Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 Mengalah.
Aluna, Ravindra, Jiya, Firman, Umi dan Abi sedang berada di ruang tamu. Mereka kembali mengobrol dengan santai dan untung saja tidak ada yang memulai permasalahan sehingga tidak terjadi keributan berkali-kali.
"Aluna, di luar sedang hujan dan apa salahnya jika kalian menginap di rumah ini, besok pagi kalian baru pulang dan lagi pula bukankah besok juga weekend, jadi tidak ada salahnya untuk menginap di rumah ini," ucap Umi.
"Hmmmm, tapi....." Aluna sepertinya ingin protes.
"Bagaimana?" kamu mau menginap tidak?" tanyanya lagi.
"Ravindra, saya juga sebagai Abi Aluna, pasti sangat senang jika kamu menginap di rumah ini," sahut Abi.
"Baiklah, kami akan menginap dan besok pagi baru pulang," sahut Ravindra ternyata setuju.
Aluna tidak dapat berkomentar karena memang semua berdasarkan keputusan sang suami.
"Alhamdulillah, kalau begitu Umi akan menyuruh Bibi untuk membersihkan kamar kalian," sahut Umi.
"Tidak perlu Umi. Aluna akan melakukan sendiri," sahut Aluna.
"Baiklah, kalian berdua langsung saja beristirahat," sahut Wulan.
"Baik Umi," sahut Aluna.
"Kalian juga Firman," ucap Wulan.
Jiya dan Firman hanya menganggukkan kepala. Aluna bersama dengan sang suami akhirnya meninggalkan ruang tamu.
Aluna dan Ravindra sudah berdiri di depan kamar Aluna. Aluna belum mendorong pintu kamar tersebut dan masih melihat para suaminya yang menunggu berdiri di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya Ravindra.
"Ini kamarku dan segala sesuatu yang ada di dalam kamar adalah privasiku. Jadi jangan menyentuh apapun yang bukan milikmu dan jangan protes!" tegas Aluna mengingatkan terlebih dahulu sebelum sang suami menginjakkan kaki di dalam kamar.
"Aku padahal belum masuk kedalam dan kau sudah banyak peraturan," ucap Ravindra.
"Kau juga melakukan hal yang sama kepadaku," sahut Aluna.
"Jadi kau membalas dendam?" tanya Ravindra dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Itu artinya Tuhan sangat menyayangiku dan dia memberi kesempatan untuk membalas!" tegas Aluna dengan menyipitkan matanya.
"Astaga, ternyata kau benar-benar wanita pendendam. Tukang balas dendam dan tidak suka melihat kebahagiaan orang lain," sahut Ravindra.
"Hey, tuan Ravindra apa bedanya dengan dirimu. Kau juga menikahiku karena hanya ingin membalasku," sahut Aluna.
"Lalu apa sampai detik ini aku sudah membalasmu?" tanya Ravindra membuat Aluna terdiam.
"Jangan menjadi pajangan di depan pintu!" ucap Ravindra mengambil alih untuk membuka pintu tersebut dan masuk terlebih dahulu ke dalam kamar Aluna.
"Benar, sampai saat ini memang dia tidak melakukan apapun kepadaku, tidak ada pembalasan dan bahkan di hari pernikahan dia tetap datang," gumam Aluna ekspresi wajah tampak bingung.
Akhirnya dia menyadari bahwa suaminya sudah masuk ke dalam kamar.
"Hey tunggu, jangan menyentuh apapun yang bukan milikmu!" tegas Aluna berdiri di hadapan sang suami dengan merenggangkan tangannya.
"Apalagi? aku ingin istirahat. Minggir!" tegas Ravindra.
"Tidur di lantai," ucap Aluna mata melihat ke arah lantai.
Ravindra mengerutkan dahi, kepalanya berkeliling melihat kamar dekorasi berwarna pink, di dalam kamar itu terlihat begitu bersih dan ceria. Namanya juga kamar cewek jadi wajar saja jika penuh dengan warna-warni, tapi sayang sekali tidak ada sofa di dalam kamar tersebut.
"Kau menyuruhku tidur di lantai?" tanya Ravindra memastikan sekali lagi.
"Lalu jika tidak tidur di lantai, mau tidur di mana? Tidak mungkin tidur di atas ranjang bersamaku," jawab Aluna.
"Aku tamu di rumahnya dan seharusnya kamu menghargai tamu!" tegas Ravindra.
"Aku juga menjadi tamu di rumahmu dan kamu tidak pernah menghargaiku," sahut Aluna selalu memiliki jawaban jika suaminya berbicara kepada.
Ravindra menghela nafas dan dengan cepat menggeser tangan istrinya dan yang benar saja dia langsung menjatuhkan diri di atas ranjang.
