NovelToon NovelToon
DUDA GILA Vs PERAWAN TUA

DUDA GILA Vs PERAWAN TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Lansia / Duda / Cintamanis / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.

Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.

​Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.

Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.

​Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

.

Pagi datang membawa warna yang berbeda. Cahaya matahari menelusup lembut melalui jendela-jendela besar rumah utama. Tak ada lagi suasana hening yang menekan seperti kemarin. Rumah itu kembali hidup. Suara langkah kaki pelayan, denting peralatan dapur, dan percakapan ringan mulai terdengar seperti biasa.

Di dapur, Amanda berdiri di samping Bu Rani. “Bu…” Amanda membuka suara pelan, nyaris berbisik. “Emangnya makam keluarga Wijaya itu ada di luar kota, ya? Kok pulangnya malam sekali kemarin.”

Bu Rani yang sedang memotong buah menoleh sekilas, lalu menggeleng pelan.

“Tidak, hanya saja setelah dari sana, kami pergi ke beberapa yayasan sosial yang dulu dikelola langsung oleh almarhumah Nyonya Susi.”

Amanda terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Oh… begitu.” Ia tidak melanjutkan. Ada jeda yang sengaja dibiarkan. Amanda memilih mengalihkan arah pembicaraan, tak ingin topik itu terdengar oleh Putri dan kembali membuka luka.

“Oh iya, Putri biasanya bawa bekal apa, Bu?

Wajah Bu Rani langsung berubah lebih hangat. “Oh, Putri? Seleranya sama persis dengan mendiang Nyonya. Sedikit nasi putih, ayam ungkep, sambal matah, sama tumis brokoli wortel.”

Amanda mengangguk-angguk, mencatat dalam ingatan. “Boleh tidak saya yang siapkan, Bu,” ijinnya mengingat selama dia ada di rumah itu, Bu Rani lah yang menyiapkan segala sesuatu untuk Putri.

Bu Rani mengangguk dan tersenyum, dan Amanda segera bergerak menyiapkan segala yang baru disebutkan oleh Bu Rani.

Beberapa saat kemudian, dua kotak bekal sudah tersusun rapi di atas meja.

Bu Rani mengerutkan kening.

“Lho… kok dua, Bu?”

Amanda tersenyum ringan tanpa menoleh. “Iya, Bu. Yang satu untuk Putri, yang satu lagi untuk Tuan Dirga.”

Bu Rani sedikit tersentak. Namun beberapa detik kemudian, tanpa Amanda sadari, sudut bibir wanita paruh baya itu terangkat. Senyum kecil yang penuh arti.

*

Di meja makan, suasana pagi terasa lebih hidup. Putri duduk di samping Bu Rani, sementara Dirga duduk di ujung meja seperti biasa, membaca sesuatu di ponselnya dengan ekspresi datar.

Setelah sarapan selesai dan semua bersiap dengan aktivitas masing-masing, Amanda mengulurkan kotak bekal yang telah ia siapkan pada Putri.

Mata Putri berbinar saat melihat kotak bekal itu. “Untuk Putri, Bu?”

Amanda mengangguk. “Iya. Coba lihat, kamu suka nggak.”

Putri menerimanya dengan senyum lebar. “Terima kasih, Bu!” ucapnya. Langsung memasukkan kotak tersebut ke dalam tas kerjanya.

Amanda lalu mendekat ke arah Dirga. Ia mengulurkan kotak yang satunya. “Ini… untuk Tuan.”

Dirga mengangkat kepalanya menatap kotak itu. Saat itu juga matanya memicing ke arah Amanda.

“Kamu pikir aku ini anak TK, harus bawa bekal segala?” ucapnya sarkas.

“Memangnya yang boleh bawa bekal hanya anak TK saja? Orang dewasa juga boleh.” Amanda benar-benar kesal karena merasa hasil jerih payahnya tak dihargai.

“Tidak perlu,” tolak Dirga cepat. “Di perusahaan sudah ada chef yang diatur oleh Kevin. Aku tidak akan kelaparan.”

Tangan Amanda yang masih terulur perlahan turun. Kepalanya ikut tertunduk. Ada rasa tidak enak yang menyusup tanpa permisi.

Namun sebelum suasana semakin canggung, Putri secepat kilat berdiri dan merebut kotak bekal dari tangan Amanda, lalu tanpa ragu memasukkannya ke dalam tas kerja milik Dirga yang terletak di kursi.

“Ya ampun, Yah! Apa susahnya sih tinggal terima saja?” omelnya.

Dirga menatap tajam ke arah Amanda. Rahangnya mengeras. Jelas sekali ia tidak suka. Kenapa putri selalu saja lebih membela Amanda daripada dia yang ayahnya? Dengan gerakan kasar pria itu mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan suara berdecit yang nyaring dan menusuk telinga. Tanpa bicara lagi, ia berdiri dan melangkah keluar.

“Ayah!” panggil Putri, tapi pria itu tidak berhenti. Putri mendengus kesal, lalu menoleh cepat ke arah Amanda.

“Bu, cepat susul Ayah!”

Amanda terkejut. “Hah? Tidak usah, Putri. Ibu naik taksi saja. Nanti… ”

Namun, Putri tidak mau mendengar. Gadis itu meraih tangan Amanda. “Ayo!” serunya langsung menarik Amanda keluar menuju halaman depan..

*

*

*

Putri yang baru saja berbalik hendak masuk kembali ke dalam rumah, menghentikan langkahnya. Alisnya mengerut melihat Bu Rani yang masih berdiri menatap mobil ayahnya yang baru saja pergi. Ada senyum tipis di wajah wanita itu. Bukan senyum biasa. Ada sesuatu di dalamnya. Hangat, sekaligus penuh kenangan.

