Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Suasana di ruang VIP perlahan berubah semakin santai seiring waktu berjalan.
Awalnya percakapan masih berkisar pada hal-hal umum—pekerjaan, rutinitas, kabar keluarga, dan beberapa cerita ringan yang lebih banyak diwarnai candaan dibanding keseriusan.
Musik dari lantai bawah terdengar teredam, hanya dentuman bass yang samar terasa di lantai, seperti pengingat bahwa dunia di luar ruangan itu masih bergerak lebih cepat daripada percakapan di dalam.
Rionegro duduk bersandar santai di sofa, satu tangan bertumpu di sandaran, sementara gelas berisi air dingin berada di atas meja di depannya.
Ia tidak banyak bicara.
Namun kehadirannya tetap terasa.
Revano sedang menceritakan sesuatu tentang salah satu teman lama mereka yang tiba-tiba memutuskan pindah ke luar negeri tanpa banyak pemberitahuan.
Axel beberapa kali menyela dengan komentar yang membuat cerita itu terdengar jauh lebih dramatis dari seharusnya.
Alexander hanya tertawa pelan, sesekali menimpali dengan nada santai yang terdengar seperti sudah sangat terbiasa dengan pola percakapan seperti ini.
“Bosen juga ngomongin kerjaan terus,” kata Revano tiba-tiba sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
Axel langsung menoleh dengan ekspresi penuh ide.
“Yaudah main game.”
Jevano mengangkat alis.
“Game apaan?”
Axel tersenyum miring, ekspresi yang selalu muncul setiap kali ia merasa akan membuat situasi jadi lebih menarik.
“Truth or drink.”
Revano langsung tertawa kecil.
“Gue udah tau bakal ke arah situ.”
Alexander menyandarkan siku di meja, menatap Axel sekilas.
“Lo emang nggak pernah berubah.”
Axel mengangkat bahu santai.
“Biar hidup ada variasi.”
Jevano menoleh ke arah Rionegro.
“Lo ikut?”
Rionegro menatap mereka satu per satu beberapa detik.
Ekspresinya tetap tenang.
Tidak terlihat antusias, tapi juga tidak menolak.
“Liat dulu.”
Axel langsung mendorong botol wine sedikit ke tengah meja.
“Aturannya simpel. Kalau kena pertanyaan, pilih jawab jujur atau minum.”
Revano menambahkan, “Pertanyaannya bebas. Tapi jangan lebay.”
Alexander tersenyum tipis.
“Yang paling bahaya justru yang keliatannya sederhana.”
Axel memutar botol di tengah meja.
Botol berputar pelan di permukaan kaca, memantulkan cahaya lampu hangat di atas mereka.
Putaran pertama berhenti mengarah ke Revano.
“Wah, langsung gue,” katanya santai.
Axel langsung bersandar lebih tegak.
“Oke. Pertanyaan pertama… soal percintaan.”
Revano langsung menghela napas panjang berlebihan.
“Udah tau.”
“Masih sering kepikiran mantan lo?”
Revano mendecak pelan.
“Langsung berat.”
Jevano tertawa kecil.
Alexander hanya memperhatikan dengan ekspresi tenang.
Revano menatap gelas di depannya beberapa detik.
“Enggak.”
“Yakin?” Axel menatap tajam dengan nada menggoda.
Revano mengangkat alis.
“Udah lewat.”
Axel mengangguk pelan, menerima jawaban itu tanpa memperpanjang.
Botol diputar lagi.
Kali ini berhenti di Alexander.
Revano langsung menyeringai kecil.
“Kesempatan langka nih.”
Alexander menatap mereka santai.
“Tanya aja.”
Revano menyandarkan siku di meja.
“Kalau disuruh milih, lo lebih milih cinta atau stabilitas hidup?”
Alexander tertawa kecil.
“Pertanyaannya kayak wawancara kerja.”
“Jawab.”
Alexander menatap gelasnya sebentar sebelum menjawab tenang.
“Stabilitas dulu.”
Axel langsung bersiul pelan.
“Realistis.”
Alexander hanya tersenyum tipis.
Botol diputar lagi.
Beberapa putaran berikutnya berjalan ringan.
Pertanyaan tentang pekerjaan.
Tentang keputusan hidup.
Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu rahasia, tapi cukup membuat percakapan terasa lebih hidup.
Sampai akhirnya botol berhenti mengarah ke Rionegro.
Revano langsung menegakkan badan.
“Wah.”
Axel menatap Rionegro dengan senyum penuh arti.
“Jarang-jarang.”
Jevano terlihat tertarik.
Alexander hanya memperhatikan tanpa komentar.
Rionegro menatap botol itu sebentar.
Ekspresinya tetap datar.
Axel melipat tangan di dada.
“Oke… pertanyaan tentang percintaan.”
Revano langsung menambahkan, “Yang jujur.”
Rionegro tidak langsung merespon.
Axel akhirnya bertanya,
“Lo pernah nyesel nggak… nolak seseorang yang sebenernya bisa aja lo coba kenal lebih jauh?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun cukup spesifik untuk membuat suasana sedikit lebih hening.
Rionegro tidak langsung menjawab.
Matanya sempat turun ke arah meja.
Sepersekian detik.
Tidak lama.
Tapi cukup terlihat ia benar-benar mempertimbangkan jawabannya.
Atau mungkin… mempertimbangkan apakah ia ingin menjawab sama sekali.
Tangannya meraih gelas wine di depannya.
Gerakannya tenang.
Tidak tergesa.