"Hey. Siapa yang menyuruhmu untuk tidur di atas ranjang ku! Ayo cepat turun!" tegas Aluna.
"Teruslah berteriak seperti di dalam hutan sampai kedua orang tuamu datang dan mengatakan bagaimana pernikahan kita," ucap Ravindra mengingatkan istrinya itu dan kemudian dia langsung memejamkan mata dengan meletakkan tangannya di atas dahinya.
"Isss, apa-apaan sih!" kesal Aluna dengan menghentakkan kedua telapak kakinya di lantai.
"Ini kamarku dan kenapa aku yang harus menyerah," protes Aluna.
Ravindra mengabaikan istrinya itu, Ravindra juga ternyata tidak membahas apa yang telah di tunjukkan Jiya kepadanya mengenai foto kedekatan Aluna dengan Firman.
Sementara Jiya berada di kamarnya, berbaring miring di atas ranjang bersama dengan Firman. Walau keduanya tidur di dalam satu kamar dari atas ranjang yang sama, tetapi pasangan suami istri itu tidak pernah saling bersentuhan dan bahkan posisi tidur mereka juga berjauhan dengan sama-sama di ujung.
Jiya terlihat begitu gelisah seperti ada sesuatu yang dia pikirkan, tampak tidak tampak tidak tenang tidur dan bahkan di dalam kamar saat tertidur dia tetap memakai hijabnya.
Jiya benar-benar tidak menganggap suaminya ada.
"Apa mereka berdua saat ini sedang bertengkar? mungkin saja foto yang aku tunjukkan kepada Ravindra membuat keduanya saling bertengkar satu sama lain. Itu kesalahan Aluna sendiri dan aku hanya memberikan fakta, aku tidak berbohong dan aku juga tidak berdosa. Aku hanya menjaga Aluna dan Firman agar mereka tidak terjerat dalam hubungan yang haram," batin Jiya.
Jiya benar-benar manipulasi yang tidak pernah menganggap bahwa dirinya bersalah. Jiya menjadikan dirinya wanita paling suci dari penampilan dan juga tutur kata yang lembut dan selalu dikaitkan dengan agama, membuat wanita itu selalu dianggap sopan dan tidak mungkin melakukan hal buruk.
Di tengah pemikiran Jiya tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di pinggangnya membuatnya kaget dan langsung mengembalikan tubuh ke belakang.
"Apa sih kamu!" Jiya risih dengan sentuhan sang suami membuatnya langsung menjauhkan tangan itu.
"Aku suamimu dan jika tidak dimulai kapan bisa terbiasa," ucap Firman.
"Kamu jangan terus menuntut segala sesuatu yang tidak mungkin aku berikan. Firman, aku sudah menegaskan terlebih dahulu. Jika kamu tidak suka dan merasa tidak nyaman dan kamu bisa menceraikanku!" tegas Jiya.
"Kamu bilang apa?" tanya Firman.
"Bukankah aku sangat berbaik hati kepada kamu. Kamu tidak akan pernah mendapatkan wanita sepertiku, wanita yang rela suaminya menikah dan kemudian ketika suaminya tidak melakukan hal itu, ketika aku tidak bisa memberikan apapun kepada kamu dan aku rela untuk bercerai. Firman kamu seharusnya bersyukur pernah menjadi bagian dari hidupku!"
"Jika tidak menikah denganku dan maka nama baikmu tidak akan sebaik sekarang. Sebelum kamu menikah denganku, orang-orang tidak ada yang peduli kepada kamu dan bahkan kedua orang tuaku tidak menganggap kamu. Mereka memandang kamu sebelah mata dan ketika kamu menjadi suamiku, kamu baru dihargai, dianggap sebagai manusia dan maka dari itu, Kamu harus tahu diri!" tegas Jiya.
"Keterlaluan kamu Jiya!" umpat Firman benar-benar sakit hati dengan perkataan istrinya yang berlebihan.
Firman tidak mengatakan apapun lagi dan kemudian turun dari ranjang dan langsung keluar dari kamar tersebut dengan pintu yang tertutup cukup kasar.
"Dia mengatakan aku keterlaluan, aku berbicara fakta. Orang-orang yang hidup bersamamu namanya akan jauh lebih baik, kamu harusnya bersyukur di dalam kehidupanmu orang-orang menganggapnya sebagai manusia, apa kamu tidak merasa bangga jika orang-orang mengatakan bahwa kamu beruntung memiliki istri seperti, tapi sayang sekali kamu tidak tahu diri dan tidak menyadari hal itu," gumam Jiya selalu merasa bangga dengan dirinya.
Bersambung......