Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Retakan Yang Mulai Terlihat
Suasana di dalam ruangan itu berubah dalam sekejap sejak Clara melangkah masuk dan melihat sosok pria asing yang berdiri dengan tenang di sana, aura dingin yang dimiliki Devan seolah langsung menekan ruang gerak siapa pun yang berada di dekatnya, membuat Clara yang biasanya begitu percaya diri sedikit kehilangan ritmenya walaupun hanya sepersekian detik, namun bagi Lisa yang kini jauh lebih peka terhadap detail kecil, perubahan itu terlihat sangat jelas dan justru menjadi sesuatu yang ia nikmati dalam diam karena itu berarti satu hal—Clara tidak sepenuhnya mengendalikan situasi seperti yang biasa ia lakukan.
Lisa berdiri dengan santai di dekat mejanya, lalu melangkah perlahan mendekat seolah ingin mencairkan suasana, sementara Clara mencoba mengembalikan senyum manisnya yang sedikit goyah dan berkata dengan nada yang tetap ceria meskipun matanya sesekali melirik ke arah Devan, “Lisa, kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya teman seperti ini,” lalu ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada sedikit lebih hati-hati, “atau… aku yang ketinggalan cerita?”
Lisa tersenyum tipis, tatapannya tenang namun penuh arti.
“Tidak semua hal perlu diceritakan, kan?” jawabnya ringan, lalu ia menoleh ke arah Devan, “ini Devan.”
Devan tidak banyak bergerak, hanya sedikit mengangguk sebagai bentuk sapaan tanpa senyum, membuat Clara sedikit canggung karena ia terbiasa mendapatkan respons yang lebih ramah dari orang-orang yang baru dikenalnya, namun kali ini situasinya berbeda, dan itu membuatnya semakin waspada.
“Clara,” kata Lisa melanjutkan dengan santai, “sahabatku.”
Kata “sahabat” itu terdengar sederhana, tetapi bagi Lisa sendiri kata itu terasa seperti sesuatu yang pahit di dalam hati, sesuatu yang hanya ia ucapkan sebagai bagian dari permainan yang sedang ia jalankan dengan sangat hati-hati.
Clara tersenyum lagi, kali ini lebih terkendali, lalu berkata sambil sedikit mendekat, “Senang bertemu denganmu, Devan,” dan Devan hanya menjawab singkat, “Begitu juga,” tanpa nada hangat, cukup untuk membuat Clara menyadari bahwa pria ini bukan tipe yang mudah didekati dengan cara biasa.
Beberapa detik hening berlalu sebelum Clara kembali memfokuskan perhatiannya pada Lisa, mencoba mengembalikan kendali percakapan, “Aku tadi kaget banget dengar kamu sudah mulai aktif di perusahaan, kamu serius banget sekarang ya?” dan Lisa menjawab dengan nada santai namun jelas, “Aku hanya mulai melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu,” kalimat yang terdengar ringan namun memiliki makna yang lebih dalam jika dipahami dengan benar.
Clara tertawa kecil, mencoba menutupi rasa tidak nyamannya, “Wah, aku jadi merasa ketinggalan jauh nih dari kamu,” lalu ia menambahkan dengan nada sedikit bercanda, “jangan-jangan nanti kamu sudah jadi direktur sebelum aku sempat ikut bangga,” dan Lisa hanya tersenyum tipis sebelum berkata, “Kalau kamu mau bangga, tidak perlu menunggu aku jadi apa-apa.”
Percakapan itu terlihat biasa bagi orang luar, tetapi di dalamnya penuh dengan lapisan makna yang tidak diucapkan secara langsung, dan Devan yang berdiri di sana hanya mengamati tanpa ikut campur, matanya sesekali berpindah antara Lisa dan Clara seolah sedang menyusun potongan-potongan yang belum lengkap.
Namun suasana itu tidak berlangsung lama ketika pintu kembali diketuk, dan seorang pria masuk dengan langkah cepat namun tetap sopan, wajahnya terlihat profesional dan serius.