“Ada apa sih, Bu?” tanya Putri sambil mendekat.

Bu Rani sedikit tersentak, lalu menggeleng pelan. “Tidak apa-apa,” jawabnya ringan. “Cuma… lucu saja melihat ayahmu berdebat dengan Bu Manda,” ucapnya terkekeh. “Ibu jadi teringat sama almarhum ibumu.”

Deg.

Putri langsung terdiam. Tatapannya berubah. “Memangnya dulu, Ibu juga sering berdebat sama Ayah seperti itu, Bu?” tanyanya hati-hati.

Ada jeda sejenak. Bu Rani menatap wajah Putri, lalu tersenyum lembut lalu menggandeng tangan Putri, mengajak gadis itu masuk ke dalam. “Ibumu adalah satu-satunya wanita yang berani berdebat dengan ayahmu.”

Putri menatapnya lekat-lekat. Rasa penasaran yang selama ini terkubur, perlahan muncul ke permukaan. Tak banyak kenangan dengan ibunya yang ia ingat, karena ibunya pergi saat usianya masih tujuh tahun. Selama ini ia tak berani bertanya, karena setiap kali bertanya, wajah ayahnya akan berubah menjadi sendu.

Mereka sampai di ruang tengah.

Putri langsung menarik Bu Rani menuju sofa. “Cerita tentang Ibu dong, Bu!” pintanya, matanya berbinar penuh antusias.

Bu Rani mengangkat alis. “Memangnya kamu tidak akan ke perusahaan? Ini sudah siang, loh.”

Putri menggeleng cepat. “Berangkat nanti saja. Sudah ada Lusi yang handle semuanya,” jawabnya ringan, tanpa pikir panjang, lalu menatap lekat Bu Rani. “Please, Bu…”

Bu Rani menghela napas pelan, lalu duduk dengan posisi nyaman.

“Baiklah…” katanya lembut.

Putri langsung duduk bersila di sofa, menghadap Bu Rani seperti anak kecil yang siap mendengar dongeng.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nama itu kembali hadir di ruang itu. “Ibumu, Nyonya Susi, adalah wanita yang sangat lembut, tapi juga keras kepala.”

Putri tersenyum tipis dengan dua tangan menyangga dagu. Benar-benar menyimak.

“Beliau selalu bicara pelan, tidak pernah meninggikan suara. Tapi kalau sudah punya pendapat…” Bu Rani menggeleng kecil sambil tersenyum, “bahkan ayahmu pun bisa kalah.”

“Serius?” Putri sedikit terkekeh, tidak menyangka.

“Tentu saja,” jawab Bu Rani. “Ayahmu itu orangnya tegas, dingin, dan tidak suka dibantah. Bahkan Nyonya Jameela saja tak berani berdebat. Tapi ibumu berbeda, dia tidak pernah takut. Ibumu selalu tahu bagaimana cara membuat ayahmu diam.”

Putri terdiam, membayangkan sosok ibunya yang selama ini hanya ada dalam bayangannya saja.

“Jadi, Ayah dari dulu memang keras kepala ya, Bu?”

Bu Rani tertawa kecil. “Bukan keras kepala,” jawabnya sambil menatap Putri dalam-dalam. “Beliau hanya tidak terbiasa ada yang berani melawan dan membantahnya.”

Putri menggigit bibir bawahnya pelan, mencerna setiap kata. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia merasa seperti benar-benar mengenal sosok itu. “Ibu…” gumam Putri pelan, hampir tak terdengar.

Bu Rani mengulurkan tangan, menggenggam tangan Putri dengan lembut. “Ibumu wanita yang luar biasa,” ucapnya pelan. “Dan kamu banyak mewarisi dirinya.”

Putri terdiam. Entah kenapa, dadanya terasa hangat. Dan di sudut hatinya, sebuah rasa yang selama ini kosong, perlahan mulai terisi.

1
Dwi Anto
sebenarnya..othor sk gantung2 cerita
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: memang saran dari editor seperti itu kak. haru ada cliffhanger🤭🤭
total 1 replies
dewi rofiqoh
Apa ya jawaban bu manda?
Ummee
sebenarnya... kak author mau istirahat dulu, jadi sabar dulu ya Ayah 😅
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: aseek aseek.. ..
yuk nyakain kipasnya Umi, 🤗🤗
total 1 replies
Soraya
lanjut thor
Aditya hp/ bunda Lia
sebenarnya .... nanti ajah yah pak dikasih tau pas mama up lagi 🤭
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: wk wk wk🤣🤣🤣
total 1 replies
Ummee
dasar stres, kamu memang cinta atau mah memanfaatkan?
tapi kalo cinta kok memaksa
Ummee
baru bisa mampir kak🙏
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: gpp, Umi. semoga betah ya
total 1 replies
Ummee
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
tanpa filter sekali pak
vania larasati
lanjut
Nar Sih
bnr bangett apa kata mu kevin ,pasti nanti kwalat
〈⎳ FT. Zira
lagi kesambet/Facepalm/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
co cwiiiittt
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
harusnya td pasang kamera tersembunyi
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
karena*
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
memilih*
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
mungkin
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
untuk* dibuang aja, nyempil. 😂
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
Dahi Amanda sedikit berkerut, lalu ia segera menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya,

menurutku lebih pas.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sama lah
total 2 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
mengikat*
vj'z tri
cintaku padamu tak kan berubah walau di telan waktu, biarlah kan ku simpan dalam hati /Shy//Shy//Shy/🎉🎉🎉🎉
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ahayyyy💃💃💃💃
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!