juga informasi mu, padahal baru tiga hari kita ada disini” ucap ku sedikit kagum pada Putra

“Iyah, aku sering lihatnya bicara pakai bahasa Bali sama warga disini tapi aku sama sekali gak paham” ucap lagi Fatin

“Mungkin saat itu lah dia mendapatkan informasinya” sangka ku

“Sudah, ayo lanjut bersih-bersih lagi” balas Putra lalu kami pun kembali bergerak.

Matahari pun makin tinggi dan cahaya panasnya mulai terasa hangat mengenai tubuh kami. Kami pun beristirahat sejenak karena kecapean

“Haus bangeet” ucap Anwar

“Minum lah” celetuk Putra

“Posko jauh, kalau aku kembali kesana terus balik lagi jadinya nanti haus lagi” balas Anwar lagi

“Minum air kelapa ini aja kalau gitu, tinggal panjat” ucap Fatin

“Bolehh” Nawar berdiri dan mau memanjat satu kelapa tapi Putra menghentikannya

“Jangan sembarangan, minta izin dulu” kata cowok tersebut

“Eh, ini kan kelapa desa jadi ku pikir milik umum” sangka Anwar

“Elehh tetap harus minta izin” Putra tetap melarang

“Hiyaa dengar itu kordes” ucap Sulis

“Iyah yah deh” balas Anwar lalu dia pun pergi untuk minta izin terlebih dahulu kekantor balai desa. Tak butuh waktu lama dia pun kembali lagi dan mendapatkan izinnya

“Izin sama siapa kamu?” tanya Putra kembali

“Aanu-ada tadi orang dikantor balai desa” jawab Anwar

“Siapa?”

“ A-aku lupa namanya” Anwar mencoba untuk mengingat-ingatnya

“Jangan bohong kamu” ucap Putra lagi

“Enggak kok, benaran tadi ada orang—namanya Roi kalau tidak salah, iyah bang Roi bendahara desa”

“Kak Rio” celetuk Putra membenarkan

“Nah itu” lalu kami pun menertawainya

“Mengarang nama lagi kamu ini” kata Putra lalu setelah itu Anwar pun memanjat kelapa tapi tidak bisa. Setiap kali naik satu langkah, dia malah terjatuh lagi ditanah sehingga kami pun menertawainya.

“Apa kamu, songong padahal gak bisa manjat” kata Putra mengejeknya lalu Anwar hanya membalasnya dengan cengiran.

“Pake kayu aja kalau gitu” Fatin memberikan saran tapi kami tidak menemukan kayu yang sesuai lalu aku pun mengajukan diri untuk memanjatnya.

“Emang kamu bisa, nanti kayak Anwar lagi” ujar Putra

“Bisa kok, in syah Allah” balas ku lalu mulai memanjat kelapa, walau sedikit kesusahan tapi aku berhasil menjatuhkan beberapa kelapa namun itu belum cukup.

Kemudian Putra menyarankan untuk naik dipunggungnya saja karena kebetulan kelapanya itu tidak terlalu tinggi, lalu aku pun bersedia dan naik diatas punggung cowok tersebut. Aku pun berhasil memetik beberapa kelapa lagi dan turun ketika sudah merasa cukup.

“Kenapa kaki mu gemetaran” tanya Putra

“Anu susah, aku takut jatuh sebenarnya” jawab ku

“Nggak lah, ada aku”

“Anu tawa, Enal lapar belum makan” bicara Nadin

“Halah lemah, aku aja masih kuat” kata Putra lagi

“Jangan gitu lah, ketahanan setiap orang itu beda-bed” ujar Sri lalu setelah itu kami pun pulang kembali keposko karena sudah dipanggil untuk makan oleh teman-teman ku yang piket hari ini. Saat sampai diposko teman-teman ku pun langsung masuk untuk makan, sementara itu aku masih diluar sedang istirahat karena masih kelelahan.

“Huff” suara nafas ku masih belum beraturan lalu teman-teman ku pun memanggil ku untuk segera ikut makan bersama juga.

“Makan Enal” ucap Eni

“Iyah, sebentar” balas ku

“Hmm” aku tersenyum sambil melihat kearah telapak tangan ku yang gemetaran. Saat itu aku memikirkan alasan untuk apa dan kenapa aku melakukan semua ini.

“Piringnya siapa ini” tanya Fatin

“Piringnya Enal mungkin, dia masih diluar” jawab Sri lalu teman-teman ku pun memanggilku kembali untuk segera makan.

“Iyah yah, aku datang” jawab ku lalu masuk kedalam posko dan ikut makan bersama teman-teman ku.