“Maaf mengganggu, Nona Lisa,” katanya.
Lisa langsung mengenalinya.
Michael Tan, asisten pribadi Devan.
Lisa sedikit mengangkat alisnya sebelum berkata, “Silakan.”
Michael melirik Devan sejenak sebelum melanjutkan, “Tuan Devan, ada beberapa dokumen penting yang perlu Anda tandatangani sekarang, dan Tuan Daniel juga sudah menunggu di ruang rapat.”
Nama itu langsung menarik perhatian Clara.
“Daniel?” ulang Clara pelan.
Lisa menoleh sedikit, lalu berkata santai, “Adik Devan.”
Clara terlihat sedikit terkejut, matanya kembali menatap Devan dengan cara yang berbeda sekarang, seolah mencoba menilai ulang siapa pria yang berdiri di depannya.
“Jadi kamu…” Clara menggantung kalimatnya.
Namun Devan menjawab tanpa basa-basi, “Alexander Group.”
Kalimat singkat itu cukup untuk membuat suasana berubah lagi.
Clara terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum, namun kali ini senyumnya terlihat lebih berhati-hati.
“Wah… aku tidak menyangka,” katanya pelan.
Lisa memperhatikan semua itu dengan tenang.
Dan di dalam hatinya…
Ia tersenyum.
Karena ia tahu sekarang Clara mulai merasa terancam.
Di saat yang sama…
Di tempat lain…
Seorang pria duduk di dalam mobilnya dengan ekspresi tidak sabar, tangannya menggenggam ponsel dengan kuat sementara layar menunjukkan panggilan yang tidak diangkat.
“Kenapa dia tidak angkat?” gumamnya pelan dengan nada kesal.
Pria itu adalah Arvin Pratama.
Ia mencoba menghubungi Lisa sejak beberapa menit yang lalu, namun tidak mendapatkan respons, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman karena biasanya Lisa tidak pernah mengabaikan panggilannya seperti ini.
Ia menarik napas panjang, lalu menatap ke depan dengan mata yang mulai mengeras.
“Lisa… kamu mulai berubah,” katanya pelan, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Di dalam mobil itu, suasana terasa lebih berat.
Dan untuk pertama kalinya…
Arvin mulai merasa kehilangan sesuatu.
Kembali ke dalam ruangan…
Lisa melangkah sedikit mendekat ke arah Clara, lalu berkata dengan nada santai namun penuh arti, “Kamu datang ke sini ada perlu sesuatu?” dan Clara langsung menjawab dengan cepat, “Aku cuma ingin ketemu kamu, sudah lama kita tidak ngobrol santai,” namun Lisa bisa melihat dengan jelas bahwa ada hal lain yang ingin dikatakan oleh Clara, sesuatu yang belum ia keluarkan karena kehadiran Devan.
Lisa mengangguk pelan.
“Kalau begitu kita bisa ngobrol nanti,” katanya.
Clara tersenyum, lalu berkata, “Aku tunggu ya,” sebelum akhirnya berpamitan dan keluar dari ruangan, namun sebelum pintu benar-benar tertutup, ia sempat melirik ke arah Devan sekali lagi, tatapannya penuh perhitungan.
Begitu Clara pergi…
Ruangan kembali hening.
Devan menatap pintu yang tertutup itu beberapa detik sebelum berkata dengan suara rendah, “Dia berbahaya.”
Lisa tidak terlihat terkejut.
“Iya,” jawabnya singkat.
Devan menoleh padanya.
“Dan kamu masih membiarkannya dekat.”
Lisa tersenyum tipis.
“Semakin dekat dia… semakin mudah aku menjatuhkannya.”
Devan tidak berkata apa-apa lagi.
Namun tatapannya berubah.
Lebih dalam.
Lebih serius.
Karena sekarang ia benar-benar mengerti satu hal.
Lisa bukan hanya ingin membalas.
Ia ingin menghancurkan.
Dan permainan ini…
Baru saja menjadi jauh lebih menarik. 🔥