Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Jangan Sentuh Istriku
Hujan turun lebih deras.
Lampu jalan yang memantul di aspal basah membuat suasana sore itu terasa dingin, tetapi ketegangan yang berdiri di antara tiga orang di trotoar depan gedung penerbit justru jauh lebih menusuk daripada udara Sydney yang menggigit kulit.
Bella berdiri mematung.
Satu tangan memegang tas di bahu, tangan lainnya tanpa sadar bergerak ke perutnya.
Di depannya, Diana berdiri dengan mantel merah anggur yang terlalu mencolok, bibirnya tersenyum tipis seperti seseorang yang baru saja memenangkan permainan.
Dan beberapa langkah di belakang Bella, Dominic berdiri dengan wajah gelap.
Tatapannya begitu tajam hingga bahkan Diana sempat kehilangan senyumnya sesaat.
“Aku bilang, menjauh dari dia.”
Suara Dominic rendah.
Tenang.
Namun justru itu yang membuat nada ancamannya terasa nyata.
Diana mengangkat dagu sedikit.
“Oh, wow.”
Ia tertawa pendek.
“Jadi sekarang kamu datang jadi pahlawan?”
Dominic melangkah mendekat.
Jarak di antara mereka kini hanya beberapa langkah.
Bella bisa melihat otot rahang pria itu mengeras.
Tatapan Dominic tidak pernah lepas dari Diana.
“Ini terakhir kalinya aku bilang. Jangan dekati Bella.”
Diana tersenyum tipis.
Tatapan wanita itu beralih pada Bella, lalu turun ke arah perutnya.
Senyumnya berubah lebih tajam.
“Karena dia hamil?”
Bella langsung membeku.
Dominic mengepalkan tangan.
“Diana.”
Suara pria itu terdengar seperti peringatan terakhir.
Namun Diana justru tertawa kecil.
“Kenapa? Aku cuma bilang yang benar.”
Tatapannya kembali ke Bella.
“Aku bahkan nggak nyangka kamu secepat ini.”
Kalimat itu seperti percikan api.
Bella yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya mengangkat wajah.
Tatapannya dingin.
“Kalau kamu datang cuma buat ngomong omong kosong, pergi.”
Diana mengangkat alis.
“Masih galak.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Sayangnya, Bella, kamu harus sadar.”
Tatapannya berubah tajam.
“Anak itu nggak akan mengubah apa pun.”
Dominic langsung bergerak.
Pria itu berdiri tepat di depan Bella, menghalangi pandangan Diana.
Tubuh tingginya menjadi benteng yang memisahkan dua wanita itu.
“Cukup.”
Suara Dominic kali ini jauh lebih keras.
Bella yang berdiri di belakangnya bisa merasakan amarah yang bergetar dari tubuh pria itu.
Diana menatap Dominic lama.
Ada sesuatu yang berubah di wajahnya.
Senyum tipis yang tadi begitu percaya diri perlahan memudar, digantikan oleh tatapan penuh kekesalan.
“Kamu serius sekarang?”
Dominic tidak menjawab.
Tatapannya dingin.
Lebih dingin dari hujan yang turun.
“Aku nggak akan ulangi lagi.”
Dominic berbicara pelan, tetapi setiap katanya terasa seperti ancaman.
“Kalau kamu ganggu Bella sekali lagi, aku pastikan kamu nggak akan pernah bisa mendekat ke hidup kami.”
Kalimat itu membuat Diana terdiam.
Hidup kami.
Dua kata itu terasa seperti tamparan.
Bella sendiri ikut membeku.
Untuk sesaat, ia tidak tahu mana yang lebih mengusik dirinya—kehadiran Diana, atau cara Dominic mengatakan kalimat itu.
Diana tertawa kecil, namun tawa itu terdengar pahit.
“Luar biasa.”
Tatapannya beralih ke Bella.
“Kamu menang kali ini.”
Bella menatap lurus.
“Aku nggak pernah main permainan kamu.”
Diana tersenyum miring.
“Jangan terlalu percaya diri.”
Ia mundur satu langkah, lalu menatap Dominic.
“Kamu pikir laki-laki seperti dia bisa berubah?”
Kalimat itu ditujukan pada Bella.
Tajam.
Menusuk.
Bella mengepalkan tangan.