Ia mengangkat gelas itu tanpa mengatakan apa-apa.
Axel langsung terkekeh pelan.
Revano mengangkat alis tinggi.
Alexander tersenyum samar, seperti sudah menduga pilihan itu.
Jevano menepuk pelan meja.
“Satu poin buat misteriusnya Rionegro.”
Rionegro meneguk wine itu secukupnya.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk menggantikan jawaban yang tidak ia berikan.
Ia meletakkan kembali gelas itu di meja dengan gerakan pelan.
Axel mengangkat kedua tangan menyerah.
“Baiklah. Kita hormati privasi dosen kita.”
Revano tertawa kecil.
“Padahal menarik tuh kalau dijawab.”
Rionegro hanya menyandarkan punggungnya kembali ke sofa.
Tidak memberikan komentar tambahan.
Botol kembali diputar.
Permainan berlanjut dengan ritme yang tetap santai.
Tawa sesekali pecah.
Candaan ringan membuat suasana terasa lebih hangat.
____________________________________________
Di sisi lain lorong yang sama, suasana di ruang VIP tempat Yusallia berada tidak kalah hidup.
Meja di tengah ruangan sudah dipenuhi minuman ringan dan beberapa gelas berisi cocktail berwarna lembut.
Beberapa teman lama terlihat jauh lebih santai dibanding pertemuan formal biasanya.
Bryan duduk tidak jauh dari Yusallia, terlihat cukup menikmati suasana.
“Udah lama banget nggak kumpul begini,” kata salah satu teman mereka.
“Terakhir sebelum pandemi kayaknya,” sahut yang lain.
Yusallia tersenyum kecil.
Ia duduk dengan posisi cukup santai, namun tetap terlihat sedikit lebih reserved dibanding yang lain.
Bukan karena tidak nyaman.
Hanya karena ia memang tidak terbiasa berada di tempat seperti ini terlalu lama.
“Main game yuk,” usul seseorang tiba-tiba.
Beberapa langsung setuju.
“Truth or drink aja.”
Yusallia langsung menggeleng pelan.
"Gue nggak ikut.”
Bryan menoleh.
“Kenapa?”
“Nggak biasa.”
“Justru itu,” kata Bryan santai.
“Ayolah sekali-sekali.”
Yusallia tersenyum kecil.
“Lihat dulu aja.”
Namun entah bagaimana, beberapa menit kemudian ia sudah ikut duduk melingkar bersama mereka.
Bryan yang duduk di sampingnya sesekali berbisik ringan,
“Kalau nggak mau jawab, tinggal minum.”
Nada suaranya santai.
Tidak memaksa secara berlebihan.
Tapi cukup membuat Yusallia akhirnya tidak benar-benar menolak.
Putaran pertama bukan dirinya.
Putaran kedua juga bukan.
Sampai akhirnya botol berhenti tepat mengarah padanya.
Beberapa temannya langsung bersorak kecil.
Yusallia tertawa pelan, sedikit canggung.
“Pertanyaan ringan aja,” kata salah satu temannya.
“Cinta pertama lo masih inget?”
Yusallia menatap meja beberapa detik.
Lalu tanpa banyak bicara, ia meraih gelas cocktail di depannya.
Meneguknya pelan.
Bryan menoleh sekilas.
Tidak mengomentari.
Putaran berikutnya.
Botol kembali berhenti di arahnya.
“Pernah suka sama orang yang nggak pernah tau perasaan lo?”
Yusallia tersenyum kecil.
Lalu kembali memilih minum.
Beberapa temannya mulai tertawa kecil.
“Wah bahaya nih.”
Bryan hanya memperhatikan dengan ekspresi netral.
Putaran berikutnya.
“Kalau disuruh milih karier atau cinta?”
Yusallia kembali memilih minum.
Gelas yang awalnya hampir penuh mulai perlahan berkurang.
Ia sebenarnya tidak berniat minum banyak.
Namun setiap pertanyaan terasa terlalu personal untuk dijawab di suasana seperti ini.
Minum terasa lebih mudah.
Lebih cepat.
Lebih aman.
Namun toleransi alkoholnya memang tidak terlalu tinggi.
Efeknya mulai terasa lebih cepat dari yang ia sadari.
Pipi Yusallia mulai sedikit memerah.
Tawanya menjadi sedikit lebih ringan dari biasanya.
Bryan memperhatikan perubahan kecil itu.
“Pelan-pelan minumnya,” bisiknya pelan.
Yusallia mengangguk kecil.
Namun permainan terus berlanjut.
Beberapa pertanyaan berikutnya kembali jatuh padanya.
Dan hampir setiap kali, ia tetap memilih minum.
Bukan karena ingin terlihat berani.
Hanya karena tidak ingin membuka bagian dirinya yang terlalu pribadi di tengah suasana ramai.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Suasana semakin santai.
Tawa semakin sering terdengar.
Musik dari luar terdengar sedikit lebih jelas sekarang.
Dan malam masih terus berlanjut.
Tanpa disadari, jarak antara dua ruangan itu tidak lebih dari beberapa langkah.
Rionegro yang masih duduk di sofa sesekali menanggapi candaan sepupunya.
Yusallia yang mulai sedikit lebih diam dari sebelumnya mencoba tetap mengikuti percakapan teman-temannya.
Malam belum mencapai puncaknya.
Namun sesuatu perlahan bergerak mendekati titik pertemuan yang tidak direncanakan.
Dan hujan di luar… hanya menunggu waktu untuk benar-benar turun.