Kemudian setelah selesai makan kami pun istirahat, ada yang main hape, nonton film, jajan, tidur atau hanya sekedar rebahan saja. Aku juga begitu, rebahan sambil bermain game. Hanya itu lah yang aku ingin lakukan untuk berhenti sejenak, mengistirahatkan tubuh ku dan memulihkan kembali energi ku yang banyak hilang hari itu. Tapi tak begitu lama, kami kedatangan tamu seorang anak kecil dan ibunya. Mereka datang keposko dengan membawa makanan berupa kerupuk yang banyak lalu memberikanya kepada kami. Teman-teman ku pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Sementara itu aku merekam momen haru tersebut sambil berpikir alasan mengapa tiba-tiba mengalami kejadian seperti ini. Pasti ada sebabnya, saat itu lah aku sadar bahwa anak kecil yang memberikan kami kerupuk itu tidak lain adalah Gina. Mungkin saat pulang dirumah, dia menceritakan kejadian disekolahnya sebelumnya sehingga ibunya pun mau membalas perbuatan kami.

“Uhhh baiknya” Sri dan Eni merasa terharu setelah menyadarinya. Sementara itu Anwar sangat kesenangan dan langsung memakan kerupuk tersebut. Dia juga memberitahukannya kepada teman-temannya

“Yang mau silahkan datang ambil sendiri” tulisnya mengirim pesan foto digrup whatsapp kelompok KKN. Tak lama setelah itu beberapa teman ku pun benaran datang dan ikut mengambil keripik tersebut.

Hari pun berganti jadi sore, aku dibangunkan oleh Anwar untuk pergi kebalai desa. Namun setelah bangun aku sama sekali tidak melihat siapa-siapa dalam posko

“Mana yang lain” tanya ku

“Nggak tau, tapi kayaknya sudah ada dibalai” jawab Anwar lalu aku pun melihat matahari yang masih panas dan bertanya

“Ini seriusan panas begini mau senam”

“Iyah,ayo buruan” Balas lagi Anwar lalu aku juga melihat Sulis yang duduk sendirian, aku pun mengajaknya untuk pergi bersama-sama tapi perempuan itu hanya diam saja—dia menatap ku kosong

“Sulis.woi Sulis” panggil ku sehingga membuatnya terkejut

“Kamu tidak apa-apa” tanya ku lagi

“Umm” perempuan itu hanya menganggukan kepalanya lalu setelah itu kami berdua pun pergi menuju balai desa. Saat itu tiba-tiba saja kami dihadang oleh dua anak kecil yang tak lain adalah Brian dan Gina.

“Eh Gina, kenapa kalian ada disini” tanya ku tapi mereka sama sekali tidak menjawab lalu Gina memegang tangan ku dan sesuatu terjadi, tubuh ku serasa melemah, pandangan ku jadi kabur. Aku juga melihat Sulis yang ketakutan karena didekati oleh Brian

“Sul-is” ucap ku mencoba untuk meraihnya tapi kesadaran ku perlahan menghilang. Sementara itu Sulis berlari ketakutan dikejar oleh Brian. Sedangkan disisi lain juga Anwar bertemu Putu, mereka berdua saling bertatapan.

“K-kamu anak TK yang pintar tadi pagi ka-n” ujarnya mendekati Putu tapi anak tersebut malah tiba-tiba menyerangnya.

“Eh?” Anwar terkejut lalu melihat tanganya yang terluka dan saat itu dia menyadarinya sudah berada didepan banyak orang tua lansia

“Anwar...tolong kami” terdengar suara memanggilnya, itu adalah teman-temanya yang sedang ditahan

“Teman-teman, Fatin, Dani, Zee?” celetuknya

“A-apa yang sebenarnya terjadi” ucapnya menyadari dirinya telah menjadi pusat perhatian para lansia yang seram.

Sebelum itu kita kembali dulu pada kondisi Sulis yang semakin terpojok oleh Brian, “Pergi, jangan mendekati ku” pekiknya tapi Brian terus berjalan mendekatinya.

“Mama...tolong aku” kata gadis itu menangis pelan sambil menunduk lalu dia jadi teringat pada masa lalunya. Sulis adalah seorang mahasiswa jurusan kedokteran yang sangat suka beroganisasi baik dalam maupun luar kampus. Dia juga sering menjadi relawan dalam aksi kemanusian. Karena itu lah Sulis mempunyai perasaan empati yang sangat tinggi terhadap sekitarnya.

Saat itu suasana pun jadi hening, Sulis pun membuka matanya lalu melihat Brian yang berdiri didepanya tapi dengan penampilan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Lalu tak lama terdengar suara tangisan kecil dan itu berasal dari Brian. Sulis yang melihatnya pun mencoba untuk mendekatinya pelan-pelan dan bertanya.

“Kamu kenapa menangis Brian” tapi anak kecil itu sama sekali tidak menjawab, dia masih menangis lalu Sulis pun mencoba untuk menenangkannya dengan memegang kedua tangannya.

“Tidak apa-apa, ada kakak disini” ucapnya sambil tersenyum. Saat itu lah Sulis teringat pada penglihatannya yang waktu ditaman kanak-kanak ketika memegang tangan Brian juga. Dia melihat sosok bayangan hitam mengerikan yang mengelilingi anak bernama Brian itu lalu tiba-tiba bayangan itu melihat kearahnya dan menyerangnya, karena itulah Sulis langsung terkejut hingga terdorong kebelakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!