"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Aku menatap Bintang yang masih berjongkok di depanku. Susu cokelat di tangannya mulai berembun, persis seperti mataku yang kembali memanas. Melihat ketulusannya justru membuat dadaku semakin sesak—bukan karena cinta, tapi karena rasa bersalah yang teramat besar.
"Bin..." suaraku serak, nyaris hilang tertiup angin di balik lab biologi.
"Iya, Fis? Mau minum dulu?" tanyanya lembut, hendak membuka sedotan untukku.
Aku menggeleng pelan. Aku menjauhkan tanganku dari jangkauannya. "Kita selesai ya, Bin."
Gerakan tangan Bintang terhenti. Senyum tipis yang tadi menghiasi wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh tatapan bingung yang menyayat hati. "Maksud kamu apa, Fis? Karena Guntur tadi? Aku nggak peduli soal dia—"
"Bukan karena dia, Bin! Tapi karena aku!" potongku dengan nada meninggi, air mataku akhirnya luruh. "Aku nggak pantes buat kamu. Selama ini aku cuma jadiin kamu pelarian. Aku jadiin kamu tameng biar aku nggak kelihatan menyedihkan di depan Guntur. Itu jahat, Bin. Kamu terlalu baik buat diginiin."
Aku menghapus air mata dengan kasar, mencoba berdiri meski kakiku masih terasa lemas. "Kamu pantes dapetin cewek yang hatinya utuh buat kamu, bukan cewek yang hatinya masih berantakan karena orang lain. Aku nggak mau nyakitin kamu lebih jauh lagi."
Bintang ikut berdiri. Dia tidak marah. Dia tidak memaki. Dia justru melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami.
"Fis, dengerin aku," ucapnya mantap, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Aku tahu dari awal aku ini siapa buat kamu. Aku tahu aku cuma pelarian. Tapi aku yang milih buat tetep di sini, kan?"
"Tapi itu salah, Bin! Kamu bakal sakit hati—"
"Biarin itu jadi urusan aku," sergahnya lembut. Bintang menatap mataku dalam-dalam, mengabaikan segala penolakanku. "Aku nggak terima putus, Fis. Aku mau tetep di sini. Kalau Guntur bisa bikin hati kamu beku kayak es, maka aku yang bakal jadi matahari yang nunggu es itu cair. Mau sebulan, setahun, atau selamanya, aku bakal tetep berusaha."
Aku terdiam, terpaku oleh kegigihannya. Di saat orang-orang yang kupercaya pergi dan berbohong, laki-laki yang baru hadir ini justru menawarkan kesetiaan yang tidak masuk akal.
"Pulang yuk? Aku anter pakai taksi online, motor aku masih di bengkel," ajaknya sambil menyodorkan tangannya, tidak lagi memaksa untuk menggenggam, hanya menawarkan bantuan.
Aku menatap tangan Bintang yang terulur, lalu beralih menatap wajahnya yang masih basah karena sisa-sisa hujan dan keringat. Pertanyaanku tentang praktikum di lab membuatnya tertegun sejenak, seolah dia baru sadar bahwa dunianya tidak hanya berputar di sekeliling lukaku.
"Kamu mau bolos? Bukannya nanti kelas IPA ada praktek di lab?" tanyaku dengan nada yang lebih tenang, meski mataku masih terasa panas.
Bintang menggaruk tengkuknya, tampak serba salah. "Ya... ada sih. Tapi aku lebih khawatir sama kamu, Fis."
"Enggak, Bin. Jangan karena aku, nilai kamu jadi taruhannya. Aku bukan anak kecil lagi yang harus dijagain tiap detik," ucapku sambil berdiri tegak, merapikan seragamku yang mulai mengering namun terasa kaku. "Aku nggak mau pulang. Aku mau balik ke kelas. Aku nggak mau kelihatan kalah di mata mereka dengan cara kabur dari sekolah."
Bintang menatapku sangsi. "Kamu yakin? Kalau Guntur atau Fita ganggu lagi gimana?"
"Biarin aja. Gue bakal hadapin mereka sebagai Afisa yang baru, bukan Afisa yang kemarin lari-larian kayak orang bego," sahutku tegas. Kali ini, aku sengaja menggunakan kata 'gue' untuk membentengi perasaanku kembali.
Bintang menghela napas panjang, akhirnya menyerah. "Oke. Tapi janji, kalau kepala kamu pusing atau mereka keterlaluan, kasih tahu aku."
Aku hanya mengangguk singkat, lalu berbalik meninggalkan area belakang lab biologi. Aku melangkah menyusuri koridor menuju kelas X-IPS 2. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti sedang menyusun kembali kepingan harga diriku yang sempat tercecer.
Saat aku sampai di depan pintu kelas, suasana mendadak sunyi. Ternyata, Guntur masih ada di sana, berdiri di dekat meja guru sambil berbicara dengan wali kelasku. Di sampingnya ada Fita yang masih menunduk. Sepertinya mereka sedang urusan absensi atau sesuatu yang formal.
Begitu aku masuk, tatapan Guntur langsung terkunci padaku. Ada kilat kelegaan di matanya saat melihatku kembali ke kelas, tapi itu segera sirna saat dia melihat Bintang berjalan beberapa meter di belakangku untuk memastikanku sampai dengan aman.
Aku melewati mereka seolah-olah mereka adalah debu di udara. Aku duduk di bangkuku, mengeluarkan buku paket ekonomi, dan mulai membaca tanpa memedulikan atmosfer yang mendadak mendingin.
"Afisa," panggil Guntur pelan. Wali kelas kami sudah keluar, meninggalkan kami dalam ketegangan yang nyata.
Aku tidak mendongak. "Ada apa ya, Kak? Saya lagi mau belajar. Bukannya Kakak harusnya udah balik ke gedung kelas dua?"
Fita maju satu langkah, suaranya gemetar. "Fis, Guntur mau kasih ini... dia bilang ini punya lo yang ketinggalan di parkiran pas hujan kemarin."
Fita meletakkan sebuah gantungan kunci berbentuk bintang—pemberian Bintang minggu lalu yang ternyata jatuh dari tasku—di atas meja.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2