Namun Dominic langsung menjawab lebih dulu.
“Aku akan berubah.”
Tatapan pria itu tidak bergeser.
“Dan itu bukan urusan kamu.”
Hening.
Beberapa detik kemudian, Diana tertawa lagi, lalu berbalik.
“Heh.”
Ia melangkah menjauh di tengah hujan.
Namun sebelum masuk ke mobilnya, ia sempat menoleh sekali lagi.
“Kita lihat sampai kapan.”
Mobil hitam itu akhirnya melaju, meninggalkan Bella dan Dominic di bawah langit Sydney yang masih diguyur hujan.
—
Setelah Diana pergi, suasana mendadak menjadi jauh lebih sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Dominic berdiri membelakangi Bella beberapa detik, seolah memastikan mobil itu benar-benar pergi.
Lalu pria itu berbalik.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Bella benar-benar melihat wajah Dominic.
Wajah yang tegang.
Mata yang dipenuhi kekhawatiran.
Dan sesuatu yang lebih lembut.
“Bella.”
Suara pria itu melunak.
“Kamu nggak apa-apa?”
Bella ingin menjawab tegas seperti biasa.
Namun entah kenapa, seluruh emosinya yang tadi tertahan justru mulai menumpuk.
Marah.
Lelah.
Takut.
Dan rasa sakit yang kembali dibuka oleh kehadiran Diana.
“Aku capek, Dom.”
Suara Bella jauh lebih lemah dari yang ia kira.
Dominic langsung mendekat.
“Bella—”
“Aku capek harus terus kuat.”
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.
Bella menunduk.
Tangannya kembali ke perut.
“Aku capek terus diingatkan kalau semua ini berawal dari kesalahan kamu.”
Dominic membeku.
Setiap kata Bella menghantamnya tepat di dada.
Pria itu mengangkat tangan, ingin menyentuh pundak Bella, tetapi berhenti di udara.
Ia takut.
Takut Bella menjauh.
Namun saat tubuh Bella tiba-tiba sedikit goyah, refleks Dominic langsung menangkap lengannya.
“Bella!”
Wajah Bella mendadak pucat.
Napasnya memburu.
Emosi dan kelelahan yang menumpuk sejak beberapa hari terakhir akhirnya membuat tubuhnya melemah.
Dominic langsung menopang tubuh wanita itu.
“Astaga…”
Suara pria itu berubah panik.
Bella memejamkan mata.
“Aku cuma pusing.”
Namun tubuhnya terasa ringan.
Kepalanya berdenyut.
Dominic tidak menunggu lebih lama.
Tanpa meminta izin, pria itu langsung mengangkat Bella ke dalam pelukannya.
Bella terkejut.
“Dom!”
“Diam.”
Suara pria itu rendah.
Penuh ketegangan.
“Aku bawa kamu ke dokter.”
Bella ingin protes.
Namun tubuhnya terlalu lelah.
Dan yang lebih mengganggu adalah betapa familiar rasanya berada dalam pelukan Dominic.
Hangat.
Aman.
Perasaan yang justru paling ia hindari.
—
Di dalam mobil, Dominic beberapa kali menoleh ke arah Bella.
Wanita itu duduk diam dengan wajah pucat.
Tangannya terus berada di atas perut.
Pemandangan itu membuat dada Dominic terasa sesak.
Bukan hanya karena khawatir pada Bella.
Tetapi juga pada bayi mereka.
Bayi yang selama ini tumbuh tanpa ia tahu.
Bayi yang bahkan detak jantungnya pun ia lewatkan.
Rasa bersalah itu kembali menamparnya.
“Maaf.”
Suara Dominic terdengar pelan.
Bella tidak menjawab.
Tatapannya lurus ke depan.
Namun di sudut matanya, air mata masih menggantung.
Dominic mengeratkan pegangannya pada setir.
Ia tahu.
Satu kata maaf tidak akan pernah cukup.
Tidak untuk luka sebesar ini.
Tidak untuk pengkhianatan yang telah memecah hati Bella.
Namun untuk pertama kalinya, pria itu tahu satu hal dengan pasti.
Ia tidak akan menyerah.
Bukan karena bayi itu.
Tetapi karena wanita yang masih begitu ia cintai.
END BAB 24 😭🔥
